Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Menulis Sebagai Keterampilan Proses

Menulis Sebagai Keterampilan Proses

Oleh Heri Jauhari

Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa ketiga setelah menyimak dan berbicara, kemudian membaca. Keterampilan menulis ialah keterampilan proses karena hampir semua orang yang membuat tulisan, baik karya ilmiah, nonilmiah, maupun hanya catatan pribadi, jarang yang melakukannya secara spontan dan langsung jadi. Membuat tulisan sederhana pun pasti ada perencanaan dan perbaikan (revisi dan pengeditan), paling tidak dibaca lagi sebelum dianggap jadi. Sehubungan dengan masalah di atas, jangankan dalam menuangkan gagasan, merangkai kata pun sudah merupakan proses. Kita masih ingat waktu kita kali pertama belajar menulis di sekolah dasar, kita tidak belajar langsung merangkai kata, melainkan melalui proses panjang. Pertama-tama merangkai fonem vokal dan konsonan, kemudian menjadi kata, sampai pada kalimat dan paragraf. Semua proses itu menghabiskan waktu cukup lama. Tahapan-tahapan pembelajaran menulis itu perlu dilalui semua orang karena sampai sekarang belum ada metode pembelajaran menulis yang membuat anak sekolah dasar atau taman kanak-kanak langsung bisa membuat kata atau kalimat. Itulah salah satu ciri menulis sebagai keterampilan proses.

Dalam membuat karangan, baik karangan ilmiah maupun karangan nonilmiah, menulis tidak sekadar menuangkan gagasan, tetapi ada fase-fase yang harus dilalui, yakni fase persiapan, penulisan (penuangan gagasan atau pengetahuan), dan perbaikan (pengeditan dan revisi). Menurut Barrs (dalam Suparno, 2007: 1.14), “… menulis merupakan suatu proses yang kemampuan, pelaksanaan, dan hasilnya diperoleh secara bertahap. Artinya, untuk menghasilkan suatu tulisan yang baik umumnya orang melakukannya berkali-kali. Sangat sedikit penulis yang dapat menghasilkan karangan yang benar-benar memuaskan dengan hanya sekali tulis.”

Fase-fase penulisan itu, meskipun hampir semua orang melaluinya, tidak terjadi secara kaku atau harus selalu berurutan karena bisa saja orang menulis sambil merevisi dan langsung mengedit, tidak menunggu tulisan selesai terlebih dulu. Bahkan dalam penentuan topik dan pembuatan kerangka karangan pun, yang termasuk fase pertama, biasa terjadi bongkar-pasang jika pada waktu penulisan diketahui tidak selaras dengan topik atau pokok bahasan.
Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas setiap fase di bawah ini.

Fase Persiapan

Tahap persiapan ini sebenarnya dilakukan oleh semua orang, disengaja atau tidak. Untuk membuat tulisan sederhana pun fase persiapan pasti ada, apalagi akan membuat tulisan yang kompleks dan serius seperti karangan-karangan ilmiah. Setiap orang yang akan menulis pasti sudah mempunyai ide atau gagasan-gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan, tetapi ide-ide itu belum tentu lengkap dan tersusun secara sistematis sesuai dengan keinginan. Karena itu, dalam melakukan persiapan kita perlu mencari informasi-informasi tambahan sesuai dengan tulisan yang akan dibuat dan mensistematiskannya agar tulisan kita dalam, teratur, dan tersusun dengan baik.

Menurut Proet dan Gill (dalam Suparno, 2007: 1.16), “Tahap ini merupakan fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan diperlukan penulis.” Tujuannya untuk mengembangkan ide-ide yang akan ditulis agar isinya mendalam dan tersaji dengan baik, enak dibaca dan penting.

Persiapan menulis yang baik akan menghasilkan tulisan yang baik pula. Tidak sedikit orang yang membuat tulisan tersesat sehingga tulisannya tidak memuaskan hatinya, bahkan tidak selesai. Hal tersebut kebanyakan terjadi karena kurangnya persiapan. Ketika sedang menulis, misalnya, ide-ide yang tadinya sudah menumpuk di kepala tiba-tiba hilang begitu saja sehingga akhirnya bingung sendiri. Bolak-balik serba salah, ditulis, dihapus lagi, ditulis, dihapus lagi, dan seterusnya, akhirnya tulisan tidak selesai-selesai. Tetapi kalau kita sudah melakukan persiapan yang matang, mencari informasi-informasi sesuai dengan apa yang akan kita tulis, ide-ide yang hilang bisa kembali lagi setelah kita melihat kerangka karangan (out line) yang dibuat pada waktu persiapan sehingga ide-ide kita berkembang, matang, dan sistematis. Dengan demikian, tanpa persiapan yang memadai, penulis akan kesulitan. Dipaksakan pun tulisan akan mengecewakan atau tidak akan memuaskan hati.

Ada beberapa fase yang harus dilalui dalam persiapan penulisan. Pertama, memilih topik; kedua, menentukan tujuan; ketiga, mengumpulkan informasi atau bahan-bahan tulisan; keempat, menentukan calon pembaca; dan kelima, membuat kerangka karangan. Mari kita bahas satu per satu kelima fase tersebut.

Menentukan Topik

Topik adalah pokok permasalahan dalam sebuah karangan. Topik merupakan pokok sebuah karangan, terutama karangan ilmiah, karena ciri karangan ilmiah selain menyampaikan ilmu pengetahuan juga pemecahan suatu masalah. Tidak akan ada karangan ilmiah kalau tidak ada masalah. Sering para mahasiswa yang akan membuat karangan ilmiah, baik skripsi maupun makalah, kebingungan mencari topik. Banyak juga yang belum bisa membedakan topik dengan judul, maka para mahasiswa sering mengatakan, “Saya bingung belum mempunyai judul buat skripsi atau saya akan mengajukan judul skripsi.” Perkataan seperti itu sebenarnya tidak benar. Yang benar, “Saya bingung belum mempunyai topik buat skripsi atau saya akan mengajukan topik skripsi.” Mengapa demikian? Judul dan topik dua hal yang berbeda. Judul adalah identitas karangan yang harus ada setelah karangan selesai ditulis, sedangkan topik adalah pokok permasalahan yang harus ada sebelum penulisan dikerjakan. Maka jangan heran kalau penentuan topik termasuk pada fase proses perencanaan (untuk lebih jelasnya lihat Bab IX).

Banyak orang kesulitan menemukan topik karangan, terutama para penulis pemula yang belum banyak pengalaman dan pengetahuan mengenai menulis (mengarang). Biasanya kesulitan itu muncul karena kurang pengetahuan tentang tema yang akan ditulisnya. Untuk mengatasi hal tersebut, ada beberapa trik yang bisa diikuti. Pertama, pilihlah topik yang paling dikuasai dan sesuai dengan keinginan serta paling mudah dicari sumber-sumber informasinya. Kedua, kita harus banyak membaca bacaan-bacaan yang sesuai dengan tema. Ketiga, jangan terlalu ambisius terlalu banyak hal yang ingin dicakup dan dikupas sehingga tidak sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kita, akhirnya tulisan kita terlalu dangkal bahkan tidak selesai.

Memperhatikan Tujuan Menulis

Tujuan menulis sangat erat kaitannya dengan gaya menulis dan jenis karangan. Berikut ini beberapa contoh rujukan:
Eksposisi: Tujuan tulisan untuk menerangkan, mengupas, meng­uraikan, dan menginformasikan sesuatu.
Deskripsi: Tujuan tulisan untuk memberikan gambaran sesuatu kepada pembaca.
Argumentasi: Tujuan tulisan untuk menyampaikan pendapat yang bersifat meyakinkan disertai dengan fakta dan data serta alasan-alasan yang rasional.
Persuasi: Tujuan tulisan untuk memengaruhi seseorang atau membujuk agar pembaca menuruti apa yang penulis inginkan.
Narasi: Tujuan tulisan untuk memberitahukan sesuatu secara kro­nologi.

Tujuan menulis harus sudah ditentukan sebelum penulisan dilaksanakan. Intinya untuk menentukan gaya tulisan dan jenis karangan. Sebab, tidak tepat kalau tujuan menulis kita menginformasikan sesuatu disampaikan dengan gaya dan jenis karangan persuasi atau argumentasi.

Banyak orang yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan tujuan menulis. Ada orang yang menulis dengan topik Dekadensi moral di kalangan para remaja. Ketika ditanyakan apa tujuan tulisan itu, jawabnya, “Mudah-mudahan tulisan saya ini dapat mencegah kemerosotan moral di kalangan para remaja.” Apa mungkin tulisan seperti itu dapat mencegah kemerosotan moral para remaja? Mungkin si penulis tidak bisa membedakan tujuan dan harapan. Kalau dikatakan harapan, mungkin benar. Yang namanya harapan sama dengan doa. Yang penting kita berusaha dengan cara apa saja asal jangan bertentangan dengan etika dan agama atau yang dilarang oleh agama dan negara. Alasan yang lebih tepat dari tujuan tulisan bertopik dekadensi moral di kalangan para remaja ialah menginformasikan perilaku para remaja yang sudah tidak sesuai lagi dengan etika dan agama kepada pembaca.

Menentukan Calon Pembaca

Calon atau sasaran pembaca adalah sekelompok manusia sesuai dengan tingkatannya, baik usia, pendidikan, profesi, maupun status sosial, yang dituju untuk membaca tulisan kita. Untuk apa kita menentukan calon pembaca? Tujuannya untuk menentukan isi (pesan) yang hendak disampaikan kepada pembaca dan menentukan bahasa yang akan digunakan dalam tulisan. Sebab, tidak setiap orang akan memerlukan dan memahami informasi yang akan kita sampaikan. Selain itu, tidak setiap orang bisa memahami bahasa yang akan kita gunakan baik pilihan kata maupun pembentukan kalimatnya.

Contohnya, seorang guru sekolah dasar akan membuat karangan untuk dibaca oleh muridnya. Sebelum menulis, guru tersebut harus memutuskan tulisan itu dibaca oleh siswa kelas berapa. Karena setiap tingkatan kelas mulai kelas, satu sampai kelas enam, tidak sama tingkatan kemampuan dan pengetahuannya, tidak akan semua anak sekolah dasar bisa memahami tulisan guru tersebut. Dengan demikian, keberhasilan menulis sangat ditentukan oleh ketepatan pemahaman penulis menentukan target pembacanya. Karena itu, kita terdorong untuk membaca tulisan kita secara berulang-ulang, bahkan meminta orang lain mengomentari tulisan kita (untuk lebih jelasnya lihat Bab III).

Mengumpulkan Bahan Tulisan

Sebelum memulai proses penulisan, seorang penulis setidaknya memiliki informasi mengenai topik yang akan ditulis. Namun informasi itu perlu dikembangkan dengan cara mencari informasi-informasi pendukung untuk memperkaya isi tulisan. Caranya dengan banyak membaca bacaan-bacaan yang sesuai dengan topik tulisan kita, melakukan wawancara, pengamatan, dan bahkan penelitian. Terlebih lagi zaman sekarang ada internet yang menyediakan beragam informasi. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperluas tulisan, asal kita pandai mengolahnya sesuai dengan aturan penulisan yang berlaku.

Kebutuhan bahan tulisan atau sumber informasi dapat diketahui setelah kita membuat kerangka karangan (out line). Setelah itu, kita segera mengumpulkan sumber-sumber informasi tersebut. Pengumpulan bahan tulisan, meskipun masuk pada fase persiapan, bisa dilakukan juga pada waktu sedang melakukan penulisan karena kebutuhan informasi pada waktu sedang menulis terus berkembang sesuai dengan alur pikiran kita dan biasanya kebutuhan-kebutuhan itu dirasakan pada waktu penulisan. Bahan tulisan tersebut berupa buku, surat kabar, majalah, jurnal, hasil wawancara, hasil pengamatan, hasil penelitian, dan lain-lain.

Membuat Kerangka Karangan

Kerangka karangan atau ragangan alias out line adalah pengorganisasian ide-ide dan informasi dalam sebuah rencana kerja. Kerangka karangan terdiri atas bab, subbab, dan perincian atau uraiannya. Fungsi kerangka karangan adalah menuntun jalan pikiran penulis dan menentukan arah karangan. Ide-ide dan informasi yang sudah membeludak di kepala, kalau tidak diorganisasikan pada waktu menulis, sering hilang begitu saja, seolah-olah kita tidak mempunyai apa yang harus kita tulis. Tetapi kalau kita mempunyai kerangka karangan dan melihatnya, memori kita dapat terangsang untuk mengingat kembali ide-ide yang hilang. Selain itu, adanya kerangka karangan akan memudahkan mengembangkan, mengarahkan, dan mensistematiskan tulisan.

Kerangka karangan sebenarnya sama dengan daftar isi yang belum ada nomor halamannya. Pembuatan kerangka karangan jarang sekali sekaligus jadi. Bongkar-pasang dalam pembuatan kerangka karangan merupakan hal lumrah. Jangankan dalam fase persiapan, dalam penulisan pun biasa terjadi bongkar-pasang. Kalau kita pada waktu menulis menemukan ide baru dan dianggap bagus, kita bisa memasukkannya ke kerangka karangan yang dianggap telah selesai. Sebaliknya, kalau setelah dikaji ulang ditemukan ada bagian yang dianggap kurang baik atau tidak sesuai dengan topik, kita bisa membuangnya.

Itulah fase-fase tahap persiapan yang harus dilalui sebelum menulis. Sesuai dengan namanya bahwa menulis itu keterampilan proses, maka jelas harus ada proses. Fase ini sangat penting dilakukan terutama oleh penulis pemula. Penulis yang sudah mahir pun, kalau tidak melakukan persiapan, terkadang kehilangan arah sehingga hasilnya tidak sistematis dan isinya akan dangkal.

Fase Penulisan

Setelah kita melakukan persiapan penulisan sebuah karangan yang dimulai dari menentukan topik, tujuan, mengumpulkan bahan-bahan tulisan, sampai pada pembuatan kerangka karangan, selanjutnya kita melakukan penulisan. Dalam penulisan kita harus berpedoman pada kerangka karangan, tujuan, dan jangan melenceng dari pokok bahasan atau pokok permasalahan (topik). Kita tuangkan semua gagasan dan informasi yang telah dihimpun dan diorganisasikan dengan cermat untuk mengembangkan sebuah karangan.

Sebenarnya semua struktur karangan, baik karangan ilmiah maupun karangan nonilmiah atau karangan sastra, terdiri atas bagian awal (pendahuluan), bagian isi (pembahasan), dan bagian akhir (penutup atau simpulan). Dalam karangan sastra, contohnya novel, struktur itu disebut alur dan plot. Plot diawali dengan perkenalan cerita; bagian isi berisi konflik, konflik memuncak, terjadi klimaks; dan bagian akhir biasa disebut penyelesaian (resolution). Bagian pendahuluan fungsinya untuk menggiring dan memperkenalkan pembaca pada pokok permasalahan yang akan dibahas. Dalam karangan ilmiah, bagian ini biasanya berbentuk dasar pemikiran atau latar belakang masalah. Bagian awal sangat penting ditulis sebaik mungkin untuk menarik, memengaruhi, dan meyakinkan pembaca. Bagian ini sangat menentukan pembaca untuk melanjutkan membacanya baik karena merasa senang maupun penasaran setelah membaca bagian awal tulisan itu. Bukan hanya dalam tulisan, dalam presentasi dan pidato pun kesan pertama sangat menentukan.

Bagian pembahasan atau isi karangan membahas topik karangan berdasarkan ide-ide dan informasi yang telah dihimpun dan di­organisasikan. Dalam penulisan bagian ini kita harus ingat pada maksud dan tujuan penulisan karangan agar penulisannya sesuai dengan jenis karangan yang dimaksud. Kalau yang kita tulis adalah makalah, kita harus berpikir bahwa kita harus sampai pada kesimpulan jawaban atas masalah yang kita kemukakan. Pada bagian ini, teori-teori dan informasi digunakan untuk mencapai suatu simpulan.

Bagian akhir karangan berfungsi untuk memberikan penekanan tentang ide-ide penting kepada pembaca. Hal tersebut bisa berupa simpulan. Adapun dalam skripsi ada saran dan rekomendasi. Itu tambahan saja apabila diperlukan.
Untuk menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan, kita harus menguasai mekanik bahasa. Mekanik bahasa, antara lain, tanda baca, pilihan kata, pembentukan kalimat, dan pembuatan paragraf. Sehebat apa pun ide kita, kalau dituangkan dalam tulisan yang mekaniknya tidak benar, akan susah dipahami pembaca. Namun saat menulis jangan terpaku dulu pada mekanik bahasa karena ada waktunya untuk membetulkan mekanik bahasa, yakni pada fase pengeditan. Dan kalau dirasa pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan yang diinginkan, kita jangan langsung membetulkan atau menambahnya karena masih ada revisi. Terus saja tuangkan ide-ide selama jalan pikiran masih lancar sampai terasa sudah lengkap. Jangan baru satu kalimat atau satu paragraf sudah bolak-balik diperbaiki, terasa salah lagi, diperbaiki lagi, sampai gulungan kertas menumpuk di kotak sampah. Menulis dengan cara ini tidak akan selesai-selesai. Hal seperti itu biasanya terjadi karena si penulis terlalu idealis menginginkan tulisan yang bagus, sedangkan ide-idenya tidak terorganisasikan.

Setelah semua ide kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu artinya kita telah menyelesaikan sebuah draf atau tulisan kasar. Setelah itu, kita pasti membacanya lagi berulang-ulang dan akan ditemukan kekurangannya, baik mekaniknya maupun isinya tidak sesuai dengan harapan kita. Kalau sudah diketahui kekurangannya, kita memasuki fase terakhir, yaitu fase perbaikan (pengeditan dan revisi).

Fase Perbaikan

Fase perbaikan ialah fase terakhir, ketika semua ide sudah tertuangkan dalam bentuk draf. Draf adalah tulisan kasar yang belum dianggap selesai karena diketahui masih banyak kekurangannya, maka perlu diadakan penyuntingan. Penyuntingan adalah pemeriksaan dan perbaikan unsur mekanik karangan seperti ejaan, tanda baca, pembentukan kalimat, pembuatan paragraf, gaya bahasa, dan konvensi penulisan lainnya. Adapun revisi lebih pada perbaikan isinya (Tompkins dan Hoskisson,1995, 216-222). Ada juga sebagian orang yang menyamakan pengeditan dengan revisi. Kedua istilah itu mengacu pada perbaikan tulisan dan isi karangan.

Pada bagian revisi kita dapat mengubah, menambah, memperbaiki, mengganti, menghilangkan, dan menyusun kembali isi sebuah karangan. Sebelum melaksanakan revisi, kita membaca isi karangan secara keseluruhan terlebih dulu, kemudian menandai hal-hal yang dianggap kurang, baik dengan memberi catatan maupun sekadar memberi tanda, dan selanjutnya memperbaiki semua kesalahan atau kekurangan yang ditemukan.

Dalam bagian perbaikan, baik pengeditan maupun penyuntingan, sebaiknya mintalah bantuan orang lain. Kesalahan-kesalahan, terutama dalam bagian mekanik dan salah ketik, banyak yang sukar ditemukan oleh penulisnya. Biasanya orang lain lebih cermat daripada penulisnya untuk menemukan kesalahan dalam tulisan. Mengapa demikian? Karena penulis sudah menguasai isinya maka dalam membacanya kembali tidak akan melakukannya dengan penuh konsentrasi. Lain halnya dengan orang lain yang ingin mengetahui isinya. Hal demikian terjadi tidak hanya dalam tulisan. Dalam berperilaku pun orang lain lebih mengetahui kekurangan dan kesalahan kita, daripada kita sendiri.

Dikutip dari buku Terampil Mengarang, Penerbit Nuansa 2013.

Terampil Mengarang berdiri 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *