Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Cara Pandang Baru terhadap Ajaran-ajaran Sunan Gunung Jati

Cara Pandang Baru terhadap Ajaran-ajaran Sunan Gunung Jati

Oleh Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A. —Ketua Tanfidziyyah PBNU

Membaca buku kepemimpinan Sunan Gunung Jati karya saudara Eman Suryaman ini, memberi sebuah cara pandang baru dalam melakukan pendekatan terhadap ajaran-ajaran Wali Songo, khususnya Sunan Gunung Jati. Cara pandang baru yang saya maksudkan karena ajaran Syaikh Syarif Hidayatullah atau yang lebih kita kenal dengan nama populer Sunan Gunung Jati, didekati dengan sudut pandang filsafat etika. Tidak hanya berhenti pada tataran sejarah, tetapi juga melampauinya dengan melakukan refleksi filosofis. Dengan demikian, melalui pendekatan tersebut, ada sebuah “kebaruan” karena filsafat etika yang dipergunakan ternyata bisa membantu untuk memperkaya cara pandang kita terhadap ajaran Sunan Gunung Jati.

Banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dari membaca buku ini. Sebagai sebuah karya yang berasal dari disertasi di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, buku ini sudah melalui tahapan-tahapan ilmiah sehingga validitas serta kredibilitas data-data yang ada di dalamnya telah teruji dengan bobot yang tinggi. Tentu saja hal ini patut kita syukuri karena dapat melengkapi buku-buku tentang gerakan dakwah Wali Songo yang sekarang sudah ada. Salah satunya yang sangat penting dan monumental adalah yang diterbitkan LTN PBNU, Pustaka IIMAN serta Trans Pustaka dengan judul Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah karya saudara Agus Sunyoto. Cetakan pertama dari buku tersebut terbit pada tahun 2012. Buku Saudara Agus Sunyoto memiliki tingkat kredibilitas serta validitas sangat tinggi karena sejarah Wali Songo yang sangat kita hormati tersebut didukung dengan bukti-bukti historis yang sangat meyakinkan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang kita dengar selama ini karena kebanyakan sumber sejarah Wali Songo, termasuk Sunan Gunung Jati, susah diverifikasi sehingga tingkat keajegannya secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, banyak orang yang menganggapnya sebagai cerita mitos belaka.

Saudara saya, Ketua PWNU Jawa Barat, Eman Suryaman, dengan sangat jernih bukan hanya berhasil menyajikan Sunan Gunung Jati sebagai fakta historis, bahkan mendialogkan “petatah-petitih”-nya dengan pemikir-pemikir besar baik dari tradisi Islam maupun Barat, yang bersumber dari mata air tradisi Islam, seperti Imam al-Ghazzali, Maulana Rumi, Ibnu Miskawaih, dan Seyyed Hossein Nasr, dan dari kecemerlangan para pemikir Barat, seperti dari Immanuel Kant, Henry Berson, dan Teilhard de Chardin.

Apa yang dilakukan oleh Saudara Eman Suryaman ini merupakan sebuah kajian integral tentang pemikiran etika Sunan Gunung Jati yang terdapat dalam petatah-petitihnya dalam perbandingannya dengan pemikir-pemikir besar dari tradisi Islam dengan Barat itu. Dengan cermat, Saudara Eman Suryaman membuat garis perbedaan antara Barat yang secara umum berorientasi pada nilai-nilai yang bersifat profan serta duniawi dibanding dengan kepemimpinan etis Sunan Gunung Jati yang berorientasi pada nilai-nilai ilahiah, sakral serta abadi dengan jejak-jejak yang bisa kita saksikan sampai sekarang di Cirebon.

Kepemimpinan serta Dakwah Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati memiliki kedudukan ganda sebagai pandita-ratu (raja-pendeta) atau penyebar dakwah Islam serta raja sekaligus. Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi baik secara moral, spiritual, maupun sosial dengan legitimasi yang kuat sebagai ahlul bait Rasulullah dari garis ayah serta seuweu-siwi Siliwangi dari garis ibu. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, ayahanda Sunan Gunung Jati adalah Sultan Mahmud dengan nama Syarif Abdullah putra Ali Nurul Alim dari Bani Hasyim, keturunan Bani Ismail yang berkuasa di Ismailiyah negeri Mesir yang kekuasaannya bahkan menjangkau Palestina. Leluhur Sunan Gunung Jati ini berasal dari Mesir, yaitu keturunan Sultan Hud, keturunan Nabi Muhammad Saw dari jalur Zaenal Kabir keturunan Imam Zainal Abidin bin Imam Husain bin Fatimah binti Muhammad Saw. Sementara itu, dari garis ibunya, Nyai Mas Rara Santang adalah putri Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi, dari pernikahannya dengan santri Syaikh Quro Karawang, Subang Larang.

Dua sumber nasab ini menyatukan darah keturunan Rasulullah dengan darah raja-raja bumi Sunda, yang membuat kepemimpinan Sunan Gunung Jati, baik sebagai raja maupun sebagai penyebar ajaran Islam, memiliki basis legitimasi yang sangat kuat. Dari Keraton Pakungwati yang dibangun pada tahun 1452 Masehi, Sunan Gunung Jati memimpin aparat kerajaan serta menjalankan roda pemerintahan. Ia adalah seorang raja yang memiliki kedaulatan penuh atas wilayah kerajaan serta seluruh rakyatnya. Namun demikian, Sunan Gunung Jati tidak menjadi seorang pemimpin yang otoriter karena kekuasaannya lebih diwarnai dengan ruh serta nilai-nilai Islami. Ia memegang amanah kepemimpinan itu dengan cara yang adil serta penuh kebijaksanaan. Sunan Gunung Jati berhasil menghadirkan satu pola kepemimpinan dengan nilai-nilai Ilahi sebagai landasannya serta menerjemahkannya dalam bentuk sistem pemerintahan yang menaungi semua kepentingan masyarakat Cirebon pada saat itu.

Di bawah wibawa Sunan Gunung Jati, Cirebon memiliki kedudukan politik yang semakin kuat, bahkan ia melakukan ekspansi kepemimpinan sampai ke Banten dengan sokongan penuh dari Demak. Namun, hal itu dilakukannya semata-mata untuk menguatkan syi’ar Islam. Perjuangan struktural serta kultural itu adalah dua hal yang saling melengkapi dalam strategi Sunan Gunung Jati. Tampuk kekuasaan Banten kemudian dipegang oleh putranya, Sultan Maulana Hasanuddin sejak tanggal 1 Muharram 933 H bertepatan dengan 8 Oktober 1526 M. Perluasan kekuasaan dinasti itu tidak lain merupakan jalan dari perjuangannya demi menyebarnya ajaran Islam di bumi Nusantara pada umumnya, yang digerakkan oleh barisan dakwah Wali Songo, serta di bumi Sunda pada khususnya.

Kemampuan manajerial Sunan Gunung Jati sebagai seorang raja dibarengi dengan usaha yang tidak mengenal lelah untuk melakukan perjalanan dakwah yang dibarengi dengan kemampuannya mendialogkan universalitas Islam dengan nilai-nilai budaya lokal  tampaknya menjadi kunci sukses dari Sunan Gunung Jati. Bahkan jalan politiknya sendiri bukan untuk memperkuat kedudukan dengan ambisi-ambisi pribadi demi meraih kuasa duniawi, tetapi semata-mata sebagai sebuah jalan agar Islam semakin kuat kedudukannya di bumi Nusantara dengan strategi  hikmah, mau‘izhah hasanah atau keteladanan untuk masyarakat umum serta mujâdalah atau dialog untuk kalangan intelek yang dibarengi keikhlasan yang sangat tinggi, sehingga dengan segera ajarannya meresapi nadi serta hati masyarakat banyak dengan berbagai strata sosial yang menjadi tujuan dakwahnya. Strategi yang dilakukannya tiada lain merupakan pengejawantahan dari ayat, Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik, Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (Qs  an-Nahl [16]: 125)

Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati merupakan sebuah pola yang mesti menjadi inspirasi bagi gerakan serta tindakan-tindakan kita sekarang ini, terutama dalam menyiarkan Islam yang rahmatan lil-‘âlamîn di bumi Nusantara. Garis keislaman seperti yang sudah dicontohkan oleh Sunan Gunung Jati ini sangat elastis dalam membangun dialog dengan beragam akar nilai budaya masyarakat Nusantara, bahkan memperkuatnya agar bisa bersanding dengan peradaban-peradaban lain di dunia.

Kepemimpinan Sunan Gunung Jati untuk Indonesia Hari Ini

Hal yang paling penting dari terbitnya buku Saudara Eman Suryaman ini adalah relevansinya dengan kebutuhan untuk membentuk karakter masyarakat Indonesia sekarang. Di dalam buku Saudara Eman Suryaman yang sangat saya kenal integritasnya, baik sebagai ketua PWNU Jawa Barat maupun sama-sama sebagai pendiri serta pengelola Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon, dimensi kepemimpinan Sunan Gunung Jati menjadi aktual untuk memenuhi kebutuhan kita terhadap nilai-nilai kepemimpinan transformatif berbasis keteladanan dengan akhlak mulia sebagai dasarnya. Ukuran nilai-nilai, setinggi apa pun capaiannya secara filosofis, bermuara pada integritas moral atau akhlak mulia sebagai ukurannya yang paling utama.

Para penerus garis perjuangan Wali Songo, apakah yang berkiprah di pesantren, para birokrat, yang bergerak dalam seni budaya, maupun masyarakat umum pada tingkat yang paling awam sekalipun dapat mencontoh keteladanan Sunan Gunung Jati ini. Apa yang dirintis oleh para wali sudah selayaknya kita apresiasi serta kita jadikan energi hidup kita hari ini. Ajaran ahlussunnah waljamaah yang mereka kembangkan adalah nilai-nilai kebenaran yang sangat cocok dengan kondisi Indonesia yang sangat multietnik serta multibudaya dan mesti terus kita aktualisasikan serta transformasikan pada ranah keislaman serta kebangsaan sekaligus.

Lewat buku Saudara Eman Suryaman, ajaran-ajaran Sunan Gunung Jati terasa sangat dekat dengan masalah kebangsaan kita sekarang. Saat kita kehilangan orientasi hidup berbangsa karena kepercayaan terhadap ideologi bernegara terkikis, Saudara Eman Suryaman memperkuatnya kembali. Tertulis dengan sangat gamblang bahwa ajaran Sunan Gunung Jati dan ideologi negara Pancasila memiliki nilai-nilai yang sama. Seperti ditulis Eman Suryaman, Pancasila merupakan ideologi berbangsa, sedangkan ajaran Sunan Gunung Jati dengan ketakwaan sebagai intinya adalah ruhnya.

Paradigma jalan tengah bagi kehidupan berbangsa, berpolitik, dan berkebudayaan dengan memperkuat kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara yang dikemukankan oleh Saudara Eman Suryaman merupakan ciri khas pandangan kaum nahdliyin yang memposisikan NKRI dengan Pancasila sebagai harga mati. Prinsip jalan tengah memiliki pijakan yang sangat jelas karena berdasarkan sikap tawassuth (moderat), tawâzun (seimbang), dan tasâmuh (toleran). Paradigma jalan tengah merupakan nilai-nilai yang digali dari Al-Quran dengan istilah yang secara eksplisit dinyatakan dalam Kitab Suci sebagai ummatan wasathan (masyarakat moderat). Di dalam Al-Quran, masyarakat moderat ini disebut khairu ummah (masyarakat yang paling baik).

Apa yang ditulis oleh Saudara Eman Suryaman merupakan sebuah karya penting untuk kebutuhan kita sekarang ini. Buku ini hadir serta memperkuat posisi Pancasila sebagai  jalan tengah dengan ketinggian ajaran Sunan Gunung Jati  yang bisa memperkaya serta memperkuat kedudukannya saat banyak di antara anak-anak bangsa yang mempertanyakannya dan bahkan hilang kepercayaan sebagai ideologi negara. Dengan bahasa yang lebih teknis, buku ini dapat memperkuat empat pilar kebangsaan: (P)ancasila, (B)hineka Tunggal Ika, (N)KRI, (U)UD 1945.

Terakhir, buku ini merupakan rujukan sangat otoritatif tentang ajaran-ajaran Sunan Gunung Jati serta mesti menjadi bacaan berbagai kalangan, mulai dari kalangan akademisi, birokrat, para juru dakwah, hingga para aktivis, agar nilai-nilai kepemimpinan Sunan Gunung Jati menjadi energi transformatif untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah kehidupan berbangsa yang lebih baik serta ber­martabat di masa depan.[]

Jakarta, April 2015

Baca lebih lengkap dalam buku Jalan Hidup Sunan Gunung Jati: Sejarah Faktual Kepemimpinan Seorang Agamawan dan Raja karya Dr. H. Eman Suryaman, M.M. (Penerbit Nuansa, 2015)

Sunan Gunung Jati 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *