Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Dicintai Penduduk Langit dan Bumi

Dicintai Penduduk Langit dan Bumi

Oleh Abu Dzikra & Sodik Hasanuddin

Setelah kaum muslim berhijrah dari Makkah ke Madinah, Rasul mempersaudarakan kaum Muhajirin (yang hijrah dari Mekah) dengan kaum Anshar, yaitu penduduk Madinah. Persaudaraan ini berlangsung dengan cara yang harmonis dan mempesona.

Orang-orang Anshar penduduk Madinah dengan sukarela membagi dua seluruh kekayaan miliknya dan memberikan setengahnya kepada saudaranya kaum Muhajirin yang datang dari Makkah.

Di antaranya Rasulullah mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dari Muhajirin dengan Sa’ad bin Rabi’. Maka terjadilah dialog antara Abdurahman dengan Sa’ad yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik sebagai berikut:

Sa’ad: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang dikaruniai harta banyak, silakan pilih separuh hartaku dan ambillah! Aku juga mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian Anda, akan kuceraikan dia sehingga anda dapat menikahinya.”

Abdurrahman: “Semoga Allah memberkati anda, istri dan harta anda! Tolong tunjukkan saja kepadaku di mana pasar, aku ingin berdagang.”

Setelah ditunjukkan pasar, dia mulai berdagang dengan modal dua dinar yang dibelikan samin, keju, dan kulit. Dengan karunia Allah serta kegigihan dan kesungguhannya dalam berdagang, dagangannya semakin bertambah hingga mencapai lebih dari 700 ekor unta muatan barang. Dia pun kemudian menjadi orang yang kaya raya.

Umar bin Khathab menjelang meninggalnya telah memilih Abdurrahman bin ‘Auf beserta lima orang tokoh lain dari para sahabat Rasulullah Saw sebagai formatur untuk memilih salah seorang di antara mereka menjadi khalifah yang baru.

Banyak orang yang mengarahkan telunjuknya kepada Abdurahman, bahkan sebagian sahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak untuk menjadi khalifah di antara mereka yang enam.

Baru saja kelompok enam orang formatur itu mengadakan pertemuan untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah menggantikan Umar bin Khatab, kepada kawan-kawannya yang lima Abdurrahman menyatakan bahwa dia melepaskan haknya sebagai calon khalifah. Beliau meminta agar pemilihan terbatas kepada yang lima orang itu saja.

Sikap zuhudnya terhadap jabatan ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka tersebut. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin ‘Auf menetapkan pilihan khalifah itu kepada salah seorang di antara mereka berlima.

Sungguh tepat sekali Umar bin Khathab menunjuk keenam orang pilihan tersebut, mereka adalah orang-orang yang sangat rendah hati dan tidak rakus kepada jabatan. Ali berkata kepada Abdurrahman, “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, bahwa Anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi.” Akhirnya Abdurahman menjatuhkan pilihan kepada Utsman bin Affan dan yang lain pun setuju.

Inilah hakikat orang yang kaya dalam Islam! Islam telah mengangkatnya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatannya, dan bagaimana ia menempa kepribadiaannya dengan sebaik-baiknya. Dia adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya.

Begitulah dia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikit pun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya. Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya, “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya dia tak akan sanggup membedakannya di antara mereka.”

Dia tidak menikmati kekayaan itu sendirian, tetapi digunakannya untuk membantu perjuangan, di samping dinikmati bersama dengan keluarga, saudara, kaum kerabat, fakir miskin dan masyarakat seluruhnya.

Oleh karena begitu luasnya pemberian serta pertolongannya, maka orang-orang mengatakan, “Seluruh penduduk Madinah ikut merasakan harta Abdurrahman bin ‘Auf. Sepertiganya dipinjamkan kepada mereka, sepertiga lagi dipergunakan untuk membayar hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikannya kepada mereka.”

Apa yang dilakukan Abdurrahman bin ‘Auf adalah semata-mata mengharap ridha Allah, sesuai dengan firman-Nya, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafkahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannya dan tidak pula dengan kata-kata yang menyakitkan, niscaya mereka beroleh pahala di sisi Allah; mereka tidak merasa takut maupun berduka cita.” (Qs al-Baqarah [2]: 262).

Rasulullah bersabda, Berinfaklah atau memberilah dan jangan menghitung-hitung, karena Allah akan memperhitungkannya untukmu.” (Hadis Shahih Muslim).

Demikian juga dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang berbunyi, “Nabi bersabda, ‘Allah berfirman: Hai anak cucu Adam, berinfaklah kalian,maka Aku akan memberi ganti kepadamu.’ …” (Hadis Shahih Muslim).

Sudah menjadi kebiasaan pada tabiat manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan, artinya bahwa orang-orang kaya selalu gandrung untuk mencari pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipatgandakannya, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan mementingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa timbul karena kekayaan.

Akan tetapi, bila kita melihat Abdurrahman bin ‘Auf dengan kekayaannya yang melimpah tersebut, kita akan menemukan manusia ajaib, yang sanggup menguasai tabiat kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkah ke puncak ketinggian yang unik.

Meskipun dia tidak menjadi khalifah sebagaimana yang diharapkan oleh para sahabat, tetapi dia telah menjadi pemimpin di hati umat. Dia tidak menjadi pemimpin formal, tetapi seorang pemimpin non-formal yang diakui oleh masyarakat, sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa dia adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya oleh penduduk bumi.

Dikutip dari buku Dicintai Penduduk Langit dan Bumi karya Abu Dzikra & Sodik Hasanuddin, Penerbit Marja 2016.

dicintai penduduk langit 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *