Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Itu Bukan Uangku

Itu Bukan Uangku

Oleh: Hermawan Akhsan
Bel pulang sekolah sudah berbunyi hampir setengah jam yang lalu. Para siswa SMP Merah Putih sebagian besar sudah meninggalkan sekolah. Tapi karena ada sesuatu yang harus dikerjakan, Andi pulang belakangan sendirian. Ia tidak mau menunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini.
Andi siswa kelas delapan di SMP Merah Putih.
Baru saja beberapa belas langkah melewati gerbang sekolah, Andi berhenti. Matanya menangkap sebuah benda berbentuk segiempat tak jauh dari perdu pohon di pinggir jalan aspal. Andi mendekat, lalu membungkuk dan memungut benda itu. Sebuah amplop panjang. Agak tebal dan berat. Tebal isinya mungkin hampir satu sentimeter.
“Apa, ya, isinya?” pikir Andi. “Dokumen penting barangkali?”


Andi menimbang-nimbang untuk kembali ke sekolah dan menyerahkan amplop itu ke pihak sekolah. Ia memandang ke arah sekolah dan celingukan mencari-cari barangkali ada teman sekolahnya di sekitar sekolahan. Namun sekolah sudah sepi. Pintu kantor tata usaha juga sudah tutup. Memang masih ada Bapak Satpam, yang tak lama lagi akan menutup gerbang. Namun Andi ingin menyerahkannya langsung ke bagian tata usaha atau salah seorang guru.
Andi memasukkan amplopnya ke tas sekolahnya. “Biarlah besok saja aku serahkan ke sekolah,” batinnya.
Andi mulai melangkah lagi untuk pulang. Ia selalu berjalan kaki pergi dan pulang. Rumahnya di desa sekitar tiga setengah kilometer dari sekolah. Ia bisa saja naik angkot pulang ke rumah seperti banyak teman sekolahnya yang juga satu desa dengannya. Namun ia lebih memilih jalan kaki dengan dua alasan. Pertama, ia berasal dari keluarga sederhana dan tidak punya cukup ongkos untuk pergi pulang naik angkot. Kedua, jalan kaki lebih menyehatkan daripada naik angkot.
Eh, iya, sebetulnya mobil angkutan itu bukan angkutan kota. Lebih tepatnya angkutan desa atau disingkat angdes. Sebab, mobil angkutan itu melayani penumpang dari kota itu sampai ke desa-desa di sekitarnya.
Sesampai di rumah, setelah makan siang dan salat Zuhur, Andi membuka tasnya dan memeriksa amplop yang ia temukan. Amplop itu sama sekali tidak dilem. Isinya kertas yang dilipat. Ketika ia membuka lipatannya, ia terkejut bukan kepalang.
Isinya uang. Setumpuk uang kertas. Ada lima puluh ribuan, dua puluh ribuan, dan sepuluh ribuan.
Tangan Andi gemetar.
Baru pertama kali dalam hidupnya ia melihat uang sebanyak itu. Memang ia tidak tahu berapa banyak jumlahnya. Tapi di matanya jelas sangat banyak. Ia tiap hari hampir selalu tidak membawa uang jajan. Hanya pada pelajaran olahraga tiap hari Rabu ia membawa dua atau tiga ribu rupiah buat membeli air minum dan makan ringan sehabis berolahraga. Kadang uang itu pun ia simpan saja. Ia lebih suka membawa bekal minuman dan beberapa potong makanan buatan ibunya.
Andi tidak tahu harus diapakan uang itu. Di rumahnya saat itu hanya ada ibunya di depan, menunggu warung kecilnya. Bapaknya belum pulang dari kota membeli keperluan menjahit. Bapak Andi menerima jahitan di rumahnya. Adik Andi, Anti, mungkin sedang di rumah tetangga. Bagaimana kalau ada yang tahu bahwa ia sedang memegang uang yang sangat banyak? Dengan tangan masih gemetar, Andi mencoba menghitung uang di dalam lipatan kertas itu. Berkali-kali ia mengulangi menghitung uang itu dari awal. Ia sulit berkonsentrasi. Padahal, dalam pelajaran Matematika di sekolah, ia lumayan jago. Tapi menghitung uang betulan berbeda dengan menghitung uang di dalam soal Matematika.
Setelah empat atau lima kali menghitung, barulah ia yakin jumlahnya.
Dua juta empat ratus tujuh puluh ribu rupiah!
Rp 2.470.000!
Alangkah banyaknya! Dimasukkannya uang itu kembali ke amplop. Dan dimasukkannya amplop itu ke tas sekolahnya.
Sempat terpikir oleh Andi andai saja tidak ada orang yang melaporkan kehilangan uang itu, tentu ia akan menjadi pemiliknya. Kalau saja demikian, akan ia apakan, ya, uang itu? Ditabung? Buat beli sepeda? Ia bisa berangkat dan pulang sekolah naik sepeda. Buat beli HP alias telepon genggam? Ia belum pernah memiliki telepon genggam. Hampir semua temannya di sekolah punya. Sebagian malah HP jenis android, yang bisa dipakai buat internetan, ada kameranya, dan bisa main game apa saja. Atau buat beli buku-buku? Andi sangat suka membaca buku cerita, tapi tidak punya uang untuk membeli buku.
Atau ia diam saja kalaupun ada orang yang kehilangan? Mungkin setelah berhari-hari, setelah kabar tentang uang hilang itu mereda, ia akan menjadi pemilik uang itu. Ya, ia bisa membeli sepeda, HP, dan buku sekaligus.
Namun ia segera menghapus pikiran itu. Kalau ia tiba-tiba memiliki barang-barang mahal itu, orang-orang pasti curiga. Dari mana ia memiliki uang banyak? Ia mungkin harus berbohong tentang asal-usul uang itu. Memalukan sekali. Bapak dan ibunya tidak pernah mengajarinya berbohong.
Lagi pula, apa pentingnya HP bagi dia? Siapa yang akan dia telepon? Atau dia kirimi pesan-pesan singkat? Buat berselancar internet? Bukankah sekolah juga menyediakan sejumlah perangkat komputer yang dilengkapi juga dengan jaringan internet? Lagi pula, bukankah penggunaan HP akan membutuhkan banyak pulsa? Dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli pulsa secara rutin?
Bagaimana pula kalau nantinya ketahuan bahwa ia yang menemukan uang itu? Ia akan dilaporkan ke polisi. Hiii….
Ia juga kemudian bisa merasakan betapa sedih dan bingungnya orang yang kehilangan uang itu.
Beberapa saat ia sempat bimbang. Namun kemudian ia ingat pepatah bahwa jujur itu pangkal kaya. Kalaupun tidak kaya harta, setidaknya kaya hati. Akhirnya ia pun mengambil keputusan bulat: ia akan mengembalikan uang itu.
Anehnya, setelah mengambil keputusan itu, hatinya menjadi tenang. Dadanya plong.

 

Sumber: Jujur Pangkal Kaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *