Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Menjaga Persaudaraan

Menjaga Persaudaraan

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَ ى لَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ا ل يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ يَعْنِي قَاطِعُ الرَّحِمِ .
Rasulullah Saw berkata, “Tidak akan masuk surga si pemutus, yakni pemutus silaturahmi.”
(Hadis ini dinyatakan sahih oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Adik-adik, yang disebut dengan “saudara” dalam Islam ada dua macam. Yang pertama adalah orang-orang yang menjadi saudara kita karena hubungan kekeluargaan seperti kakak, adik, sepupu, paman, dan keponakan. Yang kedua adalah orang-orang yang menjadi saudara kita bukan karena kekeluargaan, melainkan karena mereka seagama dengan kita.

Jenis yang pertama disebut saudara berdasar ikatan darah, sedangkan yang kedua disebut saudara berdasar
ikatan iman. Setiap persaudaraan selalu diikat oleh kasih sayang antara sesama saudara. Saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Jadi, kalau ada seseorang yang tidak mencintai dan menyayangi adiknya, orang
seperti itu hanya bisa disebut saudara secara lahiriah. Dia belum dapat disebut saudara dalam pengertian yang
sesungguhnya. Kasih-sayang dan cinta seperti itu disebut dengan silaturahmi. Silaturahmi berasal dari bahasa Arab, silat (baca: silah) dan arrahim. Silat berarti hubungan atau ikatan, sedangkan arrahim berarti kasih-sayang atau persaudaraan. Jika kedua kata dalam bahasaArab itu dibaca bersambung, mestinya berbunyi silaturrahim.
Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia, kata tersebut lazim dibaca silaturahmi. Setiap Muslim harus selalu menjaga hubungan persaudaraan atau silaturahmi. Caranya, ya, dengan membantu saudara kita yang mengalami kesulitan, memberi dorongan semangat kepada yang sedang berjuang, menghibur
yang sedang sedih, memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama, dan lain-lainnya. Kita harus selalu ingat bahwa kesulitan yang dihadapi bersama-sama dan dengan penuh kasihsayang akan terasa lebih mudah
dan ringan. Karena itu, kita harus bahu-membahu, saling membantu, dan saling melindungi. Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa persaudaraan seorang Muslim dengan Muslim lainnya ibarat satu bangunan yang bagian-bagiannya tersambung satu sama lain, sehingga menjadi kuat.
Bisakah Adik-adik membayangkan apa yang terjadi jika bagian-bagian suatu bangunan tidak bersambung dan tidak pula saling menopang? Dindingnya tidak bersambung satu sama lain, tiangnya berdiri sendiri-sendiri, atapnya tidak ditopang dinding, dan kayu-kayunya tidak dilindungi atap? Wah, mudah keropos dan gampang roboh!
Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang memutuskan hubungan bagian-bagian dari bangunan yang semula bersambung satu sama lain itu? Benar. Dia berarti merusak dan merobohkan bangunan. Seperti itu pulalah halnya dengan orang yang memutuskan tali persaudaraan. Dia berarti merusak dan menghancurkan kekuatan umat Islam, yakni persatuan dan persaudaraan. Karena itu, dia berdosa besar dan dinyatakan tidak akan masuk surga oleh Rasulullah Saw.

Sekarang, apa sih yang dimaksud dengan memutuskan tali persaudaraan? Ya, misalnya, bertengkar dan berkelahi gara-gara kalah main futsal atau basket, rebutan jadi ketua OSIS sampai bermusuhan, iri dan dengki dengan prestasi kawan, lalu menyebarkan fitnah, dan banyak lagi yang lainnya. Pokoknya, hal-hal yang dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di kalangan kaum Muslim.

 

Sumber: 40 Hadis Untuk Anak-Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *