Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Ikut Nabi, Raih Cinta Ilahi

Ikut Nabi, Raih Cinta Ilahi

Oleh Irwan Kurniawan

Jika seseorang ditanya, “Apakah Anda ingin bahagia?” Sudah pasti, jawabannya positif, yaitu Ya. Siapa sih yang tidak ingin bahagia? Apa pun yang kita lakukan dalam hidup ini, intinya adalah untuk meraih kebahagiaan. Orang rela kerja banting tulang dan mengorbankan apa pun yang dimilikinya semata-mata untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun demikian, setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda tentang makna kebahagiaan, sehingga cara dan jalan yang mereka tempuh untuk meraihnya pun berlainan.

Tak terkecuali bagi seorang Muslim, dia pun selalu mendambakan kebahagiaan. Tetapi bagi Muslim sejati, kebahagiaan yang didambakannya tidak hanya untuk kehidupan di dunia ini saja, tetapi melebar dan merentang hingga ke kehidupan akhirat kelak. Dan bahkan, bagi Muslim sejati, kebahagiaan dalam kehidupan akhirat adalah yang paling utama. Itu karena, menurut keyakinannya, di sanalah kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang kekal dan abadi selamanya. Karenanya, ia akan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk meraih kebahagiaan di alam baka. Bahkan untuk itu, ia rela menjalani kehidupan yang bersahaja di dunia dan menabungkan kenikmatan-kenikmatan dunianya untuk kehidupan akhiratnya.

Namun, Allah Maha Pemurah. Bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan di akhirat, Dia akan memberikan juga padanya kebahagiaan di dunia ini. Allah berfirman, Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami “tambah keuntungan” itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat (QS asy-Syûrâ: 20). “Tambahan keuntungan” itulah yang mungkin Allah berikan kepadanya di dunia, sehingga ia juga meraih kebahagiaannya di dunia ini.

Bagaimana kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat? Ya.. kita meminta kepada Pemiliknya. Kalau kita meminta sesuatu kepada yang tidak memilikinya, sehebat apa pun trik yang kita gunakan dalam meminta, maka kita tidak akan diberi, karena tidak ada sesuatu yang bisa ia berikan. Sementara Allah adalah Yang Mahakaya, dan Dialah Pemilik dunia dan akhirat seluruhnya. Kepada-Nya-lah kita memohon kebahagiaan itu.

Dengan apa kita meminta kebahagiaan kepada Allah? Dengan cinta-Nya. Hanya dengan cinta Allah, kita bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kita. Kalau kita mencintai seseorang, maka apa pun yang ia minta, kita akan berusaha memenuhinya sepanjang kita mampu. Nah, apa yang tidak mampu dilakukan Allah? Dia Mahakaya dan Mahakuasa. Dia Mahakuasa untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki, termasuk mewujudkan cinta-Nya kepada hamba yang dicintai-Nya. Karena itu, kalau kita ingin meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, kita harus berusaha untuk merebut cinta-Nya terlebih dahulu.

Bagaimana kita meraih cinta Allah agar Dia “jatuh cinta” kepada kita? Jawabannya dapat kita temukan dalam Al-Quran surah Ali ‘Imrân ayat 31: Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintamu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Meraih cinta tidak bisa dilakukan dengan sembarang cara. Seperti halnya kita ingin meraih cinta seseorang, tidak boleh kita tunjukkan cara-cara yang hanya sesuai keinginan dan selera kita sendiri. Mengapa? Karena boleh jadi, apa yang kita tunjukkan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Akibatnya, alih-alih meraih cintanya, kita malah mendapat murkanya. Karena itu, kita mutlak harus mengenal siapa yang kita cintai, bagaimana sifatnya, apa seleranya, dan sebagainya supaya cinta kita berbalas dan tidak bertepuk sebelah tangan.

Demikian pula, cinta kita kepada Allah harus kita tunjukkan menurut cara-cara yang diridhai-Nya. Untuk itu, kita mesti mengenal Allah agar kita dapat tahu apa saja yang Dia ridhai. Tentu ini bukan pekerjaan mudah, kecuali bagi orang yang mendapat bimbingan-Nya, seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. Namun, dengan kasih-Nya, Allah menunjukkan kepada kita cara yang diridhai-Nya untuk meraih cinta-Nya, yaitu mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad Saw: in kuntum tuhibbûnallâha fattabi‘ûnî yuhbib-kumullâhu (jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku [Muhammad], niscaya Dia mencintai kalian).

Mengapa kita harus mengikuti Nabi Muhammad untuk meraih cinta Allah? Tidak bisakah kita mengikuti orang-orang lain yang kita pandang saleh dan suci? Jawabnya, karena Nabi Muhammad telah dijamin 100 persen kesalehannya dan kemuliaan akhlaknya.

Kemuliaan akhlak Nabi Saw tidak hanya dikenal di kalangan umat Islam, tapi juga diakui kalangan luar Islam. Akhlak mulia Nabi juga tidak hanya dikenal setelah kenabiannya. Bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, masyarakat jahiliyah Makkah sudah mengenal kemuliaan akhlaknya. Mereka mengenalnya sebagai pribadi yang jujur dan luhur hingga menjulukinya al-amîn, dan mereka tidak ragu-ragu lagi untuk mempercayakan urusan-urusan mereka kepadanya.

Karena akhlaknya yang mulia ini, Allah pun memujinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS al-Qalam: 4)

Itulah sebabnya Allah menjadikannya pantas sebagai suri teladan bagi manusia seluruhnya, dan khususnya bagi siapa saja yang ingin meraih cinta-Nya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS al-Ahzâb: 21)

Bagi Muslim sejati, meneladani Nabi Saw adalah keharusan dan juga kebutuhan. Hanya melalui beliau, kita dapat memahami jalan lurus yang Allah berikan kepada kita, yaitu Al-Quran. Siti Aisyah berkata, “Akhlak Rasulullah Saw adalah Al-Quran.”

Hanya dalam Al-Quran kita dapat temukan jalan dan ajaran yang diridhai oleh Allah Swt, yang dijelaskan dan dicontohkan praktik pelaksanaannya oleh Nabi Saw. Maka dengan mencontoh dan meneladani Nabi Saw, kita dapat mewujudkan cinta kita kepada Allah Swt, sehingga cinta kita dibalas dengan cinta-Nya.

Salah satu ajaran Al-Quran yang sangat menonjol dan dicontohkan oleh Nabi Saw dalam seluruh hidupnya adalah sifat belas kasih. Karena itu, Allah menegaskan bahwa diutusnya Nabi Saw yang membawa risalah Islam adalah sebagai rahmat bagi semesta alam: rahmatan lil-‘âlamîn (QS al-Anbiyâ’: 107), terlebih lagi kasih sayang di antara umat Islam sendiri: ruhamâ’u bainahum (QS al-Fath: 29).

Pertanyaannya kini, sejauh manakah kita telah meneladani Rasulullah Saw dan mengikuti Sunnahnya? —Shalawat dan salam baginya dan keluarganya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *