Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Bercermin Pada Al-Qur'an

Bercermin Pada Al-Qur’an

Suatu hari, serombongan orang dari Bani Tamim menemui Nabi Muhammad Saw. Mereka mengajukan sebuah masalah yang sedang mereka hadapi. Telah terjadi perselisihan di antara mereka mengenai siapa yang pantas menjadi pemimpin. Oleh Karena itu, mereka datang kepada Nabi untuk meminta nasihat dalam menyelesaikannya.

Ada banyak orang yang mencalonkan diri. Masing masing merasa dirinya lebih pantas menjadi pemimpin. Akibatnya, terjadi perselisihan di antara pendukung masing-masing.

Perselisihan itu hampir menyebabkan perpercahan di tengan Bani Tamim. Namun beruntung, salah seorang dari mereka mengusulkan untuk meminta pendapat Nabi dalam hal itu. Usul itu pun disetujui. Maka mereka beramai-ramai menghadap Nabi.

Ketika itu, Nabi sedang berkumpul bersama beberapa sahabat. Mereka sedang membicarakan berbagai persoalan umat Islam.

Setelah diterima, orang-orang Bani Tamim itu segera menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Mereka meminta petunjuk tentang siapa yang sebaiknya menjadi pemimpin Bani Tamim. Nabi diam sejenak dan berpikir.

“Pilih saja al-Qa’qa bi Ma’bad menjadi pemimpin kalian,” Umar bin Kaththab menyela.

“Jangan. Sebaiknya kalian memilih Aqra’ bin Habis. Dia lebih pantas menjadi pemimpin kalian,” sahut Abu Bakar Shiddiq

“Kalian harus berhati-hati dalam memilih pemimpin! Bani Tamim adalah kabilah yang besar.Untuk itu kalian membutuhkan seorang pemimpin yang hebat. Al-Qa’qa bin Ma’bad adalah orang yang tepat,” kata Umar mempertahankan pendapatnya.

Tiba-tiba kedua orang itu terlibat perdebatan. Masing-masing mempertahankan pendapatnya. Lama-kelamaan sura mereka semakin keras. Orang-orang Banni Tamim sendiri hanya menonton perdebatan itu. Namun kemudian, Nabi membacakan ayat yang baru saja turun:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus pahalamu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Qs al-Hujarat: 2)

Sejak saat itu, Abu Bakar dan Umar tak pernah berkata kepada Nabi Muhammad Saw dengan suara keras. Bahkan, Abu Bakar berjanji akan berkata kepada Nabi Muhammad Saw seperti berbisik. Keduanya merasa bahawa ayat Al-Quran tersebut ditujukan kepada mereka.

Tsabit bin Qais juga mendengar ayat tersebut. Dia segera pulang kerumahnya dengan perasaan sedih. Dia menutup pintu kamar dan tak henti-hentinya menangis. Dia bersedih karena merasa bahwa ayat yang dibacakan Nabi itu ditujukan kepada dirinya.

“Apa yang terjadi pada Tsabit bin Qais? Mengapa beberpa hari ini dia tidak kelihatan?” tanya Nabi kepada seorang sahabat.

“Wahai Rasulullah, kami tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Tetapi beberapa hari ini, dia tidak keluar rumah. Sepanjang hari, dia mengurung diri dia mengurung diri di kamar dan tak henti-hentinya menangis,” sahabat itu menjelaskan.

Nabi segera mengutus seseorang untuk memanggil Tsabit bin Qais. Tsabit pun segera memenuhi panggilan Nabi dengan langkah gontai. Sepanjang perjalanan, dia hanya menunduk. Matanya terlihat sembab karena banyak menangis.

“Apa yang terjadi padamu, wahai Tsabit bin Qais?” tanya Nabi.

Tsabit bin Qais mendongakkan wajahnya sebentar.

“Waha Rasulullah, telah turun ayat: Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi…. Saya mempunyai suara yang keras. Saya khawatir amal-amalku akan terhapus gara-gara suaraku ini,” Tsabit menjelaskan.

Nabi terdiam sejenak. Dalam hatinya, beliau merasa kagum kepada Tsabit.

“Tidak. Kau bukan orang yang dimaksud dalam ayat ini. Kau akan hidup sebagai orang baik dan mati pun sebagai orang baik,” kata Nabi dengan lembut.

Bukan main senangnya hati Tsabit ketika mendengarkan penjelasan Nabi itu. Dia tersenyum lebar dan bahagia.

Tsabit adalah selah seorang sahabat yang mulia, karena dia selalu mengaca dirinya pada Al-Qur’an. Dia selalu merasa kalau ayat-ayat Al-Quran diturunkan kepadanya. Dia merasa bahwa Al-Quran berbicara tentang dirinya. Artinya, hatinya sangat peka menerima teguran dari Al-Qur’an. Sekalipun pesan itu tidak ditujukan kepadanya, dia menggunakannya untuk memperbaiki akhlaknya.

 

Baca lebih lanjut di Para Penebar Kedamaian , Karya Adhi Endang Jaya & Nanang Priyatna (Nuansa, 2016)

para penyebar kedamaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *