Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Beberapa Kesalahan Penafsiran tentang Pengalaman Nabi sebagai Penggembala

Beberapa Kesalahan Penafsiran tentang Pengalaman Nabi sebagai Penggembala

Oleh Prof. Abdul hamid Siddiqi

Begitu pentingnya sehingga, ketika para penulis biografi Nabi dari Barat menulis kisah-hidupnya, mereka sangat menekankan pengalaman-pengalaman mental Nabi sebagai seorang peng­gembala. Mereka ingin memberikan kesan bahwa apa yang disebut Nabi sebagai wahyu itu tidak lain kecuali ingatannya terhadap kehidupan penggembalaannya. “Karena itu, kita dapat menduga,” tegas William Muir, “betapa berharganya suatu keyakinan yang mendalam dan sungguh-sungguh pada Tuhan sebagai sebab yang selalu hadir dan serba mengatur; sebuah keyakinan yang pada hari-hari sesudahnya ingin ditegakkan Nabi dari memori, tidak diragukan lagi, akan masa-masa awal ini oleh dorongan yang memikat dan menggetarkan hati pada cara kerja halus alam dan penyelarasan yang berguna terhadap Pemeliharaan yang selalu hadir.”

Pandangan ini mutlak keliru. Hubungan langsung dengan alam tak diragukan lagi memberikan kepada Nabi suatu kesempatan untuk “memperhatikan kehidupan benda-benda” dan memahami di baliknya kehadiran Pembuatnya. Akan tetapi salah jika kita mengatakan bahwa pengalaman yang diperoleh selama periode ini kemudian diubah menjadi wahyu. Pe­renungan terhadap alam fenomenal dan alam dalam diri ma­nusia dapat mempertajam akal kita dan menjaga emosi kita, menerangi perasaan kita dan me­ningkat­kan serta menenang­kan jiwa kita, dan dengan demikian memungkinkan kita mengapresiasi sepenuhnya kata-kata Allah; akan tetapi, yang demikian itu tidak bisa berperan sebagai pengganti wahyu. Paling-paling hal itu dapat dianggap sebagai latihan mental dan emosi untuk mempersiapkan seseorang menerima “pengamatan Dia yang memerintah.”

Pengamatan terhadap fenomena fisik mungkin men­dorong kita pada kesimpulan yang benar tentang alam semesta dan Penciptanya, tetapi hal itu tidaklah cukup. Kita ingin mengetahui prinsip spiritual yang bekerja pada inti segala sesuatu, dan hal ini bisa kita raih bukan melalui penalaran deduktif, bukan pula subyek yang seakan-akan mengarahkan diri pada pengamatan langsung. Satu-satunya sarana yang tersisa adalah wahyu. Materi dan energi tidak menghabiskan isi alam semesta. Ada “sesuatu” yang melampaui keduanya. “Se­suatu” yang sangat penting ini—bahkan mungkin tak ter­elak­kan bagi kehidupan manusia—bukanlah sekadar fenomena fisik atau hanya transformasi energi, atau perubahan yang tiada henti, melainkan penyingkapan substansi spiritual dan Realitas tak Terhingga berkat perubahan dan perubahan kembali fenomena. Tidak seorang pun manusia, Nabi sekali pun, bisa menggapai, melalui pemahaman intelektualnya sendiri, pandangan yang sempurna tentang Realitas Tak Terhingga ini. Al-Quran menginformasikan kepada Nabi Muhammad tentang keterbatasan yang penting ini:

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahui­nya dan tidak pula kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguh­nya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (Qs Hud [11]: 49).

Al-Quran lebih jauh menegaskan bahwa tanggungjawab Penciptalah untuk menerangi jalan yang benar dengan menyampai­kan pesan-Nya kepada para nabi-Nya.

Juga harus dicamkan dalam pikiran bahwa masa peng­gembala­an sekawanan domba menjadi dasar latihan bagi petunjuk manusia. Penggembala selalu waspada terhadap gembalaannya dan peduli terhadap binatang-binatang agar mereka ini tidak tersesat atau menjadi korban mangsa binatang-binatang buas. Demikian juga halnya dengan se­orang nabi. Dia adalah penggembala manusia; yang selalu memikirkan kesejahteraan mereka dan selalu berusaha mem­bimbing mereka ke jalan yang lurus menuju kesejahteraan mereka. Dari pengalaman sebagai penggembala inilah muncul rasa cinta kepada manusia dan keinginan untuk meng­hilangkan penderitaan manusia yang terlena dalam kebodohan. Demikianlah kegelisahan Nabi untuk membawa manusia ke jalan Allah dengan pertama-tama menceritakan kesehatannya dan dia diperingatkan oleh Tuhan dalam ungkapan-Nya sebagai berikut:

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman (Qs al-Syu‘ara’ [26]: 3).

Masa Muda Nabi

Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, pamannya Abu Thalib, yang pedagang itu, mengadakan perjalanan dagang ke Syria. Dia ragu-ragu mengajak Muhammad karena sulitnya perjalanan, namun Muhammad tidak ingin berpisah dari pamannya. Dia berpegang erat padanya dan setelah memohon terus-menerus pamannya mengajaknya ke Syria. Selama dalam perjalanan inilah konon dia bertemu dengan Bahira, seorang pendeta Kristen. Pertemuan ini yang sering dan selalu ditekankan oleh beberapa sarjana Kristen yang menyimpulkan bahwa dari Bahiralah dia belajar untuk membenci berhala.

Rekaman otentik kisah kehidupan Nabi Muhammad Saw membuktikan tanpa keraguan sedikit pun bahwa tidak sebutir kebenaran pun dalam kesimpulan ini. Bahwa Bahira bertemu dengan Muhammad adalah fakta, tetapi klaim bahwa dia belajar dari rahib Kristen itu tentang konsep Tuhan Yang Esa dan membenci pe­nyembahan berhala samasekali tidak berdasar. Sebaliknya, kita melihat bahwa Nabi dalam pem­bicaraan awalnya menunjukkan kebenciannya yang sangat mendalam terhadap penyembahan berhala yang telah begitu melekat pada pikiran masyarakat di sekitarnya. Berikut ini kami turunkan kembali kutipan dari Ibn Hisyam untuk memberikan gagasan yang benar-benar terjadi antara Muhammad dan Bahira:

Ketika Bahira melihatnya, dia mulai memandangnya dengan tajam dan menyelidiki ciri-ciri tubuhnya sehingga mengetahui tanda-tanda (kenabian) yang telah diketahui­nya (dari Kitab Suci). Lalu, ketika rombongan kafilah telah selesai makan dan membubarkan diri, Bahira meng­hampirinya dan berkata, “Hai anak muda! Saya men­desakmu demi al-Lat dan al-‘Uzza agar menjawab pertanyaanku.” Bahira berkata begitu hanya karena dia mendengar masyarakatnya bersumpah demi yang dua dewa ini. Mereka berkata bahwa Muhammad menjawab­nya, “Jangan memohon demi al-Lat dan al-‘Uzza, karena demi Tuhan, tidak ada yang sangat aku benci seperti aku membenci keduanya.” Lalu Bahira berkata kepadanya, “Jadi, dengan nama Tuhan, adalah jawaban yang aku tanyakan kepadamu,” tegasnya. Maka Bahira mulai me­nanyakan kepadanya tentang hal-hal tertentu tentang keadaannya sewaktu tidur. Kemudian Rasulallah Saw mulai menjawabnya; dan apa yang dikatakannya sejalan dengan gambaran tentangnya dalam (buku) Bahira….

Kemudian Bahira menghampiri pamannya, Abu Thalib, dan berkata:

“Kembalilah ke kotamu bersama keponakanmu, dan lindungilah dia dari orang-orang Yahudi, karena, demi Allah, jika mereka melihatnya dan mengetahui seperti apa yang aku ketahui tentangnya, mereka akan melakukan kejahatan; karena nasib baik ada pada keponakanmu, maka bergegaslah kembali ke kotamu bersamanya.” Pamannya, Abu Thalib, cepat-cepat berangkat ber­­samanya dan segera sampai di Makkah setelah me­nyelesaikan berdagangnya di Syria.

Muhammad kira-kira berusia lima belas tahun27 ketika perang “yang melanggar susila” (harb al-fijar)—yang dilanjut­kan dengan berbagai nasib dan banyaknya orang mati selama beberapa tahun—meletus di ‘Ukaz antara orang-orang Quraisy dan Banu Kinanah di satu sisi dan Banu Qays Aylan di sisi lain. Di salah satu peperangan ini Nabi Saw menyertai pamannya, tetapi tidak mengangkat senjata terhadap musuh-musuhnya. Usahanya hanya terbatas mengambil anak-anak panah dari musuhnya ketika mereka jatuh dan menyerah­kannya kepada pamannya.

Di akhir peperangan ini, ketika perdamaian telah pulih, masyarakat merasakan pentingnya membentuk suatu konfederasi di Makkah untuk menekan kekerasan dan kezaliman serta mempertahankan hak-hak orang lemah, fakir-miskin dan orang yang melarat. Muhammad memainkan peran penting dalam pem­bentukan­nya, dan persekutuan ini memperoleh pengaruh yang cukup kuat terhadap suku-suku Arab yang beraneka-ragam.

Para penguasa sepakat menisbahkan kepada pemuda bernama Muhammad Saw sikap sederhana dan kesucian tingkah laku yang jarang dijumpai di kalangan masyarakat Makkah. Selama masa ini, dia membuktikan diri memiliki akhlak yang mulia dan bersih, menjadi Mukmin sejati kepada Tuhan Yang Esa, dan benar-benar amanah dalam persahabatan, pertolongan dan bimbingan. Dia penyayang, baik, simpatik terhadap pengikutnya; selalu berbudi luhur, jujur dan ikhlas; benar-benar setia terhadap semua kebenaran dan janji. Dia menjauhkan diri dari judi, minum-minuman keras, per­tengkaran kasar, hawa nafsu, dan semua kejahatan yang merajalela di kalangan masyarakatnya. Dia selalu adil dan jujur dalam semua transaksi; dermawan dan suka membantu para sahabatnya. Dia berjalan dengan rendah hati dan bijaksana di tengah-tengah suku-suku Arab yang angkuh, sombong dan keras kepala. Dia membenci segala bentuk kecongkakan dan keangkuhan, dia mudah menyapa anak-anak dan tak mengindahkan rasa sakit (diri sendiri) dalam menghilangkan penderitaan orang miskin, orangtua dan orang lemah. Dia selalu menanamkan kesan kepada masyarakatnya dengan sikap bijak dan raut muka yang membangkitkan kesalehan dan, dengan kebaikan hatinya yang mendalam serta tingkah lakunya yang anggun, memikat hati setiap orang yang berhubungan dengannya, yang menghapus semua godaan perbuatan jahat. Sifat yang bersih dan mulia pemuda yang rendah hati itu memperoleh penerimaan di kalangan sesama warganya dan medapat gelar, secara bulat, al-amin dan al-shiddiq, yang berarti dapat dipercaya dan jujur.

Baca lebih lanjut Keagungan Muhammad: Rasulullah sebagai Teladan karya Pr. Dr. Abdul Hamid Siddiqi (Marja, 2005)

keagungan muhammad 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *