Cart

Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

October 2019

Paguyuban Selasa Kliwon

Paguyuban Selasa Kliwon

Soewardi seorang pengajar yang tekun dan giat. Di Jogjakarta, pada 1921, Soewardi sempat mengajar selama satu tahun di sekolah Adhidharma yang dipimpin kakandanya, Suryopranoto.

Sepak terjang Soewardi sebelum mendirikan sekolah Taman Siswa tidak bisa terlepas dari Paguyuban Selasa Kliwon. Soewardi bergabung dengan paguyuban yang berkedudukan di Jogjakarta itu. Paguyuban ini mempunyai cita-cita utama mengayu-ayu saliran, mengayu-ayu bangsa, dan mengayu-ayu manungsa; artinya membahagiakan diri sendiri, membahagiakan bangsa, dan membahagiakan umat manusia.

Paguyuban itu terkenal dengan sebutan gerombolan Selasa Kliwon, terdiri atas beberapa tokoh politik Budi Utomo beraliran wederopbouw (pembangunan) dan kebatinan. Kelompok ini berpandangan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan harus didasari dan dimulai dengan penanaman benih kebangsaan sejak kanak-kanak.

Continue Reading

Taman Siswa Dengan Metode Among

Perguruan Taman Siswa didirikan Soewardi di Jogjakarta saat rakyat Indonesia bergerak menuju kemerdekaan. Waktu itu, rakyat sedang menempuh masa peralihan dari periode perjuangan kooperatif ke perjuangan non-kooperatif.

Taman Siswa merupakan badan perjuangan yang berjiwa nasional yang menggunakan kebudayaan sendiri sebagai dasar pergerakan. Taman Siswa tidak hanya menghendaki pembentukan akal budi, tetapi juga pendidikan moral. Di Taman Siswa, seorang guru berkewajiban mengajar dan mendidik. Prinsipnya, mengajar berarti mentransfer ilmu pengetahuan agar anak didik menjadi pandai, berpengetahuan, dan cerdas. Mendidik berarti menumbuhkan budi pekerti agar anak didik menjadi manusia yang berkepribadian dan bermoral baik.

Dalam melaksanakan tugas mengajar dan mendidik, guru harus memberikan tuntunan serta dukungan kepada anak didik agar tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan sendiri. Mengajar dan mendidik dengan cara-cara kolonial, seperti memberikan perintah, paksaan, serta hukuman, harus ditinggalkan.

Metode ini dikenal sebagai among. Among berarti membimbing anak didik dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan mereka, sehingga bisa berkembang menurut kodratnya. Semboyan yang digunakan untuk melaksanakan metode ini adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya guru seyogianya menjadi teladan di depan.

Kemudian, Ing Madya Mangun Karsa, artinya guru mengikuti murid dari belakang dengan memberikan dorongan, bimbingan, perhatian, dan pertolongan bila perlu.

Terakhir, Tut Wuri Handayani, artinya guru mendorong para siswa untuk mencari pengetahuan dan belajar sendiri. Di sini, anak didik hendaknya membiasakan berdisiplin dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, tanpa ada paksaan dari orang lain.

Menurut Ki Hadjar Dewantara

Menurut Ki Hadjar Dewantara, keluhuran dan kehalusan budi adalah dua hal penting dalam hidup. Manusia merupakan makhluk terpilih yang memiliki kekuatan serta sifat berbeda dengan hewan. Maka, keluhuran dan kehalusan budi harus terus dipupuk.

Menurut Ki Hadjar, sejak kecil anak harus diperkenalkan pada keluhuran dan kehalusan budi, misalnya dengan memberi penghormatan kepada para pahlawan. Di sini, anak diperkenalkan pada watak dan peran utama tokoh pahlawan. Dalam memberi penghormatan kepada pahlawan, bisa diselipkan tujuan lain, yaitu menanamkan perasaan nasionalisme.

Di samping itu, keluhuran budi dan kesusilaan terdapat dalam ilmu agama. Menurut Ki Hadjar, pelajaran moral akan berharga jika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Asas-asas kesusilaan yang tak dipraktikkan dalam kehidupan tak akan berguna sama sekali. Siapa yang tak menjalankan hidup menurut hukum-hukum susila, tak bisa dianggap sebagai manusia dalam arti sebenarnya.

Karena itu, di Taman Siswa dikembangkan pendidikan kesenian untuk memperhalus budi anak didik. Pendidikan kesenian sebagai basis nasionalisme kultural dapat mendorong menuju nasionalisme kebangsaan. Dalam pendidikan kesenian, terdapat ajaran leluhur yang tak bisa dipisahkan.

Menariknya, hubungan antara guru dan murid di Taman Siswa sangat dekat, sehingga guru-guru dapat dengan mudah mengetahui kesulitan anak didiknya. Terutama menyangkut masalah ekonomi. Banyak murid Taman Siswa terpaksa membantu orangtua mencari uang, setidaknya untuk biaya sekolah.

Demikianlah keadaan Taman Siswa. Pembinaan nasionalisme selalu dilakukan sesuai dengan anjuran Ki Hadjar Dewantara pada Kongres Taman Siswa 1936, bahwa setiap anggota Taman Siswa harus merasa sebagai saudara.

Selama penjajahan Belanda, Taman Siswa selalu menolak bekerja sama. Taman Siswa tidak mau menerima subsidi dari pemerintah kolonial agar tidak terikat dengan kebijakan penjajah. Keputusan ini memaksa Taman Siswa hidup sederhana.

Selama delapan tahun sejak awal berdiri, Taman Siswa tumbuh tanpa memisahkan diri dari dunia luar. Terutama dari pergerakan rakyat yang mempunyai berbagai program pendidikan, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Serikat Rakyat.[]