Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Fungsi Pers dalam Masyarakat

Fungsi Pers dalam Masyarakat

Oleh Kustadi Suhandang

Dalam konteks komunikasi, pers merupakan media massa yang berfungsi menyalurkan dan memperlancar sampainya pesan komunikasi kepada komunikan atau khalayak. Memperlancar dalam arti mempermudah penerimaan khalayak, baik dari segi pengertiannya maupun perolehannya. Karenanya, dalam hal ini, pers berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang mau dan mampu menerjemahkan pesan komunikasi yang dimaksud komunikator ke dalam pesan komunikasi yang bisa dipahami komunikannya. Penerapannya dalam kehidupan masyarakat, pers membawa fungsi informatif dan interpretatif mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, sebagai alat kehidupan sehari-hari, sebagai penghibur, sebagai alat untuk mempertahankan prestise sosial, dan sebagai penghubung dalam pengertian untuk mempertahankan kehidupan di mana ukuran moral terus berkembang (Schramm, 1954: 181).

Selain dari itu, fungsi pers pun tampak mewarnai bidang pendidikan, penerangan, dan komentar (Hout, 1949: 75). Kiranya dapat dipahami bahwa fungsi pers dalam pendidikan adalah mempertegas, karena orang yang mendengarkan siaran radio, membaca suratkabar, maupun menonton tayangan televisi, tentunya sudah memiliki persiapan untuk menerima sesuatu yang disiarkan oleh pers (suratkabar, radio, dan televisi) itu. Kiranya sama halnya dengan persiapan yang dilakukan para anak didik kalau mereka sudah memasuki kelas.

Bila kita perhatikan usul Laclere dalam Panitia Undang-Undang Dasar Belanda 1815 pun sama, bahkan sudah memberikan bukti dan memperkuat betapa pentingnya fungsi pers dalam pendidikan. Dalam hal ini Laclere menyatakan bahwa pers merupakan media yang berfaidah, sebab dengan menyebarluaskan pengetahuan tentang kemajuan banyak bidang kehidupan, akan membawa peningkatan pikiran dan perasaan para pembaca (suratkabar), pendengar (radio), dan penonton (televisi). Tegasnya, dengan pers itulah masayarakat pembaca, pendengar, dan penonton akan bisa berkembang ke arah tingkatan kecerdasan yang diharapkan. Selanjutnya, makin meningkat pengetahuannya, manusia makin merasakan penambahan kebutuhan hidupnya. Dalam kehidupan masyarakat modern sekarang pers sudah merupakan sesuatu yang mutlak perlu. Sebab dianggap hanya pers itulah yang bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat hingga mereka memiliki kesadaran bermasyarakat, bernegara, dan bahkan berperikemanusiaan.

Adapun fungsi penerangan dari pers menurut Hout tadi bukanlah penerangan dalam arti sempit, namun lebih luas lagi serta cenderung dapat disebut informasi. Namun demikian, pengertian informasi bisa juga mencakup pemberitaan. Pengertian penerangan yang dimaksud Hout tersebut rupanya lebih dekat pada pemberian keterangan atau tambahan gambaran mengenai peristiwa-peristiwa umum yang mutlak perlu diketahui umum. Misalnya mengenai latar belakang suatu peristiwa, sebab musababnya serta faktor-faktor lainnya yang erat hubungannya dengan terjadinya peristiwa tersebut. Dengan tambahan gambaran demikian, dalam pemberitaan suatu peristiwa, maka pembaca atau pendengarnya akan segera memperoleh gambaran yang cukup jelas hingga kejelasannya dapat menimbulkan terjadinya perubahan sikap yang wajar serta tanpa memperkosa kebebasan berpikirnya.

Kedudukan pers sebagai pemberi penerangan, oleh Lievegoed dalam kuliah umumnya di Universitas Leiden pada 1931, dibagi menjadi empat macam pekerjaan (Rochady, 1970: 7). Pertama, dinamakannya sebagai karya mendidik. Kedua, sebagai karya penghubung. Pers dengan keseimbangannya bergerak ke arah tujuannya yang menciptakan lalu lintas informasi hingga terjalinlah jaring-jaring penghubung antar manusia. Dalam hal ini pers merupakan tenaga penggerak perkembangan dunia yang tiada hentinya, tenaga yang sekaligus memberikan kehidupan dan pertolongan pada pergaulan hidup umat manusia. Ditambah lagi bimbingan kepada masyarakat dengan cara menghubunginya, baik dalam hal yang membahayakan maupun yang menguntungkannya. Karya pers yang ketiga adalah membantu membentuk pendapat umum. Di dalam kolom atau ruangan siarannya terdapat komentar-komentar yang memberikan penilaian untuk bisa dijadikan pegangan publiknya. Sedangkan karya pers yang keempat adalah sebagai kontrol. Dalam hal ini Lievegoed menegaskan bahwa tugas pers sebagai alat kontrol akan dapat mencegah hal-hal yang tidak diharapkan, bahkan akan dapat menemukan keganjilan-keganjilan yang seharusnya tak terjadi, dan dengan demikian akan memberikan bimbingan pula kepada masyarakat secara kejiwaan.

Fungsi pers selanjutnya adalah memberikan komentar atas peristiwa yang disiarkan media massanya. Pengertian komentar di sini dimaksudkan pada tanggapan dan penilaian terhadap suatu peristiwa yang beritanya dimuat dalam suratkabar atau yang disiarkan melalui radio atau televisi. Namun demikian kadang-kadang pemberitaan suatu peristiwa itu tidak ada, namun peristiwa dimaksud sedang menjadi buah bibir masyarakat. Peristiwa demikian selalu menjadi perhatian pers untuk disiarkannya kembali baik dalam bentuk berita maupun tanggapan atau komentar (ulasan). Memang teori mengatakan bahwa pers tidak boleh memaksakan pendapat kepada publiknya, sebab baik pembaca, pendengar, dan penontonnya harus bebas menciptakan pendapatnya berdasarkan fakta yang disajikan pers. Namun bagi pers sendiri, selaku pusat perpaduan buah pikiran manusia, tidaklah mungkin untuk tidak memberikan tanggapannya sendiri. Terutama tanggapan yang merupakan petunjuk arah dari pers itu sendiri, yang di samping pusat perpaduan pikiran, juga pusat perpaduan perasaan dan tempat penumpahan apa yang dikandung dalam nurani manusia itu.

Bisa saja suatu suratkabar tidak memberikan tanggapannya terhadap suatu peristiwa. Namun masyarakat akan bertanya-tanya, bagaimana pendapat suratkabarnya itu? Bila keadaan demikian dibiarkan berlarut-larut oleh suratkabar tersebut, maka khalayak akan menilai suratkabarnya itu “banci”, bahkan bisa saja disebut “tidak punya pendirian”. Sikap demikian akan mengurangi kepercayaan masyarakatnya dan sangat merugikan perusahaan suratkabarnya sendiri. Jadi, apabila kita simak lebih cermat lagi, kita bisa tahu bahwa tanggapan apa yang disiarkan oleh pers itu akan merupakan bimbingan cara berpikir bagi masyarakat yang belum memiliki kemampuan cara berpikir demikian. Ini berarti pula merupakan pelaksanaan mendidik untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat dan bangsanya. Dengan demikian, pers sebagai lembaga masyarakat yang bekerja sebagai produsen jurnalistik, juga merupakan media komunikasi massa yang menjembatani kelancaran masyarakat dalam memahami segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Menjembatani kemauan dan kemampuan masyarakat untuk dapat membaca tanda-tanda zaman yang dihadapinya.

Dalam hal tersebut suatu Sidang Umum PBB yang dihadiri 42 negara anggotanya menetapkan delapan garis pokok kehadiran pers di tengah-tengah masyarakatnya (Rochady, 1970: 18-21), yaitu:

  1. Pers dibangun sebagai pembimbing ke arah pengembangan serta pemberian batasan-batasan rasa kebanggaan bagi seluruh penduduk di negara yang bersangkutan;
  2. Pers sebagai alat pemerintah;
  3. Pers dengan tajuk rencana atau induk karangannya memberikan bimbingan sebagai pendidik masyarakat yang dengan bahasa yang mudah dimengerti, memberikan gambaran yang jelas dan tegas tentang segala persoalan yang berlangsung di dalam negara dan pemerintahan, baik yang menyangkut soal-soal nasional maupun internasional;
  4. Pers memberikan penjelasan berupa kupasan terhadap persoalan kesulitan kehidupan dewasa ini, terutama kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berpemerintahan, dengan mengemukakan hak-hak serta tanggungjawab mereka atas kelangsungan kehidupan bangsanya;
  5. Pers (harus) membantu dalam pembinaan pengertian untuk menegakkan hukum dan ketertiban;
  6. Pers (harus) bisa berusaha menciptakan pengertian kesatuan seluruh rakyat yang terpecah-pecah;
  7. Pers (harus) digunakan sebagai pembina suasana saling pengertian, saling hormat menghormati, dan saling percaya mempercayai di antara sesama rakyat, mengurangi ketegangan-ketegangan dan kerusuhan-kerusuhan, mengurangi perasaan yang peka dan berprasangka serta saling curiga mencurigai di antara sesama penduduk;
  8. Pers (harus) bertindak sebagai ancer-ancer serta pengritik pemerintah dan siapa saja yang menjadi pelayan rakyat dalam pemerintahan, mengadakan pengawasan secara cermat agar segala usaha yang dilakukan bagi kepentingan rakyat dilaksanakan dengan amat baik dan sempurna.[]

Baca lebih lanjut buku Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik karya Kustadi Suhadang (Penerbit Nuansa, Edisi Revisi, 2016)

pengantar jurnalistik755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *