Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Kunci Surga yang Terbuang

Kunci Surga yang Terbuang

Oleh KH Jalaluddin Rakhmat

Pernahkah Anda melihat, di layar televisi, bayi-bayi kurus tergolek—perut kembung, mata cekung, tulang iga yang mencuat, dan batok kepala yang tampak membesar. Di samping mereka, wanita-wanita meraung, dan anak-anak yang masih hidup perlahan-lahan beringsut seperti menjemput maut. Segera setelah itu, seorang wanita kulit putih menceritakan bencana kelaparan di Ethiopia. Diperkirakan, sembilan juta orang ditimpa kelaparan kritis, ratusan orang mati setiap hari, dan diduga, sampai bulan Mei 1985, lebih dari setengah juta orang meninggal dunia.

Yang tidak diceritakan oleh reporter itu ialah kenyataan bahwa kelaparan itu terjadi di Eritrea, Tigray, dan Oromia—daerah Ethiopia yang berpenduduk Muslim. Bantuan luar negeri yang disalurkan lewat pemerintah dijual ke pasaran bebas. Usaha untuk mengirimkan bantuan langsung ke daerah bencana sering dicegat oleh pasukan-pasukan militer. Tidak jarang penduduk yang sedang mengungsi dibom di tengah jalan.

Kolonel Mengestu Haile Mariam yang Marxis memandang kelaparan di daerah Muslim sebagai hukuman karena mereka memberontak terhadap penguasa yang sah. Ketika jutaan orang Islam berebutan mencari sesuap makanan dari bantuan yang sampai, Mengestu menghabiskan dua milyar dollar untuk membeli senjata. Pada bulan September, ketika dunia meramaikan kelaparan di negerinya, ia menyelenggarakan peringatan sepuluh tahun kekuasaannya dengan segala kemegahan dan kemewahan. Lebih dari empat puluh juta dollar dihabiskan untuk membangun stadion, monumen, patung, dan podium, Mengestu sekaligus bertindak sebagai tuan rumah bagi Konferensi Puncak Organization of African Unity. Untuk menjamu tamu, sebuah kapal dikirim dari Inggris, mengangkut 500.000 botol wiski Scotch. Untuk seluruh perhelatan itu, lebih dari tiga ratus juta dollar dibuang percuma. Sebelas tahun sebelumnya, ketika Ethiopia juga dilanda kelaparan, Kaisar Haile Selassie menghabiskan tiga puluh lima juta dollar untuk pesta ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Lebih dari dua juta dollar hadiah dibagi-bagikan kepada undangan terhormat dari berbagai negara. Dan di daerah-daerah Muslim, ratusan orang mati setiap hari.

Ethiopia adalah contoh kemiskinan umat Islam di tengah-tengah ke­mewahan pemerintah yang mengurus mereka. Ia adalah juga contoh bagaimana mayoritas Muslim yang secara sistematis dimiskinkan oleh minoritas Amhara non-Muslim. Ketika kerajaan Amhara merebut daerah Oromo, Ogaden, Afarland, dan Eritrea, mereka memasukkan sistem feudal dan sewa-tanah. Para petani pemilik berubah menjadi petani penyewa. Pada masa Haile Mariam, tanah berpindah dari tangan bangsawan kepada para pejabat. Sementara itu, wajib militer dikenakan atas pemuda-pemuda Muslim di pedesaan, sehingga tanah terlantar karena kekurangan pekerja. Di daerah yang diduga sebagai pusat pemberontak, pemerintah menyerang perkebunan-perkebunan gandum.

Ethiopia adalah salah satu di antara negara-negara Afrika yang terkenal sebagai daerah sabuk kekeringan atau negara-negara Sahel. Tetapi, betulkah bahwa kekeringan adalah penyebab utama kemiskinan dan kelaparan? Marilah kita lihat negara-negara Sahel lainnya.

Negara-negera Sahel ternyata tidak semiskin seperti yang diduga orang. Pada tahun 1971, ketika kekeringan melanda negara-negara itu, ekspor meningkat, bahkan beberapa produk mencapai rekor. Pada tahun pertama terjadinya kelaparan, ekspor daging meningkat 48% dan mencapai 200 juta pon. Di samping itu, dari daerah-daerah yang ditimpa kelaparan, diekspor 56 juta pon ikan dan 32 juta pon sayur-mayur. Dari Mali dilaporkan, kenaikan produksi kacang sampai 70% dan 174.000 pon beras diekspor ke luar. Lalu, ke mana larinya hasil ekspor ini?

Moore Lapped dan Joseph Collins menjawab dalam Food First: Beyond the Myth of Scarcity:

“Kebanyakan devisa yang diperoleh dari perdagangan luar negeri ini digunakan untuk memungkinkan pejabat-pejabat pemerintah dan karyawan-karyawan kaya di kota untuk hidup dengan gaya impor—lemari es, air conditioner, gula impor, minuman alkohol, tembakau, dan sebagainya. Pada tahun 1974, kira-kira 30 persen devisa yang diperoleh Senegal ditukarkan dengan barang-barang mewah tersebut. Eskpor kacang per tahun menyumbangkan sepertiga anggaran belanja nasional Senegal—tetapi 47,2 persen anggaran itu dipakai untuk membayar gaji birokrat-birokrat pemerintah. Antara tahun 1961 dan musim kekeringan terberat, 1971, Niger, negara yang terkenal karena kekurangan gizi dan life expectancy hanya 38 tahun, mengekspor produksi kapas empat kali lipat dan kacang tiga kali lipat. Kedua jenis ekspor ini pada tahun 1971 menghasilkan kira-kira 18 juta dollar. Tetapi 20 juta dollar devisa ini digunakan untuk mengimpor pakaian, lebih dari sembilan kali jumlah yang diperoleh dari mengekspor kapas. Lebih dari satu juta dollar dipakai untuk membeli kendaraan pribadi dan lebih dari empat juta dollar untuk bensin dan ban. Dalam tempo tiga tahun, 1967-1970, jumlah kendaraan pribadi bertambah 50 persen, kebanyakan dimiliki oleh segelintir kaum elit di ibukota. Lebih dari sejuta dollar dipakai untuk mengimpor minuman alkohol dan rokok. Ketika kami berkunjung ke ibukota, Niamey, kami mengetahui bahwa kaum elit berbelanja ke supermarket di Paris, termasuk membeli es krim beku dari toko di Champs-Elysees.”

Negara-negara Sahel mungkin terlalu jauh bagi kita. Bagaimana dengan Pakistan dan Bangladesh—dua negara Muslim yang dekat dengan kita? Suasana Karachi yang diceritakan Dr. Kaukab Siddique mungkin mencerminkan Pakistan,

“Kebanyakan penduduk miskin Karachi telah dipindahkan dari daerah orang-orang kaya ke tempat-tempat yang jauh. Mereka tinggal berdesak-desak di perkampungan dan pemukiman liar tanpa keperluan hidup yang memadai. Di New Karachi, puluhan ribu penduduk tinggal dalam kondisi yang tidak layak dialami manusia. Gubuk-gubuk mereka setengah terbuka; selokan mampat di pintu rumah mereka; makanan mereka—di samping tidak menentu dan tidak teratur—tidak mengandung gizi yang baik. Anak-anak umumnya tumbuh besar dengan penyakit gondok. Malaria masih mewabah di Pakistan. Apa yang ada di kota ini tidaklah khas. Banyak lagi kota seperti itu di sekitar Karachi. Di sini, air minum menjadi masalah sehari-hari sehingga wanita harus berjalan jauh dan antre berjam-jam untuk memperoleh seember air atau terkadang kembali dengan tangan hampa. Salah satu perkampungan seperti itu berhadapan secara kontras dengan Kompleks Perumahan Militer, salah satu daerah elit di Karachi, tempat para pensiunan perwira Angkatan Bersenjata membangun istana-istana mereka. Masjid yang sangat indah pun dibangun di sana. Di sini, tukang-tukang kebun menyiram kebun yang besar-besar dan memelihara kolam-kolam yang bersih buat angsa-angsa peliharaan, sementara di seberang sana, tidak jauh dari situ, orang antre setiap pagi di jamban-jamban umum dengan ember-ember mereka.”

Di Pakistan, 90% penduduk tinggal di pedesaan sebagai petani. Kebanyakan di antara mereka adalah petani penggarap, yang dikontrol oleh birokrat, tuan-tuan tanah, prajurit-prajurit, dan goonda (tukang-tukang pukul yang siap menghantam petani miskin yang protes atau menyelundupkan makanan lewat perbatasan). Penderitaan di pedesaan membawa mereka ke kota-kota besar, untuk mencari kerja atau menghindari kekejaman polisi dan tagihan. “In the cities,” kata Kaukab Siddique, “they gradually came from the rootless lumpen-proletariat, the semi-civilized who have left the family system behind in the villages.”

Kontras sekali dengan keadaan ini—lapor Kaukab Siddique—ialah ber­kembangnya organisasi militer yang gemuk, yang sama sekali tidak ter­pengaruh oleh kemiskinan massa. Pada tahun 1978-1979, Anggaran Belanja Negara berjumlah kira-kira $ 1.160 juta, hampir setengahnya digunakan untuk “pertahanan.” Pada zaman Bhutto anggaran pertahanan itu bahkan sampai sekitar 60% dari seluruh anggaran belanja nasional. Akibatnya, seperti dilukiskan dengan kata-kata tepat dari Siddique, “the military has a life style of its own and is like a higher caste living in a nation of ‘untouchables’,” (Kaum militer memiliki gaya hidupnya sendiri, bagaikan suatu kasta lebih tinggi yang hidup dalam suatu bangsa yang didiami oleh ‘orang-orang najis’).

Tetangga kita, Bangladesh, adalah negara miskin dengan penduduk yang berjubel. Beberapa kali bencana kelaparan dilaporkan dari negeri itu. Apakah kemiskinan di sana terjadi karena negaranya kecil dan tidak subur, sehingga tidak mampu memberi makanan kepada penghuninya? Pada tahun 1976, sebuah misi yang dikirimkan oleh Kongres Amerika ke Asia dan Timur Tengah melaporkan: “Bangladesh adalah negeri yang cukup kaya dengan tanah subur, air, tenaga kerja, dan gas alam untuk pupuk—tidak hanya sanggup swasembada dalam pangan, tetapi juga sanggup mengekspornya, walaupun dengan perkembangan penduduk yang pesat.” Memang, produksi gandumnya saja sanggup memberi setiap warga Bangladesh, paling sedikit, 2.600 kalori setiap hari. Anehnya, lebih dari setengah penduduk Bangladesh setiap hari mengonsumsi makanan kurang dari 1500 kalori, tingkat hidup yang minimal. Dua pertiga penduduk menderita kekurangan protein dan vitamin.

Apa yang terjadi? Menurut laporan AID tahun 1977, 90% tanah di Bangladesh dikerjakan, seluruhnya atau sebagian, oleh buruh tani. Pemilik tanah biasanya tidak ada di desa. Mereka tinggal di kota atau di luar negeri—“…perhaps a military officer or petty government officials” (… mungkin seorang perwira militer atau pegawai-pegawai rendahan pemerintah). Pada musim panen, petani menjual hasil panen dengan harga yang murah dan dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak cukup lagi bekal buat mereka sampai panen berikutnya. Karena ingin hidup mewah? Bukan! Tetapi mereka harus membayar utang kepada para pemilik tanah. Pada musim kering, harga pangan meningkat sampai dua atau lima kali lipat. Pada tahun 1974, ketika Bangladesh ditimpa kelaparan, diperkirakan ditimbun lebih dari empat juta ton beras karena kebanyakan rakyat tidak sanggup membelinya. Sementara itu, pemilik tanah yang kaya berbaris sepanjang malam di kantor agrarian untuk membeli tanah yang dijual petani-petani kecil yang kelaparan sebagai upaya mereka yang terakhir.

Pindah saja ke negara miskin lainnya—baik yang berpenduduk Muslim atau bukan. Kita akan tetap menemukan cerita yang hampir sama. Menurut Profesor Roger Revelle dari Harvard, dunia ini masih sanggup memberi makan 40 sampai 50 milyar penduduk bumi. Allah tidak miskin untuk menjamin makan penduduk walaupun jumlahnya sepuluh kali lebih banyak daripada yang hidup sekarang ini. Tetapi kelaparan terjadi justru di tempat-tempat yang memproduksi pangan dalam jumlah yang lebih dari cukup. Kelaparan terjadi di berbagai tempat yang disebut sebagai “gudang pangan.” Kita tidak kekurangan pangan, begitu kata Lappé dan Collins setelah menjelajah daerah-daerah kelaparan. Kelangkaan pangan itu mitos—cerita yang dibesar-besarkan oleh pers Barat. Overpopulation (kelebihan penduduk) juga mitos, karena, alih-alih sebagai penyebab bencana, kelebihan penduduk adalah kekayaan yang berharga.

Bagaimana mungkin penduduk bumi mati? Apa penyebab sebenarnya dari kelaparan di dunia sekarang ini? Dua pertanyaan yang kemudian menjadi judul buku Susan George, How the Other Half Dies: The Real Reason for World Hunger. Kelaparan tidak ada hubungannya dengan kelebihan penduduk, kata Susan George. Karena kelaparan terjadi di Bolivia dengan kepadatan penduduk 5 orang per kilometer persegi, di India dengan kepadatan 172 orang, tetapi tidak terjadi di Belanda dengan kepadatan 326 orang per kilometer persegi. Seperti Lappé dan Collins, George berpendapat bahwa penyebab utama kemiskinan adalah ketimpangan sosial dan ekonomi—karena adanya sekelompok kecil orang-orang elit yang hidup mewah di atas penderitaan banyak orang. Lappé dan Collins meninjau lebih banyak pada elit di dalam negeri dan George memandang lebih besar pada peranan negara-negara maju yang menciptakan kebergantungan negara-negara berkembang dan mengeruk keuntungan lewat kolaborasi dengan elit lokal.

Seperti mengeluh, George menulis, “Pengamatan yang cermat atas situasi yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwa hanya si miskinlah—di mana pun mereka berada—yang menderita kelaparan, dan bahwa pola ketidakadilan dan pengisapan yang berakar dalam, baik yang tumbuh di dalam maupun yang diimpor dari luar negeri, merintangi orang miskin untuk mencukupi kebutuhan pangannya.”

Rudolf H. Strahm, ahli ekonomi Swiss, dengan menggunakan diagram dan gambar-gambar, menunjukkan pola-pola pengisapan (eksploitasi) yang dilakukan oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang, dan kelompok elit di negara-negara berkembang terhadap penduduknya. Strahm menyebutnya sebagai penindasan Zentrum (pusat) pada Peripherie (Pinggiran). Dalam kata pengantar untuk Uberentwickelung Unterentwickelung, Strahm menulis, “Keterbelakangan bukan hanya kemis­kinan material, tetapi jurang antara kelas-kelas sosial.” Pembangunan yang terjadi sekarang kebanyakan hanya pembangunan keterbelakangan, pengembangan kemis­kinan, “Entwickelung der Unterentwickelung.” Solidaritas diperlukan bukan hanya dari negara-negara maju kepada negera-negara berkembang, tetapi juga diperlukan di antara penduduk di negara-negara berkembang itu sendiri.

“Solidaritat”—kesetiakawanan sosial—inilah yang ingin dibangkitkan oleh Dr. Nabil Subhi ath-Thawil, lewat buku yang Anda baca ini. Ia melihat umat Islam telah keliru mengartikan ibadah dan membatasinya pada ibadah-ibadah ritual. Betapa banyaknya umat Islam yang sibuk dengan ibadah mahdhah tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyaknya orang kaya Islam yang dengan khusyuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Atau betapa mudahnya jutaan—bahkan miliaran—uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak tidak dapat melanjutkan sekolah, ribuan orangtua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi, ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit, dan bahkan di saat ribuan umat Islam terpaksa menjual iman dan keyakinannya kepada tangan-tangan Nasrani yang “penuh kasih.”

Untuk keperluan itu, kami ketengahkan pengkajian ini tentang kaum Muslim yang diliputi kemiskinan dan nestapa yang mereka alami serta dimensi-dimensinya secara vertikal dan horizontal, dan di bidang geografis dan kependudukan serta implikasi-implikasi dan dampak-dampak buruknya. Dengan harapan agar penyajian yang dilengkapi dengan berbagai data statistik atau tabel penjelas ini mampu memberikan gambaran yang menyedihkan—bahkan memalukan—membangkitkan perhatian yang seharusnya, mendorong upaya-upaya yang serius serta mengingatkan “tubuh” yang satu ini, bahwa banyak dari anggota-anggotanya kini sedang menderita sakit, sehingga sudah selayaknya anggota-anggota tubuh lainnya menunjukkan simpatinya dengan berjaga semalaman dan menanggung panas demamnya. Agar kaum Mukmi menjadi contoh tentang eratnya jalinan kecintaan, kasih-sayang, dan kesetiakawanan antara sesama mereka, sebagaimana telah dilukiskan oleh Rasulullah Saw, “Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal jalinan kasih-sayang, kecintaan dan kesetiakawanan, sama seperti satu tubuh, yang bila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh anggota lainnya menunjukkan simpatinya dengan berjaga semalaman dan menanggung panas karena demam” (Hr Bukhârî dan Muslim).

Kesetiakawanan dan cinta kasih inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dan sahabat-sahabatnya, seperti yang dikisahkan oleh seorang sahabat Nabi Saw, “Suatu hari kami berkumpul bersama Nabi Saw menjelang siang hari. Tiba-tiba datanglah rombongan orang yang berpakaian hampir telanjang dan compang-camping, sambil bertelekan pada pedang-pedang mereka. Kebanyakan, bahkan seluruhnya, dari Bani Mudhar. Tiba-tiba wajah Nabi berubah melihat penderitaan mereka. Beliau masuk (ke hujrahnya) kemudian keluar dan menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan. Setelah selesai mengerjakan shalat, Rasul yang mulia berkhutbah. Beliau membacakan beberapa ayat. Di antaranya: Wahai manusia, takutlah kalian kepada Tuhan Pemeliharamu, yang menciptakan kamu dari diri yang satu … ‘sampai akhir ayat itu’ (surah an-Nisâ’); Dan hendaklah setiap orang mempersiapkan bekalnya untuk masa depannya … (surah al-Hasyr). Beliau menganjurkan agar setiap orang mengeluarkan sedekah­nya—sandang atau pangan. Berbondong-bondong­lah para sahabat menyumbangkan apa yang mereka punyai, bahkan ada seorang Anshar memikul satu kantung yang begitu berat sehingga tangannya hampir tidak dapat membawanya. Aku lihat dua tumpuk makanan dan pakaian dan aku melihat wajah Rasulullah Saw bersinar-sinar karena kegembiraan. Setelah itu Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang memulai kebiasaan yang baik dalam Islam, baginya ganjaran dan ganjaran orang yang mengikuti kebiasaan baik itu sesudahnya. Barangsiapa memulai kebiasaan yang jelek dalam Islam, baginya dosa (karena memulai kebiasaan jelek itu) dan dosa orang yang melanjutkan kebiasaan jelek itu sesudahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (Tafsir Ibn Katsir 4: 342).

Dalam peristiwa ini, kebiasaan yang baik, sunnah hasanah itu adalah menggerakkan umat Islam untuk bersama-sama membantu meringankan penderitaan sesama Muslim; dan kebiasaan yang, sunnah sayyi’ah, ialah membiasakan bersikap acuh tak acuh kepada penderitaan orang lain. Dengan demikian, sunnah hasanah ialah memandang kemiskinan sebagai masalah sosial yang pemecahannya harus dilakukan lewat aksi sosial, dan sunnah sayyi’ah ialah memperlakukan kemiskinan sebagai masalah individu yang harus diselesaikan sendiri oleh individu-individu yang bersangkutan.

Anda menghidupkan sunnah sayyiah bila Anda berpikir bahwa orang itu miskin karena bodoh, tidak mau bekerja keras, kurang hasrat berprestasi, tidak memiliki jiwa wiraswasta, fatalistis, pasrah kepada nasib, atau barangkali juga karena dosa-dosa yang pernah mereka buat. Pada suatu pertemuan, para cendekiawan Muslim internasional, utusan dari setiap negara menyampaikan kemiskinan dan kesengsaraan saudara-saudaranya, ter­kadang dengan deraian air mata yang tak tertahankan. Mengharukan. Tetapi, sebelum pertemuan selesai, para cendekiawan menyimpulkan bahwa kemiskinan dan kesengsaraan ini bersumber dari kebodohan kaum Muslim. Lalu, dengan semangat, peserta membeberkan cacat kaum Muslim dewasa ini. Kembali, sang korban yang disalahkan! Kemiskinan menjadi masalah individual. Menurut Al-Quran, ini kecenderungan orang-orang yang menumpuk kekayaan: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (Qs 104: 1-3).

Al-Quran menyindir orang-orang yang, ketika diberi kekayaan, merasa dimuliakan oleh Allah (dengan sifat-sifat yang baik), dan ketika diberi kemiskinan, mereka mengira Allah menghinakannya. “Sekali-kali tidak demikian.” Kemudian Allah menyebutkan penyebab kemiskinan adalah kecenderungan untuk tidak memuliakan anak yatim, tidak adanya usaha bersama untuk membela orang miskin, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber daya (at-turâts) secara rakus, dan kecintaan yang berlebih-lebihan pada harta benda. Islam memandang kemiskinan sebagai akibat dari sistem sosial yang timpang, dari kekurangan solidaritas sosial, dari sunnah sayyi’ah di masyarakat.

Jadi, kalau terjadi kemiskinan yang meluas di masyarakat, siapakah yang paling bersalah? Nabi Muhammad Saw menjawab, “Sesungguhnya Allah me­wajibkan atas orang-orang kaya Muslim untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang-orang miskin. Dan tidak mengalami kesengsaraan orang-orang miskin, bila mereka lapar atau telanjang, kecuali karena perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.” (Hr Ath-Thabrânî). Sayyid Sabiq menyertakan hadis ini setelah memberikan tafsir atas ayat Al-Quran: Dan orang-orang yang pada hartanya ada hak yang tersurat, bagi yang meminta pertolongan dan yang melarat (QS 70: 24-25). Kata Sayyid Sabiq, “Inilah hak orang-orang yang memerlukan ada harta orang-orang kaya; yang ukurannya sejumlah apa yang memenuhi kebutuhan pokok mereka berupa sandang, pangan dan papan, serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya yang amat dibutuhkan oleh manusia supaya ia hidup layak sebagai manusia.” (Islâmunâ: 251).

Boleh jadi Anda berpendapat: Bukankah kewajiban kita selesai bila kita sudah mengeluarkan zakat? Pertanyaan yang sama pernah disampaikan oleh sahabat kepada Rasulullah Saw. Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada harta itu ada hak selain zakat.” Lalu beliau membaca ayat Al-Quran berikut ini: Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke timur atau ke barat, tetapi kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, al-kitab dan para nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta pertolongan, dan mereka yang ingin membebaskan dirinya dari perbudakan; mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat; memenuhi janji bila berjanji, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang takwa (Qs 2: 177). Hak inilah yang harus Anda berikan ketika ada orang meminta tolong kepada Anda buat biaya rumah sakitnya, padahal pada diri Anda ada kelebihan uang. Hak ini juga yang harus Anda sampaikan kepada siswa yang tidak akan dapat melanjutkan sekolahnya bila Anda tidak memberikan hak itu kepadanya. Hak inilah yang harus dituntut oleh orang-orang miskin dari orang-orang kaya bila mereka mengalami kesulitan hidup.

Kesulitan hidup terjadi bila kebutuhan pokok—basic needs—tidak terpenuhi. Jika ada sejumlah orang yang kelaparan dan ada segelintir orang hidup mewah, maka yang lapar boleh menuntut haknya dengan paksa. Ketika menafsirkan ayat: Jika salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah (Qs 49: 9), Ibn Hazm menyatakan bahwa orang lapar boleh menggunakan paksaan untuk meminta haknya dari orang kaya dan menyerangnya jika orang kaya itu menahan haknya. “Jika penyerang itu terbunuh, maka pembunuhnya harus membayar denda, dan jika ia berhasil membunuh orang yang diserang, yang terserang itu terkutuk dan mendapat laknat Allah karena ia tidak memenuhi hak orang lapar dan ia termasuk orang yang berbuat aniaya seperti dimaksud dalam ayat ini.” (Al-Muhallâ: 159). Nah!

Ibn Hazm mungkin agak “ekstrem.” Akan tetapi, ia berpijak pada satu asumsi bahwa kemiskinan hanya dapat diatasi dengan kesediaan orang kaya memberikan hak orang miskin yang diamanatkan Allah kepadanya: Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (Qs 57: 7); bahwa kemiskinan dan keterbelakangan adalah tanggungjawab kita bersama ditegaskan berulang kali, baik dalam Al-Quran maupun Sunnah. Marilah kita sebutkan sebagian di antaranya:

  1. Menolong dan membela yang lemah, mustadh‘afin, adalah tanda-tanda orang yang takwa (Qs 2: 197; Qs 3: 134; Qs 76: 8-9; Qs 70: 24; Qs 51: 19).
  2. Mengabaikan nasib mustadh‘afin, acuh tak acuh terhadap mereka, enggan memberikan pertolongan, akan menyebabkan ia menjadi pendusta agama dan shalatnya akan membawa kecelakaan (Qs 107); menjerumuskan ke neraka saqar (Qs 74: 42); imannya tidak ada (“Tidak beriman kepadaku yang tidur kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya”—Hr Ath-Thabrânî dan Al-Bazzâr); dan ia tidak dihitung sebagai orang Islam (“Barangsiapa tidak mau memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia tidak termasuk kelompok mereka”—Hr Al-Hâkim dan Ath-Thabrânî)
  3. Membela nasib mustadh‘afin merupakan amal utama yang mendapat pahala yang lebih besar daripada ibadah-ibadah sunnah:

“Barangsiapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang Muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji yang mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat buat manusia. Seutama-utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang beriman—melepaskan lapar, membebaskan kesulitan, atau membayarkan utang” (Sayyid Sabiq, Islâmunâ: 120; Ibn Hajar, Nashâ’ih al-‘Ibâd: 4; Hr Ath-Thabrânî).

“Orang yang bekerja keras untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah atau (aku kira ia berkata) seperti yang terus menerus shalat malam atau terus-menerus puasa.” (Hr Muslim).

“Barangsiapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya pada satu saat di siang hari atau malam hari, ia berhasil memenuhinya atau tidak berhasil, itu lebih baik baginya daripada iktikaf dua bulan.” (Hr al-Hâkim dan ath-Thabrânî).

“Barangsiapa membebaskan seorang Mukmin dari kesusa­hannya atau menolong orang yang teraniaya, Allah berikan kepadanya 73 ampunan.” (Hr Ibn Hibbân).

Tanpa harus menyebutkan nashsh-nashsh di atas pun, orang-orang yang mempelajari Islam, membuka Al-Quran dan Sunnah akan segera menemukan perhatian yang besar dari ajaran Islam terhadap problem kemiskinan dan keterbelakangan. Tidak perlu dirumuskan teologi pembebasan. Yang diperlukan umat Islam kini ialah data yang konkret bahwa kemiskinan adalah bencana sosial yang kini mengancam eksistensi umat Islam. Dan inilah yang ingin diketengahkan oleh buku ini.

Setelah menyajikan data tentang kemiskinan negara-negara Islam serta akibat-akibatnya pada kelaparan, kekurangan gizi dan berbagai penyakit yang berbahaya, Dr. Nabil Subhi ath-Thawil menulis:

Pada masa sekarang, bertebaran puluhan juta kaum Muslimin yang lapar, sakit, dan buta huruf di negara-negara yang dilanda paceklik dan kekeringan, wabah serta kemelaratan sempurna. Mereka semua adalah kaum mustadh‘afin yang terlantar, baik yang disebabkan ulah para penguasa dari bangsa mereka sendiri ataupun akibat kelicikan orang-orang dari negara asing ataupun perseroan-perseroan dan lembaga-lembaga asing yang misterius. Padahal orang-orang sengsara itu sedang menunggu uluran tangan dan pertolongan serta solidaritas dari saudara-saudara mereka sendiri. Mengapa para juru dakwah hanya sedikit sekali menyebutkan tentang keadilan sosial Islami dan tidak menonjolkannya secara kuat dalam dakwah-dakwah mereka?

Benar. Mengapa juru dakwah terlalu sibuk dalam urusan furû‘ dan me­lupa­kan masalah kemelaratan umat yang dibimbingnya? Dan, kalaupun ingat, mengapa ia melihat kemiskinan itu sebagai kesalahan penderita dan bukan memandangnya sebagai masalah sosial yang harus diselesaikan bersama? Bukankah pernah ada da’i yang melarang jamaah memberikan sedekah kepada fakir-miskin di sekitar masjid, karena sedekah itu mendidik mereka malas dan tidak mau mengubah nasibnya; tetapi da’i itu tidak menggerakkan umat untuk bersama-sama memberikan mereka lapangan pekerjaan, sehingga mereka tidak lagi malas dan nasibnya berubah.

Lewat buku ini, Dr. Nabil Subhi ath-Thawil mengetuk para da’i untuk berjalan di barisan paling depan dalam menanamkan kesetiakawanan sosial, menghimbau para hartawan untuk memberikan hak fakir-miskin yang diamanatkan oleh Allah kepada mereka, memohon para ulama mencegah kemungkaran dan kezaliman yang berupa pengisapan dan pemerasan, mendesak para penguasa supaya berdiri di samping si lemah dan membelanya dari kelaliman sistem ekonomi, dan akhirnya mendorong para pelajar dan mahasiswa untuk mendalami sains dan teknologi serta membaktikannya buat kesejahteraan kaum Muslim. Dengan singkat, ia menghimbau seluruh jajaran umat untuk menunjukkan kesetiakawanan mereka kepada kaum mustadh’afin dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada mereka; ilmu, harta, kekuasaan, tenaga atau keahlian.

Membela fakir-miskin adalah melanjutkan tugas Rasul dalam “membuang beban-beban (penderitaan) dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (Qs 7: 157). Bukankah Rasulullah Saw berkata, “Kalian ditolong dan diberi rezeki karena bantuan orang-orang lemah di antara kalian” (Hr Ashhâbus-Sunan). Kepada istrinya, beliau berpesan, “Wahai ‘A’isyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka agar Allah pun akrab juga denganmu pada Hari Kiamat kelak” (Hr Al-Hâkim). Dan kepada kita semua, beliau berwasiat, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin” (Hr Ad-Dâruquthni dan Ibn Hibbân). Lewat pemaparan yang ilmiah, dengan ditunjang oleh nashsh-nashsh Al-Quran dan Sunnah serta data empiris, Dr. Nabil Subhi ath-Thawil ingin mengembalikan lagi, kepada kita, kunci surga yang terbuang. Seakan-akan ia menggemakan sajak W.S. Renda:

Orang-orang miskin;

Orang-orang di jalanan,

Yang tinggal di dalam selokan,

Yang kalah di dalam pergulatan,

Yang diledek oleh impian,

Janganlah mereka ditinggalkan.[]

Artikel ini ada di dalam buku yang akan segera terbit, Afkar Penghantar karya KH Jalaluddin Rakhmat (Penerbit Nuansa, 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *