Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Dunia dalam Sebutir Telur

Oleh: Irwan Kurniawan

Pada abad ke-2 Hijriah, sejarah Islam mencatat nama seorang alim yang sangat jenius, dari keturunan Rasulullah Saw. Kepadanya berguru para pemuka dari segala penjuru. Ia adalah Ja‘far Shadiq. Salah seorang muridnya adalah Hisyam bin Hakam.

Majelis mereka sering didatangi orang ateis atau zindiq, yang sengaja mengajukan pertanyaan-pertanyaan teologis yang sulit dijawab. Antara lain, orang ateis itu adalah Abdullah Dayashani. Suatu hari, Abdullah Dayashani bertanya kepada Hisyam, “Apakah kamu punya Tuhan?”

“Tentu,” jawab Hisyam

“Apakah Dia berkuasa?”

“Tentu. Dia berkuasa.”

“Apakah Dia bisa memasukkan dunia ini seluruhnya ke dalam sebutir telur, tapi telur itu tidak membesar dan dunia tidak mengecil?”

“Beri saya waktu!” jawab Hisyam.

“Baiklah, kuberi kamu waktu,” kata Abdullah Dayashani.

Hisyam keluar dari majelisnya lalu menaiki unta untuk menemui Ja‘far Shadiq. Hisyam berkata, “Wahai putra Rasulullah, Abdullah Dayashani menemuiku dengan pertanyaan yang hanya Allah dan engkau yang bisa menjawabnya.”

“Apa yang ia tanyakan?” tanya Ja‘far Shadiq.

Disebutkanlah oleh Hisyam pertanyaan si ateis itu.

“Hisyam, ada berapa inderamu?” tanya Ja‘far Shadiq.

“Lima,” jawab Hisyam.

“Indera apa yang paling kecil?”

“Mata.”

“Berapa ukuran mata?”

“Sebesar kacang atau (pada hewan) lebih kecil lagi.”

“Hisyam, lihatlah ke depanmu dan atasmu! Apa yang kamu lihat?”

“Saya melihat langit, bumi, rumah-rumah, istana-istana, gurun-gurun, gunung-gunung, sungai-sungai…”

“Dia (Tuhan) yang dapat memasukkan semua yang kamu lihat ke dalam kelopak mata, atau lebih kecil lagi, mampu memasukkan dunia ini dengan seluruh isinya ke dalam sebutir telur tanpa mengecilkan dunia dan membesarkan telur.”

Mendengar jawaban ini, Hisyam melompat kegirangan. “Ini sudah cukup, wahai putra Rasulullah.” Ia pun segera pulang.

Esok harinya, Abdullah Dayashani datang dan berkata, “Hisyam, saya datang kepadamu untuk menyerah, bukan untuk meminta jawaban.”

“Kalaupun kamu datang untuk meminta jawaban, saya siap menjawab,” kata Hisyam.

Lalu Abdullah Dayashani keluar meninggalkan Hisyam, menuju rumah Ja‘far Shadiq. Ia meminta izin masuk, dan diizinkan. Setelah duduk, ia berkata, “Wahai Ja‘far Shadiq, tunjukkan padaku sesembahanku.”

Ja‘far Shadiq bertanya, “Siapa namamu?”

Ditanya namanya, Dayashani enggan menjawab dan keluar dari rumah itu. Maka teman-temannya bertanya, “Mengapa kamu tidak menyebutkan saja namamu?”

“Kalau saya sebutkan namaku Abdullah (artinya ‘hamba Allah’), dia akan bertanya, ‘Siapakah Dia yang kamu adalah hamba-Nya?’.”

“Kalau begitu, baliklah padanya dan mintalah dia menunjukkan sesembahanmu tanpa menanyakan namamu.”

Abdullah Dayashani kembali lagi dan berkata, “Wahai Ja‘far Shadiq, tunjukkan padaku sesembahanku dan jangan bertanya namaku.”

“Duduklah!” kata Ja‘far Shadiq. Tiba-tiba ada seorang anak yang membawa sebutir telur di tangannya. Lalu Ja‘far Shadiq berkata, “Hai Nak, berikan telur itu padaku!” Anak itu memberikannya.

Ja‘far Shadiq berkata, “Hai Dayashani! Ini (telur) adalah benteng yang kokoh, memiliki kulit keras, dan di bawah kulit yang keras terdapat kulit yang tipis. Di bawahnya ada emas cair (kuning telur) dan perak yang meleleh (putih telur). Emas yang cair itu tidak bercampur dengan perak yang meleleh. Demikian juga sebaliknya. Keduanya utuh dalam bentuknya masing-masing. Tidak diketahui apakah ia diciptakan untuk jantan atau betina. Apakah menurutmu, ini ada yang mengaturnya?”

Abdullah Dayashani membenarkannya, lalu dia bersyahadat, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa engkau adalah hujjah Allah bagi hamba-hamba-Nya. Saya bertobat dari perbuatan masa laluku.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *