Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Juru Cerita Tanpa Tepuk Tangan

Juru Cerita Tanpa Tepuk Tangan

JURU CERITA TANPA TEPUK TANGAN

Oleh: Heru Joni Putra

Pada sebuah malam, bulan padam,
Jibril terbang rendah, sendiri melayang,
Menemui anak manusia, duduk bersila,
Di pucuk tertinggi, sehelai ilalang.


Melihat Jibril tiba,
Anak manusia itu menangis,
“Hamba benar-benar tidak suka
Bila para pendengar cerita hamba
Hanya sekaum Badrul Mustafa
Yang datang bergerombolan
Tetapi tidak mahir bertepuk-tangan…”
Jibril mengusap kepalanya.
“Ketika kau diam,” kata Jibril,
“Kata-kata dalam dirimu bergerak beraturan
Tapi tatkala kaubicara, kata-kata itu berbenturan,
Memberontak, bagai ingin mencari pelafal lain
Untuk diri mereka.”
“Tapi,” katanya,
“Bukankah setiap cerita itu aku yang cipta?”
“Ya. Namun hanya ketika kau diam,” kata Jibril,
“Kata-kata dalam dirimu berarak beriringan,
Tapi bilamana kaubicara, kata-kata itu berkeliaran,
Berkehendak, ingin menjadikan aku
Sebagai pelafal tunggal dari setiap kata
Yang ingin kausampaikan.”
Anak manusia itu diam.
Nubuat Jibril memang tak ganjil,
Tapi ia paham,
Setelah hari itu,
Sorak-sorai untuknya akan redam.
“Baiklah, kini engkau jadi juru cerita,”
Akhirnya ia luruh,
Dengan pertanyaan
Yang tak sepenuhnya teguh,
“Tapi, apakah para Badrul Mustafa itu
Adalah pendengar yang benar-benar rendah hati?”

 

Sumber: Kitab Puisi Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *