Cart

Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Durhaka kepada Orangtua

Durhaka kepada Orangtua

Pada suatu hari, Rasulullah Saw sedang duduk-duduk di masjid. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril dan berkata, “Salam bagimu, ya Rasul Allah. Angkatlah kakimu yang mulia untuk berangkat bersamaku ke pekuburan.”

Rasulullah Saw bersama para sahabatnya berangkat mengarahkan wajah-wajah mereka ke pekuburan.
Ketika sampai di kuburan, Nabi Saw mendengar suara orang yang merintih menjerit-jerit
meminta pertolongan. Nabi bertanya,

“Wahai penghuni kubur, beritahukan kepadaku apa yang menyebabkanmu mendapatkan azab kubur?”

“Wahai pemberi syafaat bagi para pendosa, kemurkaan ibuku menyebabkan aku menderita di kuburku. Aku pernah menyakitinya dalam hidupku. Lindungilah aku! Lindungilah aku!”

Kemudian Nabi mengumpulkan orang banyak. Di antara mereka yang hadir, ada seorang perempuan tua yang tubuhnya bungkuk dan bersandar pada tongkatnya. Ia baru saja datang dan berdiri di dekat Nabi. Ia mengucapkan salam dan menanyakan kabar kepada Nabi. Beliau bertanya:

“Nenek, apakah yang berada di kuburan ini adalah anakmu?”

“Benar, ya Rasul Allah!”

“Sungguh anakmu sekarang berada di tengah-tengah cobaan dan azab. Maafkan kesalahan dia dan berikan ridhamu kepadanya.”

“Ya Rasul Allah, aku tidak akan memaafkannya dan tidak akan meridhainya selama-lamanya.”

“Mengapa?”

“Aku besarkan dia dengan air susuku, aku besarkan dia dalam pemeliharaanku, aku tahan segala derita demi kebahagiaannya. Tapi setelah besar dan kuat tubuhnya, ia bukannya berbuat baik padaku, namun malah ia bersenang-senang dengan menyakiti dan menyiksaku.”

“Kasihanilah dia, sayangi dia, supaya ia selamat dari azab.”

Nabi Saw, yang remuk-redam hatinya menyaksikan apa yang diderita umatnya, mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, demi hak lima orang Ahlul-Kisa, perdengarkan kepada ibunya jeritan permintaan tolong anaknya. Mudah-mudahan dengan itu luluhlah hatinya, sehingga muncul lagi rasa sayangnya dan ia mau
mengampuninya.”

Nabi Saw memerintahkan nenek itu untuk meletakkan telinganya di atas pusara. Sekarang ia mendengar jeritan kesakitan dan permintaan tolong anaknya. Ia pun tidak mampu menahan tangisannya.

Ibu dari penghuni kubur itu berkata, “Ya Sayyidal-Mursalin, wahai pemberi syafaat bagi para pendosa, anakku meminta tolong dan menjerit, ‘Di atasku api, di bawahku api, di kananku api, di kiriku api. Aku berada di tengah-tengah api. Lindungi aku! Lindungi aku! Lindungi aku! Ibu, maafkan aku, ampuni aku, karena aku akan terusmenerus dalam siksaan ini sampai hari kiamat. Aku bakal kekal di neraka Jahanam.’.”

Mendengar jeritan itu, luluhlah hati sang ibu. Ia bergumam lembut, “Tuhanku, sudah kumaafkan kekurangan perkhidmatan dia kepadaku.” Lalu, Allah turunkan selimut kasihnya dan memaafkan dosa anak itu. Dari alam kubur, berserulah sang anak, “Ibu yang baik, semoga Allah mengampunimu sebagaimana engkau mengampuniku.” [1]

Dalam riwayat yang lain, dikisahkan bahwa ada seseorang bernama Juraij yang menghabiskan seluruh
waktunya untuk beribadah, sehingga ia lupa untuk mengurusi ibunya. Ia memang tidak menyakiti ibunya. Namun kesalahannya adalah ia hanya tidak menghiraukan ibunya yang menjenguk dia di tempat ibadahnya. Karena dosanya itu, ia diuji dengan fitnah besar. Ia dituding berzina dengan seorang pelacur sampai melahirkan seorang anak. Setelah ia sadar akan kesalahannya, dan boleh jadi setelah ibunya memaafkan dia, Allah menyelamatkan dia dari fitnah itu. Bayi itu mengaku bahwa ayahnya adalah seorang penggembala di
padang rumput. [2]

Menjelang fajar pada malam qadar (lailatulqadr), para malaikat turun, menyalami orang-orang yang menghidupkan malam itu, dan mengaminkan doa-doa mereka. Demikian sampai terbit fajar. Setelah itu, Jibril berkata, “Wahai para malaikat, segeralah berangkat!” Para malaikat bertanya, “Bagaimana Allah Swt memperlakukan hajat-hajat umat Muhammad Saw?” Jibril menjawab, “Allah Swt memperhatikan mereka pada malam ini, mengampuni dosa-dosa mereka, dan memenuhi permohonan mereka, kecuali empat orang di antara mereka, yaitu peminum khamar, pendurhaka pada orangtua, pemutus silaturahmi, dan penyebar
kebencian.” [3] []

1. Hr At-Tirmidzi; ‘Uqûq al-Wâlidain, hlm 69-70.
2. Hr Al-Bukhari
3. Bihâr al-Anwâr, 92: 338

Sumber: Jangan Bakar Taman Surgamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *