Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Sisi Lain Gajah Mada

Sisi Lain Gajah Mada

Oleh Kuncoro Hadi

Sejak Kitab Pararaton mencatat nama Gajah Mada pertama kali sebagai penyelamat Prabu Jayanegara dan Kakawin Desawarnnana men­catat namanya sebagai pejabat di tahun Saka 1253 (1331 M), bertepatan dengan tahun penundukan Sa­deng dan Keta. Nama Gajah Mada lalu begitu ter­kenal dalam sejarah panjang Nusantara (Indonesia). Namanya melahirkan banyak mitos yang tersebar luas. Banyak orang bahkan menuliskan riwayat Gajah Mada dengan kisah-kisah yang ter­kadang kurang dan terkadang berlebihan.


Bahwa Gajah Mada adalah sosok luar biasa, hal itu tidak bisa dibantah. Gajah Mada memang seorang mahapatih yang memiliki visi politik luar biasa, seperti disebutkan dalam catatan yang termaktub dalam kitab Pararaton.

Kitab raja-raja itu memang memuat sumpah le­gendaris yang hingga sekarang terkenal dengan se­butan Sumpah Palapa, sebuah sumpah penaklukan wilayah-wilayah Nusantara dari ujung barat hingga ujung timur. Mpu Prapanca pun tidak kalah hebatnya menorehkan puja-puji bagi sang mahapatih negeri Wilwatikta sebagai seorang yang tinggi keluhuran budinya dan penyayang seluruh negeri dalam kakawin Desawarnnana-nya.

Tetapi Prapanca secara tak langsung juga telah menunjukkan bahwa Gajah Mada bukanlah seorang negarawan tanpa kegagalan. Jika sumpah Gajah Mada yang termaktub dalam Pararaton benar, maka ia jelas gagal menaklukkan Sunda.

Kakawin Desawarnnana telah menyebutkan bah­wa Sunda bukanlah bagian dari negeri-negeri yang menerima “perlindungan” Wilwatikta. Sunda memang tidak bisa begitu saja ditundukkan oleh Gajah Mada karena para penguasa negeri di ujung kulon tanah Jawadwipa itu sesungguhnya adalah “saudara tua” para prabu negeri Wilwatikta yang berdiam di Majapahit.

Gajah Mada tentu paham betul arti ikatan keluarga ini. Ia juga tidak berani mengirim armada lautnya menyusuri laut Jawa menuju ke barat karena tidak pernah keluar titah dari para prabu Wilwatikta untuk menyerbu Sunda. Jadi betapapun jaya dan besarnya negeri Wilwatikta, negeri Sunda yang tidak seluas negeri “saudara muda”-nya itu te­taplah memiliki kedudukan yang sejajar.

Sekalipun memiliki kegagalan, banyak catatan mo­dern menuliskan sosok Gajah Mada dengan be­gitu berlebihan. Gajah Mada lalu dijadikan ikon per­satuan dan paham kebangsaan (Indonesia). Namanya lebih mulia melebihi kebesaran para prabu Wilwatikta karena persatuan yang didengungkannya. Tetapi per­sepsi ini terbentuk berabad-abad setelah runtuhnya Wilwatikta.

Pada abad ke-13 Saka (abad ke-14 M) tentulah nama Gajah Mada tidak semasyhur nama Hayam Wuruk, junjungan Sang Mahapatih. Kala itu, kebesaran Gajah Mada tentu hanya sebatas dirinya sebagai seorang mahapatih yang berjanji akan selalu menjadi pranala (saluran) para prabu Wilwatikta.

Janji Gajah Mada sebagai pranala para prabu ini sejalan dengan salah satu sifat mulia Gajah Mada, yaitu satya bhakti aprabhu (setia kepada prabu). Sifat ini diamini banyak pemerhati sejarah Wilwatikta. Tetapi yang menarik adalah analisis peristiwa pembunuhan Prabu Jayanagara (Kala Gemet) oleh Tanca. Gajah Mada dianggap berada di balik peristiwa ini, bahkan dianggap sebagai dalang utama pembunuhan Jaya­nagara karena tindakannya semakin lalim.

Jika mengacu pada sifat setia Gajah Mada ke­pada para prabu Wilwatikta, maka tidak mungkin Gajah Mada merencanakan pembunuhan itu. Prabu Jayanagara menjadi sosok yang dibenci setidaknya sejak peristiwa pemberontakan Kuti-Semi. Pada saat itu, Gajah Mada yang baru menapaki karir sebagai bekel Bhayangkara justru bertaruh nyawa menyelamatkan Sang Prabu ke Bedander. Kesetiaan Gajah Mada ter­hadap prabu Wilwatikta, siapa pun itu, begitu tinggi. Maka peristiwa pembunuhan Prabu Jayanagara tentu­nya bukan Gajah Mada yang mengaturnya.

Hal yang sama juga berlaku dalam peristiwa Pasunda Bubat, gugurnya para punggawa Negeri Sunda di lapangan Bubat Majapahit. Banyak catatan tentang peristiwa ini mendasarkan pada kisah Kidung Sunda yang memang menyebut Gajah Mada sebagai dalang peristiwa berdarah itu.

Gajah Mada selalu disebut sebagai sosok yang penuh ambisi untuk menaklukkan Sunda. Benarkah demikian? Agus Aris Munandar dalam bukunya Gajah Mada Biografi Politik menjelaskan dengan gamblang bahwa justru orangtua bahkan paman dan bibi Prabu Hayam Wuruk-lah yang menjadi dalang peristiwa Pasunda Bubat.

Pendapat ini masuk akal karena tidak mungkin Gajah Mada yang memiliki kesetiaan tinggi terhadap Prabu, bertindak nekat tanpa perintah junjungannya menyerbu orang-orang Sunda di Bubat. Pararaton memberi petunjuk tentang hal ini.

Kitab ini mencatat bahwa selepas Gajah Mada memaksa orang-orang Sunda untuk menyerahkan Pita­loka sebagai sesembahan dan ditolak keras oleh para menak Sunda, tidaklah langsung menyerang perkemahan orang-orang Sunda di Bubat.

Gajah Mada jelas disebutkan kembali ke kedaton Majapahit untuk menghadap junjungannya, dalam hal ini tentu orangtua Hayam Wuruk dan kemungkinan juga terdapat paman dan bibi Hayam Wuruk. Itu ar­tinya Gajah Mada meminta titah para prabu yang berkumpul di kedaton Majapahit.

Selepas penghadapan itulah baru kemudian orang-orang Sunda diserbu habis-habisan oleh tentara Majapahit yang telah diperintahkan oleh orangtua serta paman bibi Hayam Wuruk. Dalam peristiwa Pasunda Bubat, Gajah Mada hanya pranala saja. Ia hanya pelaksana perintah Prabu.

Begitulah sosok mahapatih amangkubumi yang paling terkenal di negeri Wilwatikta itu. Banyak sisi negatif yang diungkap dengan berlebihan, dan demikian pula sisi positifnya sehingga melahirkan tradisi pengkultusan atas dirinya.

Banyak mitos mengelilingi Gajah Mada. Banyak situs dihubung-hubungkan dengan kelahirannya. Ba­nyak daerah diakui sebagai tempat lahir dan moksa­nya. Yang tidak disadari adalah bah­wa Gajah Mada hanyalah sosok manusia biasa yang memiliki karir cemerlang dalam pemerintahan Maja­pahit.

Gajah Mada sama seperti pejabat-pejabat Maja­pahit yang lain sehingga tidak begitu penting untuk dicatat semua hal (dari lahir hingga mati) tentang dirinya di masa itu. Ia bukanlah raja penguasa, meski ia punya jasa besar terhadap penguasa Wilwatikta. Maka wajarlah jika kepastian kelahirannya begitu gelap seperti kematiannya yang dimitoskan dengan nuansa mistis: moksa.

Gajah Mada mati dengan cara yang biasa seperti yang disaksikan oleh Mpu Prapanca. Jenasahnya mung­­kin diperabukan dalam acara keagamaan yang sakral lalu abu tulangnya ditaburkan di laut utara Jawa. Itulah “kemoksaan” Mahapatih Gajah Mada.[]

Baca lebih lanjut buku Gajah Mada: Wilwatikta, Sumpah Palapa, Pasunda Bubat karya Kuncoro Hadi (Penerbiti Nuansa, 2013)

gajah mada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *