Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Ibunda Ilmuwan Terkenal

Ibunda Ilmuwan Terkenal

Oleh Hiskia Achmad, Dosen Institut Teknologi Bandung

Cerita di bawah ini menggambarkan seorang ibu yang mengorbankan segala yang dimilikinya agar anak tercintanya memperoleh pendidikan.

Dmitri Ivanovich Mendeleev dilahirkan di Tobolsk, Siberia Barat, pada 8 Februari 1834. Ia keturunan Rusia dan Mongolia, dan anak bungsu dalam suatu keluarga yang sangat besar, dengan empat belas anak.

Maria Mendeleeva sangat menyayangi putra bungsunya, Dmitri, dengan nama panggilan Mitjenka. Ketika Mitjenka masih kanak-kanak, ayahnya, yang menjabat direktur Gymnasium, kehilangan penglihatan karena kedua matanya menderita katarak. Meskipun ayahnya memperoleh pensiun dari pemerintah sebesar seribu rubel (kira-kira 500 dolar), jumlah ini tidak cukup untuk keperluan sandang dan pangan keluarga yang sangat besar ini.

Karena itu Maria Mendeleeva harus memikul tanggungjawab untuk mengurus suaminya yang buta dan anak-anaknya yang masih kecil. Selain itu, ia harus mengurus usaha keluarga Kornileeva, yaitu pabrik gelas dan pabrik kertas di Tobolsk. Maria juga berwirausaha dengan mendirikan sendiri pabrik gelas, yang dipimpinnya sendiri secara efektif dan sukses di samping mengurus rumah tangga dengan beban yang sangat berat.

Dmitri sangat cerdas dalam matematika, fisika, dan sejarah, tetapi tidak menyenangi bahasa Latin. Ia berhasil menamatkan pelajaran di Gymnasium. Namun sebelum hari wisuda, dua musibah menimpa keluarganya. Ayahnya meninggal karena TBC dan pabrik gelas mereka musnah terbakar.

Maria Mendeleeva, yang saat itu berusia 57 tahun, dengan kedua anak bungsunya berkuda menuju Moskow yang jaraknya ratusan mil. Dmitri gagal diterima di universitas dengan alasan politik. Maria dan anaknya kemudian berangkat ke St. Petersburg menemui Pletnor, direktur Central Pedagogic Institute, yang juga kawan mendiang suaminya. Dmitri diterima di departemen fisika dan matematika, dan memperoleh beasiswa dari pemerintah.

Beberapa bulan kemudian Maria Mendeleeva bebas dari beban berat yang dipikulnya, terhibur beberapa jam di akhir hayatnya, memikirkan bahwa Dmitri, anak kesayangannya, akhirnya memperoleh pendidikan.

Beberapa tahun kemudian Dmitri, yang telah berhasil dalam bidang pendidikan sesuai dengan dambaan ibunya, menulis pada pengantar bukunya yang terkenal sebagai berikut: Investigasi ini merupakan persembahan untuk mengenang seorang ibu dari seorang putra bungsunya yang sangat disayanginya.

Sambil memimpin sebuah pabrik, Maria dapat mendidik anaknya dengan cara sendiri. Ia mengajar, memberi perintah dengan contoh-contoh, menegur dengan penuh kasih sayang, dan agar dapat mempersembahkan sains kepada anaknya, ia dengan anaknya berkuda meninggalkan Siberia, menghabiskan sumber kekayaan dan kekuatannya yang terakhir. Menjelang ajalnya ia berpesan, “Jauhkan diri dari dunia khayalan, tekun bekerja, dan jangan bicara saja. Dengan kesabaran carilah kebenaran sejati dan kebenaran ilmiah.”

Ia paham bagaimana diskusi dan perdebatan sering diakhiri dengan perseteruan mengenai bagaimana seharusnya mereka perlu belajar lagi, bagaimana dengan bantuan sains tanpa kekerasan dengan kasih sayang tetapi keteguhan, semua takhayul, ketidakbenaran, dan kesalahan perlu disingkirkan, mengarahkan dengan aman, menemukan kebenaran, memiliki kebebasan untuk pengembangan selanjutnya, kesejahteraan, dan kebahagiaan batin.

Ketika Dmitri tamat dari Pedagogic Institute, ia memperoleh medali emas karena sukses memanfaatkan beasiswa. Antara tahun 1859 dan 1861, ia bekerja dengan H.V. Regnault di Paris dan dengan Robert Bunsen di Heidelberg.

Pada tahun 1861, ketika kembali ke St. Petersburg, ia memperoleh gelar doktor dan diangkat menjadi profesor ilmu kimia di Technological Institute. Enam tahun kemudian ia diangkat menjadi profesor kimia dasar di Universitas St. Petersburg.

Ia mengarang buku teks terkenal Principles of Chemistry. Ia mempelajari ladang minyak terkenal di Rusia dan Amerika. Sistem periodik unsur-unsur ditemukan secara independen oleh Mendeleev di Rusia dan Lothar Meyer di Jerman.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Ilmuwan Harus Jujur karya Hiskia Achmad (Penerbit Nuansa, 2016)

ilmuwan harus jujur 755

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *