Cart

Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Pendidikan

Paguyuban Selasa Kliwon

Paguyuban Selasa Kliwon

Soewardi seorang pengajar yang tekun dan giat. Di Jogjakarta, pada 1921, Soewardi sempat mengajar selama satu tahun di sekolah Adhidharma yang dipimpin kakandanya, Suryopranoto.

Sepak terjang Soewardi sebelum mendirikan sekolah Taman Siswa tidak bisa terlepas dari Paguyuban Selasa Kliwon. Soewardi bergabung dengan paguyuban yang berkedudukan di Jogjakarta itu. Paguyuban ini mempunyai cita-cita utama mengayu-ayu saliran, mengayu-ayu bangsa, dan mengayu-ayu manungsa; artinya membahagiakan diri sendiri, membahagiakan bangsa, dan membahagiakan umat manusia.

Paguyuban itu terkenal dengan sebutan gerombolan Selasa Kliwon, terdiri atas beberapa tokoh politik Budi Utomo beraliran wederopbouw (pembangunan) dan kebatinan. Kelompok ini berpandangan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan harus didasari dan dimulai dengan penanaman benih kebangsaan sejak kanak-kanak.

Continue Reading

Taman Siswa Dengan Metode Among

Perguruan Taman Siswa didirikan Soewardi di Jogjakarta saat rakyat Indonesia bergerak menuju kemerdekaan. Waktu itu, rakyat sedang menempuh masa peralihan dari periode perjuangan kooperatif ke perjuangan non-kooperatif.

Taman Siswa merupakan badan perjuangan yang berjiwa nasional yang menggunakan kebudayaan sendiri sebagai dasar pergerakan. Taman Siswa tidak hanya menghendaki pembentukan akal budi, tetapi juga pendidikan moral. Di Taman Siswa, seorang guru berkewajiban mengajar dan mendidik. Prinsipnya, mengajar berarti mentransfer ilmu pengetahuan agar anak didik menjadi pandai, berpengetahuan, dan cerdas. Mendidik berarti menumbuhkan budi pekerti agar anak didik menjadi manusia yang berkepribadian dan bermoral baik.

Dalam melaksanakan tugas mengajar dan mendidik, guru harus memberikan tuntunan serta dukungan kepada anak didik agar tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan sendiri. Mengajar dan mendidik dengan cara-cara kolonial, seperti memberikan perintah, paksaan, serta hukuman, harus ditinggalkan.

Metode ini dikenal sebagai among. Among berarti membimbing anak didik dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan mereka, sehingga bisa berkembang menurut kodratnya. Semboyan yang digunakan untuk melaksanakan metode ini adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya guru seyogianya menjadi teladan di depan.

Kemudian, Ing Madya Mangun Karsa, artinya guru mengikuti murid dari belakang dengan memberikan dorongan, bimbingan, perhatian, dan pertolongan bila perlu.

Terakhir, Tut Wuri Handayani, artinya guru mendorong para siswa untuk mencari pengetahuan dan belajar sendiri. Di sini, anak didik hendaknya membiasakan berdisiplin dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, tanpa ada paksaan dari orang lain.

Menurut Ki Hadjar Dewantara

Menurut Ki Hadjar Dewantara, keluhuran dan kehalusan budi adalah dua hal penting dalam hidup. Manusia merupakan makhluk terpilih yang memiliki kekuatan serta sifat berbeda dengan hewan. Maka, keluhuran dan kehalusan budi harus terus dipupuk.

Menurut Ki Hadjar, sejak kecil anak harus diperkenalkan pada keluhuran dan kehalusan budi, misalnya dengan memberi penghormatan kepada para pahlawan. Di sini, anak diperkenalkan pada watak dan peran utama tokoh pahlawan. Dalam memberi penghormatan kepada pahlawan, bisa diselipkan tujuan lain, yaitu menanamkan perasaan nasionalisme.

Di samping itu, keluhuran budi dan kesusilaan terdapat dalam ilmu agama. Menurut Ki Hadjar, pelajaran moral akan berharga jika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Asas-asas kesusilaan yang tak dipraktikkan dalam kehidupan tak akan berguna sama sekali. Siapa yang tak menjalankan hidup menurut hukum-hukum susila, tak bisa dianggap sebagai manusia dalam arti sebenarnya.

Karena itu, di Taman Siswa dikembangkan pendidikan kesenian untuk memperhalus budi anak didik. Pendidikan kesenian sebagai basis nasionalisme kultural dapat mendorong menuju nasionalisme kebangsaan. Dalam pendidikan kesenian, terdapat ajaran leluhur yang tak bisa dipisahkan.

Menariknya, hubungan antara guru dan murid di Taman Siswa sangat dekat, sehingga guru-guru dapat dengan mudah mengetahui kesulitan anak didiknya. Terutama menyangkut masalah ekonomi. Banyak murid Taman Siswa terpaksa membantu orangtua mencari uang, setidaknya untuk biaya sekolah.

Demikianlah keadaan Taman Siswa. Pembinaan nasionalisme selalu dilakukan sesuai dengan anjuran Ki Hadjar Dewantara pada Kongres Taman Siswa 1936, bahwa setiap anggota Taman Siswa harus merasa sebagai saudara.

Selama penjajahan Belanda, Taman Siswa selalu menolak bekerja sama. Taman Siswa tidak mau menerima subsidi dari pemerintah kolonial agar tidak terikat dengan kebijakan penjajah. Keputusan ini memaksa Taman Siswa hidup sederhana.

Selama delapan tahun sejak awal berdiri, Taman Siswa tumbuh tanpa memisahkan diri dari dunia luar. Terutama dari pergerakan rakyat yang mempunyai berbagai program pendidikan, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Serikat Rakyat.[]

Universitas dan Fungsinya

Universitas dan Fungsinya

Dalam buku karangan Alfred North Whitehead, TUJUAN PENDIDIKAN, di bab 3 menjelaskan tentang Universitas dan Fungsinya.

Universitas adalah sekolah pendidikan dan juga sekolah penelitian. Tetapi alasan utama keberadaannya tidak bisa dicari dalam semata-mata pengetahuan yang disampaikan kepada para mahasiswa ataupun dalam sekadar kesempatan untuk melakukan penelitian yang diberikan kepada para dosen.

Orang-orang muda memiliki watak imajinatif. Jika imajinasi tersebut diperkuat oleh disiplin, energinya yang besar bisa dilestarikan sepanjang hayat. Tragedi dunia kita ini adalah bahwa orang-orang yang berwatak imajinatif hanya memiliki sedikit pengalaman, sedangkan mereka yang berpengalaman hanya memiliki imajinasi yang lemah. Orang tolol bertindak berdasarkan imajinasi tanpa pengetahuan. Orang yang suka menonjolkan ilmunya bertindak berdasarkan pengetahuan tanpa imajinasi. Tugas universitas adalah memadukan imajinasi dan pengalaman.

Disiplin awal imajinasi dalam periode semangat kemudaannya menuntut tidak adanya tanggungjawab atas tindakan segera. Kebiasan berpikir tak-bias, di mana berbagai contoh ideal dicermati dalam turunannya dari prinsip-prinsip umum, tidak dapat diperoleh ketika ada tugas harian pelestarian organisasi konkret. Anda harus bebas berpikir entah benar ataupun salah, dan bebas mengapresiasi keragaman alam semesta tanpa diganggu oleh bahaya-bahayanya.

Continue Reading

Mengapa Karakter?

Mengapa Karakter?

Oleh Anna Farida

Kurikulum pendidikan Indonesia sudah berganti beberapa kali, dengan sasaran yang berbeda-beda. Ada yang ditujukan untuk mengasah kemampuan kognitif murid, ada bertujuan mengembangkan daya kreasi dan kemandirian, dan sekarang hadir kurikulum yang memperhatikan aspek karakter sebagai salah satu capaian utama. Harapannya adalah, jika peserta didik memiliki sikap yang baik, karakter yang terpuji seperti bertanggungjawab, disiplin, gemar membaca, dan sebagainya, dengan sendirinya mereka akan bersedia belajar tanpa paksaan. Ilmu akan lebih mudah mereka serap dan langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran karakter ini pun tidak disampaikan secara parsial atau dijadikan mata pelajaran terpisah, melainkan terintegrasi dengan semua mata pelajaran.

Continue Reading

Santun kepada Teman

Santun kepada Teman

Tia tidak sengaja memakai seragam yang salah. Dia buru-buru ke sekolah karena harus menjaga ayahnya yang dirawat di rumah sakit.Begitu masuk kelas, semua temannya bergumam, kemudian tertawa. Ada yang bercanda dan berkata, “Tia tampil beda, uuy!” Continue Reading

Itu Bukan Uangku

Itu Bukan Uangku

Oleh: Hermawan Akhsan
Bel pulang sekolah sudah berbunyi hampir setengah jam yang lalu. Para siswa SMP Merah Putih sebagian besar sudah meninggalkan sekolah. Tapi karena ada sesuatu yang harus dikerjakan, Andi pulang belakangan sendirian. Ia tidak mau menunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini.
Andi siswa kelas delapan di SMP Merah Putih.
Baru saja beberapa belas langkah melewati gerbang sekolah, Andi berhenti. Matanya menangkap sebuah benda berbentuk segiempat tak jauh dari perdu pohon di pinggir jalan aspal. Andi mendekat, lalu membungkuk dan memungut benda itu. Sebuah amplop panjang. Agak tebal dan berat. Tebal isinya mungkin hampir satu sentimeter.
“Apa, ya, isinya?” pikir Andi. “Dokumen penting barangkali?”

Continue Reading

Miskin Pikiran

Miskin Pikiran

Oleh Hasanudin Abdurakhman

“Miskin harta itu gampang sembuhnya, cukup dengan bekerja. Tetapi kebanyakan orang miskin itu bukan miskin harta, mereka miskin pikiran.” Emak selalu mengomelkan hal itu kepada kami sejak kami masih kecil. Ada banyak orang miskin di kampung kami ketika itu. Rumahnya reot, nyaris tumbang. Atap bocor di sana-sini. Demikian pula, dinding rumahnya bolong di berbagai tempat. Rumah juga tanpa perabot. Untuk tidur, mereka pakai tikar pandan yang sudah robek. Sekadar piring makan saja mereka pakai piring seng yang sudah berkarat.

Continue Reading

Orang Melihat, Orang Melakukan

Orang Melihat, Orang Melakukan

Saya: Jika keinginan Anda adalah bahwa ketika menginstruksikan siswa Anda membatasi diri pada gaya ekspositori dengan kerumitan terkecil, konsisten dengan materi pelajaran dan populasi sasaran, hasil seperti itu lebih mungkin tercapai jika eksposisi Anda sendiri adalah isomorfik dengan apa yang diinginkan.
Anda: Huh?
Saya: Jika Anda ingin siswa Anda menggunakan bahasa yang sederhana ketika mereka mengajar, Anda harus menggunakan bahasa sederhana ketika Anda mengajar.
Anda: Mengapa Anda tidak mengatakannya?
Saya: Saya baru saja melakukannya.
Anda: Lalu, kenapa Anda tidak menggunakan bahasa sederhana ketika Anda mengajar?
Saya: Jangan lakukan seperti apa yang saya lakukan. Lakukanlah seperti apa yang saya katakan!
Dialog yang sedikit konyol itu memberikan gambaran tentang prinsip-prinsip modeling, yaitu mempraktikkan apa yang Anda khotbahkan.
Meskipun benar bahwa kita belajar dengan berlatih, dengan berbuat, dan dengan mendapat hadiah atau kemajuan kita, benar juga bahwa sebagian besar dari apa yang kita pelajari dipelajari melalui peniruan. Kebanyakan dari apa yang kita pelajari berasal dari melihat orang lain melakukan sesuatu yang membuat kita kemudian mampu melakukan—atau berani melakukan. Ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu, ada kecenderungan pada kita untuk meniru tindakan mereka. Orang melihat, orang melakukan. Continue Reading

Kaji Ulang Pentingnya Homeschooling

Kaji Ulang Pentingnya Homeschooling

Oleh Mary Griffith

Bayangkan dua pelajar, masing-masing berumur kira-kira lima belas tahun, duduk di depan sebuah meja sambil mengerjakan soal geometri. Keduanya menggunakan kertas dan pensil, mungkin sebuah penggaris dan jangka, dan buku teks yang sama. Dari penampilan luar, masing-masing mengerjakan hal yang sama dengan yang lain. Tapi salah seorang tidak pergi sekolah dan yang lain pergi ke sekolah tradisional.

Continue Reading