Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Kekerasan terhadap Anak

Kekerasan terhadap Anak

Oleh Dr. Abu Hurairah, M.Si.

Setiap kali memperingati Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli, barangkali bayangan kita selalu tertuju kepada keceriaan anak Indonesia yang tengah bebas bermain di alam terbuka, seperti bermain sepak bola atau mereka yang naik kelas/lulus ujian mendapat hadiah liburan ke obyek wisata yang indah nan menawan. Setidaknya, makan bersama di restoran atau di rumah masing-masing, atau mendapat hadiah berupa les piano, les menyanyi, les menari, dan sebagainya.


Seakan setiap datang tanggal 23 Juli, anak-anak Indonesia telah menemukan dunianya yang ceria dan bebas dari tekanan siapapun. Padahal anak-anak yang lain masih bergulat melawan nasib, entah itu bergelantungan di bus kota sambil membawa koran-majalah atau membawa semir sepatu. Banyak di antara mereka yang bekerja di jalanan, sebagai pengamen, pedagang asongan, atau pengelap kaca mobil. Sebagian di antara mereka, diperas tenaganya untuk bekerja di tempat-tempat kerja yang kotor dan kumuh tanpa perlindungan hukum dan kesehatan, bahkan ada juga yang “bekerja” sebagai pelacur.
Setiap hari kita masih mendengar rintihan anak-anak yang disiksa dan dianiaya hingga ada yang terbunuh, baik yang dilakukan keluarganya maupun masyarakat. Anak-anak yang disekap, diculik, ditelantarkan, diperkosa, atau anak-anak yang diperdagangkan. Itulah anak-anak korban kekerasan, yang hingga kini belum mendapatkan pelayanan dan bantuan yang memadai, baik yang dari negara dan pemerintah maupun masyarakat. Permasalahan anak di Indonesia belum dapat ditangani secara serius dan komprehensif. Penanggulangan permasalahan anak menjadi termarjinalkan di tengah hiruk-pikuk persoalan politik dan hegemoni kekuasaan. Ironisnya, di satu sisi permasalahan anak dianggap sesuatu yang penting hingga membutuhkan perhatian dan kepedulian yang sungguh-sungguh, tetapi di sisi lain dalam realitasnya permasalahan anak, seperti tindakan kekerasan dan penelantaran anak masih belum dapat tertangani dengan baik. Masih terjadi kesenjangan antara harapan (das Sollen) dan kenyataan (das Sein) yang dihadapi anak Indonesia.
Sebagai generasi penerus bangsa, anak selayaknya mendapatkan hak-hak dan kebutuhan-kebutuhannya secara memadai. Sebaliknya, mereka bukanlah obyek (sasaran) tindakan kesewenang-wenangan dan perlakuan yang tidak manusiawi dari siapapun atau pihak manapun. Anak yang dinilai rentan terhadap tindak kekerasan dan penganiayaan, seharusnya dirawat, diasuh, dididik dengan sebaik-baiknya, agar mereka tumbuh serta berkembang secara sehat dan wajar. Hal ini tentu saja perlu dilakukan, agar kelak di kemudian hari tidak terjadi generasi yang hilang (the lost generation).

Nampaknya kita perlu menyadari bahwa permasalahan anak bukanlah hal yang sederhana. Penanggulangan permasalahan anak adalah sangat menuntut banyak pihak. Mereka bukan semata-mata tanggung jawab orang tua, melainkan juga menjadi tanggung jawab negara dan pemerintah serta masyarakat. Oleh karena itu, optimalisasi peran orang tua, negara dan pemerintah, serta masyarakat terutama melalui LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam upaya mensejahterakan anak perlu diupayakan. Anak-anak adalah harapan masa depan bangsa. Anak-anak Indonesia adalah anak-anak kita sendiri dan tanggung jawab kita bersama.•

Baca lebih lanjut buku Kekerasan terhadap Anak karya Dr. Abu Hurairah, M.Si. (Penerbit Nuansa, Edisi III, 2015)

kekerasan terhadap anak 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *