Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Membuka Tabir Gunung Padang

Membuka Tabir Gunung Padang

Oleh Hermawan Aksan

Penelitian mengenai keberadaan bangunan di bawah permukaan Gunung Padang telah dilakukan oleh beberapa tim ahli. Tim dari Badan Geologi ESDM, Kemenristek, dan Tim Arkeologi Nasional sudah menyimpulkan bahwa tidak ada bangunan di bawah permukaan gunung padang. Adapun luasan Gunung Padang, menurut mereka, adalah 900 meter persegi seperti sejak ditemukan N.J. Krom.

Dalam tulisannya yang berjudul “Punden Berundak Gunung Padang, Refleksi Adaptasi Lingkungan dari Masyarakat Megalitik”, yang dipublikasikan Jurnal Sosioteknologi Volume 13, Nomor 1, April 2014, Lutfi Yondri, arkeolog yang juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran Bandung, memaparkan hasil penelitian sejumlah lembaga penelitian, termasuk Direktorat Purbakala, Puspan (sekarang bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional), Balai Arkeologi Bandung, pemerintah daerah, dan berbagai kelompok masyarakat yang mencoba menggali nilai-nilai lain yang terkandung dalam tinggalan tersebut. Lutfi menyusun tulisannya berdasarkan studi kepustakaan dan data lapangan yang diperoleh dari beberapa kali peninjauan serta hasil penelitian lapangan yang dilakukan pada November 2012 dan Februari 2013.

Lutfi membahas sejumlah hal, termasuk konstruksi punden berundak Gunung Padang, sumber material berupa batu-batu, nilai kearifan dalam konstruksi Gunung Padang, penataan balok batu di sekeliling sumber air, pola susunan balok batu penyusun tangga, serta pola susunan balok batu dinding teras yang vertikal dan melandai.

Mengenai sumber material Gunung Padang, Lutfi menulis sebagai berikut: “Berdasarkan hasil pembukaan kotak ekskavasi di teras kedua hingga teras kelima, diperoleh data bahwa setelah susunan batu yang berada pada posisi tegak dan yang telah roboh, umumnya, memiliki keadaan lapisan tanah padat dengan warna cokelat kekuning-kuningan dengan tekstur yang agak kasar. Hal ini sangat berbeda dengan pembukaan kotak ekskavasi di teras pertama. Adapun pada bukaan kotak ekskavasi teras kelima tampak hamparan balok-balok batu di bawah susunan batu teras. Balok-balok batu tersebut merupakan bagian dari columnar joint yang terhampar dengan posisi horizontal, dan orientasi hamparan timur-barat melintang orientasi keletakan punden berundak Gunung Padang. Balok-balok batu pada teras kelima memiliki bentuk yang sama dengan balok batu penyusun teras berundak Gunung Padang, yaitu bentuk prismatik dengan ukuran yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Tiap balok batu tersebut di antaranya ada yang dilapisi oleh kerak lempung hasil pelapukan dari batu inti.

Kerak lempung hasil pelapukan balok batu penyusun punden berundak Gunung Padang ini kemudian sempat menjadi polemik karena ada kelompok peneliti lain yang berkesimpulan bahwa lapisan tersebut dianggap sebagai lapisan semen purba yang digunakan oleh masyarakat pendiri situs Gunung Padang pada masa lalu. Mereka melansir semen purba tersebut telah digunakan pada bangunan yang mereka sebutkan dikubur di bawah punden berundak Gunung Padang. Bangunan tersebut mereka sebutkan berumur 23.000 SM. Hal tersebut sangat tidak logis karena temuan proses pelapukan itu berada sampai di permukaan situs Gunung Padang. Selain itu, pada era 23.000 SM, masyarakat prasejarah masih hidup dengan berburu untuk mengumpulkan makanan, serta masih menggunakan gua sebagai tempat hunian. Berdasarkan temuan hasil pembukaan kotak ekskavasi di teras-teras Gunung Padang dan kemudian membandingkan dengan hasil survei kawasan, dapat disimpulkan bahwa bahan batuan penyusun punden berundak Gunung Padang berasal dari lokasi yang sama. Bahan batuan tersebut ditambang dari balok-balok batu yang merupakan bagian dari satu columnar joint yang terdapat di bawah lapisan tanah punden. Balok-balok batu prismatik yang tampak berwarna keabu-abuan penyusun teras merupakan hasil dari penambangan pada sumbernya di lahan yang sekarang menjadi teras pertama punden berundak Gunung Padang. Balok-balok batu itu kemudian dimanfaatkan sebagai bahan untuk penyusunan tiap bagian konstruksi punden berundak Gunung Padang mulai dari tangga naik hingga teras tertinggi (teras kelima).

Proses pengangkutan balok batu dari lokasi penambangan ke tiap lokasi struktur yang akan dibangun seperti teras satu, dua, tiga, empat, lima, dan tangga yang berada tidak jauh dari sumber bahan tersebut kemungkinan dilakukan dengan teknik sederhana dengan cara mendorong, menarik, atau mengangkat satu per satu balok batu tersebut. Balok batu yang diperlukan untuk membangun punden berundak Gunung Padang itu berjumlah cukup banyak. Hal tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak. Di samping itu diperlukan pula semangat kebersamaan dan kesatupaduan masyarakat dalam semangat keagamaan (religius emotion). Selain itu, diperlukan pemimpin yang mampu menghimpun masyarakat dalam mewujudkan bangunan tersebut.”

Baca lebih lengkap dalam buku Gunung Padang:  Penelitian Situs & Temuan Menakjubkan karya Hermawan Aksan (Penerbit Nuansa, 2015)

Gunung Padang 755

One Response

  1. Jual Kavling Tanah Murah says:

    misteri juga ya gunung padang ini…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *