Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Menganyam Mimpi

Menganyam Mimpi

Oleh Fransisca Ria Susanti

Dan alangkah indah kehidupan  tanpa merangkak-rangkak  di hadapan orang lain.—Pramoedya Ananta Toer

TRI namanya. Orang tuanya menamainya demikian karena ia memang terlahir sebagai anak nomor tiga. Yang pasti, aku mengenalnya sebagai kawan sepermainan yang cantik.  Bibirnya tipis, hidungnya mancung untuk ukuran bocah Jawa, dan matanya selalu berkejap menarik. Usianya dua tahun lebih tua dariku. Rumahnya persis berada di depan rumahku.

Kami biasa main petak umpet bersama kawan-kawan sebaya di kampung, usai pulang sekolah di SD yang letaknya sekitar satu kilometer dari rumah kami. Kami juga kerap main gobak sodor, permainan paling popular di masa kecilku yang kini sama sekali nyaris tak pernah dimainkan oleh anak-anak di kampungku.

Aku tak tahu mengapa permainan ini disebut gobak sodor. Ada yang bilang istilah itu muncul dari istilah Belanda yang merujuk pada bahasa Inggris “Go Back Through the Door”. Tapi aku tak tahu persisnya. Yang pasti ini permainan yang paling digemari anak-anak di kampungku saat itu, termasuk aku dan Tri. Permainan ini biasanya dimainkan oleh dua tim yang masing-masing tim terdiri dari tiga sampai lima anak. Biasanya kami main di halaman luas rumah milik orang tua Tri atau warga kampung lainnya atau di lapangan kosong di pinggir Bengawan Solo. Kami akan membawa kapur hasil “curian” dari sekolah guna membuat garis panjang untuk kotak-kotak permainan di tanah.

Seingatku, aku dan Tri selalu berada dalam tim yang berbeda. Demikian juga dalam permainan “pal-palan” atau “bentengan”.  Yang terakhir ini biasanya kami mainkan sore hari menjelang Maghrib atau malam hari usai Isya’.

Namun tentu saja, tak semua permainan membuat ceria. Ada kalanya, salah paham, membuat anak-anak pulang dengan menangis. Bahkan menolak bertegur sapa dalam hitungan hari.  Aku dan Tri pernah mengalaminya. Aku tak ingat lagi apa yang menyebabkan kami bertengkar. Yang kuingat, aku dan dia mencari sekutu masing-masing.

Namun akhirnya perseteruan kami berakhir damai. Aku tak ingat apakah ada keterlibatan pihak ketiga dalam mendamaikan “perseteruan” kami. Yang pasti aku dan Tri kemudian menjalani “ritual” perdamaian dengan saling mengaitkan jari kelingking kami dan perang pun usai.

Aku tak tahu apakah Tri masih ingat kenangan tersebut. Namun sungguh, semua kenangan masa kanak kami mendadak berebut ruang di kepalaku saat aku mendengar kabar dari Ibuku bahwa Tri memutuskan untuk mengadu nasib sebagai PRT di Hong Kong, 25 tahun setelah aku mendapatkan hadiah coklatku di lomba menyanyi yang ia gelar di halaman rumahnya.

***

IA melambai ke arahku begitu aku keluar dari mall yang menghubungkan jalur MTR dengan kompleks perumahan yang ditinggali majikannya. Wajahnya tirus, matanya cekung. Ia nyaris menjadi sosok yang tak kukenali.

“Aku ikut kamu aja,” rajuknya begitu kami bosan berbasi-basi tentang kabar orang tua dan keluarga.

“Aku tak sanggup menggajimu.”

Underpay pun tak apa.”

“Tak bisa begitu. Aku juga tak punya tempat layak dengan kamar untukmu.”

“Aku tidur di sofa atau di dapur juga tak apa. Atau di mana sajalah, yang penting aku ikut kamu,” ungkapnya dengan suara mulai menyimpan tangis.

Kali ini aku tak lagi menjawab. Ia tampak menjadi sosok yang begitu rapuh. Ia benar-benar tak siap dengan beban pekerjaan yang dijalaninya. Sementara potongan gajinya untuk biaya penempatan selama lima bulan berturut-turut baru saja usai. Ia teringat tiga buah hatinya, juga suaminya.

“Aku nyaris tak boleh duduk di rumah majikan, makan juga dibatasi. Tidur di atas jam 1, jam 3 pagi bangun untuk ganti pispot majikan, jam 7 sudah harus mulai kerja lagi. Aku capek. Aku ndak kuat,” keluhnya.

Tri baru pertama kali kerja di luar negeri. Sebelumnya, dengan bekal ijazah SMA-nya, ia melamar kerja sebagai pegawai administrasi di sebuah pabrik tekstil di kawasan Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pabrik itu terletak di pinggir kota. Aku mengingatnya persis karena pada Maret 1996, seorang penyair rakyat kena hajar popor tentara saat bergabung dengan aksi ribuan buruh pabrik itu  tengah menuntut haknya. Aku ada di sana, menyaksikan pemukulan itu, juga saat ia diseret dan dimasukkan ke pick-up dan digelandang ke kantor polisi. Masih kuingat warna biru jaket yang ia kenakan dan teriak kesakitannya saat digelandang oleh polisi.

Akibat pukulan itu kelopak mata kanannya sobek dan retina matanya terganggu. Belasan orang lainnya, para anak muda yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik, juga ikut diciduk dalam aksi tersebut. Namun hanya penyair itu yang kena hajar hingga memar. Wiji Thukul namanya. Ia kini hilang tak berbekas. Banyak yang meyakini ia diculik oleh aparat dan tak pernah kembali. Ada yang menganggapnya telah tewas, tapi tak sedikit yang berharap bahwa ia masih selamat dan bakal kembali, suatu saat nanti.

Namun Tri, pegawai administrasi dari pabrik yang se­bagian sahamnya disebut-sebut dimiliki oleh mantan Menteri Penerangan Harmoko itu, tak pernah tahu hiruk-pikuk itu. Saat peristiwa itu terjadi, Tri sudah berada di kampung halaman. Menimang anak pertamanya, buah cintanya dengan seorang lelaki kawan sekampung yang menikahinya pada tahun 1993.

Aku tak tahu apakah Tri benar-benar mencintai lelaki itu. Karena bertahun-tahun setelah itu, setelah lelaki itu memberinya tiga anak dan nasib membawanya pergi ke Hong Kong sebagai PRT, ia masih menyebut nama kakakku dengan harap. Tri memang pernah dekat dengan kakakku, meski aku tak tahu apakah kedekatan itu sungguh atau hanya romansa platonik. Tapi yang pasti, ia pernah mengatakan nyaris menjadi kakak iparku.

Namun hidup pada akhirnya adalah sebuah pilihan. Tri memutuskan menerima pinangan lelaki itu, dua tahun sebelum pernikahan kakakku. Lelaki itu kemudian memberinya tiga anak. Dua bocah perempuan dan seorang bocah lelaki yang memanggilnya mama.

Akhir 1990-an dan awal 2000-an, saat libur atau cuti panjang membawaku pulang ke kampung halaman, aku kerap memergokinya duduk mencangkung di kursi kayu depan rumah orang tuanya. Dengan bayi di gendongan dan dua bocah di sisinya. Ia tampak kuyu dan lelah. Tak semuda dan selincah dulu.  Hingga kemudian kudengar kabar burung tentang suaminya yang tak lagi bekerja dan kerap ringan tangan.

Ketika kabar itu kutanyakan padanya bertahun-tahun kemudian, ia mengangguk pelan. “Sampe bosen aku ngalaminnya,” ujarnya.

Lalu ia pun memutuskan pergi. Menghindar dari bulan-bulanan suaminya dan mencoba menganyam masa depan anak-anaknya.

Saat duduk terpekur di flat yang kutinggali di Hong Kong, mendaras duka yang ia miliki, aku memberanikan diri bertanya tentang mimpi masa kecilnya, tentang sesuatu yang ingin ia raih sebelum hidup membawanya ke jalur yang lain. “Aku ingin menjadi orang kaya,” ujarnya singkat.

***

MENJADI kaya nyaris menjadi “cita-cita” setiap perempuan yang merantau ke Hong Kong sebagai buruh migran.  Mereka capek menjadi miskin. Mereka capek harus terus-menerus mengalah soal kesempatan sekolah dengan saudara laki-laki. Mereka capek menerima surat penolakan lamaran kerja karena ijazah sekolah yang rendah. Mereka capek harus kerja di pabrik yang gajinya hanya cukup untuk makan. Mereka capek harus antre panjang di puskesmas ketika anak sakit karena gaji suami tak cukup untuk membawanya periksa ke dokter pribadi.

Soeng, perempuan rantau kelahiran Banyuwangi, adalah cerita lain tentang “mimpi” itu. Ia dilahirkan pada bulan Desember tahun 1983, hari Selasa Pahing menurut penanggalan Jawa. Itulah yang membuat orangtuanya memberinya nama Soeng, akronim dari Selasa Pahing.

Namun tak lama ia memakai nama itu. Kedua kakaknya protes karena nama Soeng kerap jadi bahan olok-olok di sekolah. Mereka malu punya adik dengan nama aneh. Jadilah, orang tuanya berembug untuk mencari nama baru sebagai pengganti. Lalu Soeng pun berganti nama menjadi Sri Ningsih. Sebuah nama yang umum dipakai di kampungnya. Tapi, menurut kedua kakaknya, nama itu jauh lebih baik dibanding nama Soeng.

Ia sendiri sebenarnya tak terlalu peduli dengan namanya. Perubahan nama dari Soeng ke Sri pun tak mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Ia selalu menjadi bulan-bulanan kedua kakaknya. Kakak perempuannya yang usianya terpaut 8 tahun darinya malah pernah sengaja membakar kakinya, hanya gara-gara Sri menolak membesarkan api di luweng  dapur (perapian yang terbuat dari tanah liat).

“Ia menumpahkan minyak tanah ke atas paha kananku, persis di depan luweng yang apinya tengah menyala kecil,” kisah Sri. Kontan api melalap cepat dan Sri pun dilarikan ke rumah seorang mantri kampung. Luka bakar tersebut membekas hingga sekarang. Saat itu, kakaknya menolak minta maaf. Orang tuanya pun terkesan tak peduli, juga ketika kakaknya mematahkan salah satu ruas jarinya dan membuang sepatunya ke sungai serta mengobrak-abrik buku sekolahnya.

Pernah melintas prasangka di benaknya tentang tak adilnya kasih sayang yang diberikan orang tuanya kepada dia dan dua kakaknya. Ia sempat mengaitkan pemberian nama Soeng, sebuah nama yang begitu ringkas dan jadi bahan olok-olok itu, karena ia tak lahir dari rahim ibu yang kini merawatnya. Tapi toh ia tak bisa membuktikan dugaannya.

Yang pasti, dengan nama Sri Ningsih itu pula, ia membuat paspor agar bisa pergi dari tanah Jawa, ke negeri asing yang tak pernah dikenalnya. Ia memutuskan pergi ke Brunai sebagai babu. Apa lagi? Ia tak punya pilihan. Ijazah SD saja tak ada di tangan. Ia tak bisa berharap punya pekerjaan yang lebih baik.

Sebenarnya ia pernah punya mimpi untuk menyelesaikan sekolahnya. Namun sial, ia perempuan. Dan sekolah, di mata orang tuanya yang berpenghasilan pas-pasan sebagai buruh tani, adalah kemewahan yang disediakan untuk laki-laki.

Kakaknya, lelaki sulung dalam keluarga tersebut, adalah “pemenang” dari mimpi Soeng. Sang kakak, dengan restu ibu dan bapaknya, melenggang ke sekolah. Memperoleh sedikit “kebebasan” untuk tak berurusan dengan kerja ladang. Dan Sri, sebagai gantinya, terpaksa mengambil alih urusan ladang semangka yang biasa dikerjakan kakak lelakinya, dari mengolah lahan, mencangkul, hingga memikul berliter-liter air untuk me­numbuhkan semangka.

Saat itu, ia sama sekali belum remaja. Ia memutuskan keluar dari sekolahnya, setahun sebelum kelas 6 SD. Keputusan orang tuanya bahwa ia tak bakal disekolahkan setelah SD, membuatnya keluar tanpa berniat menunggu ijazah. Orang tuanya selalu bilang bahwa sekolah itu haknya anak lelaki. Sementara anak perempuan hanya perlu mengurus rumah karena toh sebentar lagi akan ada yang melamar.

Yang ia tak habis pikir, orang tuanya mengatakan hal ini saat SD pun belum ia selesaikan. Ia merasa tak punya harapan dan memutuskan keluar sebelum sempat mendapatkan ijazah di tangan. Toh, kalaupun ia menyelesaikan SD, ia tak mungkin melanjutkan ke sekolah lebih tinggi. Selain karena miskin, juga karena orang tuanya tak pernah setuju seorang perempuan mencecap bangku sekolah tinggi. Terlalu banyak uang yang bakal dikeluarkan dan tak ada gunanya, begitu selalu mereka bilang. Tapi nyatanya, saat bapaknya menumpuk utang pada juragan semangka yang meminjami bibit, ia juga yang mesti turun tangan untuk menyelamatkan ayahnya. Kedua kakaknya tak terdengar kabarnya.

Demi melunasi utang ayahnya inilah, Sri memutuskan pergi ke Brunai sebagai babu. Setidaknya jadi babu di negeri orang tak dibayar rupiah dan tangan dan kakinya tak perlu remuk karena bertani semangka.

Di Brunai, ia mengumpulkan dinar untuk bisa dikirim pulang. Tapi tak lama. Hanya dua tahun. Satu kali kontrak kerja. Orang tuanya memintanya pulang. Tak jelas alasan ia disuruh pulang. Namun yang pasti ia tak bisa menolak, meski tak suka.

Di rumah, ia jatuh cinta pada Alfandi, seorang bocah lelaki yang usianya belum genap setahun. Ia memungutnya sebagai anak setelah ibu bocah itu, seorang dari kerabat jauh, pergi entah ke mana.  Saat itu, usia Sri belum genap 17 tahun. Tapi menjadi ibu dari bocah yang disingkirkan ayah ibunya, sama sekali tak membuatnya gamang.

Namun kebahagiaannya dengan Alfandi tak berlangsung lama, saat kedua orang tuanya mendadak mengambil keputusan bahwa ia mesti menikah dengan Suwardji, seorang lelaki tetangga desa yang usianya tujuh tahun lebih tua.

Sri sama sekali tak tahu proses lamaran yang dilakukan lelaki tersebut. Ia hanya mengingat bahwa saat lelaki itu datang ke rumahnya didampingi ibu dan kerabat dekatnya, ia tengah berada di kota bersama kawan-kawannya, melepas kangen setelah lama tak jumpa pasca kepergiannya ke Brunai.

Sepulang dari kota itulah, ia mendengar kabar bahwa ia telah dilamar. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan. Semua keputusan itu diambil, tanpa melibatkan dirinya. Perjodohan itu sendiri terjadi karena sebuah kebetulan yang kemudian menempatkannya menjadi tumbal.

Awalnya, pamannya (adik ayahnya) berniat menjodohkan anak gadisnya dengan lelaki tersebut. Tapi ternyata lelaki itu menolak pilihan tersebut. Laki-laki itu justru memilih dirinya  yang dijumpai sekilas saat berkunjung ke rumah pamannya. Karena pihak orang tua sudah telanjur setuju bahwa pernikahan mesti dilakukan, jadilah sang paman meminta ayahnya untuk memaksanya agar mau diperistri Suwardji.

Sri tidak mencintai lelaki tersebut, tapi ia tak bisa berkata tidak. Ia khawatir penolakannya akan membuatnya semakin jauh dari orang tuanya yang selama ini sudah terkesan hanya mencurahkan kasih sayang dan perhatian pada kedua kakaknya.  Dengan berat hati, ia menerima lamaran tersebut. Sebuah keputusan yang langsung menempatkannya pada derita tanpa akhir.

Awalnya, lelaki itu tinggal bersamanya di rumah orang tuanya. Pekerjaannya tak jelas. Jadi buruh mebel kata orang.  Tapi yang pasti ia kerap pulang dalam keadaan mabuk. Sri mengingat bahwa lelaki yang menjadi suaminya itu tak suka dengan Alfandi. Setiap kali Alfandi rewel atau menangis, laki-laki itu selalu berteriak dan menyuruhnya untuk cepat mendiamkan bocah mungil tersebut.

Namun perangai lelaki itu semakin buruk, saat Sri menolak diajak ke Sumatera. Suwardji menganggap penolakan itu me­nyinggung harga dirinya. Sementara ia merasa tak sanggup menghadapi perangai kasar suaminya jika ia jauh dari ayah dan ibunya.

Pasca penolakan tersebut, Suwardji tak hanya berteriak kepadanya setiap kali melihat hal yang tak menyenangkannya, tapi lelaki itu juga mulai ringan mengangkat tangannya guna menampar wajahnya. Terkadang lelaki itu juga tak segan untuk melayangkan kaki ke perut atau punggungnya hanya karena suaranya dianggap terlalu keras.

Peringai buruk suaminya membuat upaya Sri untuk belajar mencintai laki-laki tersebut sama sekali tak berbuah. Proses justru membuatnya membenci laki-laki itu. Segala cara ia coba agar benih lelaki itu tak tumbuh di rahimnya, salah satunya dengan memasang alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan suami dan orang tuanya.

Namun nasib baik ternyata tak berpihak padanya. Alat kontrasepsi, kemudian ia tahu, terpasang tak sempurna. Benih suaminya pun tersemai menjadi janin di rahimnya. Dalam kondisi seperti itu, Sri terkadang berharap bahwa perangai suaminya bakal berubah. Tapi sayang, harapannya sia-sia. Tamparan dan tendangan justru semakin sering dilayangkan oleh sang suami padanya.

Alih-alih menangis dan mengadu kepada orang tuanya, Sri menyimpan deritanya untuk dirinya sendiri. Kalaupun ada orang yang menjadi tempatnya mengadu, itu adalah ibu dan nenek mertuanya. Ia berharap pengaduannya itu bisa mengubah perangai suaminya karena toh mereka adalah ibu kandung dan nenek langsung dari lelaki itu. Tapi bukannya meminta Suwardji berubah, ibu dan nenek lelaki tersebut justru membujuknya untuk bersabar. Kesabaran seorang perempuan, menurut mereka, lambat laun akan mengubah kelakuan kasar seorang lelaki.

Sri tak berkutik. Ia hanya merasakan seluruh harapannya pupus. Kebencian kepada suaminya semakin bertambah, saat suatu hari seorang perempuan datang ke rumah. Ia mengaku sebagai istri sah Suwardji yang dinikahi di Ternate. Suwardji sendiri mengakui hal itu setelah ia desak berkali-kali. Hanya saja, pasca kedatangan perempuan itu, Suwardji makin ngotot untuk mengajaknya pindah ke Sumatera. Ia menjanjikan bahwa perangainya akan berubah jika berada jauh di rantau. Ia juga menjanjikan bahwa pekerjaan yang bakal ia dapatkan di Sumatera akan membuat kehidupan mereka lebih baik.

Kali ini, Sri tak menolak. Ia tak ingin menjadi beban kedua orang tuanya, terlebih janin di perutnya sudah semakin besar. Ia tak tega bayi yang bakal dilahirkannya akan membuat tambahan beban bagi orang tuanya karena akan ada satu mulut lagi yang mesti diberi makan. Namun ia pergi ke Sumatera tanpa Alfandi. Suaminya tak menginginkan anak pungut itu. Suwardji menganggap Alfandi tak lebih sebagai beban.

Sementara di pedalaman hutan Sumatera, di rumah kayu yang berada di tengah perkebunan kopi, Sri tak pernah tahu pasti apakah suaminya juga terlibat dalam perdagangan kayu selundupan. Suaminya tak pernah menganggapnya sebagai perempuan yang layak diajak bicara. Di mata suaminya, ia hanya perempuan yang bisa disetubuhi kapan saja, tanpa harus mengeluarkan biaya.

Ia benci dengan perutnya yang semakin membuncit. Bukan karena manusia baru yang bakal dilahirkannya, tapi karena lelaki yang menanamkan benih tersebut.  Ia benar-benar jengah dengan sikap kasar suaminya. Tangan lelaki itu sepertinya terlalu ringan melayang ke atas wajahnya, dan kaki lelaki itu begitu enteng menjejak tubuhnya. Baginya, keyakinan orang tuanya bahwa cinta bisa tumbuh melalui proses bakal semakin sulit terwujud jika ternyata proses justru makin membuatnya jauh dari lelaki itu.

“Ia selalu menampar bahkan menonjokku hanya gara-gara suaraku dia anggap terlalu keras,” kisahnya.

Suatu malam, menjelang dinihari, di rumah yang terletak di perkebunan kopi itu, tonjokan  kembali ia terima dari lelaki yang menjadi suaminya. Kali ini ia tak cukup kuat. Janin di dalam perutnya, membuat tonjokan itu tak lagi bisa ia terima.

Tengah malam itu juga, dengan seluruh ketakutan yang men­dadak lenyap di udara, ia melintas perkebunan kopi, mencoba lari, sejauh-jauhnya pergi dari suaminya.  Seorang tetangga yang masih kerabat jauh suaminya, malam itu, mendengar keluhnya dan menyediakan tempat untuk bermalam.

Esoknya, dengan petunjuk sekadarnya, dengan uang secukupnya, dengan janin yang menggantung di perutnya, ia menempuh perjalanan dengan bus menuju kampung halamannya. Ia memutuskan bahwa tak ada lagi yang bisa ia tunggu dari seorang lelaki yang punya kesenangan untuk mengayunkan tangan dan kaki ke tubuhnya.

Sepulangnya dari Sumatera, dan setelah melahirkan bayinya, Sri mengumpulkan tekadnya untuk kembali merantau. Kali ini, ia memutuskan Hong Kong sebagai tujuannya.

Ia mengaku ada gamang yang sempat menahannya karena mesti meninggalkan bayi yang baru saja ia lahirkan. Namun ia menguatkan diri agar tak menjadi cengeng. Anak itu butuh susu dan makanan untuk tumbuh, juga biaya sekolah kelak. Ia tak mungkin menggantungkan hidup terus-menerus kepada kedua orang tuanya. Sementara lelaki yang ia tinggalkan di Sumatera sudah tak  ia harapkan lagi.

Setelah pelariannya dari kebun kopi, suaminya datang menyusul ke kampung, memohonnya kembali dan berjanji memperbaiki kelakuannya. Tapi Sri sudah telanjur sakit hati. Ia lebih memilih melakukan apa saja daripada harus kembali tinggal seatap dengan suaminya.  Namun  lelaki itu menolak menceraikannya. Ia bahkan tega mengumpat bahwa anak lelaki yang lahir dari rahim Sri adalah hasil melacur hanya karena paras bocah itu lebih tampan dari dirinya.

“Seingatku, ia hanya memberi uang Rp 300.000, meski ia membawa pulang Rp 27 juta,” kenang Sri.

Tindakan suaminya itu membuat bulat tekad Sri untuk pergi ke Hong Kong.

***

SEORANG perempuan berparas tampan melenggang gagah. Tingginya 166 cm. Kepalanya plontos. Ia tak pernah menyebut nama sebenarnya. Menolak berterus-terang, meski kudesak. Jadi meskipun kemudian aku mengetahui nama aslinya, biarlah ia kusebut dengan nama yang disukainya. Oleh kawan-kawannya, ia dipanggil Carik. Seorang perempuan asal Kendal yang telah merantau ke Hong Kong sejak tahun 1996.

Saat aku bertemu dengannya, itu hari ketika ia baru sampai ke Hong Kong lagi setelah pernikahan kedua yang ia gelar di kampung halaman dengan mengambil cuti panjangnya. Banyak kawannya bertaruh bahwa Carik tak akan betah dengan pernikahannya karena selama ini ia dikenal sebagai “playboy” di kalangan buruh migran Indonesia yang memiliki orientasi seksual sejenis.

Namun sepekan sebelum kepulangannya ke Tanah Air untuk hajatan pernikahan tersebut, Carik berkali-kali meyakinkanku bahwa ia akan berubah. “Kak Ramadhan ini beda. Insya Allah, aku akan berubah,” ujarnya saat itu. Ramadhan adalah nama lelaki yang akan menikahinya.

Pertama kali aku bertemu dengan Carik, aku penasaran dengan gaya dandannya. Rambut cepak dan mengkilat, dan  kemeja serta jeans yang selalu dikenakan rapi. Sekali lihat, aku langsung tahu bahwa ia tak punya ketertarikan pada lelaki. Dari mulutnya kemudian kudengar kisah tentang masa kelam yang pernah ia jalani, sejak masa kanak-kanak hingga terdampar ke Hong Kong.

Carik lahir sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara. Ia menghirup nafas pertamanya pada Januari 1974. Sayang, ia tak pernah menjadi buah hati orang tuanya. Di usia kanak-kanak, saat ia baru menginjak bangku kelas 3 Sekolah Dasar, ayahnya sudah sering melontarkan ketidaksukaannya.

“Bapak selalu bilang wajahku jelek,”ujarnya.

Bahkan tak cukup dengan mengatakan jelek, bapaknya juga selalu menekankan bahwa Carik sudah akan cukup beruntung jika ada yang mau menikahinya.

Naik kelas 4 SD, bapaknya menyuruh ia keluar sekolah.

“Aku ingat, aku menangis terus, pengin sekali pergi ke sekolah, tapi Bapak melarang,” kenangnya.

Bentuk tubuh dan wajah Carik yang seperti lelaki membuat Bapaknya sama sekali tak berniat  memberi perhatian lebih ke Carik. Sementara penghasilan bapaknya sebagai tukang jahit dan juga tukang kayu, membuatnya tak cukup punya banyak harapan untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Ini membuat Carik terpaksa keluar sebelum sempat mendapatkan ijazah, dan di usia yang baru menginjak 10 tahun, ia ikut membantu bapaknya mencari kayu di hutan dan membantu ibunya sebagai tukang derep (penuai padi) di sawah milik orang lain.

Menginjak usia 13 tahun, Carik pergi ke Semarang. Ia kerja di toko milik seorang kepala desa, menjadi “tukang ogleng” (pemompa) minyak, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh anak lelaki. Di sini, pertama kalinya ia mengaku terpesona dengan seseorang yang memiliki jenis kelamin sama dengannya. Saat itu, ia tak bisa menerjemahkan perasaannya. Ia hanya tahu bahwa setiap kali menatap paras ayu ponakan pemilik toko itu, dadanya berdebar. Dan setiap kali mereka tidur satu ranjang, Carik merasa hatinya senang dan tentram.

Namun, sementara Carik menikmati kebahagiaan kecilnya itu, bapaknya di Kendal melakukan berbagai upaya agar ada orang yang mau melamar Carik dan menjadikannya istri. “Pokoknya siapa saja bakal diterima. Kalau ada yang berani nembung (melamar), pasti akan dikasih,” kisahnya. Karena si bapak, menurut Carik, beranggapan bahwa sulit mendapatkan jodoh untuk anak dengan wajah sejelek Carik.

Dua tahun kemudian, dalam usia masih 15 tahun, bapaknya akhirnya mendapatkan jodoh untuk Carik. Seorang lelaki asal Purworejo. Usianya lebih tua dua kali lipat dari usia Carik.  Sebagai bocah remaja yang tak pernah mengenal pacaran dan tak tahu rasanya jatuh cinta, Carik sama sekali tak tahu bagaimana bersikap terhadap seorang lelaki yang mau tak mau dipaksa menjadi suaminya. Segera setelah pesta pernikahannya usai, Carik dibawa suaminya ke rumah mertuanya di Purworejo. Ajakan yang tak bisa ditolak, meski ia tak suka.

Carik mengenang perasaannya saat itu. Antara takut, cemas, dan khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi jika ia pergi dari rumah orang tuanya. Ia menangis berguling-guling pada hari sang suami membawanya pergi dari rumah orang tuanya untuk menuju Purworejo.

Nyaris sebulan di rumah mertuanya, Carik nyaris sama sekali tak pernah tersentuh oleh suaminya. Ia tetap tinggal perawan. Ia selalu menolak diajak bersetubuh. Meskipun gara-gara penolakan ini, tangan suaminya melayang ke wajah dan tubuhnya, ia tak peduli.

Hingga kemudian, tepat sebulan Carik di rumah itu, lelaki itu memperkosanya, memaksakan persetubuhan dengan cara paksa.

Sakit, baik fisik maupun psikologis, yang dialami Carik pada malam pertama persetubuhan itu membekas hingga bertahun-tahun kemudian.

“Aku dipukul, dijotos, kepalaku dibenturkan ke tembok. Disiksa terus,” kenangnya pahit.

Di Purworejo, Carik tak diizinkan hanya tinggal di rumah. Dibekali keranjang belanja dan sebuah sepeda kayuh, mertuanya menyuruhnya keliling desa sebagai pedagang sayur. Pekerjaan ini dijalaninya sekitar dua bulan, sebelum kemudian ia memutuskan pulang ke Kendal. Kepada ibu mertuanya, ia bilang bahwa ia kangen ibunya. Sementara ke suaminya, yang bekerja di luar kota dan tak jelas kapan kembali, Carik tak pernah pamit.

Di rumah, ia tahu kehadirannya tak pernah disukai bapaknya. Maka tak perlu waktu lama, Carik memutuskan ikut pamannya ke Jakarta. Jadi tukang masak di sebuah klinik kesehatan.

Tak selang lama, suaminya menyusul, segera setelah mendapatkan informasi  bahwa Carik telah hijrah ke ibu kota. Laki-laki itu kemudian memaksa tinggal dan minta Carik mencarikan pekerjaan untuknya.

Dan ketika suaminya tinggal seatap, mimpi buruk Carik kembali terjadi.

“Dipukul, dijotos sampai berdarah,” ujar Carik mengingat masa-masa tak menyenangkan itu.

Kondisi ini berlanjut saat suaminya memaksa Carik pulang ke kampung halaman, setelah tak ada pekerjaan yang bisa didapatkan di Jakarta.

Beruntung, Carik akhirnya punya cara agar bisa terbebas dari siksa suaminya. Ia menulis surat palsu atas nama seorang  pemilik pekerjaan di Jakarta, mengatakan bahwa ia membutuhkan Carik di Jakarta. Suaminya mengizinkan dan Carik pun melenggang ke ibu kota.

Di Jakarta, Carik tak sengaja bertemu dengan putri seorang aktor kondang pada masa itu. Perempuan yang ditemui Carik di sebuah pusat hiburan malam itu, ternyata memiliki orientasi seksual sejenis, meski ia sudah memiliki suami, seorang lelaki keturunan Tionghoa. Dari perempuan inilah, Carik mendapatkan pekerjaan sebagai timer bus kota di perusahaan bus yang dikelola oleh sang ayah.

Namun gara-gara sering telat bangun pagi karena semalaman diajak dugem, mabuk, dan mengisap ganja oleh sang anak bos, Carik pun kena pecat.

Keluar dari pekerjaan sebagai timer, Carik mencari peng­hasilan sebagai preman dan makelar perempuan. Ia bertugas menghubungkan para lelaki hidung belang dengan para perempuan penjaja seksual. Dari kedua belah pihak, Carik biasa­nya mendapatkan komisi sekitar Rp 200.000.  Penghasilan yang cukup untuk membeli bir dan pasang judi jalanan.

Stasiun Gambir dan Senen menjadi tempat mangkalnya sehari-hari. Oleh gerombolan preman di sekitar lokasi tersebut, ia dikenal dengan nama Udin. Awalnya, mereka mengira Udin adalah seorang bocah lelaki. Tapi pun setelah mengetahui bahwa Udin adalah perempuan, tak ada yang memperlakukannya beda atau bersikap kurang ajar atau berniat memperkosanya. Ia bisa tidur dengan aman di bawah jembatan Stasiun Gambir, tanpa ada satu lelaki pun yang menyentuhnya.

Bekerja sebagai preman dan sekaligus makelar perempuan, membuat siklus tidur Carik acak-adul. Ia melek dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi dan tidur saat orang-orang lainnya bekerja. Ia juga punya kebiasaan teler dengan cara apa saja. Bukan sekadar minuman beralkohol atau pil ekstasi. Jika tak ada uang di kantong, maka ia akan teler dengan menghirup lem atau menenggak obat sakit kepala bodrex sebanyak 12 biji sekaligus atau kalau perlu menenggak pil yang kerap dipakai untuk menjinakkan anjing sebanyak 3-4 biji.

Namun menjadi preman membuatnya bosan. Ia butuh ritme hidup yang lebih teratur. Pekerjaan sebagai tukang sablon di sebuah industri  garmen di kawasan Jatinegara pun akhirnya ia terima.

Berjalan setahun, Carik mendengar kabar dari kampung halaman bahwa suaminya telah menikah lagi. Ia tak mem­butuhkan izin Carik untuk pernikahan tersebut. Carik dianggap sudah mati.

Tahun 1996, Carik pun memutuskan untuk mengadu untung di luar negeri sebagai PRT. Ia menggunakan jasa perusahan penyalur tenaga kerja yang berkantor di Kebayoran Lama untuk memberangkatkannya ke Hong Kong.

Di Hong Kong,  Carik menemukan dunia baru. Selain menjadi pekerja sektor rumah tangga, ia mulai bisa menerjemahkan perasaan yang ia alami bertahun-tahun lalu saat berjumpa dengan perempuan keponakan kepala desa yang ia ikuti di Semarang dulu.

Lingkungan di Hong Kong yang cukup permisif dengan orientasi seksual sejenis, membuat Carik seperti menemukan jati dirinya. Sejak itu, di kalangan komunitas buruh migran Indonesia di Hong Kong, Carik dikenal sebagai “playboy” yang kerap gonta-ganti pasangan.

Hingga kemudian keisengannya memasang foto diri di sebuah tabloid lokal untuk rubrik pertemanan, membawanya berkenalan dengan seorang lelaki asal Indonesia yang bekerja di Batam.  Obrolan rutin yang mengalir antarmereka melalui telepon seluler dan juga kalimat indah serta foto diri yang dilayangkan melalui pos, membuat Carik mulai berpikir untuk menghentikan petualangannya.

“Kak Dan mengajakku menikah. Aku udah ceritakan semua latar belakangku dan ia mau menerima,” ungkapnya, sepekan sebelum kepulangannya ke Tanah Air untuk menikah dengan Ramadhan, nama lelaki yang usianya lebih muda dua tahun darinya itu.

Saat ia mengatakan itu, di tengah gaduh para pekerja migran Indonesia yang berlatih hip-hop di lapangan Victoria Park, aku menemukan ada pijar di matanya. Ada harapan yang coba ia bangun untuk kebahagiaan yang jarang ia cecap.  Namun saat pijar itu berkerlip, aku justru merasa bahwa ia akan kecewa. Dan jika itu terjadi, aku hanya berharap bahwa kekecewaan itu tak sesakit saat ia memutuskan menggelandang di Jakarta beberapa tahun lampau.

Dugaanku benar. Ia kembali ke Hong Kong dengan mata yang tak lagi memancarkan pijar. Tak mudah baginya mencintai lelaki. Ia lebih nyaman berdampingan dengan perempuan.

Senja itu, pertengahan Juli 2009 lalu, aku melihatnya becanda dengan seorang perempuan. Sesekali beradu argumen dan si perempuan kemudian menggelayut manja di pundaknya.

Carik kembali dengan dunianya. Ia menganyam mimpi yang tak mungkin bisa dianyamnya di rumah. Ia tahu bahwa suatu saat mimpi itu akan berakhir. Namun jika pun saat itu datang, setidaknya dia sudah melewatkan penebusan rasa sakitnya. Ia tak pernah tahu sampai kapan ia akan ada di Hong Kong.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Tentang Sedih di Victoria Park: Kisah Buruh Migran Indonesia di Hongkong karya Fransisca Ria Susanti  (Penerbit Nuansa, 2013)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *