Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

NU: Miniatur Indonesia

NU: Miniatur Indonesia

Oleh Khofifah Indar Parawansa

Sebagai warga NU, kita harus mengambil sikap dalam mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi berbagai tantangan yang kian beragam. Janganlah kita terfokus pada satu bidang garapan. Kita perlu menyebar dan menggeluti berbagai profesi.

Diversifikasi profesi merupakan proses penganeka­ragaman profesi, sehingga kelak NU tidak hanya memiliki generasi yang pandai mengaji kitab kuning, namun juga cakap di segala bidang profesi umum. Contoh kecil, jika di sebuah daerah ada pertambangan minyak, maka tidak mungkin pengolahannya diserahkan kepada para kiai. Kita membutuhkan ahli pertambangan, misalnya. Ahli pertambangan itu seharusnya adalah anak-anak kita sendiri. Harus diingat, kekayaan alam di negeri ini luar biasa banyaknya, sebagai anugerah yang diberikan Allah Swt kepada bangsa kita.

Nah, akankah kita menyia-nyiakannya dengan mem­biarkan eksploitasi yang sebesar-besarnya oleh bangsa asing? Sementara itu, kita sendiri enggan belajar dan seolah abai terhadap karunia yang disediakan di setiap lapisan bumi di Nusantara ini. Tentu, jawabannya tidak cukup dengan mengatakan “tidak”, melainkan harus ada langkah nyata.

Dengan langkah nyata, seperti kita kehendaki dengan pengem­bangan profesi di bidang pertambangan dan energi, misalnya, pada akhirnya diarahkan pada pengabdian kepada bangsa dan negara.

Tak bosan-bosan, saya sampaikan masalah ini di depan warga NU, khususnya Muslimat, seperti pada pengajian umum dalam rangkaian peresmian Klinik Bersalin Masyitoh, di Kendal, belum lama ini. Klinik Masyitoh merupakan klinik bersalin yang diinisisasi oleh PAC Muslimat NU Kaliwungu, Kendal. Sebagai bentuk pengabdian dan bakti nyata kepada masyarakat, diadakanlah pengobatan gratis yang merupakan bagian dari pra-acara peresmian Klinik Masyitoh, dan sekitar 150 pasien mendapatkan pelayanan pengobatan gratis tersebut. Di depan lima ribuan jamaah Muslimat dari seluruh Kendal, PP Muslimat NU mengingatkan agar para ibu betul-betul mendidik anak-anak mereka dengan bekal ilmu pe­ngetahuan. Hal tersebut merupakan langkah diversifikasi profesi.

Dengan demikian, kita harus terus-menerus memberi bentuk motivasi terhadap proses diversifikasi profesi tersebut. Sebagai warga NU, dalam semangat ketulusan dan pengabdian tertoreh harapan agar dapat memotivasi anak-anak kita bahwa NU sangat membutuhkan dokter-dokter, ahli-ahli persalinan, dan berbagai profesi umum sebagai bagian dari pengabdian untuk umat dan masyarakat.

Keberadaan klinik bersalin, seperti Klinik Bersalin Masyitoh, diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam mengurangi angka kematian perempuan Indonesia yang mencapai 36 per hari akibat komplikasi persalinan. Kondisi ini sungguh mengkhawatirkan bagi seluruh perempuan Indonesia. Keberadaan klinik, tentu saja dimaksudkan untuk seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya warga NU. Dengan demikian, wujud dari semua itu adalah ajakan kepada semua masyarakat Indonesia yang mampu agar mau berbagi dengan sesama, terutama kepada orang yang kurang mampu.

Pada intinya, kita harus memiliki kasalehan sosial. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah, tentu tidak banyak anak di negeri ini yang putus sekolah. Lebih dari itu, kita harus menjaga kerukunan antarwarga bangsa. Tanpa kerukunan, kita akan kesulitan membangun bangsa ini.

Muslimat juga mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk saling menjaga tali silaturrahim. Dengan bangunan komunikasi yang kuat, kita tak akan mudah dipecah-belah.

Demikian. Wallâhu a‘lam.[]

Baca lebih lengkap dalam buku NU, Perempuan, Indonesia: Sudut Pandang Islam Tradisional karya Khofifah Indar Parawansa (Penerbit Nuansa, 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *