Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

KORELASI IMAN DAN AKHLAK MULIA

KORELASI IMAN DAN AKHLAK MULIA

Oleh: Irwan Kurniawan

Jika kita merasa sebagai orang beriman, maka keimanan itu mesti berbekas. Mesti ada efek positif dari keimanan kita kepada Allah. Efek positif inilah yang akan membedakan antara orang beriman dan orang tidak beriman.

Lalu, apa saja kira-kira efek positif dari keimanan kita yang dapat kita rasakan dan juga dirasakan oleh orang-orang di sekeliling kita.

Salah satu efek positif dari keimanan adalah bergaul baik dengan orang lain. Ini merupakan salah satu perintah agama. Allah Swt berfirman, …serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia (QS al-Baqarah: 83); …bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman (QS al-Ma’idah: 54).

Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda, “Bergaul baik dengan orang lain adalah separuh keimanan, dan bersikap santun kepada mereka adalah separuh kehidupan.”

Dari sini, tampak jelas bahwa keimanan tidak bisa lepas dari akhlak mulia. Dengan kata lain, akhlak mulia merupakan buah dari keimanan. Semakin tinggi keimanan seseorang kepada Allah, semakin mulia akhlaknya. Jadi, iman dan akhlak selalu terjalin berkelindan, sehingga jika kita menginginkan generasi yang berakhlak mulia maka kita harus menempa imannya; dan sebaliknya, jika kita menginginkan generasi yang beriman maka kita harus mendidik akhlaknya.

Demikian pula, bila kita ingin membangun masyarakat yang beriman kepada Allah maka akhlak mulia adalah pondasinya. Jadi, akhlak mulia mesti dijadikan pijakan dalam pembangunan masyarakat.

Tanpa akhlak mulia, suatu masyarakat tidak akan mencapai kemajuan. Karena masyarakat yang mengabaikan akhlak mulia akan menganggap segala bentuk penyimpangan sebagai hal biasa. Antara lain, mereka akan cenderung koruptif dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi atau kelompoknya. Atau ia berbuat atau menyatakan apa pun, baik berupa ucapan maupun tulisan, semaunya sendiri tanpa mengindahkan perasaan orang.

Langkah terpenting dalam membangun akhlak mulia umat yang beriman adalah upaya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Kegiatan apa pun yang dilakukan harus diniatkan dan ditujukan untuk mencari ridha-Nya, baik dalam urusan yang kecil maupun yang besar. Termasuk dalam urusan politik. Kegiatan politik mesti ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, dalam pandangan Islam, politik harus ditujukan untuk melayani masyarakat, bukan untuk mencari kekuasaan. Bila ini tujuannya, maka kegiatan politik menjadi salah satu bentuk ibadah yang mulia.

Maka, merupakan tugas kita semua, umat Islam, khususnya para ulama dan para ustad, untuk mengajarkan dan menyebarkan akhlak mulia. Ini merupakan tugas tablig yang amat penting, terutama pada masa sekarang.

Metode tablig yang sangat efektif adalah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Sebelum menyampaikan dan mengajarkan akhlak mulia kepada orang lain, beliau sudah mempraktikkannya sendiri terlebih dahulu. Ringkasnya, kita masing-masing mesti memulai dari diri kita sendiri.

Juga, yang penting disebarkan dan diajarkan adalah sikap-sikap toleransi di antara sesama Muslim sendiri. Mesti ditanamkan sikap saling menghormati dan menghargai pendapat-pendapat yang beragam. Perbedaan merupakan sunnatullah yang tidak bisa kita tolak keberadaannya. Terlebih perbedaan di antara umat Islam dalam memahami teks-teks syariat, yang dapat memperkaya khazanah pemikiran Islami.

Tidak perlu alergi melihat orang lain berbeda dari kita. Tidak boleh memvonis sesat kepada orang lain yang memilih mazhab fikih yang berbeda dengan kita. Tak boleh mencap kafir kepada orang lain yang memiliki pemikiran keislaman yang berbeda. Janganlah menghakimi pemikiran orang lain yang lain dari pemikiran kita.

Pendek kata, kita tidak boleh merasa benar sendiri, sehingga memandang orang lain sesat semua. Kebenaran hakiki hanya Allah yang tahu. Wallâhu a’lam**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *