Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Qalam

Fungsi Hukum dan Tugas Kenabian

Fungsi Hukum dan Tugas Kenabian

Manusia saling membutuhkan satu sama lain dalam kehidupannya. Manusia tidak dapat hidup terpisah satu sama lain. Karena itu, manusia perlu hidup bermasyarakat. Manusia memiliki keinginan (interest). Sering terjadi konflik di antara sesama manusia karena keinginan ini. Karena itu, manusia membutuhkan hukum dan peraturan.

Hukum menjelaskan tugas seseorang dalam masyarakatnya. Dalam hal ini, hukum berfungsi sebagai alat untuk mengoordinasi kegiatan masyarakat. Hukum mengatur seseorang bagaimana ia melakukan sesuatu. Hukum mencegah manusia agar tidak melanggar dan menyalahi hak-hak satu sama lain. Hukum mencegah kekacauan dalam interaksi seseorang dengan orang lainnya. Hukum juga menjelaskan hukuman untuk pelanggar hukum tersebut.

Sebuah peraturan harus meliputi hal-hal tersebut. Sekarang kita membahas tentang siapa yang dapat membuat peraturan terbaik untuk manusia, yang meliputi hal-hal tersebut. Pembuat peraturan tersebut harus mengetahui sifat alamiah manusia dengan baik dan memahami insting, emosi, kebutuhan, dan masalah-masalah manusia. Dia juga harus memahami kemampuan semua manusia. Dia harus mampu memprediksi segala kemungkinan yang mungkin melibatkan banyak manusia. Dia tidak mungkin memiliki keinginan khusus sebagai manusia sehingga dia dapat membuat hukum tanpa memuaskan keinginan pribadinya. Dia harus bebas dari kesalahan, kebingungan, dan lupa. Dia juga harus kuat sehingga tidak dapat diintimidasi oleh sebuah kekuatan. Dia juga harus baik hati dan simpatik.

Continue Reading

Isi Ajaran Para Nabi

Isi Ajaran Para Nabi

Oleh Hamid Muhammad
Isi dan kandungan ajaran yang disampaikan seorang nabi adalah bimbingan paripurna Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang Maha Pemelihara untuk menyempurnakan manusia. Bimbingan seperti ini tentu berlandaskan pada keesaan Tuhan dan setidaknya akan memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Mengajarkan sendi-sendi ihwal asal-muasal (al-mabda’) realitas bahwa segala sesuatu adalah berasal dari Realitas Tunggal (al-haqq al-wahîd), yang tak lain adalah Hakikat Zat Tuhan itu sendiri dan ihwal bagaimana Sifat-sifat Tuhan Yang Mahasuci seperti Yang Maha Mengetahui, Yang Mahakuasa, Yang Mahahidup, dan seterusnya.
  • Mengajarkan ihwal hakikat kehidupan dan perjalanan jiwa manusia sejak lahir hingga mati dan apa yang dialami manusia sesudah kematiannya (al-ma’âd) dan ihwal bagaimana seorang manusia bisa mencapai kebahagiaan abadi yang sejati dalam Limpahan Rahmat-Nya di alam keabadian tersebut.

Continue Reading

Menghadirkan Kembali Pengarang

Menghadirkan Kembali Pengarang

Oleh Maman S. Mahayana

Betulkah pengarang tidak penting lagi ketika pembaca berhadapan dengan teks (sastra)? Meskipun perkaranya berbeda dengan kematian tuhan yang diproklamasikan Nietzsche, boleh jadi semangatnya semata-mata hendak merayakan kebebasan pembaca menafsir-maknai teks; atau memang kenyata­annya begitu, yakni sesaat setelah teks lepas dari penulis-pe­ngarangnya, seketika itu juga terbentang garis demarkasi yang memisahkan teks dengan pengarang. Teks lalu diperlakukan laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Bukankah anak panah yang meluncur dan melenceng atau menancap pada sasarannya tidak lagi berhubungan dengan busurnya? Tetapi bagaimana anak panah itu bisa lepas? Bukankah daya luncur itu juga bergantung pada model busurnya; bergantung pada siapa pemanahnya, Robinhood atau Srikandi? Continue Reading