Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Tentang Hijab

Tentang Hijab

Oleh Abul A’la Maududi

Muslim merupakan satu-satunya yang dapat menyelamatkan dunia dari kejahatan. Sebab, hanya
agama Islamlah yang memiliki solusi secara benar terhadap semua permasalahan manusia pada kehidupan masyarakat. Tetapi kadang-kadang timbul tragedi ketidakberuntungan bagi manusia, ibarat orang yang memiliki mercu suar yang memancarkan sinar ke segenap penjuru, tetapi dirinya sendiri berada pada kegelapan.


Kata “Purdah” digunakan sebagai judul [buku Jilbab: Wanita dalam Masyarakat Islam berbahasa Urdu] untuk seperangkat peraturan perintah yang merupakan bagian dari sesuatu yang sangat penting bagi sistem kehidupan masyarakat berdasarkan Islam. Jika perangkat peraturan ini dipandang secara persfektif dan benar, maka setiap orang yang belum kehilangan segenap daya yang dapat membedakan kebaikan dan kebenaran dengan sesuatu yang salah, maka ia akan bisa menerima aturan tersebut sebagai suatu pandangan yang sesuai dengan kehidupan sosial. Jika kita ingin memperlihatkan sistem ini dalam praktik, maka semua “bencana duniawi” dan penyakit-penyakit sosial akan dapat dibasmi, sehingga tercapai suasana damai dan tentram. Tetapi pertanyaan yang timbul adalah, siapakah yang akan memperagakan perangkat tersebut? Seseorang yang dapat mengerjakan seperangkat ini adalah mereka yang telah menderita penyakit dalam waktu cukup lama. Itulah sebabnya, sebelum dibicarakan lebih lanjut kita perlu meninjau dan mencoba memberikan diagnosa bagi penyakit tersebut.

Latar Belakang Masalah

Pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, ketika bangsa-bangsa Barat merasa haus untuk memperluas daerah kekuasaan (dengan melakukan penjajahan ke seantero dunia) ternyata telah banyak mempengaruhi negara-negara Islam. Dan sebelum orang bangkit menangkal bencana ini, hampir seluruh negara Islam (dari Barat sampai ke Timur) telah dilanda badai kerakusan bangsa Barat. Sebagai konsekuensinya, pada pertengahan abad ke-19 seluruh bangsa Islam telah dijajah oleh bangsa Eropa. Bahkan bangsa-bangsa terjajah ini telah nyata dipengaruhi bangsa penjajah, yang menunjukkan bahwa mental dan spiritual mereka pun ditindas. Ketika penaklukan ini berakhir, Islam memulai kebangkitannya. Mereka sadar bahwa rasa nasionalisme yang telah dibina dan dikembangkan berabad-abad lamanya, telah dihancurkan. Dan seperti seorang pemabuk, mereka yang ditindas oleh musuh yang lebih perkasa, mulai mempelajari sebab-sebab keterbelakangannya, mengapa dapat dijajah begitu lama oleh bangsa-bangsa Eropa. Walaupun keadaan yang merusak telah berakhir, mereka belum sepenuhnya memperoleh kembali keseimbangan dan perasaannya. Di satu segi, perasaan yang mendalam bagi keterbelakangannya telah mendorongnya mengadakan pembaruan. Dari segi lain, rasa cinta akan kemudahan dan kenyamanan yang mereka peroleh selama berabad-abad, telah membuatnya memilih cara yang mempunyai resiko paling ringan dalam usaha perubahan ini. Kemampuan intelektual yang bertahun-tahun tidak dipergunakan untuk memecahkan berbagai masalah, tumbuh ibarat karat yang rapuh. Di samping itu, mereka yang telah dikembangkan dengan mentalitas perbudakan dan rasa ketakutan dengan sendirinya menjadi suatu bangsa yang menyedihkan, karena secara politik ia selalu dikekang dan diarahkan. Berbagai faktor ini telah membimbing orang Islam ke liang lahat. Hampir seluruhnya tidak mengerti penyebab utama kehancurannya di dalam melawan bangsa Eropa yang mempunyai kemampuan hebat. Bahkan mereka yang bisa memahami sebab musababnya, tidak mempunyai keberanian untuk berjuang demi kemerdekaannya. Dalam kemerosotan seperti ini, mereka memilih menaiki tangga kemajuan yang merupakan suatu cara dengan hambatan paling kecil. Mereka memutuskan untuk meniru cara peradaban Barat dalam kehidupannya, dan mencoba mengembangkan kualitas dari suatu cermin yang dianggapnya memantulkan keindahan taman penuh bunga, tetapi pada kenyataannya hampa tak bermakna.

Mental Perbudakan

Ketika etika, cara berpakaian dan kebiasaan bangsa Barat berlangsung dengan gencar, umat Islam justru meniru dengan segala cara dan daya, dan mereka beralasan untuk membangun masyarakat “muslim” dengan pola tersebut. Di sinilah atheisme dan materialisme diterima sebagai sebuah peragaan. Berbagai ide, baik atau buruk, selama datangnya dari dunia Barat, mereka terima tanpa pertanyaan, bahkan merasa senang jika bisa diperlihatkan kepada umum, bagaimana ia bergaya Barat. Minum-minuman keras, berjudi, balapan kuda, pertunjukkan sandiwara, musik dansa dan berbagai kemungkaran yang merupakan peradaban Barat, mereka terima dengan suka hati. Semua teori-teori Barat dan juga perilaku yang berhubungan dengan kebudayaan, moralitas, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, keimanan dan kepercayaan, mereka terima dengan membabi buta tanpa menentukan validitasnya, sehingga tampak bagai cara mereka menerima wahyu perintah Tuhan yang harus dipercaya dan dipatuhi. Bahkan kejadian-kejadian sejarah Islam, perintah Islam yang disebut syariat dan perintah Al-Quran dan Hadis yang tidak disenangi oleh musuh-musuh Islam, justru dianggap memalukan umat Islam, sehingga mereka menyatakan kata, “maaf”. Ketika bangsa Eropa menolak konsep jihad, umat Islam ikut berang terhadap konsep yang tidak disukai orang Eropa ini, dengan alasan tidak sepakat adanya perbudakan.1

Dalam kasus tertentu mengenai perbudakan, Islam masih memberikan izin, yaitu dalam keadaan peperangan, terhadap para tawanan perang. Walaupun begitu, kepada mereka masih diberikan kebebasan sebagai hadiah, misalnya diberi ransum makanan, atau bisa dipertukarkan dengan orang Islam yang tertawan musuh, atau mereka dijadikan pembantu rumahtangga. Tetapi dalam keadaan seperti di atas “perbudakan” dilaksanakan secara manusiawi. Dan Islam memerintahkan mendidik mereka agar menjadi anggota masyarakat yang berguna. Para budak juga diperkenankan memperoleh kembali kemerdekaan dengan memenuhi persyaratan yang diberikan majikannya. Tetapi waktu itu orang Islam menyatakan bahwa dalam Islam sama sekali tidak ada hukum perbudakan. Ketika orang Barat menolak cara poligami, orang Islam justru kembali menutup mata dari ayat-ayat Al-Quran, dan menyatakan bahwa antara kaum laki-laki dan kaum wanita harus menikmati persamaan yang sempurna antar mereka. Umat Islam menyatakan, itulah kepercayaannya. Ketika bangsa Barat menolak hukum Islam tentang perkawinan dan perceraian, umat Islam membelokkan hukum yang sebenarnya, menambalsulam dan mengubahnya. Ketika bangsa Barat menyatakan bahwa, umat Islam tidak menyenangi seni, sang muslim membuat pernyataan bahwa Islam selalu melindungi musik dan tarian, lukisan dan patung, dan seterusnya dan seterusnya.

Bagaimana Permasalahan Tumbuh?

Pada periode yang sangat memalukan bagi sejarah Islam ini, tatanan jilbab sebagai bagian dari sistem Islam, juga dienyahkannya. Padahal, jika diajukan pertanyaan, “sampai sejauhmana kebebasan yang diperoleh kaum wanita yang diperbolehkan Islam”, maka tidak terlalu sulit menjawabnya. Kebanyakan orang dapat membedakan, sampai sejauhmana tangan dan muka harus ditutup atau dibiarkan terbuka—hal ini bukanlah perbedaan yang mendasar. Walaupun begitu pertanyaan tersebut adalah suatu pertanyaan unik yang datangnya dari kalangan muslim sendiri, disebabkan bangsa Eropa memperhatikan “harem”, kerudung dan cadar dengan sikap sinis. Penulis Eropa menggambarkan hal ini dengan rasa muak dan kesan negatif sembari menyebut berbagai “kelemahan” Islam. Mereka menerangkan tentang pembatasan terhadap kaum wanita dengan “baik” seperti biasanya orang Islam merasa malu karenanya. Mereka menganggap kasus kerudung ini sama halnya dengan kasus jihad, perbudakan, poligami dan sebagainya. Mereka memutarbalikan Al-Quran, kumpulan hadis, pendapat-pendapat fuqaha dan keputusan para ulama, dengan maksud mengumpulkan argumentasi yang mereka pikir dapat membersihkan diri dari noda dan rasa malu. Mereka mendapatkan bahwa beberapa siswa keagamaan telah memperbolehkan tangan dan muka tidak ditutup, dan kaum wanita diizinkan pergi ke medan pertempuran untuk memelihara/merawat tentara yang luka dan kehausan. Kaum wanita juga diperbolehkan pergi ke masjid untuk ikut shalat dan mempelajari pengetahuan dengan argumentasi yang menyatakan bahwa Islam telah menganugerahkan kebebasan yang penuh terhadap kaum wanita. Kerudung dianggapnya sebagai suatu kebiasaan yang mencerminkan kebodohan dan keterbelakangan, yang diambil dari pemikiran kaum muslimin secara sempit, jauh setelah masa kejayaan Islam. Mereka juga menerangkan bahwa dalam Al-Quran dan hadis tidak terdapat aturan untuk mengenakan kerudung bagi kaum wanitanya, dan mereka hanya mengajarkan pendidikan moral tentang kerendahan hati dan kesopansantunan, dan mereka menganggap Islam tidak mengakui ajaran yang membatasi pergerakan kaum wanita.

Motif yang Nyata

Satu kelemahan umum yang terdapat pada kaum lelaki adalah, ketika ia harus bersikap yang pada mulanya harus dilakukan dengan pendekatan emosional, justru mencoba untuk membuktikan secara rasional dengan mengemukakan berbagai alasan dan argumentasi. Dalam hal yang sama, kaum Muslimin memandang hukum tertentu tentang al-hijâb. Setiap pendapat ini tidak tumbuh berdasarkan perasaan yang rasional dan kebutuhan agama, namun justru timbul sebagai akibat adanya pengaruh kuat lahirnya kebudayaan yang “menarik” dari satu kekuatan dominan, serta propaganda yang menentang kebudayaan Islam.

Ketika para pembaharu kita melihat dengan mata terbelalak, bagaimana wanita Eropa yang ber-make up dapat bergerak secara bebas dan berperan aktif dalam kehidupan sosial, ternyata mereka tidak bisa membantu kaum wanitanya, tetapi justru menjejakkan langkah pada jalan yang sama bagi kebebasan dan kemajuan. Orang-orang yang dipengaruhi konsep modern tentang emansipasi, pendidikan wanita dan propaganda mengenai kesamaan seks, akan selalu mendapatkan penyelenggaraan dengan memasarkan logika yang kuat dengan cetakan mesin. Literatur diproduksi dengan gaya yang sangat menarik, yang mampu mempengaruhi secara negatif bagi cara berpikir dan upaya diskriminasi. Hal itu memaksa mereka untuk menerima konsep-konsep itu, dan secara praktis merupakan sesuatu yang mutlak bagi mereka yang ingin dipanggil sebagai “telah tersinari kemajuan” dan “punya pikiran yang luas”, dan kebalikan dari sesuatu yang “kaku” dan “kuno”. Karena itu ketika kerudung dan cadar dikenakan oleh kaum wanita, mereka memperolok dengan sebutan “mayat terbungkus kafan sedang berjalan”. Hal ini menyebabkan para “pembaharu” merasa malu, yang merupakan indikator bahwa mereka tidak bisa menghilangkan rasa rendah diri dalam waktu cukup lama. Dan karenanya, mereka mencoba mencampakkan sesuatu yang memalukan secepat mungkin.

Berbagai perasaan dan kecenderungan ini telah melahirkan pergerakan emansipasi kaum muslimat menjelang akhir abad ke-19. Sebagian orang yang tidak mengerti, mengapa kaum muslimat cenderung menyimpang dari pergerakan ini, ternyata mempunyai rasa sentimen yang dalam, dan mencoba bersembunyi di bawah kesadarannya. Dan pada kenyataannya mereka hanya menipu dirinya sendiri. Bagi mereka yang sepenuhnya menyadari adanya penyimpangan ini, tidak berani menyatakannya secara terbuka. Mereka tidak menipu dirinya sendiri, tetapi mereka mencoba mengelabui orang lain pada kedua kelompok ini. Dan bagaimanapun, mereka telah membuat titik persamaan yang mencoba menyembunyikan motivasi sebenarnya adanya pergerakan, dan mencoba membuat pergerakan sebagai sesuatu yang rasional. Berbagai alasan yang dicari-cari dalam rangka memperkuat alasan mereka, semuanya diambil dari dunia Barat. Di antaranya adalah pertimbangan kesehatan kaum wanita, pertumbuhan kemampuan intelektualnya, keterampilan praktisnya, perlindungan terhadap hak-hak yang mereka bawa sejak lahir, perlindungan terhadap ketakterikatan di bidang ekonomi, penolakan dengan tegas terhadap perlakuan perbudakan dari kaum lelaki dan sikap apatisme—semua ini dianggap sebagai suatu keharusan bagi kemajuan, yang sepenuhnya tergantung dari perkembangan budaya seluruh masyarakat. Alasan yang dicari-cari ini diambil untuk menutup-nutupi kaum Muslimin pada umumnya, dan untuk membiarkan umat Islam berada pada motivasi yang keliru, sehingga mampu membimbing dan mengarahkan kaum wanita di dalam mengikuti jejak wanita Barat, dan membentuk mereka dalam pola sosial yang Barat oriented.

Lelucon Besar

Lelucon paling besar yang telah dimainkan dalam hubungannya dengan persoalan ini, adalah usaha membuktikan kebenaran berdasarkan Al-Quran dan hadis, bahwa pergerakan emansipasi merupakan persesuaian yang sempurna dengan Islam. Padahal, pada kenyataannya kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat, saling bertentangan antara yang satu dengan lainnya, baik ditinjau dari segi tujuannya, maupun dari segi prinsip-prinsip sosialnya. Islam, sebagaimana yang akan kita lihat nanti, bertujuan mengarahkan potensi seksual manusia dengan suatu disiplin moral, yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk membangun budaya yang bersih, penuh ketaatan, dan menolak pembuangan potensi seks tersebut dalam bentuk rangsangan-rangsangan erotik. Berbeda dengan konsep Islam, peradaban Barat mengarahkan nafsu birahi sebagai bahan bagi kemajuan, dengan memberi semangat terhadap peran serta yang sama antara kaum laki-laki dan kaum wanitanya, baik dalam tanggungjawab maupun dalam kegiatan hidupnya. Dan pada saat yang sama, cara Barat berusaha mengadakan sublimasi potensi seks di dalam bentuk seni dan berbagai saluran lainnya, dengan maksud agar mendapatkan perasaan puas dari kepahitan dan kesukaran perjuangan hidup. Perbedaan tujuan ini, mau tidak mau menyebabkan perbedaan mendasar dalam pendekatan dan metoda organisasi sosialnya. Tujuan Islam adalah menegakkan suatu disiplin sosial yang memisahkan kegiatan kaum laki-laki dan kaum wanita, menahan dan mengontrol pergaulan bebas dalam bidang seks, dan menahan berbagai faktor lainnya yang kelihatannya akan merusakkan disiplin sosial. Pada sisi lain, kehidupan masyarakat Barat justru membutuhkan kedua jenis seks tersebut: keduanya harus diperlakukan sama dalam berbagai lapangan kehidupan dan kegiatan. Berbagai rintangan dan halangan harus dienyahkan, karena rintangan tersebut cenderung menghancurkan kebebasan dan pergaulan bebas. Mereka juga menciptakan kesempatan tanpa batas, di dalam rangka saling menikmati kesempurnaan keindahan dan kecantikan tubuh.

Pada saat ini, kaum cendekia dapat melihat betapa menyedihkannya kesalahan orang-orang yang di satu segi merasakan penyimpangan yang dilakukan oleh peradaban Barat, dan di satu segi lainnya menuntut hukum dan prinsip Islam untuk mendukung kecenderungan mereka. Berdasarkan sistem sosial yang berlaku di dalam Islam, seorang wanita, pada keadaan tertentu boleh tidak menutupi lengan dan mukanya, dan boleh meninggalkan rumah untuk keperluan yang sangat mendesak. Tetapi mereka ini mengambil batasan akhir sebagai awal langkah mereka. Mereka tidak membatasi diri menurut Islam, malahan melanggar semua batasan ketertiban dan kepantasan, yang dilakukan tanpa keraguan, dan tidak membicarakan mengenai tangan, muka, keindahan rambut, dan tangan telanjang sampai bahu, bahkan sebagian dada yang tidak ditutupi justru dipamerkan. Bagian tubuh molek lainnya ditutup dengan kain tipis tembus pandang yang menggairahkan kaum laki-laki hidung belang pemburu seks. Lebih dari itu, pakaian yang dikenakan kaum wanita, penuh dengan dandanan yang dipakai untuk berhadap-hadapan dengan teman-temannya. Memang hal tersebut bukan untuk membicarakan hubungan dekat atau untuk memberanikan diri bercampur secara bebas dan bersenang-senang dengan mereka. Tetapi mereka telah melakukan sesuatu cara yang tidak bisa dibayangkan bagi seorang muslimat, termasuk terhadap saudara sekandungnya. Ijin keluar rumah yang diperkenankan pada keadaan mendesak yang seharusnya diatur dengan pakaian secara cermat dan menutup seluruh tubuh, kini dianggapnya untuk memperoleh kesempatan berkeliaran tanpa tujuan, duduk-duduk di pinggir jalan dan taman, mengunjungi hotel dan menonton bioskop. Semua itu diperagakan dengan pakaian berkilauan atau blouse yang hampir tidak menutupi tubuhnya.

Kebebasan terbatas dan bersyarat sesuai dengan Islam, misalnya, kegiatan menuntut ilmu, telah dijadikan sebagai alasan menumbuhkan keberanian di kalangan wanita Islam untuk meninggalkan rumahtangga dan segala tanggungjawabnya, sebagaimana kaum wanita di Eropa. Mereka juga menciptakan kehidupan yang menyedihkan dengan cara bahu-membahu dengan kaum pria dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan kegiatan lainnya.

Keadaan di anak benua (Indo Pakistan), sebegitu jauh telah mencapai keadaan seperti di atas. Tetapi orang-orang Mesir, Turki dan Iran yang bebas dari kekangan politik, justru mentalnya masih diliputi sikap perbudakan, bahkan lebih parah lagi dalam rangka bersaing dengan wanita Eropa. Kaum muslimat di negara-negara tersebut telah mengenakan pakaian-pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakan wanita di dunia Barat. Gadis-gadis Turki telah terbiasa mengenakan pakaian pantai— hanya terdiri dari sehelai kain yang hampir tidak menutupi bagian tubuhnya. Mereka yang berpakaian lebih sopan hanya menutupi kira-kira ¾ bagian tubuhnya, tetapi demikian ketatnya sehingga dengan jelas memperlihatkan lekuk-lekuk bentuk tubuhnya.

Suatu hal yang sangat mengherankan, adalah suatu upaya yang mencoba mencari justifikasi (pembenaran) dari Al-Quran dan hadis mengenai cara-cara hidup yang sebetulnya sangat memalukan atau bertentangan dengan Al-Quran dan hadis itu sendiri. Jika sebagian orang merasa senang dapat mengadaptasikan hal itu, mereka melakukannya dengan lancang, bahkan menyatakan keluar dari Islam dan aturan-aturan yang tidak tertulis. Tentu hal ini akan menimbulkan kemunafikan dan ketakjujuran yang menjadi-jadi. Jika mereka secara terbuka mengatasnamakan Al-Quran mengenai prinsip dasar, sistem dan cara hidup, tujuan serta langkah-langkah praktisnya, maka mereka menjadikannya sebagai hukum. Padahal tidak demikian halnya dengan isi kandungan Al-Quran. Pada tepi yang paling luar, mungkin mereka bermaksud untuk mencari kepercayaan kepada dunia bahwa mereka telah mengikuti ajaran Al-Quran dalam seluruh kehidupannya.

Tujuan Sebelum Kita

Melihat kondisi kaum muslimin dewasa ini, maka tujuan penulis buku ini terdiri dari dua bagian:
Pertama, kami berusaha menyajikan sistem sosial dalam Islam dan menjelaskan penting dan perlunya mengenakan jilbab bagi kaum wanita.

Kedua, kami akan menyajikan perintah yang tegas berdasarkan Al-Quran dan hadis, sebagai tandingan terhadap doktrin yang telah mempengaruhi pandangan dan cara hidup orang Barat, dan untuk menolong mereka yang menyingkirkan sikap munafik di dalam menuju kehidupan ini. Hal ini akan memungkinkan bagi mereka untuk memilih satu di antara dua alternatif dengan hati bersih. Apakah mereka akan hidup berdasarkan Islam, jika mereka ingin tetap menjadi seorang muslim; ataukah mereka akan mengingkari Islam dan menyiapkan diri berhadapan dengan akibat negatif, dengan memilih cara hidup bangsa Barat yang akan mempengaruhi mereka.

Catatan

  1. Seperti masalah perbudakan, maka harus dicatat bahwa Islam telah melarang jual beli manusia, karena pada dasarnya manusia dibebaskan dari sistem perbudakan. Namun demikian, hal tersebut mungkin terjadi untuk para tawanan perang. Dan dalam hal ini, umat Islam tetap berkewajiban memelihara tawanan perang, atau diharapkan dapat dijadikan penukar dengan tawanan muslim yang juga tertawaan, atau tawanan perang tersebut ditugaskan untuk bekerja di rumah-rumah. Tetapi, kedua kasus ini, seperti halnya perbudakan yang pada dasarnya merupakan buatan manusia sendiri. Umat Islam harus mendidik para tawanan perang sehingga mereka berguna bagi masyarakat. Dengan demikian, pada dasarnya perbudakan dilarang, tetapi para budak harus memperoleh ijin dari tuannya di dalam usaha memperoleh kebebasan.

Baca lebih lanjut buku Jilbab: Wanita dalam Masyarakat Islam karya Abul A’la Maududi (Penerbit Marja, 2005

jilbab 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *