Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Nilai Buku Tahâfut Al-Falasifah

Nilai Buku Tahâfut Al-Falasifah

Oleh Sulaiman Dunya

Kita telah tahu bahwa Al-Ghazzâlî menulis buku Tahâfut-nya ketika ia sedang dalam fase skeptis ringan (asy-syakk al-khafîf), yaitu ketika ia belum mendapat petunjuk pada hakikat kebenaran. Ini menuntut tidak adanya pengakuan atas Tahâfut sebagai salah satu sumber yang dapat dijadikan acuan tentang ide dan orientasi pemikiran Al-Ghazzâlî.

Al-Ghazzâlî sendiri membagi seluruh karyanya menjadi dua. Pertama, kelompok karya yang ia istilahkan dengan “yang terlarang bagi selain yang berkompeten” (al-madhnûn bihâ ‘alâ ghairi ahlihâ). Al-Ghazzâlî menjaga seluruh kandungan isi karya-karya yang ter­golong dalam kelompok ini, hanya untuk dirinya dan untuk orang lain yang telah memenuhi syarat yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.

Kedua, karya-karya yang disajikan untuk konsumsi masyarakat umum (jumhûr). Ia adalah kelompok karya yang memang diper­untukkan bagi mereka dan memang sesuai dengan tingkat intelektualitasnya.

Kemudian Al-Ghazzâlî mengelompokkan Tahâfut ke dalam kelompok kedua. Maka tidak dibenarkan—dengan demikian—untuk menjadikannya bagian dari sumber yang bisa men­deskripsi­kan pemikiran yang dianut Al-Ghazzâlî. Kita melihat pernyataannya;6 “Dalam Ar-Risâlât al-Qudsiyyah terdapat dalil-dalil akidah—setebal dua puluh halaman. Ia merupakan satu fasal dari kitab (bagian) Qawâ‘id al-‘Aqâ’id dari kitab Ihyâ’. Adapun untuk dalil-dalil akidah yang lebih eksploratif dan lebih cermat dalam memberikan tanggap­an atas pertanyaan dan berbagai problem, kami meletakkannya dalam Al-Iqtishâd fî al-I‘tiqâd, setebal seratus halaman. Ia merupakan sebuah kitab yang memuat pilihan inti ilmu kalâm. Tetapi ia lebih eksploratif dan lebih bisa mendekatkan pada gerbang pengetahuan (ma‘rifah) daripada ilmu kalâm resmi yang terdapat dalam karya-karya para ahli kalâm. Semuanya kembali pada keyakinan, bukan pada pengetahuan, karena ahli kalâm (mutakallimûn) tidak mem­bedakan orang awam kecuali sebagai orang yang mengetahui (‘ârif) dan orang yang berkeyakinan (mu‘taqid). Tetapi orang awam itu juga mengetahui bersama keyakinannya terhadap dalil-dalil keyakinan untuk menguatkan keyakinan, menjaganya dari gangguan para pembuat bidah. Ikatan keyakinan itu tidak larut ke dalam kelapangan pengetahuan.

Jika Anda ingin menghirup sebagian wangi pengetahuan, telah kami sajikan sekadarnya dalam kitab (bab) Sabar, Syukur, Mahabbah, dan Tauhid di bagian awal kitab (bab) Tawakkal. Semua itu merupakan bagian dari Ihyâ’.
Hal itu juga disajikan dalam kadar yang memadai, yang bisa memberitahu cara mengetuk pintu pengetahuan (ma‘rifah) dalam kitab (bab) Al-Maqshad al-Aqshâ fî Ma‘ânî Asmâ’ Allâh al-Husnâ, terutama dalam “nama-nama” (asmâ’) yang diambil dari kata kerja.

Jika Anda ingin mendapatkan pengetahuan yang jelas tentang hakikat-hakikat akidah ini—dalam sajian yang tidak remang-remang dan tanpa sensor—maka hal itu hanya disajikan dalam beberapa kitab kami yang hanya diperbolehkan bagi orang yang memenuhi syarat.

Berhati-hatilah terhadap ketertipuan dan menganggap diri sebagai orang yang memenuhi syarat, lalu bergegas untuk mencari­nya lalu me­lakukan penolakan mentah-mentah. Orang yang memehui syarat adalah yang memenuhi tiga perkara:

1. Merdeka dalam pengetahuan-pengetahuan lahir dan telah mencapai tingkat imam di dalamnya.
2. Melepas hati dari dunia secara keseluruhan, setelah menghapus akhlak tercela, sehingga tidak tersisa dalam diri Anda kecuali rasa haus pada kebenaran, perhatian hanya padanya, kesibukan hanya di dengannya dan kecondongan hanya ke arahnya.
3. Kebahagiaan telah ditetapkan bagi Anda dalam fitrah, dengan watak yang suci dan kecerdasan sempurna serta tidak terbelenggu oleh pemahaman terhadap pengetahuan palsu.” Dan seterusnya.

Anda bisa melihat dalam semua ini, bahwa Al-Ghazzâlî meletak­kan karya-karya tentang ilmu kalâm di satu sisi dan meletakkan karya yang terlarang bagi yang tidak memenuhi syarat di sisi yang lain. Dengan ini pula, Al-Ghazzâlî menjadikan kelompok karya kedua sebagai semata-mata kelompok karya yang memuat hakikat kebenaran, sebagaimana ia pahami dan ia anut. Sedangkan Tahâfut termasuk ke dalam karya-karya ilmu kalâm dan tidak termasuk karya yang hanya boleh dibaca oleh orang yang telah memenuhi syarat. Tahâfut tidak termasuk golongan kedua ini, karena biasanya Al-Ghazzâlî mengambil perjanjian dari pembacanya agar hanya menyampaikannya kepada orang yang telah memenuhi syarat yang telah disebutkan di atas. Tahâfut ternyata tidak mengandung perjanjian tersebut.
Tahâfut termasuk ke dalam karya-karya ilmu kalâm didasarkan pada pernyataan Al-Ghazzâlî sendiri dalam Jawâhir al-Qur’ân, “Di antara ilmu-ilmu, terdapat ilmu yang dimaksudkan untuk melawan dan membantah orang-orang kafir. Di antaranya adalah ilmu kalâm yang bertujuan untuk menolak berbagai bentuk bidah dan kesesatan. Para ahli kalâm (mutakallimûn) adalah orang-orang yang mengem­ban tugas ini. Kami telah memberikan penjelasan tentang disiplin ini dalam dua tingkat: 1) tingkat bawah adalah kitab Ar-Risâlât al-Qudsiyyah, 2) tingkat di atasnya adalah kitab Al-Iqtishâd fî al-I‘tiqâd.

Tujuan ilmu ini adalah menjadi perisai akidah masyarakat awam dari gangguan para pembuat bidah. Tetapi ilmu ini tidak membantu menyingkap hakikat-hakikat. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah kitab Tahâfutul Falâsifah…”
Demikian juga, Al-Ghazzâlî memberikan penjelasan dalam Jawâhir al-Qur’ân, “Ilmu-ilmu ini, yaitu ilmu tentang dzat, sifat, perbuatan-perbuatan dan ilmu tentang akhirat (ma‘âd), kami sajikan dari bagian-bagian awal dan keseluruhannya—menurut ke­mampuan yang telah dikarunia­kan kepada kami dalam keterbatasan umur, banyaknya kesibukan dan hambatan, sedikitnya mitra dan teman—di dalam sebagian karya. Tetapi sebagian kitab yang lain tidak kami tunjukkan secara bebas, karena sulit dipahami dan berat bagi orang-orang lemah, yaitu mereka yang bergelut dengan ilmu kalâm. Bahkan sebagian kitab tersebut hanya layak dihadirkan kepada orang yang telah menguasai ilmu lahir dengan sempurna…7 Dan haram atas orang yang memegang kitab itu untuk menampakkannya kecuali kepada orang yang telah memenuhi sifat-sifat ini.”

Anda lihat dalam hal tersebut di atas bahwa tidak dibenarkan secara mutlak untuk memahami gagasan-gagasan Al-Ghazzâlî yang khusus dalam hal ini, kecuali dari kelompok kitab ini, bukan dari yang lain. Jelaslah bahwa buku Tahâfut tidak termasuk ke dalam golongan buku tersebut. Maka tidak benar menganggapnya sebagai representasi pemikiran Al-Ghazzâlî yang spesifik.

Akhirnya, Al-Ghazzâlî menulis Tahâfut ketika ia sedang berusaha mendapatkan posisi, prestise dan reputasi tinggi. Dengan buku ini, Al-Ghazzâlî membela mazhab yang dapat mendatangkan itu semua, bukan membela mazhab yang benar secara esensial. Pada saat itu, mazhab Ahlussunnah sedang mempersempit ruang gerak Mu‘tazilah dan para filosof. Para pengikut mazhab Sunni memiliki tokoh-tokoh yang bisa menyingkirkan Mu‘tazilah dan menolak pendapat mereka. Tetapi mereka tidak punya tokoh yang bisa meng­hadapi para filosof untuk menghancurkannya dengan senjata ilmu pengetahuan, sehingga kaum Sunni bisa hidup damai dan tenteram. Kesempatan ini terbuka lebar bagi siapa saja yang mau maju untuk memperoleh nama besar yang membanggakan, yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Abû Hâmid al-Ghazzâlî memanfaatkan peluang ini untuk memperoleh kebanggaan atas dirinya. Maka ia pun menyerang kaum filosof dengan keras dan tajam. Inilah yang melambungkan namanya ke udara dan ia menjadi begitu terkenal. Al-Ghazzâlî menceritakan:

“Dan tidak ada dalam buku-buku ahli ilmu kalâm—yang menyentuh pandangan para filosof dalam kepentingan memberikan bantahan atasnya—kecuali pernyataan-pernyataan rumit serta boros serta menampilkan kontradiksi dan absurditas. Orang awam saja diperkirakan tidak akan tertipu dengan pernyataan-pernyataannya, apalagi orang yang mengklaim tahu terhadap detail-detail ilmu pengetahuan. Lalu saya menyadari bahwa menolak suatu mazhab sebelum memahami dan menelusuri inti ajarannya berarti me­nyerang secara membabi buta. Maka saya segera menying­singkan lengan baju utnuk melakukannya… dan seterusnya.”

Sesungguhnya, pada fase tersebut—di mana ia menulis Tahâfut—Al-Ghazzâlî sedang mencari popularitas, prestise dan kedudukan terhormat. Ia bercerita tentang dirinya pada fase itu, “Kemudian saya berpikir tentang niat saya dalam mengajar—artinya ketika hendak keluar dari Baghdad untuk menerapkan metode sufi pada dirinya—tetapi ternyata ia tidak murni karena Allah. Bahkan, ia didorong dan digerakkan oleh tuntutan terhadap kedudukan ter­hormat dan prestise. Maka saya yakin bahwa saya sedang berada di tepi jurang yang dalam dan sedang mendekati api andai saja tidak segera bersibuk diri untuk menghindar.”

Pada kesempatan lain—ketika kembali dari pengasingan dirinya untuk kembali mengajar di Naisabûr—Al-Ghazzâlî menyatakan, “Saya tahu bahwa sekalipun saya kembali ke gelanggang penyebaran ilmu, namun saya tidak kembali (dalam pengertian sebenarnya). Karena, ‘kembali’ berarti mengulangi apa yang dilakukan sebelum­nya. Dulu, pada saat itu—menunjuk pada saat berada di Baghdad ketika menulis buku Tahâfut— saya menyebarkan ilmu pengetahuan yang dapat mendatangkan kedudukan terhormat. Dengan kata dan perbuatan, saya mengharapkan kedudukan terhormat itu. Itulah tujuan dan niat saya.”

•••

Dari semua ini jelas bahwa buku Tahâfut tidak layak dijadikan rujukan untuk mendeskripsikan pemikiran yang dianut Al-Ghazzâlî dan yang diterima dari Allah. Tetapi pemikirannya harus dirujuk pada karya-karya yang ditulis setelah ia mendapat pencerahan petunjuk pada pandangan “ketersingkapan-tabir sufistik” (al-kasyf ash-shûfiyyah), yang ia sebut dengan karya “yang terlarang kecuali bagi yang me­menuhi syarat”.

Tetapi kondisi ini tidak untuk mempertimbangkan Tahâfut. Ia tetap merupakan salah satu karya yang dapat menyelesaikan berbagai problem ilmu kalâm dengan solusi yang rinci dan cermat serta sesuai dengan masanya.
Kondisi ini juga tidak bisa menutup kenyataan adanya kaitan antara Tahâfut dan Al-Ghazzâlî, dalam arti ia telah mengarang buku tersebut. Tetapi tidak dengan serta merta bahwa pikiran-pikiran yang terkandung di dalamnya menggambarkan taraf akhir dari seluruh taraf dinamika pemikirannya yang menjadi ujung pengembaraan intelektual Al-Ghazzâlî.

•••

Sesudah itu, dalam potret inilah sosok Al-Ghazzâlî mesti menjadi jelas, dan dalam batas-batas inilah buku Tahâfut mesti dibaca.

Sulaimân Dunyâ

Dikutip dari buku Tahâfut Al-Falâsifah: Membongkar Tabir Kerancuan Para Filosof karya Imam Al-Ghazali, Penerbit Marja 2015

tahafut 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *