Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Islam Nusantara

Warak

Warak

Menjauhi keburukan dalam tasawuf disebut warak. Menurut kamus bahasa Arab, seperti Mu’jam al-Ma‘ânî al-Jâmi‘, warak (Arab: wara‘) berarti menjauhkan diri dari dosa dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan yang samar-samar (syubuhat) serta tidak berbuat maksiat dalam menjalankan ketakwaan. KBBI menjelaskan warak dengan penjelasan yang keliru dan memberi contoh dengan kalimat yang benar: Continue Reading

Syekh Djambek dan Kiai Fuad Affandi

Syekh Djambek dan Kiai Fuad Affandi

Oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, M.A.

Sebelum membicarakan sang aktor dalam buku ini, saya akan menceritakan tentang sosok seorang alim terkemuka dari Sumatera Barat, tepatnya dari Kampung Tengah Sawah, Pasar Bawah, Bukiting­gi. Seperti yang pernah saya ceritakan di Harian Republika 1 April 2008 dalam tulisan berjudul “Syekh Djambek,” yang memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Djamil Djam­bek, seorang alim ahli fikih, ushul fikih, ilmu falak, dan ilmu dakwah yang sangat handal.

Continue Reading

Fiqih Nusantara

Fiqih Nusantara

Oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A.

Kepada saya, penulis buku ini meminta untuk memberikan kata pengantar. Setelah saya pahami dan cermati isinya, saya bersedia mengantarkan perbincangan buku ini terkait pembaruan hukum Islam di Indonesia. Judul buku ini, “Fiqh Indonesia”, menarik saya untuk memberikan komentar lebih jauh. “Fiqh Indonesia” adalah gagasan lama yang terus digodok dan disempurnakan sejak masa Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Prof. Tgk. M. Hasbi ash-Shiddiqy, Prof. Hazairin, KH. Achmad Shiddiq, dan KH. Abdurrahman Wahid, KH. Dr. M.A. Sahal Mahfudh, tapi wujud nyatanya baru tergambar dalam buku ini. Demikian juga subjudul “Kompilasi Hukum Islam (KHI)” dan “Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI)” menarik saya untuk menulis kata pengantar ini.

Continue Reading

Serat Cabolek dalam Konteks Kekinian: Menemukan Titik Hubung Antara K.H. Ahmad Mutamakin dan K.H. Abdurrahman Wahid

Serat Cabolek dalam Konteks Kekinian: Menemukan Titik Hubung Antara K.H. Ahmad Mutamakin dan K.H. Abdurrahman Wahid

Oleh Enoch Mahmoed dan Mahpudi

Presiden K.H. Abdurrahman Wahid adalah tokoh kon­troversial, sekontroversial caranya dipilih melalui  Majelis Permusyawaratan Rakyat waktu itu (tahun 1999). Kon­troversi seputar Gus Dur, demikian presiden keempat Republik Indonesia akrab disebut, bukan saja karena fisiknya yang dianggap kurang mampu melihat dengan baik tapi juga lontaran-lontaran pemikirinnya atau sikapnya yang sering “nyeleneh” dan “melawan arus” jauh sebelum ia masuk dalam kancah politik dewasa ini.

Continue Reading

Cara Pandang Baru terhadap Ajaran-ajaran Sunan Gunung Jati

Cara Pandang Baru terhadap Ajaran-ajaran Sunan Gunung Jati

Oleh Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A. —Ketua Tanfidziyyah PBNU

Membaca buku kepemimpinan Sunan Gunung Jati karya saudara Eman Suryaman ini, memberi sebuah cara pandang baru dalam melakukan pendekatan terhadap ajaran-ajaran Wali Songo, khususnya Sunan Gunung Jati. Cara pandang baru yang saya maksudkan karena ajaran Syaikh Syarif Hidayatullah atau yang lebih kita kenal dengan nama populer Sunan Gunung Jati, didekati dengan sudut pandang filsafat etika. Tidak hanya berhenti pada tataran sejarah, tetapi juga melampauinya dengan melakukan refleksi filosofis. Dengan demikian, melalui pendekatan tersebut, ada sebuah “kebaruan” karena filsafat etika yang dipergunakan ternyata bisa membantu untuk memperkaya cara pandang kita terhadap ajaran Sunan Gunung Jati. Continue Reading

Argumentasi Aliran Moderat

Argumentasi Aliran Moderat

Oleh Siti Musdah Mulia

Sebagaimana aliran konservatif, aliran moderat juga meng­gunakan ayat dan hadis sebagai landasan teologis. Bahkan, kelompok ini menggunakan dalil yang sama untuk memperkuat pendapat mereka. Hanya saja, mereka memilih interpretasi lain terhadap dalil-dalil itu. Interpertasi yang digunakan oleh aliran ini terkesan lebih rasional, lebih humanis, dan lebih akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan, serta lebih ramah terhadap perempuan. Continue Reading