Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Bila Ibu Harus Kerja, Bagaimana dengan Anak?

Bila Ibu Harus Kerja, Bagaimana dengan Anak?

Oleh Maya Mar’atus Shalihah

Ayah tidak dapat bekerja lagi setelah sakit stroke yang menyebabkan tangan dan kaki kirinya lumpuh. Ketiga anaknya masih kecil sehingga belum bisa membantu secara signifikan. Sementara kebutuhan keluarga semakin bertambah. Apalagi dengan biaya pengobatan ayah yang tidak bisa dikatakan murah, secara otomatis menambah daftar kebutuhan. Kebutuhan keluarga menjadi semakin membengkak. Untuk mengandalkan saudara atau orangtua jelas tidak mungkin, karena mereka juga memiliki keluarga dan kebutuhan masing-masing. Kondisi inilah yang akhirnya menuntut ibu untuk menjadi pencari nafkah utama untuk keluarganya.

Realitas di atas hanya salah satu dari sekian banyak dan kompleksnya permasalahan kehidupan rumah tangga. Memang idealnya seorang ayah bertugas mencari nafkah, seorang ibu mengurus rumah tangga dan mengasuh serta mendidik anak di rumah. Tapi bukan tidak mungkin, karena kondisi tertentu, seorang ibu harus memutuskan untuk mengambilalih tugas seorang ayah, mencari nafkah, sebagaimana gambaran di atas.

Peristiwa yang tak jauh beda juga digambarkan dalam firman Allah Swt, Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya) dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (Qs al-Qashash: 23). Ini merupakan dasar diperbolehkannya wanita untuk bekerja di luar rumah dan sekaligus menunjukkan etika dan etos wanita dalam bekerja.

Realitas ini dikuatkan dengan sebuah hadis dari ‘Aisyah Ra yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt mengizinkan bagi kamu (wanita) keluar untuk memenuhi kebutuhannya.”3

Harus dicermati di sini, bahwa kebutuhan berbeda dengan keinginan. Kebutuhan muncul karena ada hajat hidup yang wajib dipenuhi, sehingga waktunya mendesak dan darurat. Sedangkan keinginan muncul dari suatu harapan dan obsesi dalam hidup, yang dalam hal ini waktunya lebih leluasa dan tidak dalam kondisi darurat. Nah, seorang ibu harus mencermati lebih dahulu apa motivasi bekerja: hanya karena keinginan atau memang kebutuhan. Motivasi itulah yang melandasi niat seseorang. Sedangkan Allah Swt melihat segala amal perbuatan manusia tergantung dari niatnya.

Kembali pada permasalahan awal, bahwa bila seorang ibu, karena kondisi menuntutnya untuk bekerja, maka yang harus dipikirkan kemudian adalah siapakah yang menjalankan peran ibu dalam keluarga. Kalau melihat gambaran kisah di atas, sungguh tidak mungkin bilamana peran ibu harus dilakukan oleh ayah. Apalagi menurut pendapat Inayat Khan, jika seorang anak di usia dua tahun pertamanya diserahkan sepenuhnya pada ayah, kecil harapan hasilnya akan memuaskan, karena seorang laki-laki sepanjang hidupnya hanyalah seorang anak, dan setiap anak selalu membutuhkan bantuan ibu.

Jika diserahkan pada baby sitter atau pembantu, maka permasalahan ekonomi menjadi semakin bertambah, di samping kemampuan mengasuh dan mendidik seorang baby sitter atau pembantu belum tentu berkualitas. Etos mereka sejak awal adalah profesional kerja, dan materi berupa gaji sudah tentu menjadi tumpuan harapannya. Hal ini bisa berpengaruh pada proses peng­asuhan dan pedidikan anak.

Sebagai alternatif terakhir, tentu saja menggugah kepedulian dari ibu yang lain untuk turut bersimpati dan berempati manakala menjumpai realitas yang demikian. Ibu sejati mampu mengembangkan jiwa keibuannya tidak hanya untuk anak kandungnya tetapi juga untuk semua anak yang ada di hadapannya. Permasalahan yang melingkupi anak-anak di sekitarnya juga menjadi tanggungjawab seorang ibu. Maka sungguh sangat dibutuhkan ibu yang memiliki ketajaman dan kepekaan sosialnya, yang mampu menggugah naluri keibuannya untuk turut bertanggungjawab mendidik dan mengasuh anak-anak secara menyeluruh.

Sejatinya kepedulian ibu terhadap anak-anak sekitar yang kurang mendapatkan pendidikan secara signifikan merupakan tindak lanjut dari aktualisasi peran ibu di rumah. Dengan mendidik anak-anak sekitar berarti ibu berupaya untuk menyiapkan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan anak-anak mereka. Maka baik kiranya jika ibu memiliki inisiatif untuk membuka dan memperluas ruang gerak dan kiprah ibu dalam pendidikan anak, salah satunya melalui lembaga pendidikan nonformal semacam PAUD. Kondisi ini tidak jauh dari apa yang telah dilakukan para sahabat perempuan di masa Rasulullah Saw. Para shahabiyah, karena panggilan umat untuk mengabdikan diri sebagaimana keahlian yang dimilikinya, mereka harus terjun menjadi dokter, guru, dan pekerjaan lain yang menuntut mereka untuk sering keluar rumah. Sebagai dampaknya, peran mereka di rumah utamanya sebagai ibu yang berkewajiban mengasuh dan mendidik anak, kurang maksimal. Dengan dasar ikatan kepedulian yang begitu kuat di antara para shahabiyah, utamanya dalam hal kebaikan, maka tak segan-segan shahabiyah yang lain mengulurkan tangan untuk membantu mengasuh anak-anak dari shahabiyah yang bekerja di luar. Mereka membentuk semacam kuttâb, sebagai tempat berkumpulnya para shahabiyah yang peduli akan pendidikan anak untuk turut membantu mengasuh dan mendidik anak-anak.

Dengan demikian, tidak ada alasan lagi bagi kaum ibu untuk tidak berperan aktif dan mengoptimalkan diri bagi pembinaan dan pendidikan anak. Apalagi keberadaan PAUD sudah mendapatkan dukungan dan respon yang cukup signifikan dari pemerintah dan masyarakat. Hanya saja ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan bagi kaum ibu untuk terjun ke pendikan anak usia dini ini sekaligus untuk menepis kontroversi yang berkembang di masyarakat:

  1. Naluri keibuanlah yang melandasi seorang ibu untuk turut bertanggungjawab membina dan mendidik anak-anak secara menyeluruh. Ini untuk menepis nada mi­ring dan juga menghindarkan ibu dari niat yang kurang baik dalam kegiatan pendidikan anak usia dini. Karena pendidikan anak usia dini bukanlah ladang bisnis yang bisa dikomersialkan. Etos inilah yang perlu ditanamkan pada diri ibu dan sekaligus harus bisa dibuktikan kepada masyarakat. Cinta dan kasih sayang tidak bisa dibuat-buat. Ia datang dari jiwa ibu. Kalau seorang ibu beraktivitas dalam pendidikan anak usia dini hanya untuk sebuah nilai materi, bagaimana cinta dan kasih sayang bisa mengalir dalam setiap sentuhan dan dekapan yang  dia berikan pada anak-anak?
  2. Tidak menyalahgunakan kepedulian ibu yang mau membantu untuk mengasuh dan mendidik anak-anak. Sikap ini mampu menghapus kontroversi yang berkembang di masyarakat bahwa keberadaan lembaga PAUD hanyalah untuk melegitimasi para ibu karier (bekerja di luar rumah) dan menafikan peran ibu dalam keluarga. Kalaupun ada sekelompok ibu-ibu yang mau mengurus sebuah lembaga PAUD, bukan berarti ibu kemudian bebas menitipkan anak sementara ia bebas tugas, ongkang-ongkang di rumah, atau berleha-leha dengan seabreg aktivitas yang kurang penting lainnya. Interaksi ibu kandung tetap menjadi skala prioritas dalam mendidik anak-anak mereka, karena ikatan batin seorang ibu tak bisa terbeli dan tergantikan oleh apa pun dan siapa pun juga.

Demikianlah peran ibu bisa berjalan optimal tak lepas dari dukungan dari semua pihak. Kesejatian sosok ibu akan tampak memancar semakin terang menembus setiap jiwa suci anak sehingga tercapailah generasi-generasi berkualitas yang diidamkan oleh seluruh umat. Jerih payah ibu dalam mendidik anak tak akan pernah sia-sia.

Akhir kata, ada sebuah ungkapan yang begitu indah dari Syaikh Sa‘ad Yusuf Abdul Aziz untuk kaum  Ibu, ”Wahai ibu, janganlah engkau putus asa terhadap perlakuan yang kurang baik dari anakmu, janganlah engkau menyesal terhadap apa yang telah engkau kerjakan terhadap mereka, dan janganlah engkau berduka atas kekurangan tidurmu karena begadang saat merawat mereka. Sesungguhnya Tuhanmu telah menyiapkan untukmu surga. Apakah engkau menginginkan yang lebih baik dari surga? Tenangkanlah dirimu, sesungguhnya surga itu ada di depanmu, engkau akan terpuaskan di dalam kenikmatannya dan akan hilang semua kesusahan yang engkau alami di sepanjang hidupmu demi mengasuh anakmu!”[]

Baca lebih lengkap dalam buku Ibunda: Guru dan Sahabat Menuju Dewasa karya Maya Mar’atus Shalihah (Bandung: Marja, 2013)

ibunda 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *