Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Apakah Semua Terjadi tanpa Sengaja?

Apakah Semua Terjadi tanpa Sengaja?

Oleh Hamid Muhammad

Kita akan memulai pembahasan ini dengan menyebutkan ihwal penciptaan manusia. Oleh karena itu, hendaklah diperhatikan dengan saksama. Awal penciptaan manusia adalah penempatan janin di dalam rahim. Di dalam rahim itu, ia diliputi tiga kegelapan, yaitu kegelapan perut, kegelapan rahim, dan kegelapan plasenta. Ia tidak dapat mencari makanan sendiri dan tidak pula dapat menolak sakit; tidak bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Makan melalui tali pusar, sari makanan dan air dialirkan kepadanya.

Demikianlah seterusnya, hingga ketika penciptaannya telah sempurna, badannya telah kuat, kulitnya telah mampu bersentuhan langsung dengan udara luar, dan penglihatannya telah sanggup menerima cahaya, maka tibalah kepada sang ibu masa untuk melahirkannya. Sang ibu mencemaskan keadaan anak itu dan menekannya hingga ia terlahir. Setelah anak itu lahir, maka makanannya yang semula disalurkan melalui darah, kini beralih melalui kedua susu ibunya. Berubahlah rasa dan warna makanannya menjadi rasa dan warna makanan yang lain. Makanan yang keluar lewat susu ibu lebih cocok bagi bayi yang telah lahir daripada makanan yang disalurkan melalui darah. Makanan itu didatangkan tepat pada saat diperlukan.

Setelah anak itu dilahirkan, ia menjulurkan lidahnya dan menggerak-gerakkan bibirnya mencari susuan. Lalu ia mendapatkan payudara ibunya seperti dua kantung yang berisi makanan untuk memenuhi kebutuhannya. Ia selalu makan dari air susu itu selama badannya masih rapuh, alat-alat pencernaannya masih lembut, dan anggota-anggota tubuhnya masih lemah. Kemudian, ketika ia mulai bisa bergerak dan memerlukan makanan yang agak keras untuk menguatkan dan mengeraskan badannya, maka tumbuhlah gigi susu dan gigi depan agar ia bisa mengunyah makanan sehingga makanan menjadi lembut dan mudah ditelan.

Hendaklah diperhatikan keteraturan yang terdapat dalam diri manusia dengan berbagai keadaannya. Apakah hal seperti itu dapat terjadi secara kebetulan? Tidakkah diperhatikan bahwa ketika ia berada di dalam rahim, sementara darah tidak mengalir kepadanya, bukankah ia akan menjadi kurus dan kering seperti tumbuhan yang tidak disiram air? Sekiranya tidak ada proses kelahiran yang mengeluarkannya dari rahim setelah susunan tubuhnya sempurna, bukankah keberadaannya di dalam rahim itu akan menjadi seperti tubuh yang dikubur hidup-hidup di dalam tanah? Sekiranya air susu ibunya tidak keluar pada saat ia telah dilahirkan, bukankah ia akan mati kelaparan, atau akan diberi makanan yang tidak cocok bagi pertumbuhannya dan tidak baik bagi kondisi tubuhnya? Kalaulah gigi tidak tumbuh pada waktunya, bukankah ia akan mengalami kesulitan saat hendak mengunyah dan menelan makanan? Atau, haruskah ia meminum ASI (air susu ibu) terus-menerus sehingga badannya akan tetap lemah dan tidak mampu beraktivitas, sedangkan ibunya juga sibuk karena harus mengasuh anak-anaknya yang lain?

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana setiap ciptaan diciptakan selalu untuk tujuan yang baik, dan dengan penuh perhitungan, keteraturan, dan keserasian? Ini menunjukkan bahwa penciptanya mestilah satu. Dialah yang mengatur dan menyusun bagian demi bagian dengan pengaturan yang sangat baik. Mahaagung kesucian-Nya, Mahatinggi kemurahan-Nya, Mahamulia wajah-Nya. Tiada tuhan selain Dia. Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan orang-orang yang ingkar (mulhid).

Baca lebih lanjut buku Bermula dari Tauhid Kembali kepada Tauhid karya Hamid Muhammad (Penerbit Marja, 2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *