Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: antara Berkah dan Bencana

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: antara Berkah dan Bencana

Oleh Achmad Charris Zubair, Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Tokoh legendaris, Albert Einstein pernah me­nyatakan kekecewaannya terhadap penggunaan penemuan hukum fisika modern. Kekecewaan ini mengemuka setelah ia  melihat akibat yang ditimbulkan dari teknologi yang mengikutinya, yakni jatuhnya bom atom di Hirosima. Bom atom tersebut membawa banyak korban, bahkan orang-orang yang tidak bersalah meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.1

Einstein pernah melontarkan perkataan yang meng­harukan, “Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracuni dan menjegal. Dalam perdamaian, ia membuat hidup kita dikejar waktu dan penuh ketidakmenentuan. Ilmu yang seharusnya membebaskan dari pekerjaan yang melelahkan secara spiritual, malah menjadikan manusia budak-budak mesin. Setelah orang-orang itu melewati hari-hari panjang dan monoton, kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual dan harus terus-menerus gemetar untuk memperoleh ransum yang tidak seberapa.”2

Akibat teknologi yang muncul pada perilaku manusia dapat dilihat pada fenomena penerapan teknologi yang dapat mengontrol tingkah laku manusia. Sebagai contoh, penemuan teknologi dengan kemampuan untuk mengatur orang melaksanakan tindakan sesuai dengan yang dikehendaki si pengatur. Dengan demikian, hal ini memungkinkan terjadinya manipulasi tingkah laku dan perbudakan manusia. Teknologi ini di antaranya dapat berwujud informasi, media cetak, periklanan, psychosurgery’s infuse kimiawi, ataupun stimulasi elektrik terhadap akal. Kenyataan otonomi dan kebebasan manusia tentu saja menjadi terancam oleh kegiatan semacam itu.

Lingkungan alam tempat makhluk hidup, termasuk lingkungan manusia, mulai tercemar karena penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang industri yang justru menghasilkan limbah yang tidak dapat didaur ulang. Penemuan-penemuan senjata pembunuh manusia baik senjata kimia, biologis, ekologis, maupun psikologis beserta teknologinya telah membayangi kepunahan ma­nusia, sehingga kehidupan manusia dihantui oleh ke­takutan dan neurosis yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Semua contoh di atas menunjukkan betapa dahsyatnya dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak teknologi tersebut kini semakin menghantui ketenteraman dan eksistensi manusia, karena tidak dikendalikan oleh suatu sistem norma moral. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengasingkan manusia itu sendiri dari lingkungan keberadaannya. Perkembangan yang tak terkendali secara moral telah mengancam sisi hakiki manusiawi.

Memang demikianlah jika teknologi sebagai hasil keputusan tindakan manusia berkembang dalam kebu­dayaan manusia, sekaligus mempengaruhi kebudayaan manusia secara keseluruhan. Teknologi mengandung dua sisi, sebagaimana telah disebutkan di atas, yakni sisi menguntungkan dan juga mengandung sisi akibat yang dapat mengarah ke hal-hal yang tidak diinginkan manusia. Kenyataan ini menantang manusia lebih lanjut untuk menggunakan semaksimal mungkin daya akal budinya demi menyelamatkan kehidupan manusia serta alam semesta.

Hasil rekayasa di bidang teknik banyak bersentuhan dengan masalah-masalah moral dan dilema-dilema moral, karena hasilnya dirasakan langsung sebagai alat bantu yang amat dibutuhkan manusia. Rekayasa teknik antara lain adalah ketika manusia telah menghasilkan pesawat jumbo jet DC-10 sebagai hasil kerja dan kemampuan manusia yang tidak bisa dianggap enteng. Kemudian dilema moral dari keberhasilan penciptaan pesawat tersebut menjadi terbuka ataupun setidak-tidaknya terpikirkan secara terbuka setelah terjadinya kecelakaan pesawat pada 1974 di pinggiran kota Paris yang menewaskan 346 jiwa. Peristiwa kecelakaan tersebut ditengarai karena adanya cacat pada desain pesawat tersebut. Problematika muncul setelah terbongkarnya kasus bahwa jauh hari sebelumnya insinyur senior yang memimpin proyek pembuatan pesawat tersebut telah mengetahui dan memberitahu wakil presiden perusahaan tentang bahaya-bahaya yang akan dimunculkan dari keadaan desain pesawat tersebut. Namun, peringatan ilmuwan dan rekayasawan tersebut tidak dihiraukan dengan pertimbangan perusahaan pada bidang ekonomi dan/atau biaya.3

Ilustrasi di atas memunculkan masalah dilematik antara keselamatan masyarakat pengguna rekayasa desain tersebut dengan kepentingan-kepentingan lain, yang seperti biasanya menyangkut perhitungan untung-rugi finansial. Tentu saja hal ini cukup disayangkan karena menimbulkan korban jiwa yang semestinya dapat dihindarkan. Padahal secara konsep moral ideal, semua orang tahu bahwa nilai yang dimiliki oleh manusia tidak dapat dibandingkan dengan nilai uang sebesar apa pun.

Peristiwa hancurnya Challenger tidak juga dapat terlepas dari pertimbangan dan masalah moral. Para ilmuwan sebenarnya telah memperingatkan akan adanya faktor-faktor yang  muncul akibat kegagalan peluncuran pesawat ulang alik tersebut. Penundaan pun telah berkali-kali  dilakukan, namun orang-orang yang berada di puncak eksekutif dan pengambil keputusan malah memutuskan untuk tetap melaksanakan walaupun sebenarnya faktor-faktor kehancuran telah diketahui. Keputusan tersebut lebih berdasar pada citra perusahaan, politik, dan segi ekonomi, sehingga mengorbankan para awak yang tidak tahu keadaan sebenarnya. Pertanyaan etis yang muncul antara lain adalah layakkah seseorang, dalam hal ini para awak pesawat tersebut, menjadi obyek ataupun korban eksperimen tanpa diberitahu terlebih dahulu mengenai risiko-risiko buruk yang bisa saja terjadi?4

Perkembangan rekayasa di bidang bio-teknik tak kalah hebatnya dengan rekayasa di bidang teknik. Bahkan secara garis besar, dapat dikatakan bahwa perkembangan di bidang ini telah memasuki kawasan yang di masa-masa lalu bukan hak manusia sebagai makhluk. Temuan berupa pengetahuan baru tentang genetika mengenai kode molekular DNA5 telah membuka kemungkinan man made human yang merupakan revolusi yang jauh lebih besar dibanding penemuan bom atom.

Kemungkinan-kemungkinan yang diperkirakan mun­­­cul akibat terjadinya perkembangan-perkembang­an revo­lusioner yang telah terjalin dalam struktur double helix dari molekul DNA mengantarkan seseorang untuk memprediksi perkembangan lanjutan dari misteri sifat dasar kehidupan. Seperti pembersihan-pembersihan pe­nyakit, upaya untuk mengatasi masalah usia lanjut dan keadaan uzur, serta penciptaan tipe-tipe manusia superior dari segi intelegensia (Reiser, TT: 522).

Tidak dapat disangkal bahwa penemuan tersebut telah membantu manusia, yakni dengan adanya pemecahan di bidang penyakit demi keselamatan dan kesehatan manusia. Teori-teori sebagai akibat penemuan molekul DNA dan rekayasa yang mengikuti perkembangan itu pada akhirnya dapat membimbing manusia ke arah metode pengrusakan bagi kehidupan, penciptaan penyakit baru, dan pengendalian pikiran. Inseminasi buatan, fertilisasi in vitro (usaha mempertemukan antara sel telur dan sperma di luar tubuh atau pembuahan yang dilakukan di tabung gelas,6 Ectogenesis (usaha pembuahan dan pengembangan janin secara keseluruhan di dalam tabung atau rahim buatan sampai tiba waktunya untuk lahir), Cloning (usaha perkembangbiakan tanpa partisipasi sel kelamin jantan), dan penggunaan bank-bank dari sel-sel yang dibekukan sehingga dapat membentuk manusia yang diinginkan berdasar bawaan genetik, merupakan metode-metode yang telah diinginkan atau dikonsepkan oleh para ilmuwan, rekayasawan, ataupun pembuat keputusan.

Pertanyaan tentang manfaat ilmu pengetahuan dalam masalah ini akan muncul berkaitan dengan penetapan untuk apa ilmu pengetahuan dikembangkan, apakah sekadar menguji kemampuan manusia atau perlu tidaknya, layak atau tidaknya, suatu ilmu dan teknologinya dikembangkan? Siapa yang akan mengontrol siapa? Perlunya rumusan untuk tujuan apakah suatu ilmu dikembangkan? Masalah-masalah ini secara jelas tidak dapat dipisahkan dari jawaban nilai dan agama, sebab eksistensi Tuhan di mata manusia nampaknya sedang mengalami “guncangan”.

Saya mencoba mengutip dua contoh pilihan ke­putusan tindakan yang terkait dengan kemanfaatan. Contoh pertama: Apakah bermanfaat kalau manusia mengembangkan ilmu pengetahuan yang menghasilkan senjata pemusnah massal seperti bom nuklir? Di satu sisi, bom nuklir merupakan sarana untuk memusnahkan ciptaan Tuhan. Namun,  di sisi lain bom nuklir merupakan salah satu cara kita untuk mempertahankan diri, toh kita membutuhkan sebuah senjata untuk pertahanan diri. Dengan demikian, persoalan yang sedang kita hadapi adalah memilih senjata yang layak atau tidak layak untuk dikembangkan.

Contoh kedua, menyangkut kasus bayi lahir cacat dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup layak. Ia hanya bisa hidup selama jangka waktu yang relatif pendek dengan bantuan medis yang bisa membuat baik bayi maupun keluarganya menderita dan sedih. Selama hidupnya yang pendek, bayi itu tidak mungkin tumbuh menjadi anak normal. Manakah yang terkait dengan kemanfaatan, apakah mengembangkan ilmu dengan biaya cukup mahal demi mempertahankan hidup si bayi atau menggunakan biaya itu untuk merawat bayi yang hidup normal dengan membiarkan mati si bayi cacat tadi?7

Kemanfaatan ilmu pengetahuan dapat dilihat dari setidak-tidaknya 4 (empat) hal: pertama, bermanfaat bagi orang yang bergulat dalam ilmu pengetahuan bersangkutan. Tentu saja, buat apa kita menekuni dan bahkan mengembangkan ilmu pengetahuan kalau kita sendiri sebagai kreator dan pengguna tidak merasakan kemanfaatannya. Kemanfaatan yang paling dapat dirasa­kan tentu saja adalah bertambahnya pengetahuan kita, pemahaman kita, dan kesadaran akan realitas. Kedua, bermanfaat bagi ilmu pengetahuan sendiri. Ilmu pengetahuan ibarat matarantai yang bersifat logis, dan temuan kebenaran pada titik tertentu memberikan inspirasi bagi temuan kebenaran lain. Dengan demikian, ilmu pengetahuan merupakan perjalanan untuk menemukan tahapan kebenaran secara terus-menerus, sehingga sampai ke muara tingkat tertinggi kebenaran. Kebenaran relatif menuju kebenaran absolut, dan kebenaran parsial menuju kebenaran holistik. Tanpa adanya perjalanan seperti itu, ilmu pengetahuan menjadi “mandeg” dan tentu saja tidak bermanfaat. Ketiga, bermanfaat bagi skala “ruang” yang lebih luas. Menurut pemahaman ini, ilmu seharusnya bermanfaat bagi kehidupan manusia sezaman dengan berkembangnya ilmu pengetahuan itu sendiri. Kalau kita hidup pada zaman sekarang, tentu saja yang paling bermanfaat adalah ilmu yang dapat “dipakai” untuk menghadapi problema kekinian. Sebaliknya, tidak pantas kita mengembangkan ilmu yang merusak hidup dan kehidupan manusia. Keempat, bermanfaat bagi skala “waktu” yang lebih panjang. Prinsipnya, ilmu pengetahuan pun harus dikembangkan secara transgeneratif, tidak hanya berguna bagi generasi sekarang, tetapi harus lebih bermanfaat bagi generasi yang akan datang.[]

Catatan
1. Soetarjo Adisusilo, Problematika Perkembangan Ilmu, Kanisius: Yogyakarta 1983, hlm. 96.
2. Jujun S. Suriasumantri (ed.), Ilmu dalam Perspektif, Gramedia: Jakarta, 1978, hlm. 249.
3. Mike W. Martin dan Roland Schinzinger, Etika Rekayasa, (terj. Mc.Prihminto Widodo), Gramedia: Jakarta 1994, hlm. 51.
4. Ibid., hlm. 92-95.
5. DNA atau desoxyribo nucleic acid, merupakan materi genetik yang terdapat di dalam sel-sel makhluk hidup (organisme, baik organisme tingkat tinggi seperti manusia, hewan, atau tumbuhan tingkat tinggi, maupun organisme tingkat rendah termasuk mikroorgansime) seperti jamur, ganggang, kapang, bakteri, dan virus. Bentuk/susunan arsitektur kimiawi dari DNA merupakan dua untaian spiral berpasangan, yang dikenal dalam bahasa ilmu biokimia sebagai susunan double-helix. Rangkaian (segmen) tertentu dari DNA disebut sebagai gen, dan gen inilah yang bertanggungjawab dalam pemindahan sifat-sifat makhluk dari induk ke turunannya. Di samping itu, DNA mempunyai fungsi menyandi atau coding semua proses metabolisme kehidupan dalam semua makhluk hidup. Semua fisiologis kehidupan seperti bernafas, tumbuh, bergerak, serta reproduksi, metabolismenya dikontrol/disandi oleh DNA ini; dengan kata lain, DNA merupakan ‘engine’ dalam semua metabolisme kehidupan ini. Apabila DNA ini mengalami kerusakan dalam segmen tertentu dari gennya, maka akan terjadi “kesalahan” dalam menyandi proses metabolisme atau genetik, sehingga manifestasinya berupa timbulnya cacat genetik atau penyakit genetik (Jenie, 1996: 1).
6. Ali Ghufron Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal dan operasi Kelamin dalam Tinjauan Medis, Hukum dan Agama Islam, Aditya Media: Yogyakarta, 1993, hlm. 14.
7. Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis (terj. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi) Mizan: Bandung, 2001, hlm. 64-65.

Baca lebih lengkap dalam buku Etika dan Asketika Ilmu: Kajian Filsafat Ilmu karya Achmad Charris Zubair (Penerbit Nuansa, 2015)

etika dan asketika 600x560

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *