Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Keutamaan Tobat

Keutamaan Tobat

 

Oleh Muhammad Syafii Atsmari

Tobat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar didapat kembali kepada-Nya. Itu karena Islam tidak memandang manusia seperti malaikat yang tidak pernah berbuat salah dan dosa, sebagaimana Islam tidak juga membiarkan manusia berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah, betapapun besarnya dosa yang telah diperbuat manusia. Nabi Muhammad Saw me­negaskan hal ini dalam sabdanya, “Se­tiap anak Adam pernah berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertobat.”

Kita, entah disadari ataupun tidak, pastilah pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri, keluarga, ke­rabat, tetangga, dan bahkan kepada Allah. Namun, dengan segala rahmat-Nya, Allah selalu memberikan jalan kembali untuk kita, dan menyiapkan ampunan dan rahmat-Nya, agar kita bisa kembali ke jalan yang benar. Allah selalu menyeru kita agar kita segera bertobat setiap kali kita menyadari kesalahan dan dosa kita. Dia berfirman, Dan bersegeralah ka­mu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Qs âli ‘Imrân: 133).

Tobat kita kepada Allah tidak membuat kita terhina di hadapan-Nya. Sebaliknya, seperti tampak pada ayat di atas, tobat kita membuat Allah senang dan ridha, sehingga karenanya Dia memberikan balasan yang amat besar, yaitu surga seluas langit dan bumi. Kalau boleh diibaratkan, barangkali seperti orangtua yang mendapati lagi anaknya yang telah hilang sekian lama, sungguh tak terhingga kebahagiaannya. Bahkan kebahagiaan Allah atas hamba-Nya yang bertobat lebih dari itu. Nabi Muhammad Saw sendiri berusaha menggambarkan ke­bahagiaan Allah atas pertobatan ham­­ba-Nya. Beliau mengatakan bah­wa ada orang yang menempuh per­jalanan jauh di padang pasir sambil menuntun seekor unta yang membawa seluruh bekal perjalanannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, dia kelelahan dan beristirahat dengan berteduh di bawah sebatang pohon hingga kemudian tertidur. Ketika terbangun, ia mendapati untanya telah hilang. Lalu ia mencarinya ke mana-mana tetapi tidak berhasil menemukannya. Ia pun menjadi sangat cemas dan membayangkan bahwa kematian akan segera menjemputnya karena semua bekal yang ia butuh­kan dalam perjalanan itu ada bersama untanya. Namun, setelah ia mencarinya dengan susah payah dan hampir berputus asa, akhirnya unta itu kembali lagi kepadanya. Oh, betapa bahagia orang itu setelah mendapati lagi untanya, kebahagiaan yang tidak terkira. Nah, kata Nabi, Allah masih jauh lebih bahagia daripada orang itu ketika Dia mendapati hamba-Nya kembali dan bertobat kepada-Nya. Inilah firman-Nya, Sesungguhnya Al­lah menyukai orang-orang yang ber­tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri (Qs al-Baqarah: 222).

Tobat juga merupakan pondasi dari semua tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba Allah sampai mati untuk menggapai derajat kewalian, yakni menjadi kekasih Allah. Barangsiapa tidak bertobat, ia tidak punya pijakan sehingga tidak mungkin bisa melewati tahapan-tahapan berikutnya.

Karena tobat merupakan pondasi dari semua tahapan maka, tentu saja, kuat dan lemahnya tahapan-tahapan berikutnya dalam perjalanan ruhaniahnya sangat bergantung pa­da kuat dan lemahnya pondasi ter­sebut. Oleh karena itu, ulama sufi mengatakan, “Ba­rangsiapa tobatnya kuat, Allah Swt akan menjaganya dari kejelekan-kejelekan dalam amalnya, dan barangsiapa tobatnya lemah, dia akan lemah dalam menempuh tahap-tahap perjalanan ruhaniah berikutnya, sehingga ia tidak bisa melewatinya dengan baik, atau bahkan mungkin terhenti di tengah jalan.” Jadi, pondasi tobat ini harus diperkokoh terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melazimkan tobat setiap saat walaupun kita tidak merasa telah berbuat dosa. Hal ini seperti yang tersirat dalam anjuran Allah Swt kepada Nabi Saw dalam firman-Nya, Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Qs Hûd: 112).

Nabi Muhammad Saw sendiri me­mohon ampunan kepada Allah hing­ga 70 kali setiap hari, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang di­riwayat­kan dari Abu Hurairah Ra: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun dan bertobat kepada Allah setiap hari lebih dari 70 kali.” (Hr Al-Bukhari). Beliau adalah seorang nabi dan rasul yang dijamin dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa, namun beliau tidak pernah melewatkan harinya tanpa beristigfar dan bertobat kepada-Nya. Maka, bagaimana dengan kita yang tidak pernah luput dari dosa, berapa kali kita beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari?

Orang yang sungguh-sungguh ber­tobat dengan tobat nasuha, betapapun besar dosa yang telah dilakukannya, hendaklah yakin bahwa Allah akan me­nerimanya. Jika tobatnya diterima oleh Allah maka ia menjadi bebas dari dosa dan bersih lagi seperti ketika dilahirkan ibunya. Sebaliknya, orang yang bertobat kepada Allah tidak se­cara sungguh-sungguh, sehingga ia berbuat dosa lagi lalu bertobat lagi, lalu berbuat dosa lagi dan bertobat lagi, dan demikian seterusnya, ia dipandang telah mempermainkan Allah. Mengenai hal ini, Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak pernah berbuat dosa, sedangkan orang yang memohon ampun dari dosa sementara ia terus melakukan dosa, ia seperti orang yang mengolok-olok Tuhannya” (Hr Al-Bukhari).

Bukan hanya ampunan dan balas­an akhirat yang akan didapatkan oleh orang yang bertobat, bahkan di dunia ini pun, ia akan mendapatkan berbagai anugerah Allah Swt, antara lain dilapangkan dari kesempitan, dimudahkan dari kesusahan, dan limpahan rezeki. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa melazimkan is­tigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesusahan, dan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.” (Hr Abu Dawud dan Ibn Majah).

Baca lebih lengkap dalam buku Menebus Dosa Menuju Kemuliaan Hidup karya Muhammad Syafii Atsmari (Penerbit Marja, 2016)

menebus dosa 755

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *