Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Bangunan Ka’bah

Bangunan Ka’bah

Oleh Saniyasnai Khan

Ismail tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan penuh kasih. Ibrahim dan Ismail diperintahkan oleh Allah agar membangun Rumah Allah—Ka’bah di Makkah. Mereka mengambil batu-batu dari dekat perbukitan dan mulai bekerja. Untuk tanah suci ini, Ibrahim berdoa, “Wahai Tuhanku, jadikanlah tanah ini aman, dan berilah penduduknya buah-buahan sebagaimana mereka telah beriman kepada Allah dan hari akhirat.”

Ketika Ibrahim dan Ismail membangun fondasi, mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, terimalah ini dari kami! Engkau Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Kemudian mereka berdoa lagi, “Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami patuh kepada-Mu, dan jadikanlah keturunan kami kaum yang patuh kepada-Mu dan tunjukkan kepada kami jalan untuk beribadah.” Mereka juga berdoa agar dilahirkan seorang nabi dari keluarga mereka, yang akan mengajarkan kebijaksanaan kepada manusia dan memurnikan keimanan mereka. Doa mereka dikabulkan beberapa tahun kemudian ketika Nabi Muhammad lahir dari keturunan mereka.

Rumah Suci

Allah Ta‘ala berfirman: Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya (al-Baqarah: 144). Menurut ayat ini, lebih dari seperempat penduduk dunia menghadapkan wajah mereka ke Ka’bah dalam shalat. Ka’bah adalah tempat suci pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Baik Ka’bah maupun Hajar Aswad merupakan tempat ibadah. Keduanya merupakan simbol (syiar) yang menjadi satu titik bagi kesatuan seluruh kaum Muslim. Al-Quran juga menyebutnya al-Bait al-‘Atiq (Rumah Kuno), al-Bait al-Haram dan al-Bait al-Muharram (keduanya berarti Rumah Suci).

Hajar Aswad

Di sudut timur Ka’bah, kira-kira 5 kaki (1,5 m) dari lantai, terdapat sebuah batu hitam oval yang berdiameter kira-kira 18 cm menempel pada dinding. Batu itu diletakkan pada sebuah bingkai perak dan dikenal sebagai Hajar Aswad atau Batu Hitam. Batu ini asalnya dipasang di sana oleh Nabi Ibrahim As, dan adalah satu-satunya barang peninggalan dari bangunan asli.

Karena alasan sejarah ini, Nabi Muhammad Saw menunjukkan kecintaan yang besar pada batu ini dengan menciumnya. Itu adalah satu-satunya barang yang tetap dijaga utuh oleh Nabi Muhammad Saw manakala beliau menghancurkan berhala dan mengembalikan lagi Ka’bah kepada Allah pada tahun 630 M.

Berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw, jamaah haji sekarang pun mencium dan menyentuhnya. Jika terlalu sulit, mereka cukup mendekatinya dan menyentuhnya dengan tangan sambil mengelilingi Ka’bah saat haji dan umrah.

Khalifah Umar pernah berdiri di depan Hajar Aswad dan mengucapkan kalimat berikut: “Aku tahu bahwa kamu hanyalah batu yang tidak dapat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan. Sekiranya aku tidak melihat Nabi Muhammad menciummu, aku tidak akan pernah menciummu.”

Panggilan Haji yang Pertama

Ibrrahim diperintahkan oleh Allah agar membersihkan Ka’bah untuk siapa saja yang datang ke sana untuk berdoa. Allah juga menyeru manusia agar berhaji: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (Qs al-Hajj: 27).

Allah juga mewajibkan haji kepada setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk berhaji satu kali seumur hidup jika mampu dan sehat. Haji adalah satu rukun Islam.

Sejak saat itu, orang-orang yang beriman dari segala penjuru dunia pergi untuk menunaikan ibadah haji, yaitu dari tanggal 8 hingga 12 Dzulhijjah. Mereka berangkat untuk memenuhi perintah Tuhan mereka dan untuk mengingat perbuatan mulia Nabi Ibrahim.[]

Arsitektur Ka’bah

Terbuat dari batu abu-abu yang diambil dari sekitar perbukitan Makkah, Ka’bah merupakan sebuah bangunan empat persegi panjang. Panjangnya empat puluh kaki dan lebarnya 35 kaki (9 m). Tinggi dindingnya kira-kira 50 kaki (12 m) dan naik satu kaki (30 cm) dari permukaan lantai pualam yang disebut syazharwan. Sudut-sudutnya disebut arkan. Sudut timur disebut al-Rukn al-Aswad, tempat Hajar Aswad. Tiga sudut yang lain dinamai sesuai dengan nama negara yang menjadi arahnya. Sudut selatan menghadap ke Yaman sehingga disebut al-Rukn al-Yamani, sudut utara menghadap ke Irak sehingga disebut al-Rukn al-‘Iraqi, dan sudut barat menghadap ke Syam (Suriah) sehingga disebut al-Rukn al-Syami. Di dalam Ka’bah terdapat beberapa tiang kayu yang menopang atap. Dinding dan lantai ditutup dengan pualam.

Sebuah dinding tipis setengah lingkaran dari pualam putih yang tingginya kira-kira tiga feet (1 m) yang membentang dari utara ke barat dinding Ka’bah tetapi tidak menyambung ke Ka’bah. Ini disebut al-Hatim. Tadinya ruang setengah lingkaran ini merupakan bagian dari Ka’bah, karenanya mendapatkan status khusus. Orang-orang shalat dua rakaat di dalam ruang ini, seakan-akan mereka shalat di dalam Ka’bah. Thawaf dilakukan dari luar dinding ini dan, ketika imam mengimami shalat, tidak diizinkan shalat di dalamnya.[]

Baca lebih lanjut Ibadah Haji: Agar Kita Memahami secara Tepat karya Saniyasnain Khan (Marja, 2013)

ibadah haji 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *