Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Mari Melek Teori-teori Politik

Mari Melek Teori-teori Politik

Oleh Syafuan Rozi Soebhan

“Jenius adalah 1% inspirasi, dan 99% keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”—Thomas A. Edison, penemu bola lampu dan pendiri Edison Electric Light Company.

Teori-teori sosial adalah semacam perspektif ‘jendela dunia’ suatu persoalan dan perangkat bantu untuk mengerti serta bersikap tentang masa lalu, sekarang dan masa depan dari suatu kejadian sosial, politik, ekonomi dan kultural. Tantangan terbesar bagi ilmuwan sosial dan kemanusiaan adalah menguak rahasia ‘misteri teori-teori’ tersebut untuk dimanfaatkan secara terapan untuk mengarahkan suatu perubahan dan perbaikan (penyembuhan, theraupatic) keadaan. Teori sebaiknya bukanlah sekedar tempelan dalam kerangka pemikiran suatu penelitian atau paper ilmiah, melainkan juga sebagai ‘alat bantu’ analisis untuk memahami fokus permasalahan, acuan arah perubahan, peringatan dini, simplifikasi gejala yang rumit dan peramalan pola akan berulang di masa mendatang. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka kesepian.

Malangnya nasib teori yang ‘tak berkaki,’ ‘tak menginjak bumi, tak mampu pula menyentuh langit’ adalah ibarat makhluk air di danau hijau yang penuh misteri, seolah ada di dalam namun sebenarnya tiada, terkadang asing atau sebaliknya begitu dekat, kabur, biasa-biasa saja, untuk diambil manfaatnya bagi kemanusiaan dan peradaban. Atau bisa pula, gambaran teori yang tak berguna tersebut seperti benih yang ditanam kemudian mati muda, karena tak ada yang mau merawat dan membesarkannya. Nasib sebuah teori, sebaiknya, jangan biarkan ia menjadi sepi dari pencarian, perenungan, tanpa sentuhan kritik perbaikan, proses berfikir kreatif yang sungguh-sungguh. Jangan pula teori itu hanya sebatas ‘diare kata-kata.’ Banyak dikeluarkan, tapi kemudian berakibat tubuh menjadi lemas tak berdaya.

Mengelaborasi teori adalah bagian kerja pengembangan ilmu yang berada di garis terdepan (the end-frontiers, pioneer) komunitas ilmiah. Nasib teori, akan baik bila ia mengandung unsur yang rinci, sistematis dan mampu diperbandingkan. Akan lebih baik bila ia suatu yang indah, cantik rupawan pilihan katanya, potensial menyimpan milyaran energi perubahan, mampu mengungkap akar persoalan, untuk menuntun para pencari solusi. Namun, banyak pula nasib teori yang tak dikenal, tak menarik untuk dipertontonkan lewat ‘layar kaca.’ Teori itu ibarat ‘foto model belia’ yang nasibnya ‘ibarat buku tua,’ yang dibiarkan tertindih diam di bawah kepala menjadi bantal alas tidur saja. Sekedar ada, tapi tiada, tiada diperhitungkan dan tidak mampu memberi inspirasi.

Selanjutnya, teori yang jelek adalah teori yang tak menarik untuk diperdebatkan dan tidak mengundang orang untuk memberikan ulasan, sehinga ia tidak memperoleh kritik yang pantas dan proporsional. Nasibnya akan mati kesepian. Teori tanpa kontestasi (pertarungan, pengujian nalar), sungguh tak berarti untuk disebut ‘telah lahir.’

Untuk itu mari kita “mengenal Teori-teori Politik” untuk dikunyah, dibolak-balik oleh gigi dan lidah, digiling di dalam mulut, dirasakan dan dinikmati, sebelum ditelan bulat-bulat atau dimuntahkan jika ternyata kurang berkenan. Teori bukanlah sekedar tempelan atau pajangan, seperti foto pemandangan. Ia perlu dikomentari, diberi makna, dikaitkan dengan konteks data agar bisa bermakna.

Menguak Misteri: Mari Mengenal Teori Ilmu Politik!

Buku Mengenal Teori-teori Ilmu Politik ini diharapkan bisa menguak sisi kemanusian dari khasanah pemikiran ahli-ahli ilmu, dari sekian orang makhluk ciptaan Tuhan, Illahi sang Maha Cerdas, yang berakal, berperasaan dan terpanggil bekerja dengan akal dan hatinya itu, agar ilmu dikenal orang banyak yang lain untuk disayang dengan cara di-dekonstruksi atau rekonstruksi, menyembuhkan keadaan yang buruk (Theraupatic bad circumtances), memberikan peringatan dini, menuntun dan menggerakkan ke arah perubahan yang diinginkan dan tidak diinginkan. Teori tanpa pendamba ilmu, pencinta kebenaran, pegiat diskusi, ”macan-macan seminar” berarti kematian ilmu tersebut di usia muda.

Berikut ini ada pencerahan yang disarikan dalam majalah Intisari, terbitan ke sekian oleh Ary Santosa Yudha, di Bandung yang juga belum sempat membuat catatan kaki buat sumber-sumber yang dikutipnya, tanpa ada pretensi untuk mencuri. Layaknya orang dulu sering menyebutkan anonim untuk suatu yang belum diketahui dari sumber aslinya. Namun, patut terimakasih untuk edukasinya, menjebol kelangkaan hak masyarakat memperoleh informasi dan pembangunan jiwa bangsa dan kemanusiaan. Paparannya bisa membantu kita mengenal dan memanfaatkan teori. Kata kuncinya: berfikir “kreatif.”

Berpikir kreatif lewat pengasahan teori merupakan salah satu cara yang dianjurkan. Dengan cara itu seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif. Pasalnya, seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif lewat paparan teori untuk memecahkan suatu masalah. Menurut J.C. Coleman dan C.L. Hammen (1974), berpikir kreatif merupakan langkah yang menghasilkan sesuatu yang baru—dalam konsep, pengertian, penemuan, karya seni. Sedangkan D.W. Mckinnon (1962) menyatakan, selain menghasilkan sesuatu yang baru, seseorang baru bisa dikatakan berpikir secara kreatif apabila memenuhi dua persyaratan, yaitu:

Pertama, sesuatu yang dihasilkannya harus dapat memecahkan persoalan secara realistis. Misalnya, untuk mengatasi kemacetan di ibukota, bisa saja seorang walikota mempunyai gagasan teoritis untuk membuat jalan raya di bawah tanah. Memang, gagasan itu baru, tetapi untuk ukuran Indonesia yang baru dilanda krisis moneter, maka solusi itu tidak realistis. Dalam kasus itu, sang walikota belum dapat dikatakan berpikir secara kreatif, karena tanpa didukung keadaan finansial negara.

Kedua, hasil pemikirannya harus merupakan upaya mempertahankan suatu pengertian atau pengetahuan yang murni. Dengan kata lain, pemikirannya harus murni berasal dari pengetahuan atau pengertiannya sendiri, bukan jiplakan atau tiruan. Misalnya, seorang perancang busana mampu menciptakan rancangannya yang unik dan mempesona. Perancang itu dapat disebut kreatif kalau rancangan itu memang murni dari idenya, bukan mencuri karya atau gagasan orang lain.

Menurut ahli lain, Dr. Jalaludin Rakhmat (1980) untuk bisa berpikir secara kreatif, si pemikir sebaiknya berpikir analogis. Jadi, proses berpikirnya dengan cara menganalogikan sesuatu dengan hal lain yang sudah dipahami. Kalau menurut pemahaman si pemikir, kesuksesan adalah keberhasilan mencapai suatu tujuan, maka saat ia berpikir tentang kesuksesan, ciri-ciri berupa “berhasil mencapai tujuan” menjadi unsur yang dipertimbangkan. Misalnya, seseorang dikatakan sukses bila ia dengan bekerja keras telah berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan. Tanpa tujuan yang jelas sulit bagi seseorang untuk bisa sukses. Namun, karena setiap orang mempunyai tujuan berbeda, maka standar kesuksesan setiap orang pun menjadi berbeda pula.

Di samping berpikir secara analogis, untuk berpikir secara kreatif, si pemikir juga harus mengoptimalkan imajinasinya untuk mereka-reka berbagai hubungan dalam suatu masalah. Dengan ketajaman imajinasi, kita dapat melihat hubungan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Contohnya, Einstein melihat hubungan antara energi, kecepatan, dan massa suatu benda. Newton, melihat hubungan antara apel jatuh dan gaya tarik bumi. Seorang pemuda Indonesia, Baruno, melihat hubungan antara keahliannya membuat kerajinan tangan dengan enceng gondok, sandal, dan uang.

Agar mampu berpikir secara kreatif, pikiran harus dioptimalkan pada setiap tahap yang dilalui. Lima tahap pemikiran, ialah orientasi, preparasi, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.

Pada tahap orientasi masalah, si pemikir merumuskan masalah dan mengindentifikasi aspek-aspek masalah tersebut. Dalam prosesnya, si pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang tengah dipikirkan.

Pada tahap iluminasi, preparasi, pikiran harus mendapat sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah tersebut, juga disertai keluasan imajinasi dan fantasi. Berfikir terbalik-menyilang-sungsang. Kemudian informasi itu diproses secara analogis untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi. Si pemikir teori perlu benar-benar mengoptimalkan pikirannya untuk mencari pemecahan masalah melalui hubungan antara inti permasalahan, aspek masalah, informasi, dan alternatif tersedia yang dimiliki dan tidak dimiliki. Hal yang diinginkan dan tidak diinginkan. Rinci, detail, seksama, terpapar dalam pembeberan yang mendekati kelengkapan yang paling optimal.

Pada tahap inkubasi, ketika proses pemecahan masalah menemui jalan buntu, biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kita akan terus bekerja secara otomatis mencari pemecahan masalah. Proses inkubasi yang tengah berlangsung itu akan sangat tergantung pada informasi yang diserap oleh pikiran. Semakin banyak informasi, akan semakin banyak bahan yang dapat dimanfaatkan dalam proses inkubasi.

Pada proses keempat, yakni iluminasi, proses inkubasi berakhir, karena si pemikir mulai mendapatkan ilham serta serangkaian pengertian (insight) yang dianggap dapat memecahkan masalah. Pada tahap ini sebaiknya diupayakan untuk memperjelas pengertian yang muncul. Di sini daya imajinasi si pemikir akan memudahkan upaya itu.

Pada tahap terakhir, yakni verifikasi, si pemikir harus menguji dan menilai secara kritis solusi yang diajukan pada tahap iluminasi. Bila ternyata cara yang diajukan tidak dapat memecahkan masalah, si pemikir sebaiknya kembali menjalani kelima tahap itu, untuk mencari ilham baru yang lebih tepat.

Lahirnya Gagasan Gila Luar Biasa

Peneliti Coleman & Hammen (semoga kalian mendapatkan surga) pernah mengungkapkan, ada tiga faktor yang secara umum dapat ikut menunjang cara berpikir kreatif, yaitu:

Pertama, kemampuan kognitif. Seseorang harus mempunyai kecerdasan tinggi. Ia harus secara terus-menerus mengembangkan intelektualitasnya.

Kedua, sikap terbuka. Cara berpikir kreatif akan tumbuh apabila seseorang bersikap terbuka pada stimulus internal dan eksternal. Sikap terbuka dapat dikembangkan dengan memperluas minat dan wawasan.

Ketiga, sikap bebas, otonom, dan percaya diri. Berpikir secara kreatif membutuhkan kebebasan dalam berpikir dan berekspresi. Juga memerlukan kemandirian berpikir, tidak terikat pada otoritas dan konvensi sosial yang ada. Yang terpenting, ia percaya pada kemampuan dirinya.

Seseorang yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi, sering kali menghasilkan pemikiran, teori atau gagasan luar biasa, aneh, terkadang dianggap tidak rasional. Bahkan, karena keluarbiasaan itu, tidak sedikit orang kreatif dianggap “gila.” Menurut Jalaluddin Rachmat, ada kesamaan antara orang kreatif dengan orang gila, karena cara berpikirnya yang tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Sementara orang gila tidak mampu melakukannya!

Catatan Apresiasi dan Simpati: Untuk Pendamba Ilmu!

Banyak senang ditujukan untuk Saudara Efriza, Toni, Kemal, dkk. Yang sungguh-sungguh mengedit buku ini, di antara pilihan hidup dan mengelola banyak godaan semasa jadi mahasiswa. Anak-anak muda yang ulet…..dan para peminat teori yang bersemangat… Kalian, sebagian kecil young people yang langka. Terimakasih banyak untuk penerbit yang juga pandai menangkap peluang pasar. Selanjutnya terimakasih tak terhingga untuk pembaca yang memiliki waktu dan rela mengeluarkan sebagian dana untuk membaca buku ini. Walaupun daya beli bangsa kita belum bagus dibanding saudara sesama Asia seperti di Jepang, Singapura, Malaysia, atau Korea Selatan.

Unsur kreatif diperlukan dalam proses berpikir memanfaatkan teori untuk menyelesaikan masalah. Semakin kreatif seseorang, semakin banyak dipikirkan oleh banyak orang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya. Berpikir dan berteori merupakan instrumen psikis paling penting. Dengan berpikir, mengelola emosi dan sipiritualisme yang baik, manusia dapat lebih mudah mengatasi berbagai masalah dalam hidup di dunia yang sementara ini. Berbuatlah yang terbaik buat kemanusiaan, kalau ternyata kita tidak tahu atau sedikit mendekati tahu, tipis-tipis tahu bahwa kiamat ternyata akan datang dini hari atau esok pagi atau entah kapan. Tiada kata terlambat untuk menanam peradaban.

Dengan bantuan Teori, Berpikir Kreatif, Kita Pecahkan Masalah!

Gaudeamus Igitur, U venus dum sumus.

Vivat membrum que libet. Vivat membra Que libet..

Vivat Academia, Vivat professores. Vivat ‘orang awam, mahasiswa, ilmuwan dan praktisi,’

Vivat buku ‘mengenal teori politik,’ Vivat ‘Untuk Suatu yang Berguna,’

Vivat ’manusia dan kemanusiaan, agar mau Maju Bersama!’

Dari mengenal teori, lahirlah aplikasi, perubahan dan kerja yang kongkret….•

Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI

Syafuan Rozi Soebhan adalah peneliti pada P2P LIPI dan dosen IISIP Jakarta, Ilmu Sosial Dasar FMIPA UI.

Baca lebih lanjut buku Mengenal Teori-teori Politik: Dari Sistem Politik sampai Korupsi karya Toni Andrianus Pito, Efriza, dan Kemal Fasyah (Penerbit Nuansa, Cetakan III, 20016)

mengenal teori politik 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *