Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Apa Mati itu?

Apa Mati itu?

Oleh Imam al-Ghazali

Perbedaan pendapat mengenai mati. Ketahui­lah wahai pembaca bahwa orang-orang berselisih pendapat tentang mati. Sebagian mengatakan bahwa kematian akan menghancur­kan segala sesuatu, tapi tidak ada ke­binasaan dan kehancuran tuntas dunia ini dan tidak ada Kebangkitan Kembali (Hari Kiamat). Mereka juga berkata bahwa kematian yang dirasakan oleh manusia lebih baik daripada kematian yang dialami oleh burung, binatang ternak, tumbuhan dan pepohonan. Ini adalah pendapat orang kafir, orang yang tidak beriman. Se­bagian orang menyangka bahwa mati menyerang manusia dan mulai dari kubur hingga saat dibangkitkan dari kubur tidak ada pahala atau siksa. Sebagian lain­nya berpendapat bahwa jiwa manusia tidak mati, pahala atau siksa akan ditimpakan atas jiwa, bukannya atas raga, sehingga mereka mempunyai pendapat bahwa kebang­kitan fisik tidak akan terjadi nanti pada Hari Kiamat. Ini semua adalah pendapat yang tak berdasar dan jauh dari kebenaran.

Makna kematian. Ayat-ayat Al-Quran dan hadis serta pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman menunjukkan bahwa kematian berarti perubahan keadaan, bahwa ketika jiwa terpisah dari raga maka ia akan menerima pahala dan siksa, dan bahwa terpisahnya nyawa dari badan berarti hilangnya kekuatan dan daya nyawa atas badan. Anggota-anggota tubuh adalah alat-alat jiwa. Jiwa menggunakan anggota-anggota badan dalam melakukan pekerjaan dan menjalan­kan usaha jiwa. Ia menangkap dengan tangan, mendengar dengan telinga, melihat dengan mata dan mendapatkan pe­ngetahuan tentang segala sesuatu. Jiwa tanpa alat-alat ini tidak bakal menge­tahui hubungan antarsesuatu. Oleh karena itu, jiwalah yang mengalami penderitaan, ke­pedihan dan kesakitan serta merasai kesenangan dan kebahagiaan.

Badan tidak merasakan kesedihan/kesakitan atau keba­hagia­an/kesenangan, tidak ada hubung­an perasaan-perasaan dengan badan. Lenyapnya dan tercabutnya kekuatan un­tuk melakukan pe­kerjaan atau menjalankan usaha dapat di­ibarat­kan seperti anggota tubuh yang menjadi lumpuh disebabkan oleh rematik atau penyakit parah lainnya. Jiwa tidak dapat mem­berikan pengaruh atas badan. Setiap anggota tubuh adalah alat jiwa yang karenanya ia mampu melakukan gerak dan kerja. Jiwa di sini penger­tian­nya adalah sesuatu yang mampu merasakan penderitaan dan kesakitan dan mengalami kegembiraan dan kebahagiaan. Adapun yang dimaksud dengan ‘manusia’ di sini adalah jiwanya yang dapat mengalami perasaan sedih atau senang, bahagia atau sengsara, bukan jiwa manusia yang mengalami mati tetapi badan. Jiwa manusia tidak akan merasakan mati. Sejak pencipta­annya, jiwa bersifat kekal meskipun diciptakan. Mati berarti terpisahnya jiwa dari tubuh dan tubuh berhenti (tidak lagi) menjadi alat jiwa, karena kelumpuhan suatu anggota tubuh berarti tidak dapat lagi menjadi alat bagi tubuh. Mati berarti lumpuhnya seluruh anggota tubuh, yang berada di luar maupun di dalam, tetapi bagian utama dari manusia, yaitu jiwa atau ruh, masih tetap ada.

Sebab Perubahan Keadaan pada Saat Kematian

Ada dua sebab sehingga perubahan keadaan ini terjadi.

(1) Sebab pertama adalah bahwa seluruh anggota tubuh seorang manusia, telinga, hidung, mata, lidah, dan sebagainya direnggut atau di­ambil dari orang itu pada saat ajal dan ia direnggut dari semua sanak-saudara dan sahabatnya, dan dari semua harta dan kekayaan yang dimilikinya. Jadi, ada rasa sedih, sakit dan pedih pada saat berpisah dengan semua yang dicintai dari dunia ini dan pada saat dipindahkan ke alam lain tempat ia merasakan kesedihan, kesakitan dan kepedihan berpisah dalam bentuk yang paling hebat. Dengan demikian, ada perubahan keadaan pada saat seseorang mengalami kematian.

(2) Sebab kedua adalah bahwa hakikat atau sifat hakiki dari segala sesuatu terungkap dan ter­singkap ke hadapan seseorang setelah ia mati, sehingga apa pun yang selama hidup di dunia ini tersembunyi darinya sebagai­mana yang tidak terungkap dan tersingkap bagi se­seorang yang tidur, dapat terungkap dan tersingkap saat ia tidak tidur. Sekarang ini, maksudnya ketika hidup di dunia ini, manusia dapat diibaratkan seperti dalam keadaan tidur. Dan ketika mati, mereka diibarat­kan seperti bangun dari tidur. Yang pertama-tama tampak dan tersingkap di hadapannya adalah sesuatu yang membawa mudharat baginya, misalnya perbuatan dosa dan maksiat, dan sesuatu yang membawa manfaat baginya, misalnya per­buatan baik dan taat. Ini semua tercatat di dalam Kitab Amal yang tersimpan secara rahasia di dalam jiwanya. Kesibukan duniawi selama hidup seseorang di dunialah yang menyebabkan ia tidak menyaksikan segala amal-perbuatannya di dunia. Maka tatkala kesibukan-kesibukan tersebut terhenti karena datangnya kematian, semua amal perbuatan seseorang tersingkap ke hadapannya. Disebabkan oleh kesedihan yang luar biasa atas dosa dan maksiat yang diperbuat­nya selama di dunia, maka ia bahkan lebih suka melempar­kan dirinya ke dalam api. Terhadap hal yang demikian, dikatakan kepadanya oleh firman Allah, …cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (Qs al-Isrâ’ [17]: 14)

Semua amal-perbuatannya ter­tampak­kan kepada­nya pada saat jiwanya terpisah dari tubuh­nya sebelum dikuburkan. Rasa sakit dan pedih muncul saat seseorang berpisah dari dunia yang selama ini demikian me­nyibukkan dan menye­nang­kannya walaupun dunia ini fana, tidak kekal. Pada saat itu, yang diinginkannya adalah perbekal­an berupa kebaikan yang diperlukan guna mengantarkannya ke tempat yang dicita-cita­kannya yang memberikan kebahagiaan. Ia tidak menginginkan sesuatu pun kecuali apa yang betul-betul dibutuhkannya di dunia ini. Dengan demikian, dirinya terbebas dari rasa sakit dan pedih sebelum saat kematiaannya datang. Setelah seseorang dikuburkan, jiwanya di­kemba­li­kan pada tubuhnya, sehingga ia dapat merasakan pedihnya hukuman dan nikmatnya pahala. Kadang-kadang seseorang diampuni dari dosa dan kekhilafan yang dilakukannya di dunia.

Makna hidup. Untuk memahami makna hidup, jiwa (ruh) beserta sifat-sifatnya haruslah kita ketahui bahwa Rasulullah Saw melarang kita membicarakan dan mendiskusikan tentang jiwa, kecuali menyatakan bahwa jiwa berasal dari ‘perintah’ Allah Ta‘âlâ dan merupakan urusan Allah. Tetapi, beliau tidak melarang kita mem­bicarakan dan mendiskusikan bagaimana jiwa manusia menghadapi maut. Dari sini diketahui bahwa kejadian mati tidak berarti bahwa jiwa akan mati bersama dengan tubuh. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa jiwa tidak akan mati. Allah Ta‘âlâ berfirman, Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka…. (Qs Âli ‘Imrân [3]: 169-170)

Ketika beberapa orang pemimpin Quraisy terbunuh pada Perang Badar, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai fulan, fulan, dan fulan, aku mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku adalah benar. Apakah kalian juga mendapati janji Tuhanmu benar?” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah engkau menyeru orang-orang yang telah mati?” Beliau menjawab, “Demi Tuhan yang hidup­ku berada di tangan-Nya, mereka sesungguhnya men­dengar kata-kata ini, tetapi mereka tidak dapat menja­wab­nya.” Ini merupakan bukti dan dalil syariat tentang kekekalan jiwa atau ruh manusia.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Boleh jadi kubur adalah sebuah lubang dari lubang-lubang neraka atau sebuah taman di antara taman-taman surga.” Ini juga meru­pakan dalil yang tegas bahwa mati berarti peru­bahan keadaan dan pintu masuk seseorang yang mati kepada kesengsaraan atau ke­bahagiaan. Kapan dan di mana maut datang kepada sese­orang, maka tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Ia datang secara tiba-tiba tanpa dapat ditunda-tunda bila saatnya datang. Tetapi juga ada beberapa siksaan atau pahala yang baru akan dirasakan kemudian di akhirat. Dengan demi­kian, pahala atau siksa kubur bukanlah pokok dari pahala atau siksa.

Dalam hadis lainnya, beliau bersabda, “Mati adalah kiamat. Maka barangsiapa mati, datanglah kiamatnya.” Nabi Saw juga bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian mati, tempatnya kelak [di akhirat] diperlihatkan kepadanya pagi dan sore. Jika ia dari penghuni surga, maka ia akan termasuk di dalam golongan ahli surga. Jika ia dari penghuni neraka, maka ia akan termasuk di dalam golongan ahli neraka. Kepadanya dikatakan, ‘Inilah tempatmu hingga engkau dibangkitkan pada Hari Kebangkitan.’.” Jika seseorang melihat dua tempat sekaligus, maka hukuman bagi kejahatan dan balasan bagi kebaikannya tidak tertunda baginya.

‘Ali Kw berkata dalam sebuah riwayat, “Tercegah bagi seseorang untuk pergi meninggal­kan dunia sebelum ia tahu tempatnya apakah di neraka ataukah di surga.”

Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam perjalanan (musafir atau merantau), ia meninggal dalam keadaan syahid (mati syahid). Dan dipeliharalah ia dari fitnah kubur dan diantarkan kepadanya rezeki dari surga pagi dan petang.”

Ada kebahagiaan dan kegembiraan yang sempurna bagi seorang yang mati syahid—yang terbunuh di jalan Allah dan karena Allah—karena ia memutuskan dirinya dari semua hubungannya dengan dunia dan maju berperang ke medan jihad untuk mencari keridhaan Allah dan berhasrat besar untuk berjumpa dengan-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam ayat-Nya, …sedang untuk mereka sendiri apa yang mereka sukai.… (Qs an-Nahl [16]: 57). Dalam ayat ini disinggung segala jenis kesenangan dan kebahagiaan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda kepada Jabir Ra, “Wahai Jabir, maukah engkau kuberi kabar gembira?” Jawabnya, “Tentu, ya Nabi.” Maka beliau bersabda, “Allah mengabarkan kepadamu berita yang menggembirakan. Dia berfirman akan menghidupkan ayahmu dan kemudian mendudukkannya di hadapan-Nya dan ber­firman, ‘Wahai hamba-hamba-Ku, berhasratlah kalian ke­pada-Ku, maka Aku akan memberikannya kepada kalian.’ Lalu ayah Jabir berkata, ‘Ya Allah Tuhanku, aku tidak dapat beribadah kepada-Mu tanpa digerakkan oleh-Mu. Aku berharap agar Engkau kembalikan aku lagi ke dunia sehingga aku dapat berjihad bersama Nabi-Mu dan mati syahid lagi untuk memperoleh ridha-Mu.’ Allah Ta‘âlâ berfirman kepadanya, ‘Sudah menjadi hukum-Ku bahwa engkau tidak dapat kembali ke dunia lagi.’.”

Suatu ketika ada seseorang meninggal dunia. Mendengar orang itu meninggal, Rasulul­lah Saw bersabda, “Orang ini telah pergi dari dunia dan meninggalkan dunia bagi para anggota keluarganya (ahli warisnya). Jika ia ridha dengan itu, maka ia tak akan suka kembali kepadanya sebagaimana seseorang di antara kalian tak suka kembali ke rahim ibunya.”

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Seorang mukmin tinggal di dunia seperti sesosok janin berada di dalam perut ibunya. Tatkala keluar darinya, maka ia menangis, dan sesudah melihat cahaya, maka ia tak suka kembali ke tempat sebelumnya yang gelap. Begitu pula keadaan seorang mukmin. Ketika ia melihat dan berjumpa dengan Tuhannya, maka ia tak suka kembali ke dunia se­bagaimana seorang bayi tak suka kembali ke perut ibunya, tempat ia dikandung ketika masih berupa janin.”

Sahabat Nabi Saw Abu Sa’id al-Khudri berkata bahwa ia mendengar beliau Saw bersabda, “Orang yang mati mengenal (melihat) orang yang memandikannya, yang membawanya ke kubur dan yang memasukkannya ke dalam kubur.”

Baca lebih lengkap dalam buku Ihya’ ‘Ulumuddin 1-12 karya Imam al-Ghazali (Penerbit Marja, 2014)

ihya 600x340

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *