Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Cinta, Cinta, dan Cinta...

Cinta, Cinta, dan Cinta…

Oleh Miftah Fauzi Rakhmat

Hari ini Sabtu, awal pekan yang baru. Geliat rutinitas kembali mengantarkan hari yang padat beraktivitas. Televisi menemani kami untuk mengetahui apa yang sedang hangat dikupas. Ada tiga hal topik utama: dimulainya pekan kenangan perang Iran dan Irak, dibukanya tahun ajaran sekolah yang baru, dan rencana pidato presiden di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Semua isu itu hangat, menarik, dan pasti melibatkan seluruh rakyat. Secara waktu, minggu ini merupakan pekan kenangan perang Iran-Irak. Orang Iran menyebutnya pekan pertahanan suci, hafteh difa‘e muqaddas.

Hari ini, kami dapat van baru. Satu van dan satu sopir, khusus untuk kami. Demikian penjelasan panitia semalam tadi. Jadwal kami manggung, jam tiga sore nanti. Ada setengah hari kosong, dan kendaraan yang siap menanti. Tunggu apa lagi, ini kesempatan untuk ‘melarikan diri’. Saya minta teman-teman bersiap. “Ke mana?” tanya mereka. “Jalan-jalan,” jawab saya. “Usai sarapan, saya tunggu di lobbi ya.”

“Siap,” kata mereka.

Semangat mereka bertambah. Ini waktunya melihat Iran yang sesungguhnya. Beberapa hari ini, perjalanan hanya pulang-pergi Milad-Hotel, dan anak-anak tidak sempat menyaksikan yang lainnya.

Mereka siap dengan cepat,penasaran mau dibawa ke mana. “Museum perang,” jawab saya. Alat-alat musik dibawa serta. Usai jalan-jalan, kami rencana langsung ke tempat acara. Sopir kami tinggi besar badannya. Ali namanya. Nama ini banyak sekali di Iran. Mungkin negara dengan nama Ali terbanyak di dunia. Apalagi bila dikombinasikan menjadi Alireza, Alihadi, Alisajjad, dan sebagainya. Di buku rekor dunia, Ali menempati urutan nomor dua. Masih kalah oleh nama terbanyak sejagat raya: Muhammad, kekasih hati tercinta.

Ali tubuhnya kekar, atletis, dan berbadan bidang. Ia mahir berkendara. Sambil mengemudi, ia saya ajak bercerita. Ia penduduk pinggiran kota. Seperti Depok untuk Jakarta. Ia punya empat jenis izin berkendara. SIM untuk mobil sedan dan sejenisnya. SIM untuk van dan bus sedang. SIM untuk truk dan kontainer, dan terakhir, SIM khusus untuk balapan dan lomba. SIM yang terakhir hanya ia gunakan di arena lomba. Kegemarannya tinggi pada segala hal berbau otomotif. Ia amat patuh rambu-rambu. Katanya, “Bila saya melanggar, seluruh SIM saya yang empat itu akan dicabut.” Sayangnya, meski lihai mengemudi, jalanan Teheran masih perlu banyak ia pelajari. Berulang kali ia bertanya pada sesama pengendara. Kadang-kadang, ia harus menepi terlebih dahulu.

“Punya SIM empat, kok tak hafal tempat?” tanya saya.

Ia tertawa. Jawabnya, “Aku jarang ke bagian kota ini. Daerah selatan wilayahku.”

Saya tak hendak bertanya lagi. Dulu, sebelum revolusi, Teheran terbagi dua. Teheran utara untuk orang-orang kaya. Kebanyakan orang-orang dekat raja dan pengusaha. Daerahnya juga memang indah luar biasa, di kaki bukit Damavand, bukit tertinggi di Timur Tengah. Bukit itu sudah sulit kami lihat dari kota karena polusi yang membatasi pandangan mata. Tapi kalau udara sedang indah-indahnya, Damavand terlihat cantik perkasa, anggun mempesona. Seorang sahabat bertanya manakala kami takjub dengan Milad Tower yang tinggi itu. Katanya, “Sudah kau­lihat Damavand?” Saya jawab, tak terlihat sementara.

Ia berkata, “Kaulihat kebesaran manusia, tapi kau tak melihat kebesaran Sang Pen­cipta.”

Damavand tertutup salju abadi, mengawal pegu­nung­an Alburz hingga sampai ke Himalaya.

Teheran utara terletak di bagian atas kota. Di bawahnya ada Teheran selatan. Inilah pusat kelas pekerja. Tempat para pedagang pasar tradisional dan orang-orang sederhana. Di sini, revolusi menemukan sumbu utamanya. Para pecinta mati mulia. Perempuan yang penuh menutup jilbabnya, dan para pemuda bercambang yang bersahaja. Berbeda dengan Teheran utara. Mobil-mobil mewah di mana-mana, perempuan berkerudung seadanya, dan janggut kelimis tak berkumis.

Pemandangan itu dulu begitu kontrasnya. Kini ia perlahan-lahan mulai dicoba dihapuskan. Tak sepenuhnya hilang, saya rasa, seperti makna di balik kalimat yang disampaikan Ali.

Entah sejak kapan ada pembagian utara dan selatan. Di beberapa tempat, ia bahkan jadi simbol pemisahan. Antara si kaya dan si miskin. Antara yang sejahtera dan menderita. Uniknya, Teheran berbeda dengan Jakarta. Jakarta sebaliknya. Rumah-rumah mentereng di selatan, dan utara milik perkampungan para nelayan.

Ali membuka jendela kacanya. Lalu lintas terlihat padat. Ia telah tersesat. Saya sudah sampaikan padanya tujuan kami: Museum Perang Iran-Irak. Ia sudah menelepon ayahnya minta petunjuk untuk sampai ke tempat itu. Rupanya ayahnya adalah seorang sopir yang lebih berpengalaman darinya. Saya sudah pernah sekali ke tempat itu, tapi Ali belum pernah sama sekali. Tidak perlu heran. Banyak orang Jakarta belum pernah naik ke puncak Monas. Dan toh, museum itu baru setahun dibuka. Setelah proses pengerjaan yang memakan waktu delapan tahun—sama lamanya dengan durasi perang—museum diresmikan oleh walikota Teheran. Banyak yang hadir. Sayang, orang menghubungkan momentum itu dengan pencalonan sang walikota untuk pilpres yang berjalan.

Ali bertanya singkat. Ia dapat jawaban, ia telah jauh berada di arah yang berlawanan. Saya tidak terjemahkan percakapan itu untuk teman-teman. Bagi orang yang tidak tahu jalan, tersesat itu bukan kesulitan.

Kami memutar lagi. Melalui deretan bendera-bendera Iran yang bertebaran di jalan-jalan. Barangkali karena dampak globalisasi yang terbatas, ruang publik Iran bersih dari serangan iklan produk-produk internasional. Saya sampaikan pada Ali bahwa museum itu terletak di bawah kibar bendera Iran terbesar di Teheran, bahkan mungkin terbesar di seluruh Iran, terbesar di dunia, terbesar di alam semesta. Lagi-lagi, ia tertawa.

Untuk mengisi waktu, teman-teman berlatih menghafal nada. Setiap kesempatan menjadi begitu berharga. Di depan, saya duduk bertiga: Ali, seorang guru, dan saya. Bangku di belakang tak cukup lagi, karena muatan angklung begitu banyaknya. Iseng-iseng, Ali bertanya berapa usia saya. Saya meminta ia mengiranya. Jawabannya tak jauh berbeda dengan umur yang sebenarnya. Meski empat-lima tahun dikira lebih muda. Tapi manakala ia saya minta menebak umur kawan di samping saya, ia tersenyum dan berkata: dia pasti masih sangat muda.

Kawan saya ini baru saja berusia kepala tiga. Tapi Ali menduganya masih belasan. “Ia sudah menikah,” lanjut saya.

Mata Ali membelalak. “Tidak mungkin, tidak mungkin,” sanggahnya.

Saya tambahkan, “Ia sudah punya anak dua.”

Ali menggeleng-geleng makin tak percaya.

Saya minta kawan saya mengeluarkan foto kedua anaknya. Nama keduanya itu saya yang berikan: Asytar dan Akhtar. Asytar adalah panglima perang Sayyidina Ali, dan Akhtar artinya ‘yang terpilih’. Dalam bahasa Farsi, Akhtar juga artinya bintang. Saya sebut dua nama itu untuk memberitahukan Ali bahwa teman-teman yang dibawanya bukan orang asing baginya. Ali mengenal betul siapa Malik al-Asytar, dan ia tentu tahu makna di balik Akhtar.

Mengetahui bahwa kami berdua jauh lebih tua darinya, ia berulangkali menggelengkan kepala. Tertawa dan tertawa lagi. Akhirnya ia tanya usia kami ketika menikah. Saya balik bertanya padanya, berapa usianya sekarang. “24,” jawabnya.

“Itulah usia saya menikah,” jawab saya.

Ali menepuk pipinya, cukup keras. “Ey woy…,” ujarnya. “Saya harus segera menikah. Mudahkah menikah di Indonesia?”

Di Iran, menikah memang tak semudah di negeri kita, padahal Nabi Saw meringankannya begitu rupa. Masih ada tradisi masyarakat yang meminta maskawin begitu tingginya. Tak jarang, ribuan dolar dilinting sebagai seserahannya. Kesulitan lainnya muncul bila berperkara, terjadi polemik di rumah tangga. Bisa membuat kurus badan dan harta. Walaupun begitu, angka ajuan perceraian cukup tinggi juga, terutama di kota-kota.

Itulah mengapa seorang ibu berdiri bertanya di Andisheh lalu, katanya, “Ini kelemahan laki-laki Iran. Bertekuk di bawah lutut perempuan.”

Saya kira, tidak benar juga. Tapi asumsi masyarakat adalah cerminan yang sedang terjadi. Karena itu, dengan situasi seperti ini, poligami hampir sulit ditemui. Apalagi tentang isu pernikahan sementara dan sebagainya.

Iran memang bulan-bulanan isu dan tuduhan. Sejak pelecehan perempuan hingga tudingan bersahabat dengan Amerika dan Israel. Seseorang yang saya kenal di blognya menulis bahwa Iran sebetulnya adalah mitra Amerika dan Israel. Apa buktinya? Karena Amerika tidak pernah mengirimkan misi militer ke Iran. Israel juga. Kawan saya itu keliru besar. Amerika dan Israel tahu persis bahwa mereka tidak akan melibatkan diri dalam perang yang tidak akan mereka menangkan.

Suatu saat, saya bertemu seorang ulama senior Iran. Bersama saya ada analis politik internasional. Ia menceritakan pada ulama itu bahwa Amerika sudah mengepung Iran dari berbagai sisi: Afghanistan, Irak, Qatar dan Saudi. Semua negara itu adalah pangkalan-pangkalan militer Amerika. Lucu juga bila kenalan saya itu menyebut Iran antek Amerika tapi tidak menyebut hal yang sama untuk negara-negara yang merelakan tanahnya menjadi basis sekutunya.

Begitu mendengar analisis sang tokoh, ulama ini tersenyum. Ia menjawab tegas, “Satu butir saja peluru Amerika terdampar di tanah Iran, kami kirim rudal-rudal untuk menghancurkan Israel dari tempat-tempat yang tidak mereka ketahui.”

Tetapi, begitulah mispersepsi, didominasi oleh kekuatan media yang mempengaruhi. “Perang abad ini, perang satelit dan komunikasi,” kata Rahbar suatu waktu. Iran berusaha melawannya dengan meluncurkan satelit sendiri, satelit mandiri. Hingga kini, setidaknya tiga satelit komunikasi telah mengudara: Omid, Sharif, dan Fajr. Semua diluncurkan dari kota Semnan. Iran juga dikabarkan telah berhasil mengirim-coba kera ke angkasa, atau mengitari bumi dalam orbitnya. Dunia kedokteran Iran juga maju, dan masuk sepuluh besar dunia. Belakangan, seorang peneliti mengembangkan gas dari laser (atau laser dari gas?). Tampaknya, jika Iran dibiarkan, dunia akan memiliki tandingan adidaya baru.

Itulah mengapa perang terhadap Iran dicoba dari berbagai sisi. Media terutama. Iran diboikot di sana sini, dijadikan sumber fitnah itu dan ini. Bukan hanya negaranya, tapi juga mazhab mayoritas penduduknya. Ada upaya sistematis untuk merendahkan Iran, mazhabnya, tokoh-tokohnya. Mereka difitnah, disalahpahami, dan dihamun maki. Sepertinya, ketika otak sudah tak kuasa, otot akan mengambil alih tempatnya. Sulit mencegah Iran dengan logika, hantam saja dengan palu raksasa.

Maka di sebuah majalah internasional, ada rubrik khusus Letters from Teheran. Tapi tidak ada “letters dari kota lainnya di dunia”. Apa isinya? Apalagi kalau bukan cerita penderitaan rakyat Iran di bawah rezim para ulama. Hak-hak perempuan sering ‘diperjuangkan’ di kolom itu. Majalah internasional ini kini terancam bangkrut. Barangkali karena kualat, menyebarkan dusta dan berita sesat. Peringatan bagi siapa pun yang melakukan yang sama tanpa bukti yang kuat.

Karena itu, melihat ‘mahalnya’ biaya pernikahan di Iran, sebetulnya perempuan berada pada posisi yang lebih diuntungkan. Di sisi lain, ia tak sepenuhnya sejalan dengan amanat Nabi Saw untuk memperingan pernikahan. Orang Iran sebenarnya bisa mengambil teladan dari Sang Imam pendiri negeri. Imam menikah dengan istrinya Khanum Khadijah Tsaqafi dengan maskawin 10 ribu real saja. Dulu, ekuivalennya kira-kira satu dolar Amerika. Sederhana.

Saya tanya Ali, apa ia mau menikah dengan perempuan Indonesia. Ia—lagi-lagi—hanya tertawa. Tak menjawab ‘tidak’, tidak pula ‘iya’. Saya beri ia semangat untuk menikah dengan cerita tentang seorang guru di sekolah kami.

Sahabat saya ini, Tamim namanya, mungkin dari kabilah Bani Tamim di Makkah itu. Ketika bergabung di sekolah, usianya sudah masuk kepala tiga. Ia belum menikah waktu itu. Suatu saat, ia masuk ke kelas-kelas mengajari anak-anak keutamaan shalat jamaah. Katanya: satu ditambah satu berapa? Anak-anak menjawab: dua. “Salah,” kata pak guru ini, “yang benar adalah dua puluh tujuh. Mengapa? Karena satu orang imam dan satu orang makmum shalatnya bernilai 27 kali lipat.”

“Oooh,” kata anak-anak terkesima, “Begitu ya….”

Saya dengarkan penjelasannya. Selesai mengajar, saya temui ia. “Ustad keliru,” saya bilang. “Satu tambah satu itu tujuh puluh.” Lho, kok bisa? “Karena sabda Baginda Nabi Saw, ‘Satu rakaat shalat orang yang sudah menikah setara dengan tujuh puluh rakaat seorang bujang.’.”

Ia tertawa. Ia tidak punya hujjah membantahnya. Dua nol bagi saya. Satu skor untuk mengoreksi materinya. Satu lagi untuk ‘menyindir’ status bujangnya. Kini, ia sudah menikah. Dan saya ganti namanya, dari “Tamim” menjadi “Tamam”. Artinya, lengkap, selesai, tamat, sempurna!

Ali tertawa mendengar kisah saya. “Ya, ya, ya…. Saya harus menikah,” katanya. Tangannya yang satu mengetuk-ketuk atap lewat celah kecil di jendela yang dibukanya. Tangan kanannya tetap pada kemudi. Matanya lurus ke depan. Ia masih tersenyum. Saya kira pikiran ‘menikah’ kini tengah bertahta di benaknya. Saya berhasil ‘meracuninya’.

Setelah beberapa tanya, sampailah kami di museum itu. Saya sudah kontak seorang teman Iran yang akan menemani. Tapi kami tetap dicegah di pintu masuk. “Orang asing?” tanya penjaga. Ali mengiyakan, “Dari Indonesia.”

Penjaga menelepon ke dalam, bertanya apa ada jadwal kedatangan tamu yang tidak ia ketahui. Ia menutup teleponnya dan berkata, “Tidak ada kabar tentang orang Indonesia.”

Saya sampaikan padanya, kami memang datang begitu saja. Kawan-kawan ini ingin tahu Iran dan belajar sejarahnya. “Mereka dari Sekolah Syahid Muthahhari,” ujar saya. Sekali lagi berusaha menampilkan sisi yang sama.

Akhirnya, katanya, “Silakan masuk, tapi kalian bayar tiketnya.”

“Tidak masalah,” jawab saya. Rupanya seluruh ‘peme­riksaan’ itu hanya untuk tamu yang digratiskan. Bila kami mengirim surat lebih awal, mereka dengan senang hati mempersilakan. Tanpa biaya lagi. Begitu seharusnya memperkenalkan bangsa pada tamu lain negara.

Kami turun dari van itu. Saya pastikan Ali ikut bersama. Ke mana-mana ia mengikuti saya, karena hanya saya yang bisa diajaknya bicara. Bila sedang jalan bersama, Ali mirip bodyguard yang mengawal saya. Lagi-lagi ia tertawa. Katanya, “Saya bodyguard untuk kalian semuanya.”

Sampailah kami di pintu masuk. Ini awal dari Pekan Pertahanan Suci. Hari ini masih terlalu dini. Hanya ada satu rombongan di depan kami: rombongan para penerbang. Pilot-pilot muda dari Angkatan Udara. Mereka ‘berziarah’ ke museum itu.

Saya bayar tiket masuk. 150 ribu real per orang. Kira-kira 50 ribu rupiah. Ketika akhirnya kawan Iran saya datang, saya dapat diskon lagi sepertiganya.

Petugas bertanya banyak hal ketika saya membeli tiket masuk itu. Ia keheranan ada orang asing yang tertarik dengan sejarah Iran. “Kalian Muslim?” tanyanya. Kami mengiyakan. “Kalian Syiah?”

“Kami mencintai keluarga Nabi,” jawab saya.

“Kalau begitu, kalian memperingati Asyura di sana?”

“Iya,” saya bilang, “bahkan semua yang hadir bersama saya adalah para musisi pengisi acara-acara keagamaan.”

“Kalau begitu kalian Syiah,” ia mendesak.

“Doakan,” ujar saya, “semoga kecintaan kami pada keluarga Nabi mengantarkan kami pada derajat itu.”

Ia tersenyum. Ia tahu maksud saya. Syiah dalam literatur para imam dari keluarga Nabi adalah orang-orang yang indah akhlaknya: yang zuhud, memelihara amanah, wara’, bersungguh-sungguh dalam beramal dan beribadah, berusaha memberikan manfaat sebanyak-banyaknya buat sesamanya, tak cinta dunia, rindu kampung akhirat.

Ia meminta saya menunggu. “Kalian nanti masuk setelah rombongan angkatan udara itu. Duduklah lebih dahulu.”

Anak-anak angklung duduk. Sebagian menyalakan gadget-nya. “Tak ada wifi di sini,” kata mereka. Anak-anak itu, dan jutaan anak lainnya dari generasi muda Indonesia adalah para wifi hunters. Ini saatnya mereka, di museum ini, menjadi para martyrdom hunters.

Saya memandang jauh ke halaman. Di sana berdiri menjulang bendera terbesar di Iran itu, di atas bukit yang ditutupi pepohonan rimbun. Tiang benderanya sendiri 147 meter tingginya. Besarnya bendera 24 x 42 meter. Beratnya bila ditimbang 300 kilogram seluruhnya. Dari mana saya tahu itu? Dari brosur yang saya baca selama menunggu. Tepat setahun yang lalu, ia pertama dikibarkan. Pada hari pertama pekan pertahanan suci ini, lagi-lagi sejarah bermain-main dengan kami.

Di deretan halaman depan, berbaris tank-tank para veteran. Nun jauh di seberang sana, rudal-rudal balistik jarak jauh dengan mentereng terpampang. Iran membanggakan dirinya karena pencapaiannya itu. Keberhasilannya bertahan menghadapi gempuran lawan. Tapi kelebihan mereka bukan dari peralatan perang itu. Kekuatan sesungguhnya adalah figur kepemimpinan dan kerelaan untuk berkorban.

Akhirnya kami masuk ke dalam museum setelah para kadet angkatan udara itu jauh meninggalkan kami. Petugas bertanya, ingin meminta guide berbahasa apa. “Bahasa Inggris saja,” jawab saya. Dengan demikian, saya tidak perlu menerjemahkan dan bisa ‘menikmati’ suasana museum sepenuh hati. Mulailah kami mena­pakinya. Ada tujuh arena yang akan kami jalani. Di brosur tertulis, 90 menit waktu untuk menempuhnya. Kenyataannya, dua jam pun masih belum cukup puas melihatnya.

Kami ditemani para guide yang baik hati. Jalanan menanjak, tapi tak ada satu pun anak tangga. Saya bertanya, mengapa. Guide menjelaskan bahwa museum ini dirancang begitu rupa sehingga para veteran berkursi roda dapat mengunjunginya dengan leluasa. “Mereka pemilik museum ini sesungguhnya,” katanya. Saya terharu. Para veteran adalah juga poros bangsa ini.

Guide berganti setiap kali kami berganti arena. Talar bahasa Farsinya. Hall terjemahan Inggrisnya. Aula mungkin lebih tepat dalam bahasa kita. Tapi saya menggunakan arena, karena setiap memasuki satu di antaranya, seperti diantar dari satu arena peperangan ke arena peperangan yang lainnya.

Arena pertama, namanya “Istana”. Ada miniatur para komandan pasukan yang gugur di sana, dari yang paling muda sampai yang paling tua, dari pilot, kameramen, hingga ulama. Patung lilinnya tak kalah dengan Madame Tussaud di Paris. Awalnya kami mengira mereka pengunjung seperti kami. Ini menunjukkan bahwa membuat rupa seperti patung tak dilarang di negeri mullah ini. Di Teheran dibuat pameran patung setiap tahunnya. Sebuah grafiti dari gubernuran Teheran berbunyi seperti ini: mujassemeh behesyte chesm ast. Patung ibarat surga bagi mata.

Terlepas dari perkara fikih, mereka tidak pernah membuat patung khusus untuk Imam Khumaini. Yang paling dekat dengan patung adalah bentuk setengah badan dari Imam Khumaini di Museum Imam Ridha di Mashhad. Menariknya, dari sudut mana pun kita memandang patung setengah badan Imam Khumaini itu, Imam seperti mengikuti arah mata kita. Ini juga yang membedakan Iran—yang sudah menerapkan syariat Islam—dengan teriakan kelompok berserban di sebuah kota di barat Bandung. Semua patung dibakar kelompok ini. Semua tugu dihancurkannya. Tak sesuai syariat agama, katanya.

Baru saja memasuki arena yang pertama, keharuan itu sudah terasa. Musik yang mengalun lembut, syahdu, tak pelak mengalirkan airmata duka. Jiwa-jiwa perkasa yang terbebas dari kungkungan dunia. Terbang menjemput kecintaan Sang Mahacinta. Yang tersungkur di altar persembahan sederhana bagi para kekasih hati termulia.

Saya tak kuasa berlama-lama di sana. Setiap kali me­man­dang wajah syuhada itu, saya hanya bergumam: berbahagialah engkau di alam baka. Doakan bagiku akhir yang sama. Setidaknya, catat aku sebagai pecinta mati mulia… kenali aku sebagai saudaramu kelak di sana. Saya ingin menjadi saudara para syuhada.

Sewaktu nyantri dulu, pihak madrasah menyarankan para santri untuk mengikat janji. Mematri persaudaraan di luar negeri. ‘Aqd al-mu’akhat. Akad persaudaraan. Konon, ini mirip persaudaraan para sahabat di Madinah sewaktu hijrah. Saya diajak berkali-kali, tapi saya berulang kali juga menolaknya. Saya keberatan, karena dalam bunyi akad itu ada kalimat seperti ini: Ya Allah, sekiranya aku masuk surga lebih dahulu, aku tidak akan memasukinya sebelum kau sertakan saudaraku bersamaku. Sekiranya ia masuk surga yang pertama, ia tidak akan memasukinya sebelum aku ikut bersamanya.

Saya menolak. “Enak saja,” pikir saya, each man for himself. Setiap orang untuk dirinya sendiri. Saya tidak rela menunggu yang lain untuk masuk surga. Begitu dulu saya punya prasangka.

Namun akhirnya, kawan-kawan terkejut melihat saya me­lakukan akad itu dengan seorang saudara dari Kashmir, bangsa yang menderita di kaki Himalaya. Negeri yang sangat indah. India mengklaim Kashmir miliknya, Pakistan yakin itu bagian dari mereka. Kashmir sendiri ingin merdeka. Saya mengikat janji dengan seorang saudara dari Kashmir. Setelah akad, seluruh hak dan kewajiban mengikat sebagai saudara. Kawan-kawan datang pada saya, protes, mengapa sekarang saya melakukannya. Saya jawab sambil bercanda, “Sederhana saja. Ia dari Kashmir. Peluangnya untuk mati mulia lebih terbuka. Jika ia syahid, saya dibawanya serta.”

Iran pernah dihebohkan oleh tiga orang yang mengikat janji bersaudara. Tiga orang sahabat yang baru saja beranjak remaja berkumis tipis tanpa cambang di muka. Mereka adalah Ali Siraj, Mujtaba Sa’idi dan Ahmad Mukhtari. Ketiganya berasal dari tempat yang berbeda, dan Tuhan pertemukan mereka di garis depan pertempuran. Ini bunyi surat yang mereka tandatangani bersama, “Duhai Tuhanku, tiga hamba-Mu ini: Ali, Mujtaba, dan Ahmad, dengan ini bersaksi dan mengikat janji. Siapa pun di antara kami bertiga beroleh derajat tinggi mati mulia, maka di hari kiamat, ia akan memberi syafaat pada dua saudaranya ini. Dan di hadapan-Mu dia akan memohon agar dosa keduanya dihapuskan. Dalam nama-Mu Tuhan, sebaik-baiknya awal pekerjaan. Alirkan bagi kami mata air kebaikan.” Kemudian surat itu mereka tandatangani.

Siapakah yang kemudian beroleh syahadah? Siapa­kah yang berbahagia memberikan syafaat pada dua saudaranya? Tak seorang pun. Bukan karena tiada yang syahid, melainkan karena ketiganya justru gugur bersama-sama di medan juang. Semuanya syahid sesuai impian. Tuhan antarkan mereka bergabung dengan barisan para pejuang. Para pecinta mati mulia itu tahu benar apa yang mereka cari di dunia. Seperti kisah-kisah ketulusan sahabat Nabi Saw di berbagai medan laga. Mati bukan masalah waktu. Ia masalah cara.

Ada foto mereka yang diambil beberapa saat usai mereka menandatangani janji persaudaraan di medan perang, di tengah kecamuk tembakan dan ledakan. Pada foto itu, mereka tampak tersenyum. Raut duka tak sedikit pun terlintas di rona mereka. Lepas, ikhlas, tanpa beban, tanpa belenggu. Sepenuhnya terbebas dari godaan hawa nafsu. Sungguh, ketika menjadi budak Dia, barulah kita benar-benar merdeka.

Cerita unik lain seperti tiga saudara itu banyak ditemui di Iran. Ada juga tentang syuhada yang membawa rekaman kecil di ranselnya. Semacam black box bagi keluarga yang ditinggalkannya. Tentang tawanan yang pulang menemukan istrinya sudah menikah dengan yang lainnya. Ia datang ke rumah, persis di hari walimahnya. Tentang gumam terakhir. Tentang salam terakhir, tentang sorot dan tatap mata terakhir. Semuanya karena cinta. Saya sering meminta Sulaimani menceritakannya pada saya, meski ia tak selalu mau mengisahkannya. Katanya, itu caranya mengormati kawan-kawannya yang syahid itu.

Maka saya dan teman-teman menyusuri museum itu. Kami sampai pada galeri barang-barang terakhir yang dibawa para syuhada. Ada tasbihnya, tempat sujudnya, saputangan berenda dari istrinya, foto anak-anak di antara buku doanya, dan sebagainya. Sebagian besar koleksi keluarga dihibahkan untuk Yayasan Para Syuhada.

Museum itu memberikan segalanya. Bagaimana sejarah Iran awal mula. Bagaimana Shah tumbang dalam revolusi bunga. Bagaimana Imam Khumaini menjawab ketika wartawan bertanya kepadanya lima belas tahun sebelum kemenangan: kau mau memimpin revolusi, mana pasukanmu? Imam menjawab: sarbozeman dar gahworeh and: pasukanku masih dalam buaian (ibunya). Wartawan tertawa. Lima belas tahun setelah itu, anak-anak yang dalam buaian ibunya menjadi garda-garda terdepan perjuangan. Mereka adalah anak-anak muda seperti Ali, Mujtaba, dan Ahmad itu….

Museum itu dikelola baik sekali. Sejarah Iran sejak zaman kekaisaran hingga berganti berbagai pemerintahan. Di sebuah dinding, terpampang luas Persia dahulu, membentang dari Turki sekarang, meliputi Irak, Suriah, Yordania, Libanon sekarang ini hingga Afghanistan, Pakistan, dan sebagian India. Sebuah negara besar. Adidaya dunia ini ditandingi oleh kekaisaran Bizantium di sebelah baratnya.

Menarik melihat peta lama itu, Jazirah Arabia sama sekali tidak tersentuh. Ia bukan bagian kekaisaran Romawi, bukan pula Persia. Kedua negara super itu juga tidak mau melirik ke Hijaz dan Yaman sana. Kata para sejarahwan, itu karena dua alasan. Pertama, tidak ada pemimpin definitif di sana. Masyarakat diatur oleh sistem kesepakatan kabilah, sebuah kepemimpinan kolektif kolegial. ‘Raja’ adalah konsep yang sedikit asing bagi mereka. Apalagi demokrasi, musyawarah, dan yang sejenisnya. Karena itu ketika kenabian datang, yang mereka tentang juga adalah berpusatnya kekuasaan pada diri seseorang.

Seorang tokoh Quraisy berkata tentang Bani Hasyim, “Zamzam mereka kuasai, kunci rumah tua itu mereka miliki, sekarang ada lagi yang mengaku nabi.” Ketika Rasulullah Saw pada peristiwa dakwah pertama meminta kerabatnya menerima Ali sebagai khalifah pengganti, tawa mereka makin menjadi, “Hai Abu Thalib, ia (Muhammad) memerintahkan kami untuk taat pada Ali. Taat pada anakmu?!”

Konsep pemimpin tunggal terasa janggal bagi mereka. Sebelum Islam, ia memberikan keuntungan. Daerah itu seperti tak bertuan. Di tengah masyarakat nomaden, ke arah mana akan mengirimkan balatentara? Siapa komandan yang sekiranya ditaklukkan, akan tunduk seluruh pasukan?

Faktor kedua yang membuat Jazirah Arabia luput dari dua raksasa adalah ketiadaan sumber daya di sana. Minyak belum diketahui. Udara yang panas, angin yang kencang, air yang sedikit bukan kriteria yang nyaman untuk tempat huni. Little they know, bangsa dari jazirah itu kelak mengguncangkan dunia.

Menariknya, kira-kira setahun selepas Rasulullah Saw wafat, Khalifah Abu Bakar mengutus Khalid al-Walid dalam sebuah ekspedisi menaklukkan Persia. Di zaman Khalifah Umar, Islam sepenuhnya berkuasa, mengakhiri dinasti Sassanid dan kekaisaran Persia yang telah bertahan ribuan tahun lamanya. Nabi Saw pernah menulis surat pada Raja Khusru di Persia, tapi tidak mengutus ekspedisi militer seperti yang dilakukan dua orang setelahnya. Selama hampir 300 tahun, Persia pasca Islam dikuasai oleh dinasti para khalifah dan raja-raja, oleh Umayyah, Abbasiyyah, Dinasti Zaidi, Thabari dan sebagainya. Barulah pada zaman Raja Safawi, secara resmi dideklarasikan bahwa Syiah Ahlulbait menjadi mazhab Islam resmi kekaisaran ini. Benar kata riwayat: an-nâsu ‘alâ dîni mulûkihim: Manusia (cenderung) mengikuti agama para raja mereka.

Penaklukan Persia oleh Khalifah Umar menandai ekspedisi militernya yang paling sukses. Ia merancang, mengepung, dan menyerangnya berkali-kali. Hingga akhirnya Persia ditaklukkan pada Perang Nahawand yang memakan korban ribuan. Mengapa ini saya kisahkan? Karena ada asumsi tak berdasar yang mengatakan bahwa orang-orang Syiah tidak menghormati para sahabat Nabi Saw. Mereka sakit hati karena Iran ditaklukkan oleh para sahabat. Konon, dari fitnah-fitnah yang beredar, nama para sahabat dituliskan di keset kamar mandi.

Astaghfirullâh. Benar-benar tak berdasar. Cukuplah men­jawabnya dengan mengatakan bahwa awal mula Islam di Persia, bukan Islam Syiah, tapi Islam para khalifah itu. Umayyah dan Abbasiyyah. Meski benih-benih kecintaan pada Ahlulbait ‘alaihimus-salâm sudah mengakar, baru lima ratus tahun terakhir, Dinasti Safawi menjadikan Syiah Imamiyyah sebagai mazhab resmi kerajaan.

Kedua, Ahlulbait Nabi sangat menghormati para sahabat Nabi Saw. Dalam doa dan munajat Imam Ali Zainal Abidin ada doa dan salam untuk para sahabat yang dengan tulus berjuang. Di zaman modern ini, pemimpin tertinggi Iran jelas-jelas menyatakan larangan untuk merendahkan simbol-simbol yang dihormati kelompok lain. PM Irak yang Syiah menghukum berat orang yang menghina sahabat Nabi Saw. Isu anti sahabat ini digunakan oleh mereka yang hendak memecah-belah umat dan persatuan.

Memandang peta Iran lama di museum itu seperti melihat pada sejarah seluruhnya….

Kami bergerak maju melihat diorama kemewahan Shah dan permaisuri ketiganya, Farah Diba. Menyaksi­kan bagaimana perayaan 2500 tahun kerajaan Persia diperingati meriah di reruntuhan lama kota tua Persepolis. Kerajaan Persia telah ada sebelumnya. Lembaran kuno Syrus Agung, raja pertama, jadi pertanda 2500 tahun itu. Pada pesta itu, pemimpin bangsa berdatangan dari mana-mana. Iran benar-benar menjadi surga wisata bagi dunia waktu itu. Permata Timur Tengah. Negara boneka kekuatan adidaya.

Sekitar 60 tamu kehormatan negara hadir; raja, ratu, pangeran, putri, emir-emir Arab, sultan, presiden, perdana menteri, dan sebagainya. Saya tidak melihat ada pembesar Indonesia di daftar tamu itu. Dunia dibuat terpesona oleh mutiara dari Persia.

Kira-kira delapan tahun setelahnya, dunia yang sama dibuat terperangah. Kekuasaan 2500 tahun itu ditumbangkan oleh seorang ulama tua. Sepuh luar biasa. Ia dibuang, dikucilkan, dijauhkan, disingkirkan. Tapi kharismanya ma­kin lama makin bertambah. Ia memimpin revolusi dari tempat pengasingan lima belas tahun lamanya. Awal revolusi terjadi ketika ceramahnya di Masjid Faidhiyyah Qum dibombardir tentara kerajaan. Banyak orang yang gugur. Hari itu menandai awal perjuangan. Dalam bahasa Imam Khumaini, “Penantianku (yang sesungguhnya) akan Imam Mahdi (baru) aku mulai pada hari itu.” Usianya 65 tahun, usia pensiun. Tapi ia malah menggerakkan dunia. Dan ketika revolusi berbuah kemenangan, usianya 80 tahun. Ia menjadi pemimpin negara, panglima perang, dan komandan seluruh angkatan bersenjata. Di usia senja, kecemerlangan batinnya mengalahkan kerentaan raganya. Dunia—lagi-lagi—terpesona oleh mutiara dari Persia. Kali ini, tidak dalam gelimang harta dan pesta pora. Tapi dalam sosok lelaki bersahaja, dalam hidup yang sederhana. Dalam tatap mata tajam yang menghunjam tirani dunia.

Museum itu lagi-lagi mengisahkan seluruhnya. Guide kami begitu bangga mengatakan bahwa harta dan tahta bukan ukuran kemuliaan, tapi kesalehan dan ketakwaan seperti yang dimiliki Imam Khumaini itu.

Anak-anak angklung sibuk antara mendengarkan arahan, mengambil gambar, dan melihat kecanggihan museum itu. Ini kunjungan saya yang kedua. Kali pertama pun sama, saya tidak bisa menikmati seluruhnya, karena jadi penerjemah untuk teman-teman. Hanya istri saya yang banyak mengabadikan. Teman-teman panitia waktu itu belajar kata-kata Indonesia, “Mari…mari. Cepat, cepat…. Ayo-ayo.” Itu juga alasan mengapa saya meminta guide bahasa Inggris kali ini. Saya ingin ‘menikmati’ museum ini. Tentu saya tambahkan beberapa penjelasan, hingga seorang di antara guide itu curiga dan bertanya, “Kau tahu banyak tentang Iran.” Saya jawab, “Saya sudah pernah ke sini sebelumnya.”

Siapa pun yang datang kali pertama akan dihadapkan pada dilema yang sama: mengabadikan momen, menikmati museum, atau mendengarkan arahan. Apalagi kami dikejar jadwal untuk tampil di Milad Tower ba‘da makan siang. Kami susuri arena demi arena itu dengan cepat. Lengkap, hi tech dan nilai artistik yang sangat tinggi.

Tempat apalagi yang paling cepat untuk mengenal satu bangsa selain museum kebanggaan mereka. Selesai arena yang satu, kami berganti pemandu. Semuanya bersemangat bercerita. Masuklah kami pada arena ‘serangan’ yang mengisahkan saat-saat pertama kota-kota Iran dihantam serangan udara. Ada bioskop kecil, dua setengah dimensi. Kurang setengahnya lagi hanya kacamatanya. Duduk di bioskop itu seperti ikut mengalami peristiwa yang dulu terjadi. Setiap kali bom dijatuhkan, suara ledakan memekakkan telinga dan tanah yang kami pijak, bergetar dengan kencangnya.

Semua tempat di museum itu saya sukai. Ada lukisan yang terbuat dari 40 ribu selongsong peluru. Ada hadiah-hadiah rakyat Iran yang diwakafkan untuk membiayai perang, hingga film para tawanan yang disiksa di pengasingan. Tapi kalau harus memilih, ada lima yang paling saya suka. Ini urutan prioritasnya. Pertama, menyaksikan tayangan detik-detik terakhir Imam di rumah sakit dan di atasnya ada miniatur Masjid Jamaran. Kursi duduk Imam dibalut kain putih, dan seorang pemuda menangis terisak memeluknya. Masih di bagian yang sama ada surat Imam untuk istrinya tercinta. Kedua, jembatan para syuhada. Di atasnya bergantung ribuan kalung para syuhada. Di arena ini tidak ada ‘suguhan’ yang lainnya. Hanya jembatan dan kalung itu di atasnya. Di ujung jembatan ada simbol tangan Al-Husain dan teriakan: Hal min nâshir yanshurnî (adakah penolong menjawab seruanku?). Jembatan itu adalah sarana bergabung dengan kafilah Asyura. Syahadah itu adalah jawaban atas seruan Karbala. Indah. Rasanya ingin berlama-lama di sana….

Ketiga, wajah para syuhada, baik berupa patung lilin, hologram, atau foto-foto lama. Tanpa terlihat teman, saya curi-curi mencium foto-foto itu. Berkah, tak peduli orang mau berkata apa. Begitu juga bendera-bendera yang dikibarkan. Tulisan-tulisan di ikat kepala dan ransel belakang: Karbala, kami datang! Karbala, sambut kami. Karbala, tunggu aku di sana…. Hampir semua nama operasi militer tidak pernah lepas dari nama keluarga Nabi Saw: operasi Baitul Muqaddas, sandi: Ya Zahra, operasi Wal Fajr 8, sandi Ya Zainab, dan sebagainya….

Keempat, simulasi suasana perang saat musim dingin dan panas. Kita akan dibawa menuju barak-barak buatan, dalam dua ruangan sebesar 3 x 6. Yang satu dingin sekali hingga tubuh bergetar menggigil. Yang satu panas luar biasa hingga keringat mengalir. Mereka ingin menunjukkan pada para pengunjung bagaimana bertempur dalam dua keadaan seperti itu.

Kelima, my favourite of all the scene: sebuah reka ulang dari kota Khurramsyahr. Kota muqâwamah, istiqâmah, dan mujâhadah-nya para relawan yang disebut Basij itu. Khurramsyahr terletak di dekat perbatasan Irak. Kota itu bersabar sekian lama menghadapi gempuran. Tak terhitung pengungsi perempuan yang berhamburan dengan anak-anak kecil dan perlengkapan di tangan. Para lelaki memutuskan untuk bertahan. Sejengkal pun tanah air Iran tak boleh jatuh pada lawan. Musuh berhasil menaklukkan. Sembilan belas bulan Khorramshahr dalam pendudukan.

Di masa penjajahan itu, pohon-pohon kurma ditebang pangkalnya, menyisakan batang pohon berdiri terkulai. Konon, menebang pohon itu ibarat menebang leher manusia. Dan pohon kurma yang ditebas itu takkan pernah dapat tumbuh lagi. Pusat-pusat perdagangan dihancurkan. Penyulingan mi­nyak diledakkan. Rumah-rumah diberondong muntah­an peluru. Sekolah tutup. Meski gambar Imam Khu­maini tetap terlihat di atas papan tulis berdebu.
Ini­lah kota perjuangan, kota perlawanan, kota kesa­baran, kota tangis dan darah. Kota seorang anak kecil: Muhammad Husain Fahmidah.

Usianya baru tigabelas tahun. Ia bukan penduduk asli Khurramsyahr. Ia lahir dan besar di Qum. Ia putra ketiga dari delapan bersaudara. Ketika pecah perang, ia segera mendaftarkan diri. Ia termasuk yang pertama dikirim ke garis depan pada hari-hari pertama pendudukan Khurramsyahr. Pada operasi militer pertama, ia terluka. Ia dikembalikan ke kota terdekat, dirawat. Begitu sembuh, ia kembali berangkat. Ia ikut misi berikutnya. Tertembak lagi, dirawat lagi. Tak lama, baru pulih seberapa, terdengar bunyi deru tank mendekat ke arah tenda tentara yang terluka….

Ia bangun. Suara riuh rendah bersahutan, “Lawan mendekat, musuh datang…. Cari perlindungan!” Berbaur dalam simpangsiur gerakan, Husain tertatih dari ranjangnya. Ia ambil ransel berisi granat dada yang disimpannya dan mengikatkannya ke tubuhnya. Keluar dari tenda, ia mengendap-endap ke arah kendaraan baja itu. Ledakan terdengar di sana sini. Husain berhasil memutar tanpa diketahui. Ia kini berada di belakang antrean tank itu. Menunduk mendekat, mengawasi setiap gerak. Tiba-tiba… “duarr!” Ia terjatuh. Seorang musuh menyadari keberadaannya. Ia tertembak. Darah segar mengalir membasahi bajunya….

Musuh mengira ia telah mati. Musuh berpaling, me­lanjut­kan niat menghancurkan barak para pejuang. Pada saat yang sama tank itu bergerak, Husain bergerak juga. Ia merangkak pelan-pelan. Perih tembakan tak dirasakannya. Tank itu tak boleh sampai ke tujuannya. Ia mengendap-endap, menggenggam granat erat-erat. Akhirnya, ia sampai di bawah tank musuh. Ia lalui tank pertama. Sampailah ia pada tank nomor sekian, yang tengah-tengah dalam perkiraannya. Suara buncahan peluru mesin tak mengalihkan perhatiannya. Dari bawah tank itu, ia lemparkan satu granat ke depan, yang lainnya ke belakang, dan akhirnya, ia mendekap dirinya erat pada tank di atasnya, dan “DHARRR!” Ia ledakkan dirinya, bersama granat-granat lain yang tersisa di tubuhnya. Tiga tank hancur berantakan. Musuh mengira telah datang pasukan bantuan. Mereka berbalik arah dan melarikan diri. Selamatlah tenda para pemberani.

Tubuh Husain hancur berderai. Sahabat-sahabatnya ber­usaha menyelamatkan yang tersisa daripadanya. Pakaian­nya, pecahan tubuhnya, apa saja. Kotak kayu disiapkan baginya. Sisa-sisa jasadnya dimakamkan di Behesyte Zahra, Teheran, dan ribuan masyarakat menyambutnya.

Mengapa Husain istimewa? Karena tentang ialah sang pemimpin revolusi bercerita, “(Kalian panggil aku pemimpin…, padahal) Pemimpin kita adalah anak usia tiga belas tahun itu. Dengan hati kecilnya yang jauh lebih berharga dari ratusan kata, jauh lebih utama dari ratusan tinta, dengan granat di dada, menjatuhkan dirinya di bawah tank musuh, meledakkan dirinya, dan mereguk manisnya syahadah….”

Muhammad Husain Fahmidah sang martir muda dimuliakan oleh pemimpin yang dicintainya. Indonesia juga punya kisah heroik yang serupa, ketika belia Muhammad Toha meledakkan gudang mesiu Belanda. Keberanian-keberanian penuh cinta mewarnai sejarah dua bangsa.

Jika banyak orang merindukan pemimpin semisal Imam Khumaini, maka Imam Khumaini merindukan seorang belia seperti Husain. Di Museum Imam Khumaini terpampang kalimat Imam, ketika ratusan relawan siap dikirimkan ke garis depan. Mereka menghadap Imam, meminta Imam mendoakan mereka. Beberapa saat Imam tak muncul di mushallanya. Teriakan kerinduan para pecinta tak pernah surut terdengar karenanya. Ketika Imam hadir, semua berdiri, melantunkan syair syiar perjuangan. Imam menyapa singkat, duduk, kemudian menutup matanya. Imam menangis. Dan suaranya parau menahan isakan, “Duhai … seandainya aku masih muda dan bisa seperti kalian…. Duhai sekiranya aku bisa berangkat bersama kalian….”

Dan lautan massa pecah dalam teriakan penuh semangat perjuangan.

Tentang Husain juga, Imam Khumaini pernah berkata: U Husain ro Fahmid. Ia paham Al-Husain. Artinya, anak muda itulah yang benar-benar memahami Imam Husain. Fahmidah dalam bahasa Farsi maknanya ‘mengerti’. Muhammad Husain Fahmidah, sesuai nama yang disematkan orangtuanya menjadi sosok yang memahami Al-Husain dan Nabi terkasihnya.

Itulah sekelumit kisah Museum Perang Iran-Irak dan segala cerita di baliknya. Saya bawa anak-anak belia itu ke sana. Mudah-mudahan terpatri kecintaan pada mati mulia, pada kebanggaan mempertahankan negara, pada pe­ngorbanan demi menyelamatkan sesama. Saya kira, meski hampir semuanya sibuk berfoto, pengalaman seperti ini akan membekas selamanya.

Ia yang mengerti Al-Husain. Ia yang memahami Al-Husain…

Saya tumbuh dengan kisah-kisah seperti itu. Tujuh bulan bersama Sulaimani adalah khazanah kisah keberanian, pengorbanan, cinta dan ketulusan, ikhlas dan sepenuh perhatian. Seperti yang Sulaimani lakukan bagi peristiwa paling mencekam dalam hidup saya.

***

Kunjungan di Museum tanpa terasa berakhir di arena “Kemenangan”. Di sana dipasang foto ketika penguasa Irak, yang berkata di pagi perang, “Malam ini saya makan di Teheran,” diseret paksa oleh seseorang berseragam tentara Amerika. Samir namanya. Ia bukan tentara asli Amerika. Ia orang Irak yang terusir ketika pecah Perang Teluk dengan Kuwait. Paman dan ayahnya dibunuh si penguasa. Ia mengungsi ke Arab Saudi. Di sana ia meminta suaka. Beberapa tahun setelahnya, ia hijrah ke Amerika. Bahasa Inggris dipelajari dari menonton film-film Clint Eastwood favoritnya. Ketika pecah perang Irak dengan Amerika, ia diminta turut serta. Militer mempekerjakannya sebagai penerjemah. Ialah orang yang menemukan tempat persembunyian si pembunuh keluarganya. Fotonya terpampang di media massa, seolah menjelaskan hukum alam, “Kejahatan pada akhirnya sirna juga.” Atau teriakan Hamlet di sidang kerajaan: Royal crime cannot come to good.

Penguasa Irak itu jatuh terhina di bawah kaki seorang Irak juga….

Kami melangkah keluar, dan persis sebelum tangga turun, ada hologram reaktor nuklir Iran. Di sebelahnya ada peta Iran sekarang, dan lampu-lampu yang berkelip bergantian. Banyak jumlahnya. Lebih dari dua puluhan. Tak ada tulisan apa pun di bawahnya. “Itu semua kota-kota di Iran?” tanya saya pada pemandu tentang lampu-lampu itu.

Ia tersenyum menunduk. “Bukan,” jawabnya, “itu pusat-pusat energi nuklir kami….” Masya Allah, saya kehilangan kata!

Di pintu keluar, ada buku tamu dan pena yang teronggok menunggu dituliskan. Saya menulis dalam bahasa Farsi, “Mohon doa, agar bagi kami juga, kehormatan mati mulia….”

Kami tinggalkan museum itu dengan jutaan kesan. Kami pulang dari kunjungan itu membawa jutaan pesan. Anak-anak sempat mampir di toko suvenir. Saya borong pena kecil bergambar sang pemimpin dan beberapa ikat tali hijau yang sering dipakai para relawan garis depan itu. Kami bergegas. Ali sudah menunggu. Tapi ia begitu sabar. Toh pengalaman ini pun yang pertama baginya. Melihat kami begitu terkesan tentu membekas juga dalam dirinya.

Ali melangkah cepat, ia harus mempersiapkan kendaraan. Kawan Iran saya begitu setia menemani sepanjang perjalanan di Museum. Ia berlari sebentar dan datang dengan berbagai minuman. “Rani” merek minuman buah bersoda itu. Anak-anak tertawa. Nama itu unik bagi mereka. Saya berterimakasih kepadanya. Ia seorang doktor filsafat, dan tangannya begitu cekatan membantu sesama. Pada kunjungan saya sebelumnya, ia begitu berkhidmat memuliakan tamunya. Saya berterimakasih padanya seiring langkahnya berlalu meninggalkan kami.

Kami mengakhiri kunjungan di museum dengan kembali ziarah pada para syuhada. Ziarah pada para pahlawan tanpa nama yang makamnya hampir ada di mana-mana. Dan ternyata, kami masih perlu menunggu lama. Anak-anak mengikuti di belakang saya, tapi ada tiga orang guru yang belum kelihatan. Setelah beberapa saat, mereka datang. “Dari mana Pak?” tanya saya pada mereka. Mereka menjawab serentak, “Berfoto dengan para kadet angkatan udara!”

Keberhasilan Iran di berbagai bidang seperti diperlihatkan museum itu tentu mendapat reaksi yang berbeda dari pihak-pihak yang menentang. Dari Irak sendiri tak terdengar suara, pasca negeri itu menumbangkan penguasa lama. Suara sumbang justru datang dari para bangsawan yang terbuang, keluarga raja Iran terdahulu yang hidup dalam pengasingan. Negara-negara Barat memfasilitasi mereka untuk aktif berkegiatan, terutama menyuarakan kritik terhadap ‘rezim’ pemerintah Islam. Farah Diba, istri terakhir Shah, hidup dalam gelimang bangsawan, diundang ke berbagai perhelatan raja-raja dan ratu dunia. Ia mencoba menggalang suara untuk menjatuhkan citra pemerintahan Islam di Iran. Tetapi pendukungnya sangat kecil dan suara ‘oposisi’ itu pecah di sana sini. Tragisnya, kehidupan keluarga Farah pun penuh dilema. Anak laki-laki termudanya bunuh diri, menembak kepalanya sendiri. Anak perempuan bungsunya ditemukan tewas karena overdosis obat-obatan terlarang. Adik iparnya—saudara putri kembar Shah Iran—berulang kali diberitakan mencoba bunuh diri, tiga kali kegagalan pernikahan, dan keluarga yang berantakan. Usianya kini di atas 90 tahun. Dalam rilis resmi, Farah berkata, “Semua keluarganya depresi karena prihatin terhadap apa yang terjadi di Iran yang mereka cintai.”

Sekecil apa pun peristiwa di Iran, pasti dibesarkan oleh para imigran itu. Setinggi apa pun pencapaian pemerintahnya, pasti direndahkan oleh mereka. Perwakilan dan kedutaan Iran di negeri-negeri Eropa sering kesulitan menghadapi teror dan demo mereka. Mobil dilempari tomat dan sepatu yang dilemparkan, bisa jadi menu harian.

Makin tinggi pohon menjulang, makin besar angin menerpa. Tapi makin kokoh tiang menghunjam, makin lebar pula bendera akan berkibar.

Kami tinggalkan museum itu. Anak-anak sudah belajar bentuk kecintaan pada tanah air dan agama. Keberadaan kami di festival ini juga, bentuk kecintaan pada bangsa. Kami melangkah bergerak menuju Milad Tower, ngamen seperti biasa, memanfaatkan setiap kesempatan untuk berlatih menyambut Grand Opening, ketika para pembesar hadir dan nama bangsa benar-benar dipertaruhkan di sana. Saya juga masih belum bisa melepaskan pikiran dari pekerjaan rumah tentang lagu Iran yang populer, yang dikenal banyak orang. Semoga Tuhan menunjukkannya untuk kami, pinta saya dalam doa.

Kami sampai cepat di Milad Tower. Ali tidak kesulitan jalan. Ketika kami turun, Ali berkata, “Aku tunggu kalian di parkiran. Kalau sudah selesai, kabari saja.” Saya ajak ia justru untuk menyaksikan kami. Tapi ia memilih untuk menunggu. Maka kami jalani ritual kami: naik beberapa tangga, menenteng barang-barang, menyeberang, masuk lift (bila berfungsi), memutar bila lift mati, sampai di sekretariat, makan siang dan shalat, beres-beres, pakai ‘kostum’ dan menanti kapan jadwal main diputarkan.

Sore itu, kami tampil cepat. Jam tiga. Itu kabar baik bagi kami, artinya bisa pulang dengan segera. Anak-anak bersemangat, wajah mereka ceria seperti biasa. Milad Tower dan Hotel jadi tempat yang mereka suka. Apa pasal? Wifi gratis ada di mana-mana. Mudah-mudahan kunjungan di museum tadi begitu membekas pada mereka sehingga mereka tak sabar mengabarkannya pada keluarga. Saya husnuzhan pada gadget-mania mereka.

Pengunjung menyemut. Saya kembali jadi MC. Kali itu, tidak ada siapa-siapa, tidak ada pejabat atau petinggi negara. Kami tampil lepas, bebas, senyaman-nyamannya. Anak-anak begitu menikmatinya. Acara interaktif pun beres. Mister Mehdi membantu seperti biasa. Kali ini ada rombongan mahasiswi kesenian yang hadir. Mereka ikut bermain simulasi angklung itu. Usai tepukan yang meriah, silih berganti penonton berfoto bersama. Selesailah tugas kami hari itu… Atau, begitulah pikir kami….

Tiba-tiba Ibu dari panitia tergopoh-gopoh datang. “Mas, Mas….” katanya berusaha mengejar nafasnya. Tampaknya ia baru selesai berlari, mengejar kami sebelum kembali. “Ada telepon dari Andisheh. Pengunjung belum banyak yang hadir. Pak Duta minta tim angklung tampil di sana, di luar, menarik perhatian massa dan menggiringnya masuk ruangan. Sekarang ya Mas. Acara jam enam. Kalau bisa jam lima sudah di sana.”

Saya lihat wajah anak-anak angklung. Sebagian sudah ganti seragam usai berfoto bersama. “Siap Bu,” saya sampaikan. “Tapi kami tampil begini saja. Sebagian berseragam, sebagian apa adanya.”

Hari itu anak-anak putri berkebaya, dan makan waktu lama untuk mengenakannya kembali. Maka rutinitas pun dimulai lagi: beres-beres set, mengemasnya, menentengnya, naik lift (bila berfungsi), menuruninya empat lantai bila lift mati, menyeberang, turun beberapa anak tangga, sampai di lobby, bertemu Ali.

“Pulang?” tanya Ali.

“Tidak,” jawab saya. “Kita menuju Andisheh.”

“Di mana itu?” tanya Ali.

Problem berikutnya. “Naik saja dulu,” saya bilang. “Kita tanya nanti di jalan.”

Anak-anak kembali merapat dalam van untuk 15 orang itu. Jumlah kami pas 15 dengan Ali. Tapi seluruh barang itu? Bangku belakang ditekuk untuk barang. Empat anak perempuan dipadatkan pada tiga kursi berdempetan. Arumba dipangku oleh tiga guru yang duduk di depan. Seorang guru bertubuh subur, duduk di atas kap mesin, membelakangi jalan dan menghadap penumpang. Saya di depan bersama Ali dan kawan yang ‘awet muda’ itu. Brrrm… Mesin pun dihidupkan.

Begitu di jalan, sebagian memanfaatkannya untuk istirahat. Sebagian lagi menikmati pemandangan. Ada juga yang memainkan arumba atau suling atau bercanda mengisi suasana. Setiap kali arumba atau suling itu berbunyi, Ali menggeleng-gelengkan kepalanya, “Khaili qasyanggeh…. Indah sekali,” katanya. Saya hanya tersenyum, sibuk membalas SMS panitia yang terus bertanya: sudah sampai mana, sudah sampai mana. Saya juga terus membalas: saya tidak tahu saya di mana, saya tidak tahu saya di mana. Sepertinya panitia stres, tapi saya dan mereka kan sama: sama-sama buta jalan di Teheran. Saya tidak ceritakan bahwa Ali, sopir kami, sama butanya. Stres mereka akan makin menjadi. Tiba-tiba… sriiittt! Ali mengerem mendadak. “Aduh,” teriak seorang dari kami. Ia terbangun. Mata kirinya terantuk batang paku arumba. Menyisakan bengkak kecil setelahnya. Anak-anak yang lain pun terkejut. “Ada apa, ada apa?” kami silih bertanya.

“Kita diminta berhenti,” kata Ali. Di depan kami ada polisi. Tapi kami tidak merasa melanggar aturan. Ali mencoba bertanya. Rupanya kami berhenti persis di pertigaan jalan keluar jalan raya. “Ada rombongan VIP mau lewat. Kita diminta menunggu.”

Benar saja, raungan sirene kemudian terdengar men­dekat. Tak lama dua motor besar pengawal, satu mobil pengantar, dan barulah mobil tuan pembesar. Ya Allah, kami terkesiap! Mobil mercedes hitam itu berbenderakan merah putih tercinta. Itu mobil Pak Menteri, teriak anak-anak bersahutan. Ya, kami baru sadar bahwa Pak Menteri baru tiba untuk menghadiri Grand Opening acara. Tapi mengapa harus persis kami yang diberhentikan untuk menunggunya. Tidak di tanah air, tidak di luar negeri. Kami tetap harus menunggu jika pembesar bangsa sendiri akan lewat. Nasib… nasib. Ah, tidak baik menggerutu. Nikmati saja itu sebagai pengingat, humor-humor kecil penghilang penat.

Tentu Pak Menteri tak menyadari ada sesama anak negeri diminta menepi. Tapi kami bahagia melihat bendera kecil itu berkibar. Berkibarlah terus benderaku, di ujung tiang itu. Berputarlah terus mercedesku, bawa merah putih itu… bawa ia ke mana-mana, hingga seluruh Teheran tahu (dan Pak Menteri ada di dalamnya). Haha, just kidding… Maaf Pak Menteri.

Kami melanjutkan perjalanan. Panitia SMS lagi: sudah di mana? Saya jawab saja: Jalan Hakim Gharb. Toh ia pun tak tahu di mana. Setidaknya bila ia bertanya pada yang tahu, mungkin ia bisa lebih tenang, atau justru makin gelisah karena tahu masih jauh dari tujuan. Mengetahui sesuatu kadang bisa jadi siksaan, bila tak cukup kearifan. Tapi nikmatnya kejahilan tak sedikit pun mendekati pengetahuan.

Ali berulang kali menurunkan kaca jendela, bertanya pada sesama pengendara. Akhirnya, setelah berbagai kelokan, teman-teman guru berkata: sudah dekat, pertigaan depan kiri, terus kanan, terus ambil jalur lambat, terus memutar, terus masuk parkiran. Horee, sejak kunjungan pertama, teman-teman sudah hafal beberapa tanda.

Kami parkir di jalan masuk Taman Andisheh. Beberapa mobil berplat diplomatik sudah lebih dulu sampai. Tak ada mercedes bermerah-putih tadi. Rombongan itu langsung ke Hotel Azadi. Anak-anak turun. Angklung, kendang, arumba dibawa serta. Rutinitas yang sama. Wajah panitia sumringah menyambut kami. “Ayo Mas, di sebelah sana…. Panggungnya sudah disiapkan.” Rupanya di Taman Andisheh itu ada panggung kecil untuk umum, bisa digunakan kapan saja, oleh siapa saja. Semacam panggung publik terbuka. Anak-anak membuka set, menyusunnya, bersiap ‘mengguncang’ Andisheh dan pengunjungnya. Benar saja, demi melihat barang aneh itu keluar, satu persatu orang berhenti. Manakala ia dimainkan, telinga yang penasaran akan segera datang mencari.

Anak-anak tampil lagi, lebih rileks dari biasanya. Senyum mengembang di mana-mana. Kami diberi waktu setengah jam. Lagu Dewi Sri saat memanen padi pun dimainkan. Seorang kawan dari Galeri Nasional ikut memeriahkan. Ia menabuh rebana tanda ketukan. Pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru. Panitia sibuk membagikan brosur Festival Film. Sore ini ada diskusi dengan sang sutradara. Ia sudah hilir mudik dengan aktornya. Barangkali kuatir tak banyak peserta yang datang nanti.

Setelah satu lagu, tibalah giliran lagu kedua. Lagu pertama cukup menghentak, tapi terlalu lama dimainkan. Elemen surprise-nya sudah lewat. Waktu briefing di tanah air, saya utarakan jangan keluarkan semua ‘senjata’ bersamaan. Dicicil saja, satu persatu. Di Andisheh itu, semua senjata sudah dikeluarkan. Beberapa pengunjung ada yang mulai melangkah menjauh. Pak Sutradara menyadarinya. Ia minta kami ganti lagu, “Mungkin shalawatan lebih menarik bagi mereka.” Kami lakukan, tapi ketiadaan pengeras suara cukup vital bagi tim yang modalnya adalah suara.

Melihat situasi seperti ini, kami merasa perlu mem­percepat interaksi. Benar saja, penonton menyemut, di halaman Taman Andisheh itu. Angklung demo baru saja dibagikan ketika seorang panitia mendekati saya. “Mas, acara sudah mulai. Tolong penonton digiring ke atas,” katanya.

“Tapi kami baru mau mulai interaksi, Bu,” jawab saya. “Bukankah kami punya waktu setengah jam? Masih sepuluh menit tersisa. Tapi kalau Ibu mau, saya ambil lagi angklung dari tangan mereka. Apa pun yang terjadi.”

Panitia bingung. Ia kuatir, penonton keluar lagi dari arena. “Ya sudah, selesaikan saja Mas.”

Kami melakukannya hingga usai, kemudian menggiring penonton di lapangan menuju tempat acara. Beberapa mengikutinya. Dua orang guru standby di pintu depan, tetap memukul perkusi dan genderang.

Anak-anak angklung ikut ke tempat acara. Sebagian istirahat dan mengaso, menikmati suasana. Hari kami sudah panjang, kami rencana langsung pulang.  Tiba-tiba telepon saya berdering. “Mas, anak-anak angklung bisa ke atas semuanya?”

“Ada apa lagi,” pikir saya.

Suara dari ujung telepon berkata, “Auditorium masih lengang. Tolong anak-anak angklung ikut menempati kursi kosong.”

Saya awalnya keberatan, tapi mau bagaimana lagi, demi kesuksesan acara. Saya sampaikan pada teman-teman yang dengan segera berkata, “Hebat anak-anak angklung, paling banyak mainnya, paling padat acaranya, paling merangkap tugasnya. Sejak berkesenian hingga memandu acara sampai mengantarkan makan siang dan menjadi penonton dadakan.”

Saya terharu karena anak-anak selalu siap. Tak pernah saya mendengar keluh mengaduh. Barangkali karena itu, Pak Duta selalu menitipkan madu dan kurma untuk kami. Mungkin karena itu juga, pesan ‘Senyum ya’ tak pernah lepas bagi kami.

“Anggap saja istirahat,” kata seseorang dari panitia meng­gembirakan.

Kami duduk mendengarkan diskusi tentang film antara seorang sutradara kenamaan tanah air dengan mitranya dari Institut Perfilman Iran. Mereka berdua dipandu oleh moderator, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil studi film di sana. Setelah berjalan beberapa lama, saya mengajak kawan ‘si awet muda’ keluar ruangan. “Kita keliling lihat-lihat suasana. Sampaikan sama anak-anak, begitu lampu diredupkan, dan film mulai diputarkan, kita permisi dari sini…”

Di sinilah saya merasa ‘tangan gaib’ kembali menuntun kami. Pas, tidak terlalu lambat, tidak terlalu cepat. Sungguh, Tuhan akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong sesama. Saya masih punya PR mencari lagu Iran yang populer itu. Di dekat aula, ada toko buku dan cd musik. Saya coba melihat, apa ada lagu yang menarik. Saat saya melangkah, seorang ibu staf Kedutaan menyapa hangat, “Bagaimana Mas, lancar teleponnya?”

Saya kesulitan membeli nomor perdana selama di sana. Sesampainya di hotel, paspor disimpan sebagai jaminan, padahal kartu perdana dibeli dengan identitas keterangan. Ibu itulah yang dengan baik meminjami kami handphone-nya. Dengan cara seperti itu kami berkomunikasi.

“Lancar Bu, terimakasih,” jawab saya.

Mendengar sekilas, bahasa Farsi Ibu itu cukup baik. Saya tanya ia, “Bu, punya rekomendasi lagu Iran?”

Ia balik bertanya, apa saja yang sudah disiapkan. Saya sebut tiga judul: Meyhane Ma Iran, Watanam, dan Morghe Sahar. Ibu itu tersenyum. Ia berkata, “Mainkan lagu Ey Iran Iran Mas. Lagu itu populer di sini.”

Saya sudah mendengar lagu itu sebelumnya. Itu juga saran Kedutaan bagi kami. Tetapi ketika men-download-nya dari internet, guru-guru kesulitan mempelajarinya. Rupanya yang kami unduh adalah versi opera. Belakangan kami tahu Ustad Muhammad Nuri, komposer lagu itu (gelaran ustad biasa disematkan untuk pengajar universitas atau maestro), dikenal baik oleh orang Iran. Ia sudah sepuh, tapi suaranya bening sekali. Jernih. Setahun lalu, ia baru saja meninggal dunia, dan Iran berduka karenanya. Opera itu adalah penampilan terakhirnya. Persis seminggu jelang kematiannya.

Ibu itu membawa saya ke toko buku. Ia bicara dengan pemilik buku. Ia menyimpan lagu itu di komputernya. Saya mengkopinya dalam telepon genggam. Saya per­dengarkan pada seorang teman. “Saya masih perlu notasinya,” kata teman itu.

Di sinilah tiba-tiba, kawan moderator itu melintas. “Itu dia. Tanya dia. Dia bisa lagunya.”

Alhamdulillâh, ternyata diskusi film sudah usai. Teman-teman juga keluar, dan pada waktu yang sama, kawan mahasiswa jurusan film juga terlihat. Kami panggil ia. Dengan semangat, ia mengajari kami. Sederhana dan cepat. Beda memang kalau sudah jadi keahlian dan bakat.

Sore itu, dalam perjalanan pulang, Teheran macet bukan kepalang. Pagi tadi saya sampaikan pada Ali, macet Jakarta lebih parah. Tapi sore itu Ali bertanya, “Bagaimana sekarang?”

“Sebelas dua belas dengan Jakarta,” ujar saya. Dan anak-anak memanfaatkan kemacetan itu dengan berlatih lagu baru, menghafalkan notasinya. Suling pun dimainkan. “Khaili qasyanggeh….” kata Ali sambil menggoyang-goyangkan lagi kepalanya. Kali ini, ia mirip aktor film India.

Kami tiba agak terlambat di hotel. Makan malam di Milad Tower, tapi anak-anak sudah kelelahan. “Ditunggu nanti setelah shalat. Kita latihan lagu baru.”

Anak-anak sama sekali tak diberi kesempatan beristirahat. Saya ‘kabur’ saja mengajak seorang anak mencari kudapan. Real titipan istri untuk membeli cincin saya gunakan. Pinjam, nanti diganti belakangan. Kami menyusuri jalanan Vali Ashr malam. Seorang musisi duduk santai memainkan sitar. Bukan pengamen, karena tak ada kotak receh apa pun di depannya. Pakaiannya bersih perlente. Pengeras suara berbaterai teronggok di sampingnya. Musik khas Iran dimainkannya.

Di seberang, ada restoran. Tertulis Pizza di daftar menunya. “Ah, itu saja,” pikir saya. Kami pun melangkah ke dalamnya. Ternyata, ada juga sandwich, burger dan sebagainya. Saya menghitung uang di saku. Sandwich itu 50 ribu real, seharga 15 ribuan di Indonesia. “Ah, itu saja,” pikir saya lagi. 14 sandwich pun kami pesan dengan tiga buah kentang. Pesanan disiapkan. Kami menunggu.

Alangkah terkejutnya kami, ketika pesanan didatangkan, sandwich yang seharga 50 ribu real itu setengah meter panjangnya. Lengkap dengan daging dan sayurnya. Masya Allah! Satu saja cukup untuk tiga orang, pikir saya. Kali ini, kejahilan tak menolong saya. Kentang yang dipesan pun besar-besar. Seporsinya setara tiga porsi kebanyakan kita.

Malam itu, anak-anak terperangah. Sandwich terbesar yang pernah mereka makan. Hanya tiga orang yang berhasil melahapnya sampai habis. Saya, dan dua orang tim angklung berbadan kecil. Mereka ‘ditipu’ kawan yang lainnya. Mereka datang terlambat, dan anak-anak mengelabui mereka, mengatakan bahwa yang lainnya sudah habis lebih dahulu. Padahal mereka membaginya dua, dan menyembunyikan sisanya. Itulah humor-humor kecil penghangat keakraban.

Usai makan, anak-anak berlatih. “Ini malam hari,” pikir saya. Kuatir tetangga terganggu. Berlatih saja di ruang dalam. Suaranya lebih teredam. Ruangan itu tempat tidur saya dan beberapa orang, termasuk seorang anak. Ia berlari, “Sebentar, saya bereskan dulu.” Kemudian ia keluar dan berkata, “Sudah, sudah beres…. Tak ada ‘dalaman’.”

“Amboi,” saya bilang, “kalau mau kami tidak tahu, janganlah diberitahu.”

Lagi-lagi humor-humor kecil itu.

Malam itu, anak-anak berlatih keras, mengejar lagu baru. Peluncuran perdana diadakan esok hari. Pak Menteri sudah tiba di sini. Suguhan yang terbaik harus kami beri. Ey Iran Iran mengiang di telinga. Angklung, suling, biola. Benar-benar luar biasa semangat mereka, memberikan yang terbaik bagi bangsa. Berbanggalah kalian, bahagialah orangtua dan keluarga, karena kita punya anak-anak muda yang siap memberikan apa saja untuk negara. Meski belum seperti Husain Fahmidah, atau tiga kawan yang syahid bersaudara, anak-anak itu sudah menunjukkan potensinya.

Menjelang tengah malam, pintu diketuk. Saya buka dengan waswas, kuatir bila ada tetangga yang mengadu. Ternyata teman-teman tari dan sape’ datang membawakan makan malam kami. Kebaikan persahabatan dan persaudaraan juga mewarnai per­jalanan anak negeri.

Anak-anak selesai latihan jelang jam satu. Malam itu, saya mensyukuri nikmat Tuhan untuk berbagai hal. Hari yang padat bermanfaat kami lalui, dari museum, jadwal bermain, dan jadi penonton dadakan. Tapi kami juga punya lagu baru. Sebuah surprise bagi orang-orang Iran. Iringan lagu Ustad Muhammad Nuri dalam angklung Parahyangan.

Saya bersyukur pada Tuhan. Malam ini saya bayangkan, Ali yang tertidur dengan keinginan menikah segera, anak-anak yang terinspirasi oleh para syuhada, hingga sandwich jumbo yang pertama kali dilihat mata. Terimakasih Tuhan. Semua anugerah-Mu memang indah. Dan semua anugerah-Mu datang pada waktu yang indah pula. Tiada kata untuk hari ini kecuali cinta: pada keluarga, sesama, bangsa, dan agama, pada para kekasih hati tercinta. Saya terpejam dan bergumam: selamat malam cinta….

Selamat bagi siapa saja, yang menjadikan cinta, api yang membakar dalam hidupnya, menerangi jiwanya, membimbing langkahnya. Selamat bagi siapa saja, yang menjadikan cinta, kata akhir kala maut menjemputnya. Selamat bagi siapa saja yang menjadikan cinta, semangat dalam kerinduannya….

Selamat malam cinta….

(Dan selamat malam Pak Menteri di Hotel Azadi sana….)[]

Lebih lanjut baca dalam buku Kidung Angklung di tanah Persia: Kumandang Indonesia Raya di Negeri Para Mullah karya Miftah Fauzi Rakhmat (Penerbit Nuansa, 2014)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *