Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Farmasi: Selayang Pandang

Farmasi: Selayang Pandang

Oleh Hega Angayomi

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), farmasi adalah cara dan teknologi pembuatan obat serta cara penyimpanan, penyediaan, dan penyalurannya. Kata “farmasi” diambil dari kata bahasa Inggris pharmacy yang artinya adalah ilmu dan teknik membuat serta meracik obat-obatan. Kata pharmacy sendiri diambil dari kata Yunani pharmakon yang berarti obat, dari akar kata pharma, istilah yang digunakan pada abad ke-15 sampai ke-17.


Pekerjaan di bidang farmasi merupakan profesi kesehatan yang menghubungkan ilmu kesehatan dengan ilmu kimia yang bertujuan memastikan keamanan dan efisiensi penggunaan obat-obatan. Dalam peran yang lebih tradisional, lingkup praktik farmasi berupa mencampur dan meracik obat-obatan. Adapun dalam peran yang lebih modern, farmasi berhubungan dengan perawatan kesehatan, termasuk layanan klinik, meninjau obat-obatan untuk keamanan dan kemanjurannya, dan menyediakan informasi obat-obatan.

Profesional perawatan kesehatan yang berpraktik di bidang farmasi dinamakan Farmasis/Apoteker. Ia merupakan bagian dari anggota tim perawatan kesehatan yang secara langsung terlibat dalam perawatan pasien. Farmasis/Apoteker berlisensi membuat dan menjual atau menyalurkan obat-obatan dan mencampur (meracik) resep dokter. Farmasis menjalani jenjang pendidikan tingkat universitas untuk memahami mekanisme biokimia dari aksi obat-obatan, penggunaan obat dan peran pengobatan, efek samping, potensi interaksi obat-obatan, dan parameter pengawasan. Farmasis menerjemahkan dan mengomunikasikan pengetahuan khususnya kepada pasien, dokter, dan penyedia layanan kesehatan lainnya.

Apoteker dapat menentukan nama obat yang akan dipakai pasien. Kewenangan ini diatur dalam PP No. 51/2009 pasal 24 mengenai pelayanan resep dokter oleh apoteker yang berbunyi, “Apoteker dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien.”

Adapun tugas seorang apoteker telah diatur dalam Kepmenkes No. 1027/MENKES/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek yang mencakup aspek pelayanan informasi obat dan layanan residensial (homecare). Berdasarkan peraturan di atas, inilah tugas seorang apoteker:

“Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien, atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit tertentu, seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.

Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu, seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.

Apoteker sebagai caregiver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini, apoteker harus membuat catatan pengobatan (medication record).”

Dalam menjalankan tugasnya, seorang farmasis dibantu oleh Asisten Farmasis/Asisten Apoteker. Sebagai anggota penting tim dalam menjaga kelancaran kinerja apotek, asisten apoteker juga biasanya adalah sosok di balik meja pelayanan apotek. Tugasnya mulai dari sebagai kasir, menjawab pertanyaan pelanggan, memastikan stok persediaan obat, sampai memelihara catatan pasien. Pekerjaannya menggabungkan layanan pelanggan dan pekerjaan administrasi. Tidak seperti teknisi farmasi, asisten tidak menangani dan menakar obat. Posisi ini tidak membutuhkan pendidikan khusus. Di Indonesia, tugas asisten farmasis biasanya sama dengan tugas teknisi farmasi.

Pekerjaan teknis yang berhubungan dengan peracikan obat dilakukan oleh Teknisi Farmasi. Ia menerapkanpengetahuan, teknik, dan metode ilmiah ke dalam praktik farmasi atau farmakologi. Pekerjaan ini dilaksanakan di bawah pengawasan farmasis. Ahli teknologi farmasi atau teknisi farmasi menerima resep dokter, menyiapkan pengobatan yang sesuai dan menyalurkannya dalam jumlah dan dosis yang dinyatakan oleh resep dokter. Teknisi farmasi mengombinasikan pengobatan seperti krim dan salep dengan menggunakan mesin pencampur atau alat manual seperti lumpang dan alu. Program teknologi farmasi mengajarkan teknisi bagaimana menyiapkan produk steril seperti pada larutan injeksi. Hal tersebut bisa dilakukan secara manual di bawah pengawasan farmasis atau menggunakan mesin otomatis.

Teknisi farmasi melakukan praktik inventori obat secara manual dan digital. Mereka merotasi stok, memesan obat baru, dan mengelola seluruh aspek inventori obat. Ahli teknologi farmasi memverifikasi bahwa informasi resep akurat dan lengkap sebelum memenuhinya. Mereka juga memastikan setiap kesalahan dan kontradiksi diketahui oleh farmasis dan dokter.

Di beberapa apotek, tugas asisten farmasis ditangani oleh teknisi farmasi yang mendapatkan pelatihan tambahan untuk membantu farmasis membuat resep dokter dan untuk mempersiapkan dan melabeli obat di bawah pengawasan farmasis. Meski beberapa perguruan tinggi dan sekolah kejuruan menawarkan program-program pelatihan, banyak teknisi farmasi dilatih sambil kerja, membuatnya menjadi posisi peralihan bagus bagi asisten apoteker yang menginginkan tanggungjawab dan gaji lebih besar.

Obat atau remedi yang dibuat atau disalurkan di apotek dan digunakan di dalam perawatan medis disebut farmasetika. Pada perkuliahan jurusan farmasi di perguruan tinggi terdapat mata kuliah Farmasetika Dasar. Mata kuliah ini berisi pokok-pokok bahasan yang memberi pengetahuan tentang perkembangan obat dari masa ke masa, berbagai istilah yang tercantum dalam Ketentuan Umum Farmakope Indonesia, menerjemahkan resep, menentukan nama-nama bahan obat dan bahan tambahan serta bentuk sediaan farmasi, bentuk-bentuk sediaan obat, beberapa sediaan generik dan cara pembuatannya.

Obat-obatan yang dibuat dengan menggunakan bioteknologi, terutama rekayasa genetika, disebut Biofarmasetika. Sejak 1980-an, menurut konsensus umum, biofarmasetika adalah sebuah golongan produk terapi yang diproduksi oleh teknik bioteknologi modern (rekombinasi DNA dan teknologi hibridoma), atau bisa juga dikatakan produk terapi yang dipersatukan (disintesiskan) di dalam sistem rekayasa biologi. Definisi ilmiahnya sebagai berikut: Sebuah protein atau zat farmasetika berbahan dasar asam nukleat (nucleic acid) yang digunakan untuk terapi atau tujuan diagnosis in vivo (di dalam sel organisme hidup) sebagai lawan in vitro (di luar sel atau di tabung reaksi).

Berbicara tentang pembuatan obat, kita tidak dapat meninggalkan istilah Farmakope, yang arti harfiahnya adalah “membuat obat”. Farmakope didefinisikan sebagai buku yang berisi himpunan produk farmasetika dengan formula dan metode pembuatannya, dipublikasikan oleh kewenangan pemerintah, kalangan medis, atau farmasetika. Diambil dari kata dalam bahasa Inggris Pharmacopeia, merupakan gabungan dua kata Yunani pharmakon artinya obat dan poiein artinya membuat. Kata pharmacopeia memiliki arti kaya dan bersejarah yang akarnya kembali ke abad ke-15 di Florence, Italia. Pada masa tersebut, seo­rang dokter bernama Lodvice dal Pozzo Toschanelli mengerjakan hal sederhana namun cerdas—ia menyusun “sebuah buku kecil formula obat” menanggapi permintaan serikat kerja farmasis lokal yang mencari informasi tentang standar kualitas terapi obat. Ia pasti tidak menyangka hasil karyanya telah menetapkan standar kesehatan publik sedunia pada masa depan.

Dunia farmasi tentu tidak lepas dari peran teknologi. Untuk itu, dikenallah apa yang dinamakan Teknologi Farmasi, yaitu teknologi baru di bidang farmasi—mulai dari robot yang memenuhi resep dokter hingga layar sentuh di toko/apotek yang memungkinkan pasien mencocokkan gejala dengan obat-obatan sedia jadi. Teknologi ini berpotensi membuat praktik farmasi perawatan farmasetika lebih efisien, lebih efektif dari segi biaya, dan lebih ramah-pasien. Penggunaan mesin-mesin yang tepat, komputer dan piranti lunak, juga bisa menjadikan kinerja farmasis/apoteker dan teknisi farmasi lebih akurat dan produktif.

Baca lebih lanjut buku Farmasi: Medis dan Kesehatan karya Hega Angayomi (Penerbit Nuansa, 2014)

Farmasi 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *