Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Isi Ajaran Para Nabi

Isi Ajaran Para Nabi

Oleh Hamid Muhammad
Isi dan kandungan ajaran yang disampaikan seorang nabi adalah bimbingan paripurna Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang Maha Pemelihara untuk menyempurnakan manusia. Bimbingan seperti ini tentu berlandaskan pada keesaan Tuhan dan setidaknya akan memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Mengajarkan sendi-sendi ihwal asal-muasal (al-mabda’) realitas bahwa segala sesuatu adalah berasal dari Realitas Tunggal (al-haqq al-wahîd), yang tak lain adalah Hakikat Zat Tuhan itu sendiri dan ihwal bagaimana Sifat-sifat Tuhan Yang Mahasuci seperti Yang Maha Mengetahui, Yang Mahakuasa, Yang Mahahidup, dan seterusnya.
  • Mengajarkan ihwal hakikat kehidupan dan perjalanan jiwa manusia sejak lahir hingga mati dan apa yang dialami manusia sesudah kematiannya (al-ma’âd) dan ihwal bagaimana seorang manusia bisa mencapai kebahagiaan abadi yang sejati dalam Limpahan Rahmat-Nya di alam keabadian tersebut.

  • Memiliki suatu cara efektif dalam “mengingatkan” manusia akan hakikat fitrahnya dan apa yang harus dan sebaiknya dilakukannya dalam menjalani yang terbaik dari kehidupannya.
  • Memiliki seperangkat cara hidup yang lengkap dalam upaya mendekatkan diri pada Yang Maha Esa lagi Yang Maha Terpuji maupun dalam berinteraksi dengan sesama makhluk.
  • Mengandung tatanan sosial, ideologi, dan way of life (cara dan pandangan hidup lengkap yang dapat digunakan manusia dalam kehidupan sosialnya).
  • Mengandung basis moralitas individual yang mampu menciptakan manusia-manusia yang memiliki keluhuran jiwa dan ketinggian moral, seperti keberanian, ketabahan, kesabaran, keadilan, kasih-sayang, kedermawanan, cinta pada-Nya, dan syukur.
  • Mengandung fondasi moralitas sosial, seperti persatuan, kesepakatan dalam kebenaran, kepercayaan (trust), hak asasi manusia, persamaan, penegakan kebenaran dan keadilan, serta pengorbanan untuk kepentingan umat manusia dan kebenaran.
  • Mengandung petunjuk yang lengkap ihwal bagaimana manusia bisa bertransformasi menjadi manusia sempurna.
  • Mengandung argumen-argumen yang kokoh dan tak terbantah tentang Kebenaran-Nya, kebenaran para nabi-Nya dan para utusan-Nya, dan Hari Akhir
  • Sesuai dengan cara alamiah manusia dalam belajar dan memahami suatu kebenaran, sehingga mereka mampu menganalisis dan memahami kebenaran yang disampaikan oleh para nabi sesuai dengan cara alamiahnya masing-masing dan kadar kemampuan akal mereka.
  • Mengandung pesan petunjuk yang jelas ihwal keberlanjutan (sustainability & continuance) serta keterpeliharaan kemurnian Ajaran Ilahi ini. Yang dimaksud di sini adalah apa yang menjamin Kemurnian Ajaran Ilahi sepeninggal wafatnya para nabi. Petunjuk ini bisa berupa nama-nama pembawa lentera kemurnian Ilahi, yakni pengemban wasiat (washî) dan pengganti para nabi seperti Yusya‘ bin Nûn (Yoshua) pengganti Nabi Mûsâ As, Syam’un bin Lawi (Santo Petrus/Simon) pengganti Nabi ‘Isâ As, atau nama atau ciri nabi-nabi berikutnya.
  • Memberikan pandangan hidup dan pandangan dunia yang lengkap bagi manusia, sehingga manusia benar-benar memahami dirinya, semesta lahiriah, realitas batiniah, dan Tuhan serta alam-alam tak kasat indera, juga memahami posisinya dalam perjalanan segenap semesta menuju kesempurnaan alamiahnya masing-masing, dan juga memahami apa saja yang baik dan terbaik, apa saja yang benar dan paling benar, apa saja yang indah dan terindah bagi dirinya dalam bertindak dan berperilaku dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan fitrahnya. Tentu, pandangan-dunia seperti ini setidaknya memberikan suatu jawaban atas realitas alam, seperti langit, bumi, galaksi, makhluk hidup, dan lautan serta juga realitas adialami, seperti malaikat, realitas-realitas tak kasat indera seperti jin, realitas sosial, politik, hukum maupun realitas jiwa manusia itu sendiri secara lengkap dan memuncak.
  • Memberikan kabar gembira bagi manusia yang berbuat baik dan benar, serta peringatan bagi yang berbuat jahat, salah, dan keliru, dengan suatu cara yang membuat mereka benar-benar bergerak untuk meninggalkan yang buruk, jahat, dan keliru serta kemudian mengisi hidupnya dengan kebaikan dan kebenaran.
  • Memberikan suatu petunjuk yang jelas tentang kepemimpinan masyarakat Ilahiah, karena tidak mungkin suatu masyarakat yang baik dan utama (al-madînah al-fadhîlah) terwujud tanpa pimpinan dari sisi otoritas keagamaan, sosial-politik maupun kepemimpinan batiniah terdalam masyarakat manusia (esoteris) dalam mencapai kesempurnaan realitasnya.[]

 

Dikutip dari buku Prophethood for Teens

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *