Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Apologia untuk Kamus Isme-Isme

Apologia untuk Kamus Isme-Isme

Oleh Yapi Tambayong

Moga-moga benar, bahwa kamus seperti ini belum pernah ada dalam peta kepustakaan kita. Karenanya, dengan rasa besar hati, tetapi juga dengan sikap rendah hati, saya persembahkan kamus ini kepada Anda: Puan-puan dan Tuan-tuan. Kiranya berkenan.


Bagi saya, sebagai pesuka bahasa—selama ini saya memperkenalkan diri sebagai munsyi—bahwa menulis kamus seperti ini karuan merupakan tantangan memikat untuk belajar lebih luas menyangkut kebahasaan atas segala aspek pengetahuan, ilmu, atau widya, yang pernah ada dan bersinambung dalam sejarah peradaban.

Yang hendak saya tekankan dalam acuan di atas, adalah menulis. Bagi saya menulis merupakan pekerjaan cendekia dari kemauan yang serius memandang arti sejarah peradaban tersebut, sebagai katakanlah tanggungjawab budaya, untuk merangkumnya, memilihnya, lantas menyajikannya kepada Anda.

Jika hal itu boleh dibilang sebagai landasan, maka awal landasan ini dimulai dari banyak diskusi dengan sahabat dan kerabat dari latar sekolah-sekolah kesenian maupun sekolah-sekolah keagamaan—yang notebene peristilahannya mendapat bagian lumayan besar di kamus ini—tercetuslah harapan untuk perlunya sebuah catatan khusus berupa buku tentang istilah-istilah terpakai meliputi paham, aliran, atau gerakan yang terjadi di dalamnya, agar diskusi-diskusi tersebut bisa mengalir.

Maka, begitulah, dalam waktu singkat lahirlah Kamus Isme-Isme yang sedang Anda pegang ini.
Dengan sendirinya kamus ini—yang dikerjakan dalam waktu singkat: lebih kurang satu bulan—belumlah boleh dibilang final. Masih ada besok untuk melengkapinya. Dan, tentu saja, kritik dan koreksi Puan-puan dan Tuan-tuan semua niscaya akan melengkapi kekurangan-kekurangannya. Untuk itu, sebelumnya saya ucapkan terimakasih tiada terperi.

Secara tersendiri, terimakasih tiada terhingga saya sampaikan kepada penyair Mathori A Elwa yang mencarikan gambar-gambar ilustrasi pada sejumlah lema sekaligus membuat indeks dalam kamus ini. Juga Faiz Manshur, redaksi Nuansa Cendekia, yang banyak membakar semangat, dan untung saja tidak sampai hangus.

Jakarta, Juni 2013

Baca lebih lanjut buku Kamus Isme-Isme: Filsafat, Teologi, Seni, Sosial, Politik, Hukum, Psikologi, Biologi, Medis karya Yapi Tambayong (Remy Sylado) (Penerbit Nuansa, 2013)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *