Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Jurnalistik Masa Depan

Jurnalistik Masa Depan

Oleh Asep Syamsul M. Romli

Sifat multimedia pada jurnalistik online menjadikannya sebagai jurnalistik masa depan: wartawan tidak hanya menyusun teks berita dan menampilkan foto, tapi juga melengkapinya dengan suara dan gambar (audio-video).
Dengan jurnalistik online pula, kini tidak ada lagi istilah “berita tidak dapat dipublikasikan” alias hanya menjadi arsip tulisan di komputernya, karena jika media tempatnya bekerja menolak memuat beritanya, ia dapat memuatnya di blog atau situs jejaring sosial.

Selain itu, kini publik tidak lagi semata tergantung pada media-media konvensional untuk mengikuti perkembangan dunia. Berbagai data menunjukkan, pengguna internet dari waktu ke waktu terus tumbuh. Publik kian menjadikan media online sebagai rujukan utama ketika mereka membutuhkan informasi apa pun.

“Budaya Internet” kian kuat di kalangan masyarakat berkat kehadiran situs-situs “mesin pencari” (search engine), seperti Google, Yahoo, Bing, dan Ask. Dengan hanya mengetikkan kata kunci di situs mesin pencari itu, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi.

Dalam catatan Wikipedia, perkembangan internet juga telah memengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka–dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon,–kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui internet. Transaksi melalui internet ini dikenal dengan nama e-commerce dan “online store” atau “bisnis online” pun bermunculan.

Kilas Sejarah Jurnalistik Online
Berbagai literatur jurnalistik online menunjukkan, jenis jurnalisme baru ini tidak lepas dari ditemukannya teknologi komputer yang diikuti kemunculan teknologi internet yang dikembangkan pada tahun 1990-an. Penemuan dan pengembangan teknologi nirkabel (wireless) pada notebook memudahkan proses jurnalistik atau kerja wartawan.

Tanggal 17 Januari 1998 disebut-sebut sebagai tonggak sejarah kelahiran jurnalistik online, yaitu ketika Mark Druge, berbekal sebuah laptop dan modem, mempublikasikan kisah perselingkuhan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, dengan Monica Lewinsky (Monicagate) di website Drudge Report, setelah majalah Newsweek dikabarkan menolak memuat kisah skandal seks hasil investigasi Michael Isikoff itu. Semua orang yang mengakses internet segera mengetahui rincian cerita “monicagate” yang juga dikenal dengan sebutan “Monica Scandal” dan “Sexgate” itu.
Dua tahun kemudian atau awal tahun 2000-an, muncullah situs-situs pribadi yang menampilkan laporan jurnalistik pemiliknya yang kini dikenal dengan website blog, weblog, atau blog saja.

Kemunculan dan perkembangan jurnalistik online di Indonesia juga dimulai dengan berita menggegerkan, yaitu berakhirnya era pemerinatahan Orde Baru saat Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Berita pengunduran diri Soeharto tersebar luas melalui milist (mailing list) yang sudah mulai dikenal luas di kalangan aktivis demokrasi dan mahasiswa.

Setelah itu, seiring “euforia reformasi”, beragam media online pun hadir, seperti detik.com, bidik.com, mandiri-online.com, dan berpolitik.com yang disebut-sebut sebagai “pioner jurnalistik online di Indonesia”, diikuti kehadiran tiga situs besar–Astaga.com, Satunet.com, dan KafeGaul.com.

Saat ini sejarah jurnalistik online didominasi oleh situs-situs berita yang merupakan “edisi online” suratkabar, meski belakangan kontennya menjadi tersendiri atau berbeda.

Dikutip dari buku Jurnalistik Online: Panduan Praktis Mengelola Media Online (Penerbit Nuansa 2012)

alistikjurnalistik online 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *