Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Membentuk Keluarga Pembelajar

Membentuk Keluarga Pembelajar

oleh: Siti Musdah Mulia

Keluarga adalah dasar dari kehidupan seseorang. Kalau dalam keluarga baik, di luar juga baik. Keluarga bisa menjadi surga dan neraka bagi penghuninya. Karenanya, ketenteraman dan kedamaian dalam keluarga harus dijaga supaya kita bisa membangun dan merasakan surga sejak di bumi.

Apabila kita sudah sadar bahwa keluarga adalah tempat kita belajar dan proses dalam mencetak dan menentukan karakter kita, maka kita harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk menjadi keluarga yang pembelajar.

Seperti apa keluarga pembelajar itu? Dalam Islam, ada lima prinsip dasar untuk menjadikan keluarga yang harmonis. Dan, dibutuhkan kesadaran penuh untuk mewujudkannya.

Pertama, Cinta dan Kasih Sayang. Keluarga harus diba­ngun dengan cinta kasih. Prinsipnya, untuk menumbuhkan kasih sayang, mereka harus saling mengenal. Tak kenal maka tak sayang, kata pepatah. Pengenalan dilakukan lewat intensitas kedekatan dan kepekaan. Jadi, kalau suami-istri atau orang tua dan anak kurang berinteraksi karena kesibukan masing-masing, bisa dipastikan mereka tidak akan saling mengenal. Akibatnya, suami-istri bertengkar karena perbedaan pendapat. Seorang anak akan menentang orang tuanya karena dianggap memaksakan kehendak.

Karena itu, ketika kita saling mengenal lewat intensitas pertemuan kita, saat itulah akan tumbuh kepekaan satu sama lain. Mereka akan saling percaya. Mereka akan saling mengerti. Mereka akan saling memberikan perhatian. Mereka akan saling mendukung dan bertanggung jawab. Rasa-rasa seperti itu adalah tanda-tanda hadirnya cinta dan kasih sayang. Bahkan, perbedaan akan menjadi rahmat bagi keluarga yang seperti ini.

Cinta pada hakikatnya adalah ketiadaan ego. Kita tahu, setiap kita memang mempunyai ego masing-masing yang memiliki sifat menuntut untuk dilayani. Namun, karena kita berada dalam sebuah keluarga, selayaknya ego tersebut bisa kita redam supaya tidak terjadi pertarungan ego yang mengakibatkan penindasan bagi yang kalah. Seperti halnya cinta, ego adalah ketiadaan cinta. Kalau kita membiarkan cinta yang tumbuh, ego akan mati. Seumpama cahaya, ketika terang terbit, maka gelap hilang.

Kedua, Saling Melengkapi dan Melindungi. Keluarga seperti sebuah tanah. Meskipun kita menanam bibit unggul, tidak tertutup kemungkinan tanaman kita ada hamanya, terbebas dari rumput liar, dan bersih dari duri-duri. Maksudnya adalah tak ada keluarga yang tercetak sempurna karena keluarga adalah perkumpulan dari orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda.

Maka seharusnya keluarga dijadikan sebagai tempat untuk mengenal dan menumbuhkan diri masing-masing dengan cara saling mengoptimalkan kelebihan masing-masing dan melengkapi kekurangan masing-masing.

Untuk itu, kelebihan dan kelemahan pasangan kita harus diterima dengan baik. Sebab, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini dan kita tidak akan pernah menemukan yang sempurna. Hal itu sesuai dengan prinsip alam yang berada dalam keseimbangan. Dan, melihat makna dari kata rumah tangga, sebuah tangga adalah alat untuk menanjak ke atas.

Dengan begitu, rumah tangga adalah tempat untuk berproses dalam menumbuhkan potensi kita ke arah yang lebih baik dengan segala kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Suami harus menghargai kekurangan istri dan orang tua harus menghargai kekurangan anak.

Ketiga, Berlaku Sopan. Meskipun kita hidup bersama, harus disadari bahwa kita juga punya hak sebagai individu. Karena itu, anggota keluarga harus saling menghormati hak masing-masing. Kita harus berlaku sopan dalam bersikap sebagai bentuk pengakuan terhadap hak. Suami harus sopan dalam menyikapi istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Keempat, Berlaku Adil. Banyak orang mengatakan bahwa adil bukan berarti sama, tapi kita harus melihat situasi dan konteksnya. Dalam hal ini orang tua harus jeli dalam melihat permasalahan supaya mereka mampu menakarnya dengan pas.

Kelima, Monogami. Tak ada dua cinta dalam satu hati. Tak ada yang benar-benar serius berbagi cinta. Ketika keluarga melanggar prinsip monogami, keluarga tersebut sangat rentan terhadap konflik. Tak hanya istri yang merasa sakit karena dikhianati, tapi juga anak menjadi korban.

Setiap anak mendamba orang tua yang utuh dan mengharapkan kasih sayang yang penuh. Karenanya, ketika mereka mengetahui ada yang merusak keharmonisan keluarganya, secara langsung perkembangan mental anak akan terpengaruh. Anak bisa lebih pemarah, keras, pembenci, dan sensitif karena tidak bisa menerima kenyataan dan merasa terancam dengan kehadiran orang asing. Itulah dasar pendidikan keluarga untuk menciptakan keluarga yang berkarakter. Dengan kesadaran penuh dan usaha kuat untuk menciptakannya, bibit-bibit unggul tersebut akan tumbuh subur. Akarnya akan menancap ke bumi dan dahannya menjulang ke langit sebagai gambaran insan kamil.[]

 

Baca lebih lanjut dalam buku Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A. dan Ira D. Aini, Karakter Manusia Indonesia: Butir-butir Pendidkan Karakter untuk Generasi Muda (Penerbit Nuansa, 2013)

karakter manusia Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *