Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Jangan Telat Lima Menit Pun

Jangan Telat Lima Menit Pun

Oleh Hermawan Aksan

 

SUDAH lebih dari lima menit dari waktu yang disepakati. Tapi Dewi belum juga muncul. Nia mulai kesal menunggu.

“Jam sepuluh, ya,” kata Nia kemarin. “Jangan sampai telat lima menit pun.”

“Jam sepuluh,” sahut Dewi.

Keduanya teman sekelas di kelas delapan SMP Merah Putih. Baik Nia maupun Dewi sama-sama senang membaca buku dan mereka janjian bertemu di dekat Kantor Pos untuk bersama-sama menuju toko buku di kota itu. Keduanya ingin menghabiskan waktu Minggu siang di toko buku.

Nia terbiasa melakukan pekerjaan apa pun tepat waktu, setidaknya dimulai tepat waktu. Dalam hal tidur, misalnya, ia selalu berusaha masuk ke kamarnya sebelum pukul sembilan malam. Kebiasaan itu dilakukannya setelah ia menyelesaikan waktu belajarnya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Cukup satu jam ia belajar setiap hari, tapi ia melakukannya secara rutin. Kebiasaan seperti itu lebih baik daripada belajar berjam-jam hingga larut malam hanya ketika menghadapi ulangan atau ujian.

Kalau belum benar-benar mengantuk, kadang Nia lebih dulu membaca buku sambil duduk di kursi atau di kasur. Setelah mengantuk, barulah ia berbaring di tempat tidurnya.

Nia juga terbiasa bangun sekitar pukul empat pagi, bahkan kadang-kadang lebih awal lagi, seakan-akan tubuhnya dilengkapi dengan alarm yang secara otomatis membangunkannya. Mengapa bisa begitu? Pertama, karena sebelum tidur Nia selalu berdoa. Kedua, karena ia selalu menanamkan tekad untuk bangun sebelum saatnya salat Subuh.

Nia menjalani kebiasaan itu dengan ikhlas. Ia sudah terbiasa melakukannya sejak kecil. Orang tua Nia memang selalu membiasakan anak-anak mereka tidur dan bangun tepat waktu.

Selain itu, Nia dengan kesadaran sendiri membuat jadwal kegiatan sehari-hari yang harus dipatuhinya. Jadwal kegiatan itu berguna untuk mengatur waktu sejak bangun tidur di pagi hari sampai mau tidur lagi di malam hari. Mungkin saja sesekali Nia menyimpang dari jadwal yang sudah dibuat. Misalnya karena ada sebab yang mendadak. Namun Nia percaya bahwa anak yang baik melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan jadwal yang dibuat.

Waktu diatur sesuai dengan kebutuhan. Waktu belajar digunakan sebaik-baiknya untuk belajar. Waktu bermain digunakan untuk bermain. Waktu tidur dipakai untuk tidur. Dan seterusnya.

Pengaturan waktu yang baik akan sangat menguntungkan diri sendiri.

Itulah pengertian disiplin yang dipahami Nia. Anak yang berdisiplin adalah anak yang dapat mengatur waktu kegiatan sehari-hari dan dilakukan sesuai dengan jadwal kegiatan sehingga tidak banyak waktu terbuang. Sebaliknya, anak yang tidak berdisiplin terlalu banyak membuang waktu untuk kegiatan yang tidak berguna.

Meskipun malam Minggu, Nia tetap tidur seperti biasa. Ia tidak menganggap istimewa malam Minggu, selain bahwa besoknya hari libur. Dengan tidur pukul sembilan, Nia bisa bangun pukul empat atau paling lambat pukul lima.

Pukul sembilan lebih 30 menit Nia sudah berangkat dari rumahnya, setelah meminta izin kepada ibu dan bapaknya. Nia harus berjalan kaki sekitar lima menit dari rumahnya menuju jalan yang dilalui angkot. Dari sana ia perlu menunggu beberapa menit sebelum naik angkot sampai depan Kantor Pos. Pukul 10 kurang 10 menit ia sudah sampai di tempat yang dituju.

“Sudah sampai mana?” tanya Nia lewat WhatsApp.

Balasan Dewi baru muncul tiga menit kemudian. “Aku OTW.” Sebuah balasan yang tidak menjelaskan apa-apa. Mungkin sudah hampir sampai, atau baru naik angkot, atau bahkan baru keluar dari rumahnya. Tapi Nia mencoba bersabar. Kalaupun Dewi baru berangkat, lima menitan juga sampai. Jarak dari rumah Dewi ke Kantor Pos terhitung dekat.

Pukul 10.10, Dewi belum datang juga.

Artinya, sudah 20 menit Nia menunggu. Menunggu adalah pekerjaan paling menyebalkan. Nia makin kesal. Pertama, karena mereka sudah sepakat mengenai waktu pertemuan. Kedua, ia tidak menyukai orang yang terbiasa menerapkan “jam karet”.

“Sudah sampai mana?” tanya Nia lagi.

“Sudah di angkot.”

Pukul 10.15, Dewi belum muncul.

Nia sudah tidak tahan lagi. Begitu muncul angkot yang menuju toko buku, ia menyetop dan naik.

Pukul 10.16 Nia menerima pesan WA dari Dewi, “Aku sudah sampai di Kantor Pos. Kamu di mana?”

Nia membalas, “Aku sudah berangkat. Kamu nyusul aja, ya.”

“Kok nggak nunggu? Aku kayaknya datang cuma satu menit setelah kamu pergi.”

“Aku sudah menunggu 15 menit.”

(Jujur Pangkal Kaya, Nuansa, 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *