Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Ikut Nabi, Wajah Berseri

Oleh Irwan Kurniawan

Bagi orang Islam, mengikuti Nabi Muhammad Saw merupakan kebutuhan. Ini karena hanya melalui Nabi Muhammad, seorang muslim dapat mewujudkan keberagamaannya. Tidak mungkin seorang muslim mempraktikkan keislamannya tanpa meneladani Nabi utusan Allah itu. Bahkan, tidak mungkin ia mewujudkan cintanya kepada Allah jika tidak mengikuti Nabi-Nya.

Kepada kita, Allah mengenalkan Nabi Muhammad Saw melalui Al-Quran, antara lain dalam surah al-Fath: 29:

Muhammadun rasûlullâh (Muhammad adalah utusan Allah): Nabi Muhammad dikenalkan kepada kita dalam kapasitasnya sebagai utusan yang membawa risalah dari Allah Swt. Beliau tidak dikenalkan melalui nasab atau keluarga besarnya, sehingga siapa pun dapat bergaul dan bermuamalah dengannya tanpa perasaan sungkan atau rendah diri. Beliau juga terbuka pada siapapun yang ingin belajar dan bersahabat dengannya tanpa membeda-bedakan ras, warna kulit, dan status sosial.

Walladzîna ma‘ahu (orang-orang yang bersamanya): tidak terbatas pada para sahabat atau orang-orang yang hidup sezaman dan bergaul dengannya. Tapi yang dimaksud adalah siapa saja yang mengikuti akidahnya, mengimani kenabiannya, dan meneladani perilakunya sehingga menjadi pengikutnya dari generasi mana pun ia berasal dan pada zaman kapan pun ia hidup.

Asyiddâ’u ‘alal-kuffâr (bersikap tegas kepada orang-orang kafir): mereka teguh dalam mempertahankan keimanan, tidak mudah tergiur dengan godaan dari orang-orang kafir, apapun bentuknya, yang bisa menggoyahkan iman. Mereka tegas dalam memegang dan mempertahankan akidah: lakum dînukum waliya dîn (bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku). Namun dalam hubungan sosial, perbedaan akidah tidak menghalangi mereka dari pergaulan dengan siapapun. Mereka bersahabat dengan semua orang tanpa melihat latar belakang agama selama bisa saling menghargai.

Ruhamâ’u bainahum (berkasih-sayang di antara mereka): kaum muslim saling membela, saling membahagiakan, dan saling memberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran atas dasar keimanan. Ini juga menegaskan bahwa sikap tegas kepada orang kafir jangan terbawa ke dalam pergaulan sesama mukmin.

Kaum muslim semuanya bersaudara dan satu keluarga. Perbedaan paham di antara kita sebagai satu keluarga hendaklah disikapi dengan bijaksana sebagai khazanah yang dapat memperkaya wawasan pemikiran dan pemahaman agama. Al-Quran sendiri, yang merupakan pedoman hidup kita, mengandung makna dan pengetahuan yang tak terhingga, yang dapat kita kaji melalui metode dan pendekatan yang berbeda-beda. Maka, tidak boleh bersikap eksklusif yang menjadikan sekelompok muslim hanya bergaul dengan orang-orang sepaham dan mengabaikan muslim lain yang berbeda paham. Apalagi memperlakukan orang yang berbeda paham atau mazhab seperti terhadap orang yang berbeda agama.

Tarâhum rukka‘an sujjadan yabtaghûna fadhlan minallâh wa ridhwâna (Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia dan keridhaan Allah): mereka rebah dan pasrah di hadapan Allah Swt. Jiwa, raga, hati dan akal mereka tunduk pada kehendak Sang Pencipta. Semua itu mereka lakukan hanya untuk meraih anugerah dan keridhaan-Nya.

Sîmâhum fî wujûhihim min atsaris-sujûd (Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud): tanda atau ciri orang Islam tampak pada wajah. Ciri itu bukan dahinya hitam akibat bekas sujud. Tanda hitam di dahi mungkin saja menunjukkan bahwa pemiliknya memang rajin bersujud. Namun bila sujud itu hanya gerakan jasmani semata, itu belum cukup menandakan sebagai pengikut Nabi. Bahkan, tidak sedikit orang yang dahinya hitam, tapi hitamnya tembus ke hati, karena hatinya tertutup noda hitam akibat kebencian dan permusuhan kepada saudara-saudaranya sesama muslim hanya karena berbeda mazhab dan pemahaman.

Tanda dari bekas sujud di sini maksudnya adalah wajah yang selalu cerah berseri sebagai efek dari sujud yang diiringi ketundukan hati dan kepasrahan diri. Kita perhatikan orang yang bersujud, ia merebahkan badannya dan menempelkan dahinya di atas tanah (sajadah). Ia tidak lagi memperhatikan sekelilingnya, sehingga tidak tahu apa yang ada di kanan dan kirinya. Perhatiannya hanya tertuju kepada Allah yang kepada-Nya ia bersujud, sehingga sekiranya ada binatang buas yang akan menerkamnya, misalnya, atau musuh yang akan menikamnya, maka ia akan menjadi sasaran yang tak berdaya. Ia pasrahkan segenap jiwa dan raganya kepada Allah. Ia yakin bahwa Dia akan melindunginya dan menjamin keselamatannya.

Orang yang sudah memasrahkan segala urusannya hanya kepada Allah tidak akan ada lagi rasa takut dan sedih dalam hatinya, lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yahzanûn. Ia selalu optimis dalam hidupnya dan tidak pernah merisaukan masa depannya. Atas anugerah yang diberikan Allah kepadanya, ia bersyukur, dan atas cobaan yang ditimpakan-Nya padanya, ia bersabar. Dengan demikian, apa pun yang dihadapinya selalu disambut dengan kebaikan dan ketawakalan.

Selain itu, ia tidak pernah berburuk sangka kepada orang lain. Apa pun sikap orang kepadanya, ia pasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Bila ada yang berbuat baik padanya, ia bersyukur karena ia yakin itu adalah anugerah Allah; dan bila ada yang bersikap buruk padanya, ia bersabar. Ia melakukan introspeksi, jangan-jangan perilaku buruk orang lain kepadanya adalah akibat kesalahan dirinya; mungkin ada ucapan atau perbuatannya yang salah sehingga menyinggung dan menyakiti orang lain. Kemudian ia pun memperbaiki dirinya dan lebih berhati-hati dalam menjaga ucapan dan perbuatannya.

Orang yang keadaannya seperti ini sudah pasti wajahnya selalu berseri, dan tidak ada alasan baginya untuk berwajah kusut dan cemberut. Inilah wajah Rasulullah Saw dan para pengikutnya, yang bila dipandang dapat menyejukkan hati. Mungkin saja ada orang yang di rumahnya punya masalah sehingga hatinya menjadi galau dan gelisah, namun saat melihat wajah seperti ini, hanya dengan memandangnya, menjadi tenang dan sejuklah hatinya. Wallâhu a‘lam.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *