Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Beyond Belief:  Agama, Pluralitas, dan Kemanusiaan

Beyond Belief: Agama, Pluralitas, dan Kemanusiaan

Oleh Sumanto Al Qurtuby

Buku ini merupakan koleksi dari sebagian artikel-artikelku yang bersifat reflektif-kontemplatif, bukan yang “akademik-ilmiah”, yang tersebar di sejumlah buku dan majalah. Hampir semua artikel di buku ini merupakan “catatan perjalanan dan pergumulan” yang saya lihat dan alami di berbagai tempat dan negara, termasuk Arab Saudi dan Amerika Serikat. Ada juga sebagian artikel yang saya tulis sebagai “ungkapan kekaguman” terhadap sejumlah teman dan tokoh seperti Leymah Gbowee (teman kelasku dari Liberia, Afrika, dulu waktu kuliah di Amerika yang meraih hadiah Nobel Perdamaian tahun 2011) dan Prof. Dr. Pdt. John Titaley (Rektor Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, salah satu mentor dan mantan guruku dulu). Pula, dalam buku ini ada artikel-artikel “in memoriam” yang saya tulis untuk orang-orang terkasih yang saya kagumi yang telah “pulang” ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa mendahului saya. Di antara mereka adalah K.H. M.A. Sahal Mahfudh (mantan Rais ‘Aam PBNU dan Ketua Umum MUI) serta kakak dan ayahku tercinta. Semoga di alam baka sana, mereka diberi tempat yang layak oleh Allah Swt.

Menulis merupakan salah satu “hobi” atau kegemaranku sejak sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN, setara dengan SMA) di Pekalongan, Jawa Tengah. Saya menulis topik apa saja yang saya anggap menarik untuk ditulis. Waktu itu, karena “jurusan akademik” saya adalah Fisika, saya menulis “karya tulis” (semacam skripsi, tesis atau disertasi) cukup tebal mengenai dampak negatif menipisnya lapisan Ozon (O3) bagi ekosistem, manusia, dan semua makhluk hidup di muka bumi. Dalam karya tulis ini, saya mengkritik berbagai “tindakan ceroboh” umat manusia—baik pelaku industri-industri besar maupun individu-individu—yang tidak mengindahkan lingkungan, seperti pembakaran hutan, pembakaran sampah sembarangan, penciptaan alat-alat transportasi yang boros bahan bakar dan tidak ramah lingkungan karena memproduksi banyak karbon dioksida (CO2) dan menurunkan produksi oksigen (O2) dan sebagainya sehingga menyebabkan menipisnya lapisan Ozon, dan dampak negatif selanjutnya adalah pemanasan global (global warming). Ozon adalah lapisan yang memproteksi bumi dari sinar matahari secara langsung sehingga planet bumi ini terasa tidak begitu panas. Semakin menipis lapisan Ozon, semakin panas bumi tempat berpijak ini. Dalam “karya tulis” itu, saya dulu menghimbau umat manusia untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas yang “ramah lingkungan” guna menjaga atau menciptakan “green earth”—bumi hijau.

Karya tulis ini saya buat bukan karena dipengaruhi oleh Al Gore (Albert Arnold Gore, Jr., l. 1948), mantan wakil presiden (wapres) Amerika Serikat di era kepresidenan Bill Clinton (1993–2001), yang juga seorang “enviromentalis” dan penulis buku berpengaruh, An Inconvenient Truth: The Planetary Emergency of Global Warming, karena memang saya belum tahu beliau kala itu. Karya tulis ini murni sebagai “refleksi intelektual” pribadi saya untuk menerapkan teori-teori dalam Ilmu Kimia yang saya sukai dan pelajari dulu. Sayang, saya tidak tahu lagi ke mana “perginya” karya tulis itu.

***

Sebagai seorang penulis atau orang yang suka menulis, saya menulis topik apa saja dengan “gaya penulisan” apa saja. Hal itu tercermin dari aneka buku, artikel, dan kolom yang telah saya publikasikan di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri, baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Inggris. Tulisan-tulisanku tidak hanya bernuansa “akademik-ilmiah” yang syarat dengan teori-teori dan konsep-konsep yang “njlimet” dan memusingkan bagi masyarakat awam. Tetapi juga tulisan-tulisan yang ringan dan sederhana sehingga mudah dicerna untuk masyarakat banyak, baik “kaum intelek” maupun “bukan intelek”. Buku ini mewakili “genre” tulisan atau “gaya penulisan” yang kedua ini.

Karena hobi, sebisa mungkin setiap kali saya bepergian ke suatu “daerah asing”, saya seringkali (tidak selalu) menuliskan hasil pengamatan, peng­lihat­an, pendengaran, dan pengalamanku itu. Masalah apa saja yang saya anggap menarik, sebisa mungkin saya tuangkan dalam baris-baris kalimat tulisan: tentang makanan, minuman, jenis musik, lagu, busana, dansa, model sapaan, bahasa lokal, tradisi melayat, corak kuburan, sistem perkawinan, kesehatan, olahraga, sampai pernik-pernik masalah ritual-keagamaan dan perkembangan modernisasi dan terknologi modern. Jelasnya, bukan hanya masalah sosial-keagamaan saja yang saya tulis tetapi juga hal-ihwal yang menyangkut persoalan tradisi-kebudayaan, sistem politik dan ekonomi, dunia pendidikan, dan seterusnya.
Saya cukup lama menjadi jurnalis majalah kampus pada era 1990-an di IAIN (kini UIN) Semarang bahkan beberapa priode sempat menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Justisia di Fakultas Syari’ah. Sebagai seorang jurnalis kampus, saya sering blusukan ke mana-mana untuk memburu berita dan informasi serta wawancara dengan banyak tokoh pubik: kaum agamawan, cerdik-pandai, akademisi, politisi, budayawan, pengusaha, dan sebagainya. Tulisan-tulisanku dulu lebih bernuansa “catatan jurnalistik” ketimbang “refleksi etnografis”. Tetapi sejak belajar antropologi budaya di Boston University di bawah bimbingan para antropolog dan etnografer beken seperti Robert W. Hefner, Charles Lindholm, Augustus Richard Norton, Robert Weller, Thomas Barfield, Jenny White dan masih banyak lagi, saya mulai tertarik memadukan “skill etnografi” ke dalam tulisan-tulisanku, bukan melulu “catatan jurnalistik”.

Sejumlah artikel yang dimuat dalam buku ini merupakan perpaduan dari “catatan jurnalistik” dan “refleksi etnografis”. Meskipun terkesan berbeda tetapi sebetulnya kedua tipe penulisan ini memiliki kesamaan fundamental, yakni keduanya bersifat “bottom up” bukan “top-down”. Dengan kata lain, baik “catatan jurnalistik” maupun “refleksi etnografis” sama-sama berdasarkan pada “obyektivitas data” di lapangan bukan “subyektivitas pemikiran” penulis (semata). Atau setidaknya, “data eksternal” yang saya peroleh melalui pengamatan dan partisipasi langsung itu telah berkontribusi memperkaya penggambaran dan analisis dalam tulisan-tulisan ini. Tentu saja tidak ada tulisan yang seratus persen obyektif atau seratus persen subyektif. Subyektivitas dan obyektivitas itu sangat relatif. Yang subyetif belum tentu tidak obyektif. Demikian pula, yang obyektif tidak dengan sendirinya tidak subyektif. Dengan kata lain, ada subyektivitas dalam obyektivitas, ada obyektivitas dalam subyektivitas.
Terlepas dari persoalan perdebatan subyek­tivitas-obyektivitas ini, yang jelas tulisan-tulisan dalam buku ini sangat dipengaruhi oleh pengamatan, pengalaman dan interaksi langsung antara saya dengan orang, komunitas, masyarakat, atau daerah tertentu yang menjadi topik pembahasan dalam tulisan ini. Tentu saja sebagai produk dari sebuah pengamatan, apa yang diinformasikan dalam tu­lisan-tulisan ini sebatas “apa yang saya amati” saja, tidak seratus persen mewakili orang, komunitas (community), masyarakat (society), atau kawasan yang saya amati. Ibarat seseorang sedang memotret sebuah obyek, tentu saja hanya “obyek” yang menjadi fokus pemotretan itu saja yang diambil. Begitu pula dengan tulisan ini. Hanya obyek yang menjadi fokus tulisan saja yang saya tulis, deskripsikan, dan analisis.
Meskipun dalam konteks modern, antropolog yang mentradisikan menulis secara baik hasil pengamatan langsung atas sebuah kebudayaan masyarakat tertentu, tradisi menulis model ini sebetulnya sudah sangat lama jauh sebelum munculnya penulisan bercorak etnografis atau etnologis yang diperkenalkan dan dikembangkan para antropolog sejak awal abad ke-20. Dalam tradisi antropologi Barat (khususnya Eropa Barat dan Amerika Utara), ada Bronislaw Malinowski (1884–1942), seorang antropolog budaya yang lahir di Polandia, dididik di Inggris (London Schools of Economics), dan wafat di Amerika, yang dianggap sebagai penulis buku berbasis etnografi tertua melalui sejumlah karyanya, misalnya Argonauts of the Western Pacific yang mengungkap kehidupan dan kebudayaan komunitas Trobiand Highlanders di Kepulauan Pasifik.

Padahal, kalau ditelisik lebih cermat, jauh sebelum Malinowski, sejumlah sarjana Muslim sudah memprakarsai jenis penulisan berbasis fieldwork atau penelitian lapangan ini. Simak saja misalnya karya Abu Raihan Muhammad al-Biruni (973–1043), Kitab al-Hind (“Buku India”) yang mengungkap aneka ragam tradisi, kebudayaan, dan praktik-praktik ritual keagamaan dan sistem kebudayaan masyarakat Hindu dan Jain di India. Buku ini ditulis dengan sangat apik dan penuh respek, tanpa ada sikap menghakimi atas kepercayaan Hinduisme dan Jainisme ataupun bersikap “etnosentris” atau merasa diri superior atas kebudayaan India. Buku ini berdasarkan pada “penelitian lapangan” selama kurang lebih 15 tahun dengan menggunakan metode-metode riset ala kaum antropolog kontemporer. Al-Biruni tinggal dan membaur dengan masyarakat India, mempelajari bahasa mereka (khususnya Sankskrit dan Pali), ngobrol dengan pengikut Hindu dan Jainisme, serta mengamati aneka praktik kebudayaan komunitas agama ini. Oleh karena itu, bukanlah berlebihan jika antropolog Pakistan Akbar Ahmed menggelari Al Biruni sebagai “Bapak Antropologi”. Ibnu Khaldun (1331–1406) juga bisa dikatakan sebagai salah satu “bapak pendiri” tradisi penulisan berbasis penelitian lapangan yang tercermin dalam karya magnum opus-nya, Kitab al-Ibar.

Tentu saja, dalam konteks kontemporer, antro­polog bukan satu-satunya kelompok yang mem­prakarsai tradisi penulisan berbasis “penelitian lapangan” ini. Ada sejumlah “spesialis budaya” atau “ahli studi-studi masyarakat” di luar antropolog, seperti petugas pemerintah kolonial atau kaum orientalis (meskipun tidak semuanya), yang juga menuliskan karya-karyanya berdasarkan peng­amatan ini. Sir Thomas Stamford Raffles (1781–1826), L. W. C. van den Berg (1845–1927), dan Christian Snouck Hurgronje (1857–1936) hanyalah sekelumit contoh dari kelompok non-antropolog yang tulisan-tulisannya berdasarkan pengamatan langsung atas masyarakat yang mereka teliti. Raffles menulis The History of Java, van den Berg menulis Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien, sedangkan Hurgronje menulis sejumlah buku, antara lain Mekka in the Latter Part of the 19th Century. Ada pula kelompok pengelana atau pengembara (traveller, sojourner, voyager) yang menuliskan catatan-catatan perjalanannya (travel accounts) seperti Ibnu Battuta dari Maroko, Ma Huan dari Tiongkok, atau Sir Richard Francis Burton dari Inggris.

***

Memang “seru” dan mengasyikkan menulis cerita-cerita petualangan. Berbeda dengan tulisan-tulisan yang bersifat “armchair” (yakni tulisan-tulisan yang ditulis hanya dengan merujuk pada buku-buku dan berbagai sumber-sumber tulisan orang lain), tulisan hasil pengamatan dan pengalaman langsung di lapangan ini terasa “lebih faktual”, “fresh”, dan “variatif”. Melalui pengembaraan, kita menjadi tahu tentang persamaan dan perbedaan tradisi, kebudayaan, atau bahkan nilai-nilai keagamaan yang kita anut dan pegangi selama ini. Kita juga menjadi sadar tentang fakta pluralitas dan kemanusiaan yang melintas batas geografi kultural umat manusia. Melalui pengembaraan pula, si pengembara, khusus­nya “pengelana budaya”, diharapkan menjadi lebih toleran, inklusif, dan humanis.
Dengan melihat fakta-fakta atau realitas ke­ragaman kebudayaan dan kemanusiaan ini, kita di­harapkan mengerti, memahami, dan memedomani makna pentingnya prinsip-prinsip “relativisme budaya” (cutural relativism) di satu sisi serta men­jauhi watak etnosentrisme di pihak lain, yakni watak yang merasa kebudayaan miliknya yang paling hebat sementara memandang inferior terhadap kebudayaan orang lain. Setiap produk kebudayaan memiliki kelebihan dan kelemahan sehingga tidak pada tempatnya merasa diri paling unggul atas produk kebudayaan orang lain dan bangsa lain. Maka diharapkan dengan memperkaya perjalanan atau penjelajahan lintas-budaya ini, kita akan semakin arif dan bijaksana dalam menyikapi aneka perbedaan dan kemajemukan. Sayangnya, tidak semua pengembara berakhir dengan “happy ending” laiknya film-film Hollywood. Ada pula yang berakhir “unhappy ending” layaknya film-film Perancis.

Banyak para pengelana yang sudah berkelana ke mana-mana bertahun-tahun tetapi tetap saja cara berpikir dan tindakannya cupet dan sempit, sesempit lubang hidung pesek. Misalnya, ada sejumlah kelompok kaum Muslim Indonesia yang meskipun sudah tinggal lama di Amerika dan bergaul dengan aneka ragam umat manusia dari berbagai suku-bangsa tetapi pola-pikirnya sangat tertutup, wawasannya sempit, serta hobi mengafir-sesatkan non-Muslim dan warga Amerika. Begitu juga sebaliknya, cukup banyak warga Amerika, meskipun hobi turisme dan plesiran ke mancanegara, yang berwawasan nol besar terhadap komunitas lain (termasuk kaum Muslim) serta berpandangan cupet-pet. Ada pula para pengelana yang berakhir tragis: menjadi ekstremis-militan atau teroris, ti­dak sekadar eksklusivis saja. Para teroris itu pada umumnya adalah kelompok pengembara. Mereka hidupnya seperti kaum nomad yang berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Di antara kelompok teroris bahkan ada yang membentuk semacam “web of terrorists” yang membentang dari Irak dan Afganistan sampai Filipina dan Indonesia (lihat misalnya studi Rohan Gunaratna, Inside Al-Qaeda: Global Network of Terror).

Memang Islam sendiri adalah agama yang mendorong umatnya untuk melakukan perjalanan. Dengan kata lain, Islam adalah salah satu agama yang sangat menganjurkan tradisi travelling. Ada banyak teks keislaman yang menggarisbawahi pentingnya sebuah perjalanan. Karena itu dalam agama ini, kita mendapatan sejumlah kata atau konsep yang mengandung nuansa perjalanan ini, misalnya hi­j­rah, rihlah, ziyarah, hajj, dan semacamnya. Hijrah mengacu pada proses migrasi dari satu daerah yang kurang aman dan menguntungkan secara politik dan ekonomi ke sebuah kawasan yang dipandang lebih aman dan menguntungkan guna melangsungkan kehidupan. Nabi Muhammad, misalnya, pernah hijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) untuk menghindari pengejaran para “begundal tengik” suku-suku Arab di Makkah.

Rihlah merujuk pada “pengembaraan mencari ilmu” atau “thalab al-‘ilm”. Kata rihlah ini juga sangat masyhur di kalangan umat Islam. Hampir semua ulama, sarjana dan ilmuwan Muslim hebat dalam sejarah Islam melakukan “tradisi rihlah” ini, mengembara dari satu tempat ke tempat lain menembus ganasnya medan geografi guna mencari ilmu. Baghdad, Kairo, Damaskus, Basrah, dan Makkah dulu pada Abad Pertengahan adalah pusat-pusat keilmuan dan sumber pengetahuan yang sangat populer dan kesohor ke pelbagai kawasan. Banyak pedagang kaya, pemimpin politik, syaikh dermawan dan Muslim filantropis yang mendonasikan harta-kekayaan untuk membangun madrasah atau menghibahkan rumah untuk sebuah ribat (semacam pesantren) tempat mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu keislaman. Di Indonesia, tradisi rihlah ini juga marak sejak dulu terutama dilakukan oleh kaum santri. Mereka berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain guna menimba ilmu-ilmu keislaman dan “ngelap berkah” para kiai dan wali. Saya sendiri dulu pernah tinggal di pesantren di Pekalongan dan Semarang (tepatnya Mangkang), Jawa Tengah.

Sementara itu kata “ziyarah” merujuk pada “perjalanan spiritual” ke makam-makam orang-orang spesial, seperti makam keluarga atau to­koh-tokoh Muslim yang dianggap memiliki kele­bihan tertentu (misalnya alim, saleh, sakti, dan sebagainya). Meskipun sejumlah kelompok Islam dari kalangan Salafi-Wahabi mengharamkan aktivitas dan praktik ziarah ini karena dipandang atau berpotensi menyekutukan Allah (syirik), mayoritas umat Islam—tua-muda, laki-laki-perempuan, orang ko­ta—wong kampung, dan seterusnya—tidak meng­hiraukannya. Mereka tetap mengunjungi makam-makam keluarga, para kiai dan ulama, para wali, para tokoh dan pemimpin bangsa, dan seterusnya. Makam-makam para wali, kiai, habaib, dan tokoh-tokoh Muslim lain selalu ramai dikunjungi umat Islam. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga di berbagai negara seperti Turki, Maroko, Iran, India, dan lain-lain.

Selanjutnya, haji dan umrah merupakan salah bentuk perjalanan “turisme agama” atau dalam Bahasa Inggris sering disebut dengan istilah pilgrimage. Hampir setiap agama, apalagi agama-agama besar dunia, seperti Katolik, Protestan, Yahudi, Hindu, Sikhisme, dan Buddha, memiliki tradisi turisme agama ke tempat-tempat yang mereka anggap suci dan keramat. Lokasi tujuan “turisme agama” ini tidak melulu berbentuk tempat ibadah (seperti Masjid al-Haram di Makkah atau Gereja Katedral St. Mary of Zion di Axum, Afrika), melainkan bisa berbentuk bangunan-bangunan bersejarah lain yang mengandung “nilai spiritual” tinggi, atau bisa juga sungai, gunung dan sebagainya. Dalam Islam khususnya, haji atau umrah hanya dilakukan di Makkah, meskipun ada sejumlah sekte Islam yang membolehkan “haji” dil uar Makkah seperti sebagian komunitas Muslim di Haruku, Maluku Tengah, yang “berhaji” di Gunung Amaika di daerah Pulau Haruku.

Semoga buku kumpulan artikel-artikel etnografis-reflektifku ini bermanfaat untuk masyarakat luas. Apa yang tersirat dalam berbagai tulisan dalam buku ini adalah kemajemukan dan nilai-nilai kemanusiaan itu bisa dijumpai di mana-mana di jagat raya ini. Dari berbagai masyarakat di berbagai belahan dunia—apa pun agama, kepercayaan, keimanan, dan suku-bangsa mereka—kita bisa belajar banyak mengenai kearifan, kebijaksanaan, pluralisme, cinta-kasih, dan hal-hal positif lain. Semoga buku ini bisa membuka mata hati dan alam pikiran kita bahwa sumber kebaikan dan kebajikan itu ada di mana-mana, di berbagai agama dan tradisi, di berbagai komunitas dan masyarakat, di berbagai bangsa dan negara. Semoga pula goresan-goresan penaku ini mampu menggugah dan menyadarkan kita tentang makna pentingnya hidup harmoni dan perdamaian antarmanusia yang melintas batas-batas primordial keagamaan.

Baca lebih lanjut Indahnya Keragaman: Catatan dari Saudi sampai Amerika (Penerbit Nuansa, Oktober 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *