Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Akar-akar Gerakan Islam Radikal dalam Sejarah Indonesia Modern

Akar-akar Gerakan Islam Radikal dalam Sejarah Indonesia Modern

Oleh Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A.

Seperti umumnya pemikiran dalam Islam, radikalisme Islam—sebagai suatu faham dan gerakan—lahir dari pergumulan yang dilakukan kaum Muslim dengan perkembangan zamannya. Karena itu, ia bisa muncul kapan dan di mana saja sepanjang di situ terdapat syarat-syarat yang kondusif bagi kemunculan Islam Radikal. Dalam sejarah Islam, Islam Radikal pernah muncul pada masa awal dalam bentuk gerakan kaum Khawarij. Julius Wellhausen menyebut Khawarij sebagai aliran politik pertama dalam Islam.12 Pengaitan politik dengan gerakan dan faham radikal kaum Khawarij ini menunjukkan bahwa politik merupakan salah satu faktor yang dapat memunculkan radikalisme dalam Islam. Sementara itu, Ali Sami an-Nasysyar menunjuk faktor lain, yakni pemahaman tektual yang dimiliki kaum Khawarij, di samping faktor yang disebutkan sebelumnya.13

Mengacu pada indikator radikalisme yang dikemukakan di atas, di Indonesia terdapat gerakan Islam radikal yang ditandai, antara lain, dengan lahirnya berbagai gerakan politik yang menggunakan cara-cara kekerasan. Gerakan DI/NII Kartosuwirjo, Kelompok Imron yang melakukan pembajakan pesawat Woyla, dan Komando Jihad, dapat dimasukkan dalam kategori Islam Radikal. Akan tetapi, saat itu istilah tersebut belum lagi digunakan, dan pemerintah Indonesia lebih suka menggunakan istilah ekstrem kanan untuk gerakan-gerakan seperti itu.14 Di bawah ini dikemukakan beberapa faktor yang bisa ditunjuk sebagai akar dari gerakan Islam Radikal di Indonesia.

Islam Ideologis

Jika kita ikuti periodisasi sejarah Islam yang dibuat oleh Philip K. Hitti, kita akan menemukan bahwa periode sejarah Islam modern dimulai dari kebangkitan Islam abad ke-19. Abad-abad sebelumnya diisi oleh abad klasik yang dimulai dari masa Rasulullah Saw hingga jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Tartar pada tahun 1258, dan abad kemunduran yang dimulai sejak itu hingga abad ke-19.15

Periode Sejarah Islam modern ditandai dengan kebangkitan Islam yang dipelopori oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Periode ini disebut dengan periode kebangkitan karena sebelum itu, kaum Muslim dan seluruh wilayah dunia Islam, kecuali Turki Utsmani, Jazirah Arab, dan Afghanistan,16 berada dalam kekuasaan para penjajah Barat. Pada periode ini, gerakan kebangkitan itu ditujukan untuk merebut kemerdekaan dari kekuasaan penjajah. Karena itu, hampir seluruh karya akademik para pemikir Muslim periode ini menunjukkan ciri-ciri apologetik, tak terkecuali Tafsir Al-Manar yang disusun Muhammad Abduh. Di situ, kelebihan-kelebihan Islam ditonjolkan seraya membeberkan kelemahan-kelemahan pihak lain, khususnya Barat.17 Bersamaan dengan itu, pemikiran rasional digerakkan, sehingga interpretasi-interpretasi baru pun bermunculan. Lalu, sekali dilicinkan jalannya oleh Al-Afgani dan Muhammad Abduh, kaum Muslim pun menemukan momentumnya yang tepat untuk mengemukakan interpretasi-interpretasi modernitas mereka atas ajaran Islam.18 Rintisan yang diberikan oleh Al-Afghani dan Abduh ini dilanjutkan oleh para pemikir aktivis semisal Hasan al-Banna dan Sayyid Quthb di Mesir, Abul A‘la Maududi di Pakistan, dan Mohammad Natsir di Indonesia. Di tangan para pemikir Muslim aktivis inilah pemahaman Islam menampakkan dirinya dalam bentuk yang nyaris menjadi sebuah “ideologis”, jika istilah ini diartikan sebagai “himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan (weltanschauung) yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap kejadian dan problem politik yang dihadapinya, dan yang menentukan tingkah-laku politiknya”.19

Pemahaman Islam yang bercorak ideologis adalah pemahaman yang menjadikan Islam tidak saja sebagai sistem teologi dan peribadatan, tetapi sebagai complete civilization. Islam tidak saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan, tanpa mengecualikannya barang sedikit pun.20 Islam adalah agama yang benar karena ia datang dari Allah Swt. Ia bisa diterapkan di semua tempat dan waktu (shalih li kulli zaman wa makan). Karena itu, Islam memiliki karakter yang cukup diri (self sufficiency), dan tidak membutuhkan sesuatu yang datang dari luar.21 Di sini Islam dijadikan tolok-ukur dan landasan bagi seluruh perbuatan seorang Muslim. Dengan demikian, Islam menolak sekularisme. Langkah ini dimulai dengan melakukan redefinisi total atas seluruh ajaran Islam, yang kemudian dilanjutkan dengan identifikasi-identifikasi.22 Melalui redefinisi dan identifikasi ini, Islam ditampakkan dalam bentuknya yang sangat jelas dan berbeda dari ajaran-ajaran lainnya. Di situ dibedakan secara tegas mana yang Islam dan mana yang bukan Islam. Akibatnya dunia dibelah menjadi dua dengan garis yang sangat tebal: Allah atau thaghut, Islam atau non-Islam, Dar al-Islam atau Dar al-Harb, Hizb Allah atau Hizb asy-Syaithan. Di situ tidak ada tawar-menawar atau kompromi. Menerima Islam yang dengan begitu seseorang disebut Muslim, atau menolaknya yang dengan itu dia disebut kafir. Inilah yang menyebabkan munculnya sikap penentangan terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar Islam. Akibat lanjutannya adalah sikap menutup diri dari pengaruh luar dan menganggap Islam sebagai satu-satunya kebenaran. Jika sikap ini disertai dengan permusuhan, maka pihak luar pun akan merasa dimusuhi.23 Garaudy menyebut pemahaman keagamaan seperti ini sebagai ciri-ciri “fundamentalisme”,24 sementara itu Montgomery Watt dan Dhilip Hiro menyebutnya sebagai benih-benih lahirnya radikalisme.25

Pada tahap tertentu, misalnya ketika kaum Muslim melawan penjajah, pemahaman ideologis seperti ini sangat efektif dalam mendorong lahirnya gerakan perlawanan terhadap penjajah. G.H. Jansen mengatakan bahwa melalui pemahaman Islam seperti inilah kaum Muslim di berbagai negeri berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, sehingga pada paruh kedua abad ke-20, hampir seluruh negeri Muslim berhasil meraih kemerdekaan. Tanpa pemahaman seperti itu tidak akan lahir negara-negara Asia-Afrika, tidak akan ada Gerakan Non-Blok, dan tidak ada pula dialog Utara-Selatan.26

Bagi para pemikir aktivis semisal Sayyid Quthb, Maududi, dan Mohammad Natsir, perjuangan yang mereka lakukan tidak terbatas hanya pada pembebasan dari kekuasaan penjajah, tetapi berlanjut dengan mendirikan Negara Islam. Bagi Maududi dan Quthb, mendirikan negara Islam buknlah alternatif, melainkan imperatif.27 Sebab, tanpa adanya negara Islam syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna. Itu sebabnya, baik Maududi maupun Quthb terlibat secara intensif dalam gerakan yang memperjuangkan terlaksananya Syariat dalam sebuah negara. Maududi memimpin Jama‘ati Islami di Pakistan, sedang Sayyid Quthb menjadi ideolog Al-Ikhwan Al-Muslimun, Mesir.28 Akan tetapi, ketika negara-negara yang ikut mereka perjuangkan itu memperoleh kemerdekaan, ternyata negara-negara tersebut tidak menjadi negara Islam seperti yang mereka inginkan. Kenyataan ini melahirkan kekecewaan di kalangan mereka, dan berikutnya membentuk sejenis syndrom berupa sikap curiga terhadap hampir setiap kebijakan yang dibuat pemerintah. Lalu, mereka pun menempatkan diri sebagai opposan-opposan bagi pemerintahan yang baru terbentuk. Al-Ikhwan Al-Muslimun di Mesir menjadi opposan Gamal Abdel Nasser dan Masjumi di Indonesia menjadi penentang gigih pemerintahan Soekarno. Dalam perspektif inilah, agaknya, kita harus memahami usaha-usaha yang dilakukan Sayyid Quthb dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun-nya di Mesir, Maududi dengan Jama‘ati Islami-nya di Pakistan, dan Mohammad Natsir dengan Masjumi-nya di Indonesia yang menghendaki terbentuknya negara Islam.29

Sikap opposan seperti itu menyebabkan para penguasa melakukan berbagai tekanan, dan itu semakin membengkakkan rasa kecewa di kalangan para pemikir Muslim aktivis. Pada perkembangan berikutnya, Al-Ikhwan Al-Muslimun disebut-sebut pernah terlibat dalam usaha pembunuhan Gamal Abdel Nasser. Para tokohnya ditangkap dan beberapa di antaranya dihukum mati.30 Di Indonesia, beberapa tokoh Masjumi disebut-sebut pula terlibat dalam gerakan PRRI. Mereka ditangkap dan dipenjarakan. Al-Ikhwan Al-Muslimun menjadi gerakan bawah tanah, dan Masjumi dibubarkan. Kartosuwirjo yang mendirikan Negara Islam Indonesia tertangkap, dan dihukum mati. Akan tetapi, dengan bubarnya Al-Ikhwan Al-Muslimun maupun Masjumi, tidak berarti semangat mereka ikut mati. Akar-akarnya masih tersisa, dan pengikut-pengikut mereka seringkali ingin “menyantap apel sebelum matang”, dan lahirlah gerakan-gerakan Islam Radikal. Atas alasan itulah, agaknya, John L. Esposito menunjuk pemikir Muslim seperti Sayyid Quthb dan Maududi sebagai ideolog-ideolog yang menjadi arsitek bagi lahirnya gerakan-gerakan Islam radikal.31

Akan tetapi, warna ideologis Islam Indonesia sesungguhnya sudah ada semenjak masa awal kedatangannya. Sekalipun Islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang, namun tidak lama kemudian ia menampakkan diri dalam corak politiknya. Seiring dengan memudarnya kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Jawa dan Sumatera, segera berdiri kesultanan-kesultanan Islam di Samudera Pasai di Aceh, Demak di Pantai Utara Jawa, dan Mataram Islam di pedalaman Jawa Tengah. Kesultanan-kesultanan Islam di Sumatera dan Pantai Utara Jawa ini segera disusul dengan berdirinya kesultanan-kesultanan Islam lainnya di Kalimantan, Sulawesi, dan Ternate.32 Kemudian, ketika penjajah Belanda masuk ke Indonesia pada abad ke-16, Islam pun segera terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Seterusnya, ketika Indonesia memasuki sejarah modernnya, gerakan Islam pun menampakkan dirinya dalam bentuk partai-partai yang tentu saja berorientasi ideologis. Bahkan sejak menjelang dan sepanjang dekade pertama kemerdekaan Indonesia, perdebatan tentang negara Islam merupakan issu yang berkembang luas, baik dalam perumusan Undang-Undang Dasar 194533 maupun dalam sidang-sidang Konstituante di Bandung.34 Ketika pemilihan umum tahun 1955 diselenggarakan, jumlah partai Islam tercatat lebih dari duapuluh partai.35

Pada masa pemerintahan Orde Baru, Islam ideologis Indonesia menampakkan dirinya pada gerakan-gerakan yang disebut oleh pemerintah sebagai ekstrem-kanan. Pemerintah Orde Baru yang memberi prioritas tinggi terhadap pembangunan ekonomi sangat menekankan stabilitas. Berbekal pengalaman masa-masa sebelumnya, Orde Baru bersikap sangat represif terhadap setiap gerakan yang dilakukan oleh umat Islam. Organisasi-organisasi sosial-politik Islam dikontrol dengan ketat, khutbah dan ceramah diawasi, dan sejumlah tokoh Islam dicekal. Hubungan pemerintah dengan umat Islam sempat memburuk selama lebih dari 20 tahun, sehingga dalam kebijakaan Menteri Agama Alamsjah ditegaskan tentang keharusan adanya kerukunan pemerintah dengan umat beragama, dalam apa yang dikenal Trilogi Kerukunan.36 Demikian ketatnya kontrol yang dilakukan pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam, sampai-sampai Ruth MacVey mengatakan, “Kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap Islam, yang paling kanan sekalipun, jauh lebih buruk dibanding kebijakan Soekarno terhadap Islam, yang paling kiri sekalipun.”37

Orde Baru tampaknya berhasil melakukan penekanan terhadap Islam, yang puncaknya terjadi pada tahun 1985 dengan diberlakukannya Undang-Undang Keormasan yang mewajibkan semua organisasi sosial dan politik untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas.38 Kendati demikian, sesungguhnya cinta-cita untuk menegakkan Syariat Islam sama sekali tidak hilang. Sebab, begitu rezim Orde Baru jatuh, aspirasi-aspirasi tentang diberlakukannya Syariat Islam di Indonesia kembali merebak. Sejauh aspirasi tersebut disalurkan lewat Dewan Perwakilan Rakyat dan saluran-saluran resmi lainnya, ia tetap dipandang konstitusional.Akan tetapi, jika aspirasi-aspirasi tersebut tidak tertampung, dan para pendukung tidak sabar untuk menempuh jalur konstitusi dan melakukan tindak kekerasan, misalnya sweeping dan perusakan sarana-sarana umum, maka ia dipandang sebagai tindakan inkonstitusional, bahkan terorisme.

Kapitalisme dan Sekularisme

Jika di Timur Islam mengalami ideologisasi, di Barat Katolik dan Kristen mengalami sekularisasi. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari negara, yang kemudian berlanjut pada pemisahan kehidupan sosial, sains dan teknologi dari nilai-nilai agama. Di situ terdapat dua inti: desakralisasi nilai-nilai dan dekonsenkrasi alam dan kehidupan manusia. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa semenjak terjadinya sekularisasi, masyarakat Barat tidak mempunyai nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral itu tetap ada, hanya saja jurisdiksinya telah dipindahkan dari agama ke ilmu pengetahuan. Dengan begitu, kehidupan sosial pun terlepas dari ikatan agama, dan dipijakkan pada ilmu pengetahuan modern. Implikasinya, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat, tetapi seakan-akan tanpa arah. Lama kelamaan, seluruh kehidupan pun terlepas dari agama, dan agama seakan terpenjara dalam kehidupan pribadi orang per orang. Karena itu, abad modern di Barat ditandai dengan kehidupan yang sekular dengan kapitalisme sebagai penyangganya.

Adalah benar bahwa ketika Max Weber menulis buku Protestant Ethics and The Rise of Capitalism, terdapat indikasi adanya pengaruh etika Protestan dan Calvinisme pada aktivitas ekonomi para pemeluknya.39 Dengan semangat itulah bangsa-bangsa Barat, khususnya yang beragama Protestan, membangun perekonomian mereka. Sejak itu, mereka menjadi negara-negara kapitalis yang kaya dan makmur, dan peradaban Barat pun ditandai dengan sekularisme dan kapitalisme. Akan tetapi, Erich Fromm mengatakan bahwa semangat Protestan (Calvinis) itulah yang justru, pada tahap berikutnya, melahirkan kolonialisme yang tidak berperikemanusiaan. Seluruh negara Barat, kata Fromm, tidak ada yang bisa dikecualikan dari kolonialisme ini.40 Karena itu, alih-alih dapat mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang selama ini dicita-citakan oleh kapitalisme, yang lahir justru penindasan dan eksploitasi suatu bangsa atas bangsa lainnya. Bahkan ketika secara politik negeri-negeri jajahan telah berhasil merebut kemerdekaannya, kapitalisme menjelma menjadi penjajahan dalam bentuknya yang baru.

Selanjutnya, Fromm mengatakan bahwa dalam era kapitalisme dan kolonialisme, agama Protestan telah kehilangan sifat kasih-sayangnya. Kini, agama Protestan hanya menjadi agama formal, dan para pemeluknya mempunyai agama lain yang dia sebut sebagai “Agama Rahasia” (Secret Religions), dan itu adalah Kapitalisme. Kalau salah seorang di antara mereka ditanya apa agamanya, mungkin dia akan menjawab, “Kristen.” Akan tetapi, hampir seluruh kegiatan sehari-hari hidup yang justru diatur oleh “Agama Rahasia” mereka.41 Dengan semangat kapitalisme dan kolonialisme itulah bangsa Barat bersikap terhadap orang-orang yang berada di luar agama mereka. Ketika menjajah bangsa-bangsa Timur, bangsa Barat memegang dua benda di tangannya: Injil di tangan kiri dan pedang di tangan kanan.42 Tampaknya, sampai saat ini hubungan Barat dengan Timur masih disemangati oleh ruh penaklukan seperti itu, sehingga bangsa Timur Islam pun terus-menerus melakukan perlawanan.

Konflik-konflik Akut di Timur Tengah dan Intervensi Barat atasnya

Yang juga dapat ditunjuk sebagai salah satu akar radikalisme adalah konflik-konflik akut yang terjadi di Timur Tengah. Ketika neger-negeri Muslim memperoleh kemerdekaannya, muncullah kekuatan Baru di tengah dua kekuatan yang ada sebelumnya, yakni Timur Komunis dan Barat Kapitalis. Dengan kemerdekaan itu, negara-negara Arab Timur Tengah menghadirkan diri sebagai negeri-negeri Muslim yang memiliki potensi besar, karena mereka adalah negara yang kaya akan minyak. Untuk memecah kekuatan mereka, Inggris dan Amerika, melalui Penjanjian Balfour, mendirikan negara boneka, yakni Israel. Kehadiran negara Yahudi ini, sangat ditentang oleh negara-negara Arab seluruhnya, dan sejak itu terjadilah konflik-konflik akut di Timur Tengah, khususnya antara Israel dengan Palestina.42

Dalam konflik-konflik tersebut, Amerika dan negara-negara Eropa selalu memperlihatkan keberpihakannya terhadap Israel. Karena itu, negara-negara Arab seakan-akan berperang tidak hanya melawan Israel, tetapi juga Amerika Serikat dan sekutunya. Akibatnya, Israel semakin kuat dan berani, dan dari situ penindasan-penindasan terhadap warga Palestina pun terjadi. Usaha-usaha damai yang selama itu dilakukan selalu berakhir dengan kerugian pada pihak negara-negara Arab. Kondisi seperti itu jelas dapat menimbulkan kekecewaan dan frustrasi, yang jika terakumulasi dapat melahirkan kenekatan. Artinya, jika jalan damai tidak lagi dapat ditempuh, maka satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah kekerasan. Lalu, muncullah terorisme, bom bunuh diri, dan peledakan gedung WTC, dan itu mereka sebut dengan jihad.44

Yang harus segera dicatat di sini adalah bahwa penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan terhadap kaum Muslim di Timur Tengah itu tidak saja dipandang sebagai nasib yang harus dialami bangsa kaum Muslim Timur tengah sendiri. Tetapi, juga kaum Muslim di seluruh dunia. Sebab, Islam adalah agama universal. Karena itu ketika seseorang menjadi Muslim berarti dia menjadi warga Muslim sedunia. Di sini, batas-batas geografis tidak ada lagi, sehingga perjuangan kaum Muslim Palestina adalah juga perjuangan seluruh umat Islam, pembantaian kaum Muslim Bosnia adalah pembantaian terhadap mereka semua, dan penghancuran Afghanistan adalah penghancuran tanah air mereka. Jika kaum Muslim Palestina berperang melawan Israel dan Amerika, maka dalam pandangan sebagian kaum Muslim, seluruh umat Islam pun harus ikut berperang bersama mereka, dan jika kaum Muslim Afghanistan bergerilya dalam perang mereka terhadap Uni Soviet dan kemudian Amerika, maka mereka semua harus ikut berperang bersama mereka. Negeri mereka adalah negeri kaum Muslim, dan musuh-musuh mereka adalah juga musuh-musuh bersama. Itu sebabnya, ada orang Islam Indonesia yang ikut berjuang sebagai sukarelawan ke Afghanistan. Kalau sudah begitu, yang muncul adalah perang global—suatu perang yang tidak lagi mengenal batas-batas wilayah, dan bisa terjadi di mana-mana. Yang berperang bukan lagi bangsa dan negara tertentu, tetapi sekelompok warga dunia melawan kelompok warga dunia lainnya. Perang melawan terorisme yang dilakukan Amerika dan sekutunya adalah perang global. Karena itu, jika mereka melihat “musuh-musuh” mereka bersembunyi di Afghanistan, mereka akan menyerang Afghanistan, dan jika “musuh-musuh” itu bersembunyi di Indonesia, mereka pun tidak akan segan-segan melakukan penyerbuan ke Indonesia. Itulah yang dikemukakan oleh George W. Bush dan John Howard yang kemudian dikenal dengan sebutan preemptive. Sekalipun mendapat reaksi keras dari berbagai negara, khususnya ASEAN, tampaknya baik Amerika maupun Australia tidak akan mundur. Sebaliknya, musuh-musuh mereka tidak hanya akan menyerang mereka di Amerika, seperti peruntuhan gedung WTC, tetapi juga di negara mana pun mereka ditemukan. Bisa di Singapura, Australia, dan Bali. Tidak pula terbatas hanya pada militer, tetapi juga warga sipil. 45

Adalah sulit mencari pihak yang bertanggungjawab terhadap perang global itu. Yang jelas, sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa bangsa Palestina yang Muslim telah diperangi dan dizalimi. Yang memerangi dan menzalimi adalah Israel, Amerika, dan sekutu-sekutunya. Karena itu, perang melawan mereka adalah jihad, dan peledakan gedung WTC dan Bom Bali merupakan bagian dari peperangan itu. Sementara itu, Israel, Amerika, Inggris, Australia, dan banyak lagi lainnya menganggap mereka sebagai teroris-teroris amat sangat jahat, yang harus diperangi di mana pun mereka berada. Karena pelaku-pelakunya kebetulan adalah orang-orang Islam, maka perang melawan terorisme seakan-akan merupakan perang melawan Islam. Sebaliknya, banyak orang Islam yang mengatakan bahwa teroris yang sesungguhnya tak lain adalah Israel dan Amerika. Lingkaran setan dan tuduh-menuduh pun terjadi, sedangkan kriteria “teroris” itu sendiri belum jelas. Jadi, seperti halnya “fundamentalisme”, radikalisme dan terorisme tidak hanya bisa dikaitkan dengan umat Islam. Sebab, di kalangan pemeluk-pemeluk agama lain pun ditemukan. Roger Garaudy mengatakan bahwa Fundamentalisme tidak saja dimiliki oleh Islam, tetapi juga ada di kalangan pemeluk-pemeluk agama lain.46

Pemahaman Normatif terhadap Ajaran Islam.

Di dalam aliran-aliran Islam terdapat aliran yang disebut Salafiah. Aliran ini memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain, pemahaman Islam yang normatif-tekstual, dan berorientasi ke masa lalu. Pemahaman tekstual mengandung implikasi penolakan terhadap rasio dalam memahami masalah-masalah agama. Sedangkan orientasi ke masa lalu diakibatkan oleh pandangannya yang menganggap bahwa masa Nabi dan para sahabat (dan berlanjut pada tabi‘in) adalah kejayaan Islam. Karena itu, aliran ini mencita-citakan diterapkannya Islam seperti masa Nabi tersebut pada masa kini. Standar yang digunakan adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul, sedangkan yang di luar itu ditolak.47 Selanjutnya, karena Nabi Saw memiliki “negara” Madinah, maka pengikut aliran ini pun memperjuangkan adanya negara Islam yang seringkali mereka sebut dengan kekhalifahan. Pemahaman seperti ini melahirkan sikap eksklusif dan menutup diri terhadap pemahaman yang dilakukan pihak lain. Dalam bentuk modernnya, aliran ini menampakkan diri dalam paham Wahabiah.48

Penolakan terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar Al-Quran dan Sunnah Rasul tidak saja pada persoalan-persoalan prinsip, tetapi seringkali juga merembet ke hal-hal yang bersifat cabang dan teknis, misalnya dalam berpakaian dan penggunaan istilah-istilah teknis keislaman. Jangan menggunakan istilah “sembahyang” tetapi shalat, bukan puasa tetapi shaum. Penolakan seperti ini mereka sertai dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar Al-Quran dan Sunnah Rasul adalah bid’ah, dan itu harus ditentang. Sikap inilah yang membuat pihak-pihak lain di luar Islam merasa dimusuhi, sehingga yang dimusuhi pun akan menunjukkan sikap permusuhan yang sama.49 Penafsiran seperti ini juga berkembang di Indonesia. Abu Bakar Ba‘asyir, misalnya, beberapa kali menegaskan bahwa Amerika adalah bangsa kafir yang memusuhi Islam, dan karena itu umat Islam harus melawan mereka. Sementara itu, beberapa kelompok Islam, sekalipun tidak signifikan jumlahnya, bahkan menganggap orang-orang Muslim di luar kelompok mereka sebagai orang-orang kafir. Sikap-sikap eksklusif seperti ini jelas semakin membuat hubungan antarbangsa bertambah tegang dan selalu berada dalam kondisi saling memusuhi.

 

Ketimpangan Sosial dan Ketidakpastian Hukum

Reformasi yang terjadi di Indonesia pada gilirannya memunculkan berbagai aspirasi yang sebelumnya tersumbat. Aspirasi-aspirasi itu, antara lain, diberlakukannya Syariat Islam dalam kehidupan sosial. Usaha-usaha bagi dilaksanakannya ajaran Islam ini tampak, antara lain, dalam bentuk tuntutan-tuntutan terhadap berbagai praktik sosial yang bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya penutupan tempat pelacuran, perjudian, dan toko-toko penjual minuman keras. Ketika tuntutan seperti itu tidak atau belum mendapat respons yang positif dari pemerintah, kekecewaan pun muncul, lalu lahirlah anarkisme yang dibalut agama (Islam).

Ketidakpastian hukum seperti itu tidak saja terjadi dalam hubungannya dengan tuntutan-tuntutan yang diaktualisasikan oleh sebagian kaum Muslim, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan keamanan. Berbagai kasus penyelewengan dan korupsi tidak diselesaikan secara tuntas, bahkan beberapa pengusaha kelas kakap yang diduga terlibat korupsi justru dibebebaskan.50 Sementara itu, seseorang yang melaporkan adanya korupsi yang dilakukan oleh beberapa orang hakim justru menjadi terdakwa.51. Kondisi seperti inilah yang pada akhirnya menimbulkan frustrasi dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap petugas hukum, sehingga beberapa waktu yang lalu, banyak terjadi tindakan main hakim sendiri.52 Di situ terlihat indikasi adanya usaha yang dilakukan dengan kekerasan dan pemaksaan. Lasykar Jihad, Fron Pembela Islam, dan Jama‘ah Islam, termasuk dalam kategori ini. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian ditengarai sebagai unsur-unsur Islam Radikal, dan karena mereka menuntut diberlakukannya Syariat Islam yang kadang-kadang dilakukan dengan menggunakan kekerasan, maka Amerika Serikat pun menjadikan tuntutan dilaksanakannya Syariat Islam itu sebagai salah satu unsur terorisme.

Perlu pula dikemukakan di sini bahwa beberapa waktu menjelang reformasi Indonesia tahun 1997 terjadi beberapa kerusuhan dalam bentuk perusakan tempat-tempat ibadah dan perbelanjaan di beberapa kota, antara lain di Situbondo dan Tasikmalaya. Pada saat itu, peristiwa tersebut terasa sangat mengejutkan, karena selama satu dekade sebelumnya, tindakan seperti itu sudah dapat diredam. Karena pelakunya umat Islam dan yang menjadi sasaran antara lain adalah tempat ibadah, banyak orang, secara sengaja atau tidak, mengaitkan peristiwa tersebut dengan konflik antarumat beragama. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap kerusuhan-kerusuhan tersebut, dapat dikatakan bahwa kerusuhan-kerusuhan tersebut bukan merupakan konflik antarumat beragama, tetapi diakibatkan oleh kesenjangan sosial-ekonomi.53

Semenjak pemerintahan Orde Baru, pertumbuhan perekonomian Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Akan tetapi, keberhasilan tersebut ternyata hanya dinikmati oleh sebagian kecil bangsa Indonesia. Ungkapan yang mengatakan bahwa 70% hasil pembangunan ekonomi hanya dinikmati oleh 10% warganegara (yang sebagian besar justru non-Muslim), sementara 90% warganegara lainnya hanya menikmati 30%-nya, merupakan gambaran yang jelas tentang ketimpangan sosial-ekonomi tersebut. Rakyat kecil yang merupakan bagian terbesar negeri ini justru belum bisa menikmati hasil pembangunan dan masih berada di bawah garis kemiskinan.54 Keberpihakan pemerintah terhadap sekelompok kecil warganegara yang justru non-Musim itu menimbulkan kecemburuan dan perasaan tidak terlindungi, yang sangat mudah disulut menjadi tindak kekerasan. Dengan demikian, tindak-tindak kekerasan yang menjadi salah satu indikator radikalisme sering terkait dengan ketimpangan sosial-ekonomi. Karena itu, memecahkan persoalan kekerasan dan radikalisme tidak mungkin dapat dilakukan tanpa menangani kesenjangan sosial-ekonomi.

Khatimah

Islam Radikal merupakan fenomena baru yang muncul di abad ke-21, dan wujudnya juga tampak di Indonesia. Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya Islam radikal, seperti yang disebutkan di atas, mengharuskan para pemeluk Islam merumuskan kembali metode pemahaman Islam yang lebih inklusif dan ramah. Sekalipun demikian, Islam Radikal tidaklah berdiri sendiri. Ia dilahirkan oleh ketidakadilan dan ketimpangan-ketimpangan sosial, yang tanpa usaha mengatasinya, ia akan sulit dihilangkan. Dialog-dialog antarbudaya juga harus lebih didorong, sehingga pemahaman terhadap karakteristik-karakterisk yang pluralis dapat semakin dikembangkan.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Agama dan Konflik Sosial: Studi Pengalaman Indonesia  karya Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A. (Penerbit Marja, 2013)

agama & konflik sosial

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *