Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Menafsir Demokrasi

Menafsir Demokrasi

Oleh Muhammad Syahrûr

Setelah kita mengetahui apa yang dimaksudkan dengan kebebasan dan kemajuan kita akan beralih untuk mendefinisikan demokrasi. Demokrasi adalah praktik kebebasan oleh sekelompok orang melalui hubungan-hubungan tertentu sesuai dengan rujukan pengetahuan, etika, estetika, dan adat atau kebiasaan. Kita katakan Allah Mahabebas, akan tetapi Dia tidak demokratis karena demokrasi membutuhkan adanya tuhan-tuhan lain seperti Dia agar Dia bisa mempraktekkan kebebasan-Nya berdasarkan kesepakatan dengan tuhan lain tersebut dengan rujukan tertentu. Dalam masalah ini Dia berfirman, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (Al-Anbiyâ’: 22). “Katakanlah, Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya— sebagaimana yang mereka katakan—niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy. (Al-Isrâ’: 42).

Di sini firman-Nya, “Niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy” maksudnya adalah mereka akan mencari yang mempunyai kekuatan di antara mereka sebagai rujukan.

Sekarang kami akan menunjukkan beberapa yang merupakan contoh dari standar rujukan:

  1. Rujukan intelektual:

Dunia ilmiah dan kemajuan pengetahuan mengenai realitas wujud seperti kedokteran, fisika, kimia, statistik dan sebagainya setiap saat memberikan kita informasi-informasi baru mengenai hukum-hukum realitas atau al-qadar, sehingga pengetahuan kita terhadap apa yang memberikan mudharat dan manfaat dalam realitas wujud selalu bertambah atau berkembang.

Informasi-informasi yang terus berkembang ini memberikan kita ruang untuk membuat rumusan-rumusan hukum yang membatasi kebebasan manusia. Contoh paling ideal dari hal tersebut adalah minuman keras, rokok, narkoba dan ganja, di mana jangka waktu perumusan hukum ini harus sesuai dengan tingkat pengetahuan semata—bukan disesuaikan dengan dunia etis. Dengan alasan itu maka kemajuan pengetahuan harus bertitik tolak dari perkembangan perumusan hukum. Ini adalah salah satu di antara sifat-sifat hanîfiyyah (elastisitas) dalam Islam (lihat pembahasan mengenai “Al-Istiqâmah” dan “Al-Hanîfiyyah” pada bagian ketiga [Al-Kitâb wal-Qurân, Qirâ’ah Mu‘âsirah]).

  1. Rujukan etis:

Rujukan ini adalah standar yang mengandung ciri tetap dalam Islam. Ia mengandung ciri duniawi seperti kejujuran, kebohongan, kesaksian palsu, membunuh, tepat dalam timbangan, dan pe­langgaran terhadap sumpah. Rujukan etis ini tidak mengadung sifat evolutif dalam Islam dan tercermin pada Al-Furqân, yaitu wasiat-wasiat yang sepuluh. (Lihat makalah saya mengenai wasiat-wasiat yang sepuluh pada bagian ketiga [Al-Kitâb wal-Qurân, Qirâ’ah Mu‘âsirah]).

  1. Rujukan adat atau kebiasaan:

Rujukan ini mengikuti tradisi masyarakat, yang manusia hidup di dalamnya. Kebiasaan ini selalu berbeda dalam setiap tempat dan dari satu waktu ke waktu yang lain. Ia juga mengikuti sisi al-hanîfiyyah (elastisitas) dalam Islam (Lihat makalah saya seputar masalah al-ma‘rûf dan al-munkar pada bagian ketiga [Al-Kitab wal-Qurân…]).

  1. Rujukan estetik:

Rujukan ini mengandung ciri evolutif di mana konsep mengenai estetika adalah sesuai dengan konsep yang bersifat evolutif.

Rujukan-rujukan yang empat ini untuk konteks Islam ditambahkan dengan rujukan yang kelima, yaitu hukum-hukum yang terdapat pada Al-Kitab dalam wilayah hudûd, seperti masalah warisan dan lain sebagainya. Perumusan hukum ini mempunyai batasan yang berupa kebebasan.

  1. Bentuk-Bentuk Kebebasan

Oleh karena kebebasan masuk dalam wilayah dialektika manusia, maka ia merupakan ciri khas manusia semata yang dipraktikkan melalui masyarakat-masyarakat manusia sesuai dengan standar-standar yang disebutkan di atas. Kebebasan mempunyai beberapa bentuk pokok yang esensinya digambarkan padanya. Kami akan menyebutkan satu di antaranya, yaitu kebebasan pemikiran dan pandangan di mana bentuk-bentuk kebebasan lainnya membahas masalah konsep negara, masyarakat dan hukum.

  1. Kebebasan Berpikir dan Kebebasan dalam Me­ng­eks­­presikannya

Ke­be­basan ini yang paling penting, sebab pemikiran manusia dan ekspresinya adalah ciri paling penting yang membedakan manusia dari binatang. Kebebasan ini termanifestasi pada kebebasan dalam mengeluarkan suatu pendapat dan pendapat yang menjadi lawanannya. Kebebasan berpikir harus diukur dengan ukuran yang menjadi lawanannya. Kebebasan berpikir bagi manusia adalah apa yang diukur dengan standar-standar tertentu yang memberikan peluang bagi pemikiran yang menjadi lawanannya untuk mengekspresikan dirinya sendiri, bukan diukur dengan meng­gunakan standar-standar ekspresi subyektifnya. Artinya kita harus selalu mengukur kebebasan pemikiran dengan kebebasan yang menjadi lawanannya.

Disebabkan karena kebebasan adalah gerak sadar antara dua yang berlawanan, maka di sana harus ada dua yang berlawanan sehingga kita mengatakan bahwa di sana benar-benar ada kebebasan. Kebebasan ini merupakan hasil dari dialektika manusia yang merupakan fenomena yang membedakan masyarakat manusia. Kebebasan sebuah pemikiran dan pemikiran-sebaliknya mempunyai kesatuan, yakni dalam pencarian terhadap hakikat wujud. Keduanya mencari kebenaran dan tidak ada yang bisa membatasi kebebasan ini, kecuali metode ilmiah. Demikian juga kebebasan berpendapat dan pendapat yang menjadi lawanannya dalam masyarakat mempunyai kesatuan yaitu negara dan tidak ada yang bisa membatasinya, kecuali konsep-konsep kenegaraan yang meng­gambarkan standar bagi kebebasan ini yang sering digambarkan sebagai undang-undang.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Epistemologi Qurani: Tafsir Kontemporer Ayat-ayat al-Quran Berbasis Materialisme-Dielektika-Historis  karya Muhammad Syahrûr (Penerbit Marja, 2015)

epistemologi qurani 755

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *