Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Kaji Ulang Pentingnya Homeschooling

Kaji Ulang Pentingnya Homeschooling

Oleh Mary Griffith

Bayangkan dua pelajar, masing-masing berumur kira-kira lima belas tahun, duduk di depan sebuah meja sambil mengerjakan soal geometri. Keduanya menggunakan kertas dan pensil, mungkin sebuah penggaris dan jangka, dan buku teks yang sama. Dari penampilan luar, masing-masing mengerjakan hal yang sama dengan yang lain. Tapi salah seorang tidak pergi sekolah dan yang lain pergi ke sekolah tradisional.


Apa perbedaannya? Untuk mengerti perbedaan itu, kita harus melihat sisa kehidupan kedua anak ini, cara mereka menghabiskan waktu mereka yang banyak, alasan mereka mengerjakan geometri, dan apa yang akan mereka kerjakan selanjutnya dan alasannya.

Pelajar kita yang bersekolah—mari memanggilnya Cynthia—cukup mudah dimengerti karena kebanyakan dari kita melalui kira-kira proses yang sama saat kita remaja. Cynthia didaftarkan di sebuah SMU lokal, dan geometri adalah salah satu pelajaran yang dia ambil tahun lalu. Kebanyakan universitas yang ingin dia masuki menganjurkan sedikitnya dua, dan lebih baik lagi tiga atau empat tahun pelajaran matematika di tingkat sekolah menengah. Soal-soal yang dia kerjakan ditugaskan oleh gurunya pagi ini, dan meskipun dia menyukai geometri dan bisa menghabiskan beberapa jam lagi bermain-main dengan sudut dan garis, dia tidak benar-benar punya waktu; dia harus membaca satu bab di buku teks sejarahnya untuk besok, dan kemudian dia akan mengerjakan makalah Bahasa Inggris yang harus dikumpulkan akhir minggu. Tahun depan, Cynthia akan mengambil pelajaran matematika di sekolahnya—mungkin kombinasi aljabar 2/trigonometri.

Kathleen, anak yang tidak bersekolah, tidak pernah pergi ke sekolah. Awal musim semi lalu saat dia membantu orangtuanya menumbuhkan rumput untuk kebun sayuran mereka, dia terheran-heran saat mereka mengukur diagonal boks untuk memeriksa bahwa sudut-sudutnya sudah menyiku. Dia mengajukan banyak pertanyaan mengenai sudut dan bentuk saat mereka bekerja bersama-sama. Minggu-minggu berikutnya, dia mulai berpikir dengan serius untuk belajar lebih banyak tentang geometri. Setelah beberapa pembicaraan panjang dan serabutan serta beberapa kunjungan ke perpustakaan dan toko buku lokal dengan ibunya, dia akhirnya memutuskan untuk menggunakan sebuah buku teks untuk menggali topik itu secara formal. Selama empat atau lima minggu terakhir, dia sering mengerjakan geometri, kadang-kadang selama beberapa jam sehari, kadang-kadang hanya beberapa menit dalam seminggu di sela-sela pelajaran tarinya dan novel fiksi ilmiah terbaru yang sedang dia baca. Dia jarang menyelesaikan kumpulan soal sampai penuh, memilih untuk melanjutkan konsep berikutnya setelah dia mengerti idenya. Adik-adik laki-lakinya jadi sangat muak pada kuliah singkat geometri yang sering dia berikan, setiap saat mereka mengeluarkan batangan Lego, tapi mereka mengakui dengan sebal bahwa dia membangun desain yang luar biasa rumit akhir-akhir ini (meskipun mereka pikir dia terlalu tua untuk bermain Lego). Kathleen melihat petunjuk kehadiran geometri non-Euclidean di buku teksnya, dan dia mulai mencari buku perkenalan yang bagus untuk topologi. Ayahnya menawarkan untuk mencari beberapa teman-temannya yang lebih menguasai matematika untuk melihat kalau-kalau ada yang tertarik untuk bekerja dengannya.

Pendidikan tanpa sekolah pada dasarnya merupakan masalah sikap dan pendekatan. Sederhananya, pendidikan tanpa sekolah menempatkan wewenang di tangan si pembelajar. Seperti yang dikatakan seorang ibu di California:

Bagi saya, pendidikan tanpa sekolah berarti mempelajari apa yang kita inginkan, saat kita meinginginkannya, dengan cara yang kita inginkan, di tempat yang kita inginkan, untuk alasan kita sendiri. Pembelajaran diarahkan pada si pembelajar; penasihat atau fasilitator dicari sesuai keinginan si pembelajar. Tidak ada kurikulum, rencana pelajaran, jadwal, atau agenda. Kebanyakan pembelajaran dilakukan dengan hening, bahkan tidak tampak, karena tidak ada fokus untuk menciptakan banyak “produk.”—Carol, California.

Kedengarannya mustahil, bukan? Ide bahwa anak-anak—bahkan yang cukup kecil—harus punya wewenang atas pendidikan mereka sendiri, memilih apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, dan bahkan memilih apakah mereka harus belajar yang sama sekali terdengar tidak masuk akal. Pasti harus ada lebih banyak ide dari itu.

Dengarkan beberapa orangtua lagi yang menggambarkan konsep mereka sendiri mengenai pendidikan tanpa sekolah:

Bagi kami, pendidikan tanpa sekolah adalah kehidupan yang penuh pemikiran, permainan bebas, dan eksplorasi. Ini melepaskan “seharusnya” dan “sebaiknya” dan tolok ukur khas sekolah. Kita bertujuan untuk hidup lebih penuh dan bukan memproduksi pengalaman pendidikan untuk mengisi kekosongan dalam hidup kita. Hidup seperti ini memerlukan sejumlah besar keyakinan dan kesabaran—keyakinan bahwa anak-anak akan belajar apa yang harus mereka ketahui tanpa bertahun-tahun instruksi konvensional, dan cukup sabar untuk membiarkan mereka memulainya dengan waktu yang mereka anggap baik. Ini bukan kehidupan yang diburu-buru, tapi bukan juga kehidupan rapi dan teratur.
Yang kami lakukan sangatlah berbeda dengan cara masyarakat yang kami dididik, yaitu untuk mempercayai bahwa manusia belajar, sehingga kebanyakan orang cukup skeptis, bahkan tidak mengerti hal ini. Bagaimana Anda tahu mereka belajar? Apakah Anda menggunakan buku teks? Bagaimana Anda menentukan kelas mereka? Bagaimana mereka akan belajar untuk melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai? Bagaimana mereka masuk universitas? Bagaimana mengenai matematika dan ilmu pengetahuan alam? Rentetan pertanyaan ini membuat saya tergelak dan kemudian menghela napas. Mengerti hal ini adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah definisi sepanjang satu paragraf. Bahkan memulai untuk mengerti memerlukan kesediaan si penanya untuk keluar dari sekolah sesaat.—Laura D., Texas

Kami tidak melakukan pendekatan belajar sebagai sesuatu yang dilakukan orang sebagai kegiatan terpisah. Kami menjalani hidup dan belajar bersamaan. Kami tidak melakukan pengajaran, tidak ada kelas, tidak ada rencana pelajaran, tidak ada nilai, tidak ada kurikulum, tidak ada buku teks, dan tidak ada ujian. Pada dasarnya, saya tidak khusus memperhatikan apa yang dipelajari anak-anak; cukup dengan melihat bahwa mereka tumbuh seperti manusia normal, dan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman saat mereka pergi. Saya tidak mencatat apa yang mereka lakukan, tidak lebih seperti mengetahui apa yang teman Anda pelajari mengenai pokok bahasan yang mereka minati. Kami banyak berbincang. Tidak ada waktu khusus yang disiapkan untuk melakukan aktivitas belajar, atau aktivitas yang dilakukan karena hal itu mendidik. Saya tidak punya daftar, baik fisik maupun mental, tentang hal-hal yang menurut saya harus mereka ketahui pada usia tertentu.

Tapi kami banyak belajar. Kami cenderung tertarik pada hal-hal yang seringkali dianggap mendidik. Anak-anak menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Simon suka sekali membaca dan menghabiskan banyak waktunya dengan membaca. Simon dan Timmy sama-sama banyak menulis.—Linda, New York.

Keseluruhan filosofi saya mengenai pendidikan non-sekolah didasarkan pada asumsi awal bahwa pembelajaran adalah dorongan yang alami, menyenangkan, dan mustahil dihindari yang lahir bersama diri kita. Saya percaya bahwa anak-anak ingin belajar mengenai hidup dan akan belajar jika mereka tidak diganggu. Maksud saya dengan gangguan adalah imbalan dari luar, ancaman, diberi tahu apa yang harus dipelajari dan kapan harus mempelajarinya.

Anda harus mempercayai anak-anak untuk tidak menyekolahkan mereka.

Permintaan untuk keluarga sejauh permasalahan waktu adalah “tidak ada waktu samasekali” dan “semua waktu di dunia.” Kami tidak bersekolah selama dua puluh empat jam sehari, tapi itu tidak membutuhkan waktu tambahan dari apa yang akan kami lakukan. Itu seperti menanyakan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk hidup.—Susan, Iowa

Sebagai wali kelas, saya selalu takjub mengenai betapa baiknya hasil anak-anak dalam pelajaran yang membangkitkan minat mereka. Satu demonstrasi yang bagus dan dilakukan dengan baik bisa memastikan pemahaman yang lebih baik dari murid-murid Anda, bukan karena mereka mengerti konsepnya, tapi karena mereka sudah menjadi cukup tertarik untuk mau mempelajarinya. Hal itu makin jelas bagi saya bahwa jika seorang anak ingin belajar sesuatu, seorang anak akan mempelajarinya, dan mempelajarinya dengan sangat baik. Bagi kami, pendidikan tanpa sekolah mengetuk keingintahuan alamiah dan keinginan untuk belajar.

Saya rasa kesalahan konsepsi terbesar yang harus saya hadapi mengenai pendidikan non-sekolah adalah bahwa orangtua memiliki sikap lepas tangan total mengenai anak-anak mereka. Bahkan ada orang yang pernah mengatakan pada saya bahwa saya pasti menelantarkan anak saya, dan keluarga yang tidak bersekolah sekadar menciptakan sebuah nama untuk melegitimasi penyiksaan kami! Saya pikir pada kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya.

Sebagai orangtua yang tidak menyekolahkan anak-anaknya, saya menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membantu anak-anak saya. Saya adalah fasilitator mereka. Saya adalah pemandu mereka melalui buku-buku perpustakaan dan buku sumber. Saya adalah supir dan agen perjalanan mereka menuju tempat-tempat yang eksotis. Saya juga pembersih dan penghilang noda cat yang tumpah, penjawab (untuk yang keseratus kali) sebuah soal matematika, dan pemandu menuju berbagai misteri dalam dunia mereka.—Kathy, Illinois

Baca lebih lanjut buku Home Schooling: Menjadikan Setiap Tempat sebagai Sarana Belajar karya Mary Griffith (Penerbit Nuansa, Cetakan ke-III, 2012)

Home Schooling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *