Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Mengintip Perempuan di Cyberporn

Mengintip Perempuan di Cyberporn

Oleh Ellys Lestari Pambayun

Buku ini lahir dengan latar belakang sebuah pertanyaan mendasar: Apa yang terpikir da­lam imajinasi kita ketika kita melihat satu gambar atau visual yang memperlihatkan sensualitas dan erotisme? Barangkali yang terlintas dalam benak kita adalah tontonan dengan imej menjijikkan, vulgar, seronok, dan segudang sebutan, bahkan cacian lainnya. Tapi, kenapa hal itu sedemikian digandrungi, di-down load kemudan dipelototi? Sementara, di seberang sa­na orang menganggap visual semacam itu sebagai se­ni atau keindahan (yang justru menurut Rendra hal itu merupakan air seni) yang sayang bila dilewatkan. Terlebih lagi melihat perempuan bugil sebagai sesuatu yang sangat indah.


Anehnya juga kenapa tidak ada pertanyaan: kenapa para perempuan tersebut mau berbugil ria? Siapa sebenar­nya di balik produk pornografi tersebut? Bagaimana perempuan bisa menjadi eksibisionis di internet? Siapa saja yang melakukannya? Mengapa sampai terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu segera dijawab dengan tuntas. Karena itu, perlu suatu pengamatan melalui pendekatan-pendekatan yang mumpuni untuk mene­ropong fenomena yang mengiris akal dan perasaan ini.

Menjejaki Alur Literatur

Barangkali suatu pendekatan kritis bisa menjadi alat teropong keberadaan perempuan bugil di internet, ka­rena kerja dan tugas pendekatan kritis (critical approach) menurut Bernstein memang mengungkap segala realitas yang melingkupi eksistensi manusia dan mendo­rong manusia menuju peradaban politik. Pendekatan ini pun sangat concern dan berkepentingan melihat segala ketidakseimbangan, penekanan, penindasan, eks­ploi­tasi, diskriminasi, dan ketimpangan lainnya dalam kehidupan sosial. Jadi, singkatnya pendekatan kritis mengajak kepada siapa pun untuk mau melakukan tindakan ke arah emansipasi dan bertanggungjawab ter­hadap prakktik-praktik diskriminasi atau subordinasi di muka bumi ini secara bersama-sama.

Jendela Kritis

Pendekatan kritis dapat dianalogikan sebagai jendela nilai (value windows). Sebuah jendela kecil, tapi dapat melihat semua persoalan manusia, khususnya manusia-manusia yang tersubordinasi dan dimarjinalkan. Jen­dela ini kini tengah melihat peradaban bumi yang sedang memasuki peradaban milenium. Dan, di ne­geri yang sedang carut-marut ini, terlihat pemandang­an yang menyajikan peristiwa yang mencerminkan sejarah kekuasaan laki-laki yang sudah berumur ribuan tahun. Dalam era materialistik baru di dunia virtual sekarang ini, direpresentasikan oleh sebuah perangkat yang bernama internet, yang ternyata bukan hanya sebuah perangkat. Internet ini tentu saja dipergunakan oleh laki-laki untuk menentang kehidupan, menaklukkan dunia, menguasai dunia material, menjarah sumber daya fisik dan non-fisik, menciptakan mesin gratifikasi dan satisfaksi, dan mengembangkan serta memuja kegairahan sehingga tercipta pemusatan daya untuk menentukan pilihan dilematis dan dramatis: ketinggalan zaman atau canggih, menguasai atau dikuasai, dituntun atau menuntun, dan subyek atau obyek. Tinggal pilih.

Internet tentu saja lebih dari sekadar media tempat bersemayamnya gambar-gambar orang, terutama gam­bar perempuan yang menimbulkan birahi, tapi lebih luas merupakan muara bagi ide-ide dan informasi dari semua aspek kehidupan. Internet yang muncul di abad ke-21 ini menjanjikan sesuatu yang lain yang berisikan rayuan-rayuan berdimensi ekonomi dan hegemoni kapitalis. Rayuan birahi dilancarkan oleh situs-situs pornografi yang terbukti telah menjerat para the net sebagai peringkat utama dan menjadikan situs porno (cyberporn) sebagai core spactacle dibanding situs-situs lain. Menurut Time (1995: 35), penggemar situs porno di internet didominasi oleh laki-laki sekitar 99 persen dan 1 persen adalah perempuan.

Internet merupakan satu dari ekses perubahan teknologi yang sulit dipahami dalam sejarah masyarakat dunia. Dan seks ternyata telah menyemarakkan tek­nologi internet melebihi tapak-tapak informasi lainnya. Bahkan, online porno di internet yang mayoritas berlabel hard core porn ini tidak ditemukan di majalah, surat kabar, dan media lainnya. Artinya, bahwa pornografi yang terdapat di media lain tidak seheboh yang ada dalam internet. Terdapat lebih dari 70.000 situs yang berhubungan dengan seks dengan nilai bisnis sekitar 4 triliun dolar AS. Luar biasa!

Menurut teropong kritis, ditemukan dengan jelas bahwa bias warna ideologi laki-laki yang menyelubung­i rongga-rongga internet. Dan internet hanya menyisa­kan celah realitas yang telah terkontaminasi oleh ke­pentingan-kepentingan material laki-laki. Karena itu menurut analisis kritis, eksistensi manusiawi perlu diusung menuju pembebasan dan pencerahan yang mengakibatkan kemungkinan terjadinya kekuatan yang memotivasi dan merangsang tindakan ke arah otonomi yang besar dan strategi tindakan politis menuju tang­gungjawab emansipasi.

Pusaran Politik Ekonomi

Bila kita pentang lagi lebih lebar jendela kritis, maka akan terlihat bagaimana susunan dan cara penampilan pornografi distrukturkan melalui hubungan yang ber­­laku antara internet dengan para pemilik modal/produser (kapitalis) pornografi dan pelaku (eksi­bi­sionis/mo­del), di mana cara pandang mereka pada internet tersebut menunjukkan telah dipengaruhi oleh kehidup­an organisasi domestik dan kekuasaan atas dasar kepentingan politik dan ekonomi. Kapitalisme, menurut Gurevitch (1992: 18) membangun inter­net sebagai instrumen dengan maksud untuk men­dominasi kelas tertentu. Begitu pula, Mosco (1996: 139) menambahkan bahwa terciptanya internet se­bagai upaya komodifikasi kapitalisme dengan cara men­­transformasikan nilai melalui berbagai cara ke da­lam produk komunikasi (internet), khalayak (the net/user), dan pekerjanya (pornografer dan model atau eksibisionis). Dan ketika kapitalis menumbuhkan in­ter­net, kemudian nilai-nilainya tertanam dengan kuat, kekuasaan mereka berbuah liar. Ketika internet dalam genggaman mereka, maka internet menjadi kekuasaan yang macho. Kemudian kapitalis memburu obyek yang tidak lain adalah perempuan untuk menegakkan dan mengabadikan citra the macho man mereka.

Dalam internet, perempuan ini disuruh merayakan pesta seks gila-gilaan (orgy). Ketika kapitalisme berkuasa, mereka sesungguhnya mengeksploitasi bukan hanya tubuh perempuan, tapi juga keberadaannya yang lain, menodai citra feminitas perempuan dengan tak henti-hentinya memproduksi gambar bugil perempuan.

Kritik dan Kegalauan Feminis terhadap Dunia Maya

Pada mulanya feminis lebih banyak menggeluti bidang politik dan ekonomi (public sphere) kemudian merambah kehidupan pribadi (private sphere). Fenomena ini menggambarkan perkembangan feminisme di abad ke-21, di mana feminisme di Eropa dan AS ber­kepentingan mengalihkan orientasinya pada gender yang telah menyuruk pada dunia maya.

Mau tidak mau, pencarian esensi perbedaan hu­bung­an laki-laki dan perempuan akan sampai juga pada masalah duniawi ini yang tidak bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan feminisme. Masuknya femi­nisme ke dunia maya justru membuat dilema perem­puan dalam kehidupan yang didominasi laki-laki se­makin terbaca. Internet sebagai referensi perempuan me­ngenalkan pornografi secara murni dan utuh. Da­lam banyak interpretasinya mengimplikasi­kan bah­wa permasalahan perempuan yang tidak pernah selesai ini membawa pencarian esensial gender dalam dunia maya yang melahirkan pertanyaan baru: apakah internet itu laki-laki? Feminisme melihat pembentukan atau representasi internet sebagai laki-laki yang meng­akibat­kan laki-laki menguasai dunia pornografi dalam internet. Dari dominasi ini lahir aturan-aturan dunia maya yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat bahkan penggoda (seductive).

Karena itu, pornografi dalam dunia feminisme bersifat politis yang bertujuan melakukan dekonstruksi dan reformasi pada dunia semu tersebut. Para feminis melakukan penelitian di bidang pornografi dan mem­bangun makna-makna baru untuk menentang aturan-aturan internet yang mendisposisikan perempuan se­bagai penggoda. Para feminis yang antipornografi ini memobilisasi massa untuk menolak konvensi yang menempatkan laki-laki sebagai pengontrol perempuan di dunia maya.

Bila mengikuti premis-premis fundamental femi­nisme, lingkup pornografi dalam wacana feminis men­jadi luas. Pornografi yang dipermasalahkan ti­dak lagi pornografi sebagai eksibisionis atau ajang pe­rempuan tampil bugil semata, tetapi juga pornografi yang berorientasi ekonomis di mana kekuatan yang mengendalikan dunia teknologi dipegang oleh mayoritas laki-laki.

Walaupun lingkup pornografi dalam wacana feminis mengalami elaborasi dan perluasan, tapi dalam feminis kritis yang diwakili oleh feminis Marxis menunjukkan bahwa pornografi yang berkaitan dengan masalah gender seakan menyempit mengikuti rasio biner laki-laki atau perempuan, produksi atau konsumsi, materi atau non-materi, berkuasa atau subordinat, dan kelas sosial tinggi (borjuis) atau kelas sosial rendah (proletar).

Pro dan kontra tentang biner berkaitan dengan sempitnya lingkup pornografi dalam perkembangan masyarakat Barat sebagai pionir pencipta perempuan dalam dunia maya, karena pemikiran Barat dikonsen­trasikan pada pengakuan logika dan upaya-upaya dunia materi. Feminis Marxis melihat kedua konsentrasi itu (logika dan penguasaan dunia materi produksi) sebagai upaya dalam menemukan justifikasi (pembenaran-pembenaran yang bisa mengonstruksikan sistem pa­triarkis secara politik dan ekonomi). Semua itu ter­jadi menurut Frederich Engels (Tong, 1989: 2) di­awali oleh adanya kepemilikan pribadi pada alat-alat produksi oleh beberapa orang, khususnya laki-laki, yang dikukuhkan oleh sistem kelas yang secara kontemporer perwujudannya tidak lain adalah usaha-usaha imperialisme dan kapitalisme. Gambaran ini menyatakan bahwa kapitalisme merupakan aturan sosial yang besar di mana laki-laki memiliki hak istimewa (priviledge) melebihi perempuan.

Sekali lagi sebagai upaya perenungan, lingkup por­nografi itu sebenarnya luas. Pengertian secara luas dan umum pornografi ini berkaitan dengan insting manusia dan semua hal yang bersifat imaterial. Dengan luasnya batasan ini, usaha feminis dalam membebaskan diri dari pornografi seharusnya tidak terjebak dalam pilihan biner tadi. Jadi, menurut penulis atau kita yang memiliki perhatian pada masalah ini, pornografi tidak harus di­tentang dengan membangkitkan premis-premis lama yang tidak diakui lagi kebenarannya. Karena, fenomena pornografi tidak sepenuhnya bisa dijelaskan secara gam­blang dan tidak harus diartikan dalam pengertian politik ekonomi yang bias gender.

Wacana Pornografi di Dunia Maya: Antara Penikmat, Pembuat, dan Pengamat
Memperbincangkan perempuan yang pornografis di dunia maya kiranya tidak akan lengkap dan tidak akan terungkap utuh persoalannya bila tidak diwacanakan, karena ternyata dalam realitas ini telah muncul per­bedaan makna dan bahasa yang dimiliki pembuat (produser) dengan penikmat (user/the netter) dalam melihat bagaimana perempuan direpresentasikan dalam dunia maya (internet) dan juga bagaimana pengamat (feminis) memahami teks (perempuan) ini sebagai upaya menuju pembebasan.

Bicara tentang seks dalam konteks ini, internet diklaim sebagai struktur dari organisasi (yang mem­produksi) budaya massa dan serangkaian representasi. Implementasi wacana dalam analisis internet ini ber­usaha menemukan ketimpangan-ketimpangan yang disembunyikan di bawah kondisi yang selama ini dianggap normal-normal saja. Karena itu, melalui wacana di antara tiga jenis manusia yang berkepentingan (tapi berbeda tujuan) ini, seakan mengajak kita untuk lebih bersikap analitis dan terlibat secara intens serta aktif dalam membaca makna-makna dan istilah-istilah yang timpang dan kontradiktif dalam kondisi sosial ini. Wacana ini juga tentunya lebih dipusatkan pada keberadaan teks-teks (perempuan) yang muncul di internet untuk mencari makna dan menjadikannya sebagai arena diskusi.
Arena wacana ini berusaha membedah hubungan yang kacau antara penikmat (user dan produser) sebagai su­­byek dengan perempuan yang tampil di internet se­ba­ga­i o­byek, kemudian mencoba merangkaikan kesenjangan yang terjadi di antara keduanya agar dapat bersambung dengan teks yang dinikmatinya (perempuan). Internet sebagai media yang memproduksi makna tentunya mempunyai andil dalam menghubungkan perempuan (teks/ yang dimaknai) dengan penikmat (yang memak­nai), kemudian makna apa yang muncul dari hubungan ke­duanya: perempuan itu rendahkah? subordinatkah? murahankah? gampangankah? asyikkah? gilakah? Lebih jelasnya, interpretasi-interpretasi penikmat terhadap obyek yang dinikmatinya (perempuan sebagai teks) ini bisa diwujudkan dalam bentuk kata-kata, tulisan, dan nonverbal, di mana semuanya bertendensi terhadap pengakuan diri sebagai laki-laki yang dominan dan perempuan adalah obyek yang pantas dinikmati. Maka, melalui pengungkapan makna terhadap obyek (perempuan) dari para penikmat ini, dapat diperoleh gambaran posisi penikmat sebagai subyek yang dominan memaknai perempuan-perempuan yang tampil di in­ternet.

Begitu pula dengan para feminis sebagai pengamat dalam memaknai teks-teks (perempuan) yang mun­cul di internet akan memaknai apa terhadap obyek pengamatannya: Subordinasikah tampilan itu? Diskri­minasi­kah itu? Patriarkiskah yang membuat dan yang menikmatinya? Pemarjinalisasian perempuankah itu? Seksiskah internet? Dan lain sebagainya.

Baca lebih lanjut buku Birahi Maya: Mengintip Perempuan di Cyberporn karya Ellys Lestari Pambayun (Penerbit Nuansa, 2010)

birahi maya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *