Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Kesenjangan NU

Kesenjangan NU

Oleh Khofifah Indar Parawansa

Dinamika Nahdlatul Ulama (NU) telah berhasil melewati berbagai perubahan zaman. Kekuatan NU sangat diperhitungkan oleh masyarakat global—sebuah makna kesejagatan ormas jam‘iyyah dîniyyah yang berdiri pada tahun 1926. Amerika Serikat, misalnya, menempatkan NU pada posisi strategis. Argumentasinya, antara lain, karena faktor kebutuhan terhadap mitra strategis global, mengingat NU merupakan jangkar strategis kekuatan Islam moderat dunia.

NU merupakan ormas Islam terbesar di dunia—dengan populasi berkisar 80 juta anggota, menurut hasil survei pemilu kepala daerah—yang memiliki pengaruh besar dalam pergaulan di dunia Islam maupun pergaulan dengan masyarakat lintas agama dunia. Sebagai daya rekat yang kuat, NU telah menjadi semacam solidarity maker bagi dunia Islam. Selain itu, NU juga merupakan representasi dari Indonesia—sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Pelbagai ikhtiar telah dilakukan para tokoh NU, ter­masuk di antaranya, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan dilanjutkan dalam dua periode kepemimpinan K.H. A. Hasyim Muzadi (1999-2009). Di tangan dua tokoh ini, posisi NU berhasil terdongkrak sebagai kekuatan Islam yang diperhitungkan masyarakat global. Sebagai kekuatan besar dan diperhitungkan, agaknya NU memiliki dua peluang yang sama-sama memungkinkan: NU menjadi sasaran intervensi dan NU mampu melakukan intervensi terhadap masalah di luar.

International Conference of Islamic Scholars (ICIS), yang diga­gas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan K.H. Hasyim Muzadi, mendapatkan perhatian luas masyarakat dunia. Perhelatan Konferensi Ulama dan Cendekiawan Muslim sedunia ini—sekaligus memposisikan beliau sebagai Sekretaris Jenderal ICIS—menjadi harapan agar dapat membantu menyelesaikan konflik yang terjadi di dunia Islam. Kegiatan yang mempertemukan intelektual Islam dari berbagai penjuru dunia ini juga diharapkan dapat meretas peta jalan baru bagi perdamaian dunia Islam.

Pertama kali digelar pada 2004, ICIS mengusung tema seputar rekonstruksi pemikiran keagamaan untuk mempererat hubungan antaragama dan antarbangsa. Setiap peserta diharapkan dapat membantu upaya perbaikan citra Islam dan kemampuan umat Islam dalam menghadapi tantangan dan persaingan global. “Kami percaya bahwa Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras mencapai kesejahteraan serta kecerdikan, termasuk dalam memberantas kemiskinan.” Itulah bunyi salah satu deklarasi dalam ICIS I yang cukup mengesankan.

Penyelenggaraan kedua, pada 2006, ICIS mengkaji isu perdamaian dan keadilan global. Sementara itu, pada penyelenggaraan ketiga pada 2008, ICIS membahas perdamaian dan penyelesaian konflik di negara-negara Islam. Forum ini mengetengahkan prinsip-prinsip dasar pengembangan dan prinsip teknis Islam moderat di dunia. Dalam forum tersebut, diidentifikasikan sejumlah konflik untuk dicarikan jalan penyelesaiannya, seperti yang terjadi di Suriah, Irak, Iran, Afganistan, Filipina, Thailand, Palestina, dan Libanon.

Pengidentifikasian secara obyektif terhadap akar masalah konflik menjadi dasar bagi usaha membantu me­nyelesaikan konflik. Paling tidak, dari orang-orang yang ahli dan memahami secara obyektif, NU memiliki dokumen penting atas konflik tersebut. Itu karena selama ini, konflik-konflik di dunia Islam tidak dipandang sesuai kenyataan. Akibatnya, usaha menghentikan semua pertikaian, baik yang bersifat internal maupun eksternal, tidak selalu berhasil, bahkan cenderung menimbulkan masalah baru.

Deklarasi ini juga memuat kesepakatan di antara negara-negara Islam untuk saling bertukar tenaga ahli, buku literatur, dan mahasiswa. Harapannya adalah memperluas cakrawala pemikiran Islam secara global dan memunculkan gerakan-gerakan untuk meredakan ketegangan di antara Islam dengan Barat yang terjadi selama ini.

ICIS yang merupakan forum ulama dan cendekiawan Muslim sedunia bentukan NU juga telah memiliki ke­anggotaan di PBB sejak 21 September 2006. Keanggotaan itu menjadikan ICIS dapat mengikuti setiap sidang umum yang digelar PBB. Itulah tonggak yang ditanamkan selama kepemimpinan K.H. Hasyim Muzadi. Isu mengenai konflik global dunia Islam dan Barat yang melahirkan radikalisme agama, disikapi dengan pelbagai langkah strategis dalam menampilkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil-‘âlamîn).

Konflik dunia Islam dan Barat telah menorehkan sejarah kelam, tidak hanya terjadi pada abad pertengahan ketika terjadi Perang Salib, tetapi hingga kini masih menyimpan “dendam”. Kedua belah pihak cenderung saling curiga dan satu sama lain menganggap sebagai ancaman. Konflik karena kecurigaan itu lebih banyak diselesaikan melalui kekerasan bersenjata. Keduanya tak mau duduk satu meja untuk berunding dengan kepala dingin dan menempuh cara-cara yang beradab. Bahkan, kekerasan bersenjata seringkali dibungkus dengan doktrin agama.

Untuk mengatasi masalah tersebut, persatuan umat Islam (ukhuwah islâmiyyah) mutlak dibutuhkan. Perdamaian dunia mustahil terwujud tanpa persatuan umat Islam. Oleh karena itu, konflik antarumat Islam harus dihentikan dan dihilangkan, bukan hanya karena menghambat perdamaian dunia, melainkan juga merugikan umat Islam sendiri. Karena negara Barat yang sering mengobok-obok umat Islam, maka umat Islam jangan terpecah-belah dan saling bertengkar satu sama lain. Sebagai sebuah catatan, dalam ICIS II pada 2006, Ahmad Omar Hasyim, mantan rektor Universitas Al-Azhar melontarkan kritik terhadap negara-negara Barat. Negara-negara Barat, menurutnya, selalu menyerukan perdamaian kepada seluruh dunia, tapi tak terbukti dalam praktik karena menerapkan standar ganda.

Terciptanya perdamaian dunia memang memerlukan sikap saling pengertian dari kedua belah pihak. Per­damaian tak akan terwujud jika salah satu pihak tetap menaruh curiga dan menebar kekerasan yang kemudian dibalas dengan kekerasan. Meski mendamaikan Barat dan Timur tak semudah membalikkan telapak tangan, namun penyelenggaraan forum internasional seperti ini merupakan salah satu ikhtiar untuk menjembatani konflik atau kebekuan di antara keduanya.

Radikalisme yang terjadi, baik di tingkat lokal maupun global, tidak hanya bersifat secara fisik, tetapi juga bersifat pemikiran. Dalam pandangan Kiai Hasyim Muzadi, kerusakan yang ditimbulkan oleh radikalisme secara fisik lebih kecil nilainya dibandingkan dengan radikalisme lainnya. Bayangkan kerusakan yang harus diterima ma­syarakat ketika ada sekelompok orang yang melakukan pembongkaran paradigma agama, lalu bandingkan dengan sebuah radikalisme yang hanya memecahkan kaca. Namun, kedua radikalisme ini mestinya memang tak boleh hidup.

Program internasionalisasi ajaran Islam Ahlussunnah Wal­jamaah (Aswaja) NU semestinya tetap dilanjutkan pada masa-masa mendatang. Internasionalisasi NU merupakan upaya konkret melepas kesan negatif terhadap Islam. Islam di dunia internasional masih sering dipahami sebagai teroris, sehingga perlu ikhtiar dialog yang intens agar tak terjadi salah tafsir.[]

Baca lebih lengkap dalam buku NU, Perempuan, Indonesia: Sudut Pandang Islam Tradisional karya Khofifah Indar Parawansa (Penerbit Nuansa, 2015)

nu perempuan indonesia 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *