Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

BENING HATI, LEMBUT PADA SESAMA

Oleh: Irwan Kurniawan

Seseorang yang merencanakan wisata, entah ke luar negeri ataupun di dalam negeri, dia akan mempersiapkan perbekalan sebelumnya. Besarnya bekal yang dipersiapkan bergantung pada seberapa lama dia berwisata dan seberapa jauh jarak perjalanannya dari rumah. Semakin jauh dan semakin lama perjalanan wisata, makin banyak pula bekal yang dipersiapkannya.

Bagi seorang mukmin, setelah kehidupan dunia ini, dia akan menempuh sebuah perjalanan, bahkan perjalanan yang sangat panjang. Inilah perjalanan menuju Allah Swt. Karena lama dan panjangnya perjalanan ini maka untuk itu dia mempersiapkan perbekalan sebanyak dan seawal mungkin.

Dalam mempersiapkan perbekalan ini, langkah pertama yang mesti dilakukan adalah membersihkan hati. Ini karena diterima atau tidaknya ibadah-ibadah seorang mukmin, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia, adalah kebersihan hati.

Sebagian orang hanya berpikir dalam lingkup dunia saja, tidak keluar dari situ. Yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memenuhi keperluan-keperluan jasmaniah; bagaimana mengenyangkan perut dan memuaskan syahwat. Pikirannya tidak beranjak dari makanan yang enak dan pakaian yang bagus, serta kepuasan nafsu. Tak pernah, atau sesekali saja, ia memperhatikan hatinya.

Sebaliknya orang mukmin, yang dipikirkannya adalah hatinya. Ia selalu memperhatikan kebersihan hatinya. Setiap waktu, perhatiannya hanya tertuju pada hatinya. Sebisa mungkin, ia jaga hatinya agar tetap bersih. Kapan pun dia merasa hatinya sudah terkotori maka dia segera berupaya untuk membersihkannya lagi. Ia yakin bahwa hanya dengan cara itulah dia bisa sampai kepada Allah Swt, seperti firman Allah, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy-Syu’ara’: 88-89).

Tidak mungkin sampai kepada Allah dengan hati yang kotor, karena hati yang kotor ternoda dosa. Kita tahu, orang yang berzina, badannyalah yang berzina, atau yang zina mata, matanyalah yang melihat yang haram. Namun hakikat dari zina itu adalah hati yang durhaka, sehingga berdosa karenanya dan ternoda. Allah berfirman, dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya… (QS al-Baqarah: 283).

Ayat di atas adalah tentang menyembunyikan persaksian, dan itu merupakan perbuatan fisik. Namun Allah menjelaskan bahwa pada hakikatnya, perbuatan fisik itu berangkat dari hati yang kotor.

Ini juga menunjukkan bahwa perilaku seseorang berpangkal pada hatinya. Kebaikan atau keburukan yang dilakukannya bergantung pada keadaan hatinya. Karena itu, siapa yang ingin agar organ badannya selalu berbuat kebaikan dan ibadah kepada Allah maka hendaklah yang pertama dibenahinya adalah hatinya. Ini sesuai dengan sabda Nabi saw, “Jika hati seseorang baik maka baik pula raganya, dan jika hati itu kotor maka kotor pula raganya.” Itu pula sebabnya, para ilmuwan modern mengaitkan berbagai penyakit fisik dengan keadaan batin (pikiran). Penyakit-penyakit yang diderita akibat kelainan pada darah, saraf, kelenjar, dan bahkan kulit, pangkalnya adalah gangguan pada batin (hati). Ia sakit batinnya.

Bagaimana menjaga hati agar tetap bersih? Antara lain adalah dengan pergaulan yang baik dengan sesama. Ada beberapa hadis yang menganjurkan kepada kita agar seimbang dalam pergaulan. Antara lain, bahwa Nabi saw bersabda, “Ketahuilah, Allah memiliki bejana-bejana di bumi-Nya, yaitu hati… Bejana yang paling disukai Allah adalah yang paling jernih, paling keras, dan paling lembut… Paling jernih dari dosa, paling keras dalam agama, dan paling lembut kepada sesama.”

Jernih dari dosa, sudah jelas. Adapun keras dalam agama maksudnya bahwa seorang mukmin dalam berjalan di jalan Allah tidak takut pada celaan siapa pun. Salah satu sifat orang mukmin adalah diam, tetapi ketika dia bicara untuk membela agama Allah, dia menjadi seperti singa. Tentang sifat orang mukmin ini, Nabi saw bersabda, “Rahib di malam hari, singa di siang hari.”

Demikian pula, ia lembut kepada sesama. Maka, orang yang mengaku beriman tetapi hatinya keras, dan bersikap kasar kepada sesamanya, ditakuti ucapannya, akan jatuhlah kedudukannya dalam pandangan Allah. Bahkan orang seperti ini adalah sejahat-jahatnya manusia. Nabi saw bersabda, “Ketahuilah, seburuk-buruk orang dari umatku adalah yang dihormati karena ditakuti kejahatannya. Ketahuilah, barangsiapa dihormati manusia karena dikhawatirkan keburukannya, dia bukanlah termasuk umatku.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *