Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Flu Burung di Indonesia

Flu Burung di Indonesia

Oleh drh. Yonathan Rahardjo

Pada 1982 di Indonesia, virus flu burung pada burung nuri, pelikan, dan itik di berbagai daerah diidentifikasi tidak virulen (tidak ganas). Evaluasi serologik menunjukkan virus influenza tipe A ini dapat ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Penelitian lebih lanjut memastikan virus influenza tipe A yang ada di Indonesia termasuk tidak virulen dan tidak menyebabkan penyakit pada ayam. Semuanya tergolong LPAI dengan subtipe H4N2 dan H4N6, dan tidak menyebabkan penyakit pada ayam.

Hingga terjadi wabah virus flu burung pada Agustus 2003-awal 2004, namun saat itu Indonesia masih dinyatakan bebas HPAI, virus influenza yang sangat ganas dan menyebabkan tingginya kematian pada ayam dan unggas lainnya. Wabah Avian Influenza yang ganas dan mematikan di Indonesia pun meledak dalam jangka waktu tersebut. Pada Agustus 2003 Avian Influenza HPAI di Indonesia pertama kali dijumpai di peternakan ayam komersial. Agen penyebabnya adalah virus influenza tipe A, subtipe H5N1, yang tergolong HPAI. Bagaimana AI pertama kali masuk ke Indonesia terus diperdebatkan. Letupan AI menyebar dengan cepat ke berbagai wilayah di Jawa, kemudian meluas ke Sumatra Selatan, Bali, dan daerah lain di Indonesia.

Pada 25 Januari 2004 Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan (Ditjennak) mengeluarkan pernyataan pers sebagai pengakuan resmi. Secara runtut dari setiap pernyataan pers yang dikeluarkan pemerintah sejak tanggal itu tergambar bagaimana peta penyakit flu burung di Indonesia. Perlakuan selanjutnya tak lepas dari diakuinya wabah AI yang menyerang peternakan Indonesia oleh pemerintah sehingga bisa diambil tindakan yang tepat dan sistematis.

Subtipe H5N1

Hasil identifikasi isolat wabah 2003-2004 menunjukkan subtipe virus AI di Indonesia adalah H5N1; digunakan sebagai dasar membuat laporan pemerintah Indonesia secara resmi ke OIE. Hal ini sekaligus untuk menetapkan strain vaksin yang akan digunakan dalam upaya mengendalikan dan memberantas penyakit AI. Subtipe H5N1 bersifat patogen terhadap unggas. Namun apabila terjadi mutasi, penyakit ini dapat menular ke manusia sebagaimana terjadi di Hongkong, Cina, Thailand, dan Vietnam.

Beberapa kejadian wabah seperti di Korea Selatan, Jepang, Kamboja, dan Laos, sampai saat itu belum dilaporkan adanya manusia yang tertular jenis virus ini. Hal yang sama terjadi di Indonesia, sampai saat itu menurut Departemen Kesehatan belum dilaporkan adanya kasus pada manusia. Namun langkah-langkah antisipatif tetap terus dilakukan.
Dalam upaya menangkal wabah AI ini, pemerintah menyediakan vaksin produksi dalam negeri. Pemerintah juga menunjuk satu perusahaan obat hewan milik Badan Usaha Milik Negara bertindak sebagai importir guna memasukkan vaksin impor yang diproduksi beberapa negara untuk mengisi kekurangan produksi dalam negeri selama batas waktu yang diperlukan.

Guna mempercepat pelaksanaan penanggulangan wabah, Ditjennak menerbitkan dan menyebarluaskan Pedoman Pen­cegahan, Pengendalian, dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular Influenza pada Unggas. Dalam pedoman ini ditetapkan strategi pengendalian dan pemberantasan penyakit sekaligus diatur langkah-langkah operasional: peningkatan biosecurity; pemusnahan unggas alias depopulasi peternakan yang terserang baik di daerah tertular maupun daerah yang terancam; vaksinasi seluruh unggas yang sehat di daerah tertular; pengendalian lalu lintas unggas dan produk ikutannya antardaerah di Indonesia; surveilans dan penelusuran; pengisian kandang kembali; peningkatan kesadaran masyarakat serta monitoring dan evaluasi. Terhadap unggas yang dimusnahkan, pemerintah memberikan kompensasi sesuai kemampuan.

Strategi vaksinasi dan depopulasi yang ditetapkan pemerintah sejalan dengan rekomendasi Badan Pangan Sedunia atau FAO (Food and Agricultural Organization), OIE dan Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) yang dikeluarkan pada 5 Februari 2004 di Roma. Strategi tersebut dimaksudkan untuk mengendalikan perluasan penyebaran wabah di negara yang sudah tertular berat seperti Indonesia. Dalam rekomendasi ini dinyatakan pula kampanye vaksinasi massal, sebagai tindakan darurat dilaksanakan dalam waktu 6 bulan. Vaksin yang digunakan harus memenuhi standar mutu internasional yang ditetapkan OIE disertai upaya surveilans untuk memonitor perubahan antigenik virus.

Untuk kepentingan pengadaan vaksin impor, pemerintah membuat prosedur darurat importasi vaksin dalam rangka pengendalian dan pemberantasan wabah penyakit unggas menular di Indonesia. Strain bibit vaksin ditetapkan harus homolog (sama) dengan isolat lokal yaitu mengandung subtipe H5. Strain tersebut juga harus mendapatkan persetujuan dari Panitia Penilai Obat Hewan (PPOH) dan Komisi Obat Hewan (KOH) Departemen Pertanian.

Perkembangan Selanjutnya

Sampai dengan Februari 2004 perkembangan penyebaran wabah penyakit unggas ini terjadi di 80 kabupaten pada 11 provinsi. Sebelas provinsi yang tertular virus flu burung adalah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Kondisi ini merupakan hasil perkembangan yang terjadi sejak Januari 2004, yang pada saat itu terjadi di 78 Kabupaten di 10 provinsi. Sampai dengan minggu ke tiga Februari 2004 kembali 2 kabupaten di Kalimantan Barat tertular virus flu burung. Saat itu pemerintah mengaku wabah flu burung menurun di beberapa provinsi, seperti Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Bahkan di Provinsi Lampung, Kalimantan Selatan, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat tidak terjadi kasus baru. Sementara itu hasil uji serologi dari Departemen Kesehatan terhadap peternak di Bali dan Banten sejumlah 212 orang, di Blitar/ Pare 129 orang, dan Kendal 103 orang menunjukkan hasil reaksi negatif terhadap Flu Burung.

Pada Januari 2004, kematian ternak unggas tercatat berjumlah 1,2 juta ekor. Pada saat bersamaan konsumsi produk unggas, seperti daging ayam dan telur menunjukkan angka 95 persen dari konsumsi normal atau sekitar 1 juta ekor per hari untuk wilayah Jabotabek. Tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk unggas berupa daging dan telur telah kembali. Namun, peristiwa tersebut belum mampu mendongkrak harga jual ayam hidup dan telur di tingkat petani. Tingginya kelebihan pasok ayam dan telur selama lima minggu terakhir belum terserap oleh pasar. Kasus baru pada Januari sampai akhir minggu ketiga Februari 2004 menyebabkan kematian 1,5 juta ekor ayam. Rinciannya, sekitar 1,1 juta mati karena penyakit dan 0,4 juta dimusnahkan.

Sampai pertengahan Maret 2004, penyebaran kasus di 84 kabupaten di 11 provinsi turun menjadi 18 kabupaten di 6 provinsi. Total kematian unggas mulai Agustus 2003 hingga akhir Februari 2004 tercatat 6,2 juta ekor. Sementara itu, kematian ternak unggas yang terjadi akhir Januari hingga Februari 2004 di provinsi Bali, Jatim, Jateng, DIY, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur berjumlah 967.000 ekor. Di sisi lain, sejak Februari 2004, lima provinsi, yakni Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Kalimantan Selatan tidak lagi dilaporkan adanya kasus baru.
Namun kemudian, ternyata kasus AI terus terjadi dan meng­gemparkan masyarakat!

Pembiakan Kasus

Bola panas menyusul ketika penyakit flu burung memasuki ranah kehidupan manusia, membuat masyarakat semakin khawatir terhadap adanya virus ini. Pada 2004 karakterisasi virus belum diperoleh secara sempurna. Bahkan uji karakterisasi yang sesungguhnya pun belum berhasil dilakukan oleh lembaga yang memiliki otoritas di bidang penelitian veteriner. Pengujian untuk menentukan jenis virus baru masih pada tahap terbatas. Sementara kegelisahan berubahnya virus atau munculnya virus dari subtipe baru selalu dikhawatirkan menjadi lebih ganas.
Penularan virus flu burung ke manusia senantiasa menjadi hantu kematian. Hiburan paling segar dari kasus ini adalah pernyataan pemerintah bahwa sampai tahun 2004 tak seorang pun masyarakat Indonesia yang terserang penyakit virus ganas ini. Hiburan kedua adalah adanya tindakan-tindakan penanggulangan yang dilakukan oleh pemerintah. Hiburan ketiga adalah setiap daging ayam yang dikonsumsi dengan pengolahan yang benar, dijamin seratus persen aman. Namun demikian, pada dasarnya penularan jenis virus ini lebih melalui sekret pernapasan dan pencernaan burung/ayam yang terserang, bukan melalui cara mengonsumsi dagingnya.
Semenjak diketahui bahwa penularan virus flu ini ke manusia hanya bisa terjadi melalui ternak lain, babi—yang di dalam tubuh babi sifat virus yang semula hanya bisa menyerang unggas berubah bisa menjadi menyerang mamalia, terutama manusia—sangat dimaklumi bahwa itulah hiburan paling segar di Indonesia. Ini karena, kabar virus flu burung yang menyerang babi belum pernah dijumpai. Namun pada 2005 terungkap bahwa di dalam tubuh seratus ekor babi sudah kedapatan virus Avian Influenza H5N1, virus ganas AI yang dikenal di Indonesia seperti halnya Cina.

AI Gelombang Dua

Pada Juli 2005, dijumpai kasus flu burung pertama pada manusia, disusul kasus-kasus berikutnya. Pada tahun 2006, AI pada unggas telah endemik di 30 provinsi (218 kabupaten/ kota) dari 33 provinsi di Indonesia. Juga terdapat kasus baru di Irian Barat dan Papua. Gejala klinik dan perubahan patologik seringkali tidak menunjukkan ciri untuk HPAI. Untuk itu perlu metode diagnostik yang akurat, cepat, dan praktis.

Perkembangan terakhir, kasus AI pada ayam/unggas selama tahun 2006 hampir tidak pernah ditemukan pada peternakan ayam ras di sektor 1 (peternakan komersial skala besar yang menerapkan biosecurity ketat) dan peternakan sektor 2 (peternakan komersial skala menengah yang menerapkan biosecurity agak ketat). Kasus AI juga sangat rendah terjadi pada peternakan ayam ras di sektor 3 (peternakan komersial kecil yang menerapkan biosecurity longgar) tidak divaksinasi terhadap AI. Sementara itu, di sektor 4 (daerah permukiman penduduk yang memelihara ayam di kandang-kandang dekat rumah) AI endemik pada ayam buras, itik, entog, dan burung puyuh, sehingga sektor ini bertindak sebagai reservoir (silent host) virus AI. Sebagian besar kasus flu burung pada manusia dihubungkan dengan unggas yang dipelihara di sektor 4 ini.

Bagaimana munculnya kasus flu burung pada manusia tak lepas dari sifat virus ini sendiri. Virus Tipe A ini memiliki sifat berubah secara tetap, biasanya terjadi secara bertahap. Meskipun jarang, virus Tipe A mengalami perubahan besar secara cepat. Jika hal ini terjadi, kemungkinan tubuh manusia tidak mampu melindungi dirinya dari pengaruh virus yang baru ini. Virus jenis ini akan menjadi Pandemic Strain (jenis pandemik)—penyebab wabah global. Sementara itu, H5N1 (virus flu burung saat ini) telah membuat para ilmuwan khawatir karena: jenis virus ini cepat menyebar pada kelompok unggas rumah tangga; manusia dapat terjangkiti virus jenis ini dari unggas yang sakit. Angka kematian akibat hal ini sangat tinggi. Para ilmuwan khawatir virus ini dapat berubah sedemikan rupa sehingga semakin mudah menyebar ke dan antarmanusia.

Virus H5N1 itu sendiri tidak bersifat pandemik. Virus ini bisa menjadi atau sama sekali tidak menjadi strain pandemik. Kita tidak tahu bagaimana virus ini bisa berubah dari waktu ke waktu. Para ilmuwan dapat membuat vaksin untuk melawan virus flu burung, namun kita tidak tahu sejauh mana keampuhan vaksin ini jika virus tersebut berubah menjadi strain pandemik. Semua negara saling bergantung untuk membantu mengawasi perubahan virus flu burung yang dapat menunjukkan perubahan virus tersebut menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Baca lebih lengkap dalam buku Menangani Flu Burung: Kajian dan Penanggulangan (Penerbit Nuansa, 2014)

flu burung 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *