Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

May 2018

IBN RUSYD DAN “POLEMIK FILOSOFIS”-NYA DENGAN AL-GHAZALI

IBN RUSYD DAN “POLEMIK FILOSOFIS”-NYA DENGAN AL-GHAZALI

Oleh: Simon van den Bergh

Saya telah membahas sepuluh argumen dalam catatan saya dan akan menyebutkan di sini hanya dua saja karena nilai pentingnya. Al-Ghazali menge­mukakan salah satu argumen ini dalam bentuk berikut: Bagaimana identitas manusia bisa dinisbatkan pada raga dengan seluruh aksidennya? Sebab, raga pun terus-menerus melebur, dan nutrisi menggantikan apa yang terlebur. Akibatnya, ketika kita melihat seorang anak, setelah berpisah dari rahim ibunya, jatuh sakit beberapa kali, menjadi kurus dan gemuk lagi, dan kemudian tumbuh besar, kita bisa mengatakannya dengan aman bahwa, sesudah empat puluh tahun, sudah tidak tersisa dan tidak ada lagi partikelnya yang dahulu saat ibunya melahirkannya. Memang, sang anak memulai eksistensinya dari sebagian sperma saja, tetapi tidak ada partikel sperma yang tersisa di dalamnya; tidak, semuanya ini sudah melebur dan berubah menjadi sesuatu yang lain dan kemudian tubuh ini menjadi lain. Kita bisa mengatakan bahwa orang yang sama tetap masih ada, dan segenap pikirannya tetap bersamanya sejak awal masa mudanya, meskipun semua bagian raganya sudah berubah, dan ini menunjukkan bahwa jiwa memiliki eksistensi di luar raga dan bahwa raga adalah organnya. Nah, bagian pertama dari argumen ini—bahwa segala sesuatu berubah terus-menerus dan bahwa, dalam kehidupan ragawi manusia, tidak ada bagian yang tetap sama—ditemukan secara tekstual dalam karya Montaigne berjudul Apology of Raymond de Sebond. Montaigne mengambilnya dari Plutarch, dan para filosof Arab mungkin meminjamnya dari sumber yang sama dengan yang diambil Plutarch. Argumen para filosof—bahwa materi akan musnah dan jiwa adalah identitas yang tetap, yang juga dikemukakan oleh filosof Kristen Nemesius dalam karyanya berjudul De natura hominis (sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab) menganggapnya sebagai karya dari Ammonius Saccas dan Numenius—pada dasarnya bercorak Platonis dan Neoplatonis. Yang cukup aneh, meskipun disanggah dan dibantahnya sendiri di sini, Al-Ghazali justru mencantumkannya dalam karyanya berjudul Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn. Dalam dialog Cratylus karya Plato, Sokrates mengatakan, “Bisakah kita benar-benar mengatakan bahwa ada pengetahuan, Cratylus, kalau semua hal terus berubah dan tidak ada yang tersisa? Sebab, pengetahuan tidak bisa berlanjut kecuali bila ia tetap tak berubah dan tetap menjaga identitasnya. Akan tetapi, jika pengetahuan mengubah esensinya, maka ia akan kehilangan identitasnya dan tidak akan ada pengetahuan.” Plotinus (Enn. iv 7. 3) mengemukakan bahwa materi, dalam perubahan terus-menerus, tidak bisa menjelaskan identitas jiwa. Dalam kutipan di sebuah bagian karyanya yang indah (Enn. iv 7. 10) dan yang juga disalin oleh Ibn Sina, ia mengatakan, “Orang harus merenungkan hakikat segala sesuatu dalam kemurniannya, karena apa yang ditambahkan merupakan hambatan bagi pengetahuannya. Karena itu, renungkanlah jiwa dalam abstraksinya atau lebih baik biarkan yang membuat abstraksi ini merenungkan dirinya sendiri dalam keadaan ini dan ia akan tahu bahwa ia abadi saat ia akan melihat dalam dirinya sendiri kemurnian akal, karena ia akan mengetahui bahwa akalnya tidak merenungkan apa pun yang masuk akal, yang fana, melainkan menangkap dan memahami yang abadi melalui yang abadi.”

Continue Reading

Teori Penyebab Kenakalan Anak

Teori Penyebab Kenakalan Anak

Oleh Dr. Abu Huraerah, M.Si.

Teori yang paling banyak dianut pada saat ini untuk memahami penyebab kenakalan anak adalah Teori Penyebab Ganda (Multiple Causation Theory). Friedlander dan Apte dalam Soetarso (2004) menjelaskan bahwa kenakalan tidak disebabkan satu sumber, antara lain faktor heredeter, struktur biologis, atau pengaruh lingkungan, tetapi oleh beranekaragam faktor yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut antara lain heredeter dan biologis: kesehatan yang buruk, cacat fisik, ketidaknormalan, gangguan saraf, berbagai tingkatan gangguan mental termasuk psikosis, instabilitas mental, perasaan selalu tidak aman, dorongan seksual tidak terkontrol, atau perilaku neurotis. Faktor-faktor lingkungan: penelantaran atau penolakan oleh orangtua, anggota keluarga lain atau teman; pengaruh merusak keluarga pecah; sikap kriminal keluarga, tetangga atau kelompok penjahat di daerah kumuh; kemiskinan keluarga; perjudian; pergaulan buruk; pendidikan rendah; kurangnya rekreasi sehat; pengaruh merusak dari TV, radio, koran, cerita kriminal, bioskop dan buku komik.

Continue Reading

Mengapa Karakter?

Mengapa Karakter?

Oleh Anna Farida

Kurikulum pendidikan Indonesia sudah berganti beberapa kali, dengan sasaran yang berbeda-beda. Ada yang ditujukan untuk mengasah kemampuan kognitif murid, ada bertujuan mengembangkan daya kreasi dan kemandirian, dan sekarang hadir kurikulum yang memperhatikan aspek karakter sebagai salah satu capaian utama. Harapannya adalah, jika peserta didik memiliki sikap yang baik, karakter yang terpuji seperti bertanggungjawab, disiplin, gemar membaca, dan sebagainya, dengan sendirinya mereka akan bersedia belajar tanpa paksaan. Ilmu akan lebih mudah mereka serap dan langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran karakter ini pun tidak disampaikan secara parsial atau dijadikan mata pelajaran terpisah, melainkan terintegrasi dengan semua mata pelajaran.

Continue Reading